Pages

Tampilkan postingan dengan label Taman Ilmuwan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taman Ilmuwan Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, Oktober 25, 2010

Ibnu Firnas, Melakukan Cubaan Pertama Terbang Di Udara

Pada abad ke-8, seorang Muslim Sepanyol, Ibnu Firnas, telah menemukan, mencipta dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon selepas 500 tahun setelah Ibnu Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbang.

Sekitar 200 tahun setelah Bacon atau 700 tahun percubaan Ibnu Firnas, barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan.

Ibnu Firnas atau nama sebenarnya, Abbas Qasim bin Firnas dilahirkan di Ronda, Sepanyol pada tahun 810 M. Dia dikenal sebagai orang Barbar yang ahli dalam bidang kimia dan memiliki daya kreatif dan kerap menciptakan barang-barang berteknologi baru saat itu.

Ilmuwan yang suka bermain muzik dan mengarang puisi ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umaiyah di Sepanyol (dulu bernama Andalusia). Masa kehidupan Ibnu Firnas sezaman dengan masa kehidupan pemuzik Iraq, Ziryab.

Melakukan Cubaan Pertama Terbang Di Udara

Pada tahun 875 M, Ibnu Firnas telah membuat sebuah m
odel pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat lama tentang pesawat terbang.

Setelah menyelesaikan model pesawat terbang yang dibuatnya, Ibnu Firnas mengundang masyarakat Cordova untuk datang dan men
yaksikan hasil karyanya itu. Beliau ingin melakukan percubaan terbang dari menara Masjid Mezquita dengan menggunakan sayap atau jubah tanpa lengan yang dipasangkan di tubuhnya.

Warga Cordova saat itu menyaksikan dari dekat menara tempat Ibnu Firnas akan melakukan penemuannya. Namun karana cara melunc
ur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat terbang buatannya. Beliau pun mengalami cedera belakang yang sangat parah. Cederanya inilah yang memaksa Ibnu Firnas tidak berdaya untuk melakukan percubaan berikutnya.

Ada catatan yang menyebutkan, Ibnu Firnas l
alai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Beliau pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat terbang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan beliau gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.

Menara Masjid Mezquita di Cordova saat itu menjadi saksi bisu perwujudan konsep pertama pesawat terbang yang lahir dari pemikiran seorang muslim.

Cedera belakang yang tidak kunjung sembuh mengalihkan tumpuan Ibnu Firnas pada projek-projek penelitian dan pengembangan konsep serta teori dari gejala-gejala alam yang diperhatikannya.

Karya-karya baru pun bermunculan dari buah pemikiran Ibnu Firnas. mulai dari puisi, kimia, sampai astronomi, semuanya dipelajarinya dengan satu tujuan, iaitu mampu memberikan manfaat bagi umat manusia.

Di antara hasil karyanya yang monumental adalah konsep tentang terjadinya halilintar dan kilat, jam air serta cara membuat gelas dari garam. Ibnu Firnas juga membuat rantai rangkaian yang menunjukkan pergerakan benda-benda planet dan bintang. Selain itu, Ibnu Firnas pun menunjukkan cara bagaim
ana memotong batu kristal yang saat itu hanya boleh dilakukan oleh orang-orang Mesir.

Sayang, tidak lama setelah itu, tepatnya pada tahun 888 M, Ibnu Firnas wafat dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera belakang yang dideritanya akibat kegagalan melakukan pendaratan pesawat terbang buatannya.

Philip Hitti seorang sejarawan Arab berkata: “Ibnu Firnas ialah orang
pertama dalam sejarah yang mencipta ilmu pengetahuan tentang pesawat terbang.”

Ketika orang-orang barat mengajar anak-anak mereka mengenai Wright Bersaudara, negara-negara Islam mengajar anak-anak mereka mengenai Ibnu Firnas, seribu tahun sebelum Wright.

Libya mengeluarkan setem sebagai menperingatinya. Iraq membina tugu bagi memperingati dirinya dalam perjalanan ke Lapangan Terbang Antarabangsa Iraq dan Lapangan Terbang Ibnu Firnas di utara Baghdad dinamakan sempena namanya.

Dipetik dari:
Lembaran Hidup Ulama' (2009) karya saya

Ilmuwan Islam - Ibnu Firnas (Melayu)


Abbas Ibn Firnas (Inggeris)

Sabtu, September 25, 2010

Video Ilmuwan Islam - Al-Khawarizimi

Video yang baru saya upload.

Al-Khawarizimi, Penemu Angka Sifar (Bahagian 1)

Minggu, Agustus 16, 2009

Mengenang Kejayaan Tradisi Keilmuan Islam


Peradaban Islam pernah mencapai masa keemasan. Itu fakta sejarah yang tak bisa dimungkiri siapapun. Hampir tujuh abad lamanya, mulai 750-1500 M 0-700H, bendera kejayaan Islam terus berkibar.

Sejak deklarasi Islam oleh Rasulullah saw sampai pada kejatuhan Granada di Sepanyol, peradaban Islam memberi kontribusi yang tidak dapat dilupakan oleh peradaban moden kini.

Dalam rentang waktu itu, lahir ratusan ilmuwan muslim yang melahirkan beragam teori yan mengilhami kemunculan renaissance di Eropah. Al-Khawarizmi (matematik), Jabir Ibnu Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun (sosiologi dan sejarah), Ibnu Sina (perubatan), Ar-Razi (perubatan), Al-Biruni (fizik), Ibnu Battutah (pengemberaan) adalah contoh nama-nama yang dapat dikedepankan.

Bagaimana tidak signifikan sumbangan Islam pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Al-Khawarizmi, misalnya, menemukan angka nombor 0 yang pada zaman sebelumnya (China, India dan Yunani) belum diketahui.

Huraian beragam teori sosiologi dan sejarah yang dikemukakan Ibnu Khaldun dalam kitabnya Mukadimah sampai sekarang tetap aktual dan menjadi referensi sosiologi moden. Belum lagi berbagai teori perubatan yang dikemukakan Ar-Razi tentang penyakit cacar serta Ibnu Sina tentang pembiusan dan pembedahan.

Berbeza dengan tradisi Eropah yang pernah mengalami beberapa kejadian tragis akibat bertentangan doktrin agamanya, tradisi keilmuan Islam justeru berangkat dari kecintaannya pada agama.

Dalam rakaman sejarah Islam, peristiwa yang menimpa Galileo Galilei, Bruno Giordano, Nicholas Copernicus, Miguel Serveto tidak pernah terjadi. Justeru Islam menempatkan para ilmuwan dalam maqam yang tinggi (lihat Surah Az-Zariyat, ayat 11).

Para ilmuwan Islam meyakini bahawa tauhid menjadi sumber inspirasi dan aspirasi untuk berekspresi. Bahawa semua yang ada di alam adalah hukum Tuhan (sunnatullah) yang objektif, universal dan mutlak adanya.

Kerana keyakinan inilah, lumrah bila sesudah atau menghadapi masalahh dalam penelitiannya dikembalikan kepada Sang Khaliq. Ibnu Sina, contohnya, akan pergi ke masjid, solat dan berdoa meminta petunjuk Allah berkenaan dengan hasil penelitian perubatannya.

Semua karya dan penelitian Ibnu Sina berhujung pada kepasrahan total kepada Allah. Sikap ini juga dimiliki Al-Khawarizmi, Al-Biruni dan sebagainya. Ini menunjukkan bahawa di kalangan ilmuwan muslim, keterkaitan dengan Tuhannya adalah kemutlakan.

Segala kesimpulan objektif hasil penelaahan terhadap fenomena alam diawali dan dikembalikan pada sumbernya, al-Quran dan hadis. Bagi ilmuwan Islam, semua penelitian ilmiah adalah bukti untuk memperkuat keyakinan terhadap ayat Tuhan yang tersurat dan tersirat (diri dan alam semesta).

Kecintaan para ilmuwan Islam pada al-Quran dan tradisi nabi, membuat mereka bukan hanya fasih dalam suatu bidang keilmuan. Ibnu al-Haitham, misalnya, selain dikenal sebagai penemu optik, ia adalah ahli matematik dan astronomi. Al-Biruni tidak hanya terkenal dengan kecermatannya dalam fizik, tetapi juga ahli dalam metafizik.

"Ilmu pengetahuan Islam menjadi ada kerana perkahwinan antara semangat yang memancar dari wahyu al-Quran dan ilmu-ilmu yang berasal dari pelbagai tradisi sebelumnya. Ilmu dalam Islam menjadi sumber rohani bagi kesinambungan peradaban di masa akan datang," tegas cendekiawan muslim asal Iran, Sayyed Hussein Nasr.

Sifat kosmopolitan peradaban Islam bermula dari watak wahyu yang universal. Hal ini menyebabkan Islam menciptakan sebuah peradaban pertama di dalam sejarah umat manusia, katanya.

Kejayaan Islam lahir ketika Eropah yang kini memegang kendali peradaban berada dalam suasana "The Dark Ages" atau abad kegelapan. Satu keadaan yang hegemoni gereja sangat mendominasi kehidupan masyarakat Eropah.

Dalam kurun beberapa abad praktis dunia Eropah tidak tersentuh oleh perkembangan keilmuan yang signifikan. Makanya, masyarakat Eropah kini lebih suka menyebut abad itu dengan abad pertengahan, ketimbang abad kegelapan yang terasa lebih menohok secara psikologis.

Berlawanan dengan itu, puncak peradaban Islam dicapai pada masa Bani Abbasiyah di era Khalifah al-Makmun ketika ia mendirikan Darul Hikam atau akademi ilmu pengetahuan pertama di muka bumi ini yang sekaligus menjadi pusat penelitian, pengembangan dan perpustakaan tentang ilmu-ilmu keIslaman.

Kegemilangan peradaban Islam tidak berhenti di Baghdad. Ia menyebar kedaratan Eropah, tepatnya di Andalusia dan Granada, Sepanyol sampai 1492 M.

Ilmu pengetahuan merupakan sumbangan terpenting kebudayaan Arab (Islam) kepada dunia moden, tetapi buahnya lambat masak. Barulah setelah kebudayaan Arab Sepanyol tenggelam kembali ke dalam kegelapan raksasa yang dilahirkannya bangkit keperkasaannya.

"Bukan hanya ilmu pengetahuan yang menghidupkan kembali Eropah. Pengaruh-pengaruh lain dan beraneka warna memancarkan sinar pertama dari peradaban Islam kepada kehidupan Eropah," jelas seorang Guru Besar Bahasa dan Sastera India, A Beriedale Keith.

Kecemerlangan peradaban Islam mulai surut dan mencapai titik nadir terendahnya ketika bangsa Mongol menghancurkan kota Baghdad. Semua khazanah peradaban hilang, buku-buku dibakar dan dihanyutkan ke dalam sungai.

Dalam sebuah ilustrasi, keganasan bangsa Mongol terhadap peradaban Islam dilukiskan dengan memerah dan membirunya warna air sungai-sungai di sekitar kota Baghdad akibat tinta dan darah para ilmuwan Islam yang mengalir di air sungai Kota Seribu Satu Malam itu.

Sebelum semua peninggalan dan penemuan berharga peradaban manusia dihancurkan bangsa Mongol, untunglah bangsa Eropah sudah banyak yang mempelajari kemajuan ilmu pengetahuan modern yang dirintis orang Islam.

Dua ilmuwan Eropah yang tercatat adalah Roger dan Francis Bacon belajar ke Baghdad untuk mempelajari perkembangan keilmuan yang dirintis ilmuwan Islam. Perlahan namun pasti cahaya peradaban Islam mulai redup.

Cahayanya beralih ke Eropah. Berbagai teori yang ditemukan ilmuwan Islam kemudian dilanjutkan oleh para ilmuwan Eropah yang mulai berkuncup, kemudian berkembang sampai sekarang.

Sabtu, Juli 05, 2008

Menyusuri Taman Ulama 3: Secebis Kisah Ilmuwan Islam

Al-Jahiz ialah ilmuwan Islam yang dikagumi kerana cintanya yang tidak berbelah bagi dalam menimba ilmu pengetahuan.

Diceritakan bahawa ibunya memberikan beliau ‘sedulang’ kertas nota dan memberitahunya bahawa kertas itu boleh menyara hidupnya kelak.

Beliau menguasai bahasa dan sastera Arab dengan baik, selain mengkaji buku berbahasa Yunani.

Begitu pun, kepakarannya lebih menonjol dalam bidang ilmu haiwan berdasarkan buku karangannya.

Al-Jahiz menulis lebih 200 naskhah buku meliputi bidang zoologi, tatabahasa Arab, puisi dan kamus.

Al-Jahiz yang mempunyai komitmen tinggi terhadap ilmu dan pembacaan sehingga mati tertindih oleh bukunya pernah berkata, “Buku itu akan diam bila engkau menyuruhnya diam. Dia tidak akan mengganggumu jika engkau sedang bekerja. Tetapi apabila engkau diulik kesepian, dialah teman yang akan menjadi temanmu paling baik.”

Ibnu Nafis merupakan antara penyumbang terbesar kepada tamadun Islam dalam ilmu perubatan. Beliau menjadi pelopor dalam dunia perubatan dengan kajian yang membawa penemuan penting sehingga ke hari ini iaitu saluran pembuluh darah dalam badan manusia.

Dalam kajian dan analisis yang dibuat, beliau telah menemui sistem peredaran darah ke paru-paru, 300 tahun sebelum penemuan yang dibuat oleh sarjana Barat, Sir William Harvey. Menurut teori Ibnu Nafis, dalam paru-paru, udara bertemu dengan darah. Darah itu kemudiannya meninggalkan paru-paru dan seterusnya mengikuti arteri paru-paru lalu masuk ke dalam ventrikal kiri jantung dan darah disebarkan keseluruh badan.

Ibnu Nafis sempat mengakhiri penulisannya sebelum meninggal dunia iaitu Al-Shamil Fi al-Tibb satu kajian menyeluruh tentang seni perubatan dalam bidang pembedahan. Meskipun bidang utama beliau adalah perubatan, namun Ibnu Nafis turut mendalami ilmu ilmu logik (mantiq), falsafah, bahasa, ilmu bayan, hadis dan usul fiqh.

Pada abad ke-8, seorang Muslim Sepanyol, Ibnu Firnas, telah menemukan, membangun, dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon lepas 500 tahun setelah Ibn Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbang.

Sekitar 200 tahun setelah Bacon atau 700 tahun pascaujicoba Ibnu Firnas, barulah konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan. Pada tahun 875, Ibnu Firnas membuat sebuah prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Inilah catatan dokumentasi pertama yang sangat kuno tentang pesawat terbang layang.

Warga Cordova saat itu menyaksikan dari dekat menara tempat Ibnu Firnas akan menunjukkan penemuannya. Namun karena cara meluncur yang kurang baik, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera yang sangat parah.

Cederanya inilah yang memaksa Ibnu Firnas tak berdaya untuk melakukan ujicuba yang berikutnya.

Ada catatan menyebutkan, Ibnu Firnas lalai memperhatikan bagaimana burung menggunakan ekor mereka untuk mendarat. Dia pun lupa untuk menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya. Kelalaiannya inilah yang mengakibatkan dia gagal mendaratkan pesawat ciptaannya dengan sempurna.

Jumat, Januari 18, 2008

Ibnu Sina, Menyelamatkan Perut Raja

Ibnu Sina adalah seorang ilmuwan Islam di abad pertengahan yang mempunyai banyak kepakaran. Di Barat, beliau dikenal sebagai Avicenna dan karya-karyanya sangat digemari di sana.

Ibnu Sina dilahirkan di Isfahan pada bulan safar tahun 370 Hijrah/980 Masihi.
Nama sebenarnya ialah Abu Ali Al-Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali bin Sina. Ketika berusia sepuluh tahun, Ibnu Sina telah hafal ayat-ayat suci Al-Quran dan menguasai ilmu Al-Quran beserta berbagai ilmu lainnya ketika berusia belum sampai tujuh belas tahun.
Belajar Sendiri
Ibnu Sina sudah menguasai ilmu tafsir dan usuludin ketika berusia sepuluh tahun lagi. Kemudian beliau mentelaah falsafah, politik dan logik, matematik, fizik, politik dan kedoktoran hingga berusia 16 tahun. Kecerdasannya semakin tampak apabila beliau sering kali menyelesaikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh gurunya. Setelah berusia 16 tahun, beliau mula belajar sendiri. Beliau sangat menyenangi ilmu kedoktoran dan metafizik.
Gurunya yang pertama adalah bapanya sendiri, seorang alim, Abdullah Natalia. Beliau mempelajari ilmu kedoktoran daripada seorang kristian yang bernama Isa bin Yahya. Sebelum usianya mencecah 17 tahun nama beliau telah terkenal sebagai seorang tabib.
Ibnu Sina juga terkenal sebagai seorang pengembara. Setelah kematian ayahnya ia mulai berkelana, menyebarkan ilmu dan mencari ilmu yang baru. Tempat pertama yang menjadi tujuannya setelah hari duka itu adalah Jurjan, sebuah kota di Timur Tengah. Di sinilah ia bertemu dengan seorang sasterawan dan ulama besar Abu Raihan Al-Biruni. Al-Biruni adalah guru baru dengan ilmu yang baru pula bagi Ibnu Sina.
Setelah Jurjan dan Al Biruni, tidak lama Ibnu Sina melanjutkan lagi pengembaraannya. Rayy dan Hamadan adalah kota selanjutnya, sebuah kota dimana karyanya yang terkenal Al-Qanun Fi Al-Tibb mulai dituliskan. Di tempat ini pula Ibnu Sina banyak berjasa, terutama pada raja Hamadan. Seakan tak pernah lelah, ia melanjutkan lagi pengembaraannya, kali ini daerah Iran menjadi tujuannya. Di sepanjang jalan yang dilaluinya itu, banyak lahir karya-karya besar yang memberikan manfaat besar pada dunia ilmu kedoktoran khususnya.
Ketua Segala Doktor
Ibnu Sina mula menjadi doktor ketika berusia 18 tahun. Beliau menyembuhkan Raja Nuh bin Mansur, pemerintah kerajaan Samaniyah. Sejak itu, beliau dilantik menjadi doktor istana. Pembesar negeri lain seperti Ratu Sayyidah dan Suktan Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamadan dan Alaud Dawla dari Isfahan juga pernah mengundangnya.
Oleh sebab keahliannya, Ibnu Sina digelar 'al-Syeikh al-Ra'is' (guru para raja). Dalam bidang kedoktoran, beliau digelar 'pengeran para doktor' dan 'raja ubat'. Dalam dunia Islam, beliau dianggap sebagai puncak ilmu kedoktoran.
Menyelamatkan Perut Raja

Otak Ibnu Sina sangat luar biasa, setiap ilmu yang dipelajarinya lekat dalam fikirannya. Dalam usia yang masih remaja, dia telah menguasai ilmu tafsir, perubatan, falsafah, logika, matematik, astronomi, muzik dan lain-lain.

Diceritakan bahawa pada suatu ketika Raja Nuh bin Mansur dari Bukhara dtimpa sakit perut yang sangat parah. Berbagai doktor telah datang mengubatinya, tapi tak seorang pun yang dapat mengurangkan kesakitan sang raja. Baginda semakin meraung dan penyakitnya semakin teruk. Akhirnya si raja yang sudah berada dalam keadaan sangat kritis itu hanya dapat berbaring saja sambil menunggu saat-saat kedatangan malaikat Izrail untuk mencabut nyawanya.

Tiba-tiba seorang pemuda dalam lingkungan usia 17 tahun yang sedang merayau-rayau di sekitar istana dibawa masuk oleh para pengawal dan terus dimasukkan ke dalam bilik raja yang sedang nyawa-nyawa ikan. Semua yang hadir terdiri para pembesar Negara, bangsawan, orang-orang berpangkat, doctor-doktor pakar, cendikiawan dan ulama merasa hairan melihat seorang pemuda terburu-buru dibawa masuk ke tempat ekslusif dan mewah itu. Ternyata pemuda itu dapat menyembuhkan perut raja yang sudah tidak dapat diubat oleh para doktor pakar lainnya dalam masa yang tidak lama. Semua yang hadir menjadi hairan. Pemuda itu adalah Ibnu SIna yang berpraktik sebagai doktor.

Raja telah menawarkan wang seberapa banyak yang diminta kepada Ibnu Sina sebagai imbalan perkhidmatannya itu, tapi beliau hanya minta diberi kebenaran untuk menggunakan perpustakaan istana raja saja. Raja pun memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada doctor muda itu. Di sanalah Ibnu Sina berenang di lautan ilmu yang tiada bertepi, berbagai buku telah dibacanya. Beliau berkata:

“Saya pergi ke sana (ke perpustakaan) dan menemukan beberapa bilik yang penuh dengan buku yang dikemas di dalam peti. Kemudian saya membaca catalog para pengarang purba itu dan saya mendapatkan semua yang saya inginkan. Saya banyak menemukan tajuk buku yang tidak diketahui oleh orang, juga buku-buku yang belum pernah saya lihat sebelumnya.”

Ibnu Khallikan menulis bahawa apabila Ibnu Sina telah menguasai ilmu dari kitab-kitab purba itu, khazanah raja yang sangat berharga itu pun terbakar. Mak hanya Ibnu Sinalah satu-satunya orang pada zamannya yang menguasai ilmu-ilmu tersebut. Ada pula yang mengatakan bahawa Ibnu Sina sengaja membiarkan perpustakaan itu terbakar dengan tujuan agar hanya beliau seoranglah yang mengetahui ilmu-ilmu di dalam kitab-kitab lama itu, yang kemudian dinisbatkan kepada dirinya sendiri dalm kitab-kitab karangannya. Wallahua’lam.

Walaubagaimanapun, Ibnu Sina yang memang berotak cemerlang itu menjadi seorang ilmuwan agung yang tiada tolok bandingnya pada zamannya. Beliau menjadi doktor pakar dan mulai menulis berbagai buku ketika berusia dua puluh satu tahun.

Menemukan Teori Peredaran Darah
Beliau adalah orang yang pertama yang berjaya melakukan pengubatan terhadap beberapa penyakit seperti miningitis (radang selaput otak). Beliau juga merupakan orang yang pertama yang menemukan teori peredaran darah manusia, 600 tahun lebih awal daripada penemuan Willian Harvey.
Di dalam bidang falsafah, beliau juga dianggap sebagai seorang yang agung. Sebagai seorang muslim, falsafah-falsafah beliau berlainan sekali dengan falsafah-falsafah golongan yang telah rosak akhlaknya. Adalah diriwayatkan jikalau beliau berhadapan dengan masalah yang berat untuk difikirkan dan diselesaikan, beliau akan mengambil wudhuk sembahyang dan berdoa kepada Allah.
Karya-Karyanya

Setiap hari beliau menulis tidak kurang dari lima puluh muka surat dan selama hidupnya telah menghasilkan buku sebanyak 238 buku dan risalah. Sebahagian di antaranya terdiri dari beberapa jilid dan besar-besar. Karyanya bertajuk Al-Qanun Fi Al-Tibb (Undang-Undang Perubatan) merupakan karya raksasa yang abadi, terdiri dalam lima jilid dan membahaskan 760 jenis ubat. Di Barat, buku ini disebut Canon o
f Medicine dan menjadi rujukan utama dibeberapa fakulti perubatan di Eropah dan juga di China. Karya abadi lainnya adalah Al-Isyarah wa Al-Tanbihat dalam bidang falsafah mengenai ketuhanan dan kemurnian hidup.
Antara karyanya yang lain:
1. Shifa' - Sebuah ensiklopedia dalam ilmu falsafah yang terdiri daripada 18 jilid. Tentang psikologi, pertanian, retorika dan syair. Beliau mengambil masa 20 bulan untuk mengarang buku ini.
2. Nafat - Buku ini adalah ringkasan buku Shifa'.
3. Sadidiyya - Berkaitan dengan ilmu kedoktoran dan mengandungi lima jilid.
4. Al-Rasa'il - Tentang biologi, fizik, astronomi, psikologi, etika dan teologi
5. Risalah Al-'Isyqa - Tentang kerinduan Ibnu Sina kepada Tuhan.
6. Al-Musiqa - Berhubung dengan ilmu muzik.
7. Al-Mantiq.
8. Qamus al-'Arabi.

Penyakit Seorang Doktor Pakar & Wafatnya

Walaupun Ibnu Sina seorang doktor pakar khususnya dalam masalah penyakit perut, namun beliau selalu mengabaikan kesihatannya sendiri kerana terlalu sibuk dengan kerjayanya. Setiap hari beliau melengkapi karya-karyanya yang belum selesai, pergi ke sana sini untuk mengadakan pengkajian dan mengubat pesakit, di samping keasyikannya pada politik. Memang beliau juga seorang penasihat politik yang ulung.

Akibat terlalu letih dan memaksa diri, kesihatan Ibnu Sina menurun dari sehari ke sehari. Namun demikian beliau masih tetap meneruskan penulisannya yang belum selesai walau dalam keadaan uzur. Sampai masanya, beliau sendiri dilanda sakit perut dan berusaha untuk mengubatinya, tapi mungkin dengan cara yang berlebihan sehingga penyakitnya bertambah parah.

Diceritakan pula bahawa beliau terlalu banyak minum dan jimak sehingga mengakibatkan tubuhnya menjadi lemah.Teman-temannya menasihatinya tentang kesihatannya, tapi beliau tidak mengindahkannya. Dalam keadaan sakit, beliau telah memasukkan ubat ke dalam dirinya sendiri sehingga lapan kali sehari. Akibatnya, kulitnya terluka dan perutnya sakit. Ditambah lagi kerana pembantunya sengaja memasukkan candu yang banyak ke dalam uabtnya agar beliau binasa. Ini kerana si pembantu tersebut telah mengkhianatinya, jadi takut kalau Ibnu Sina sembuh dari penyakitnya, beliau akan menghukumnya.

Apabila menyedari penyakitnya sudah tidak boleh disembuhkan lagi, Ibnu Sina menyerah dan bertawakal kepada Allah, bersedia untuk bertemu Tuhannya. Beliau membersihkan dirinya, bertaubat dan menumpukan perhatiannya kepada Allah sepenuhnya.
Semua harta kekayaannya disedekahkannya kepada fakir miskin dan yang berhak menerimanya. Beliau memohon maaf kepada semua orang yang merasa pernah tersakiti olehnya. Pada saat terakhir dari kehidupannya, beliau hanya mengerjakan solat, bertaubat dan terus-menerus membaca Al-Quran dan mengkhatamkannya setiap tiga hari sekali sehingga malaikat Izrail datang mengambil nyawanya. Beliau wafat pada hari Jumaat bulan Ramadan tahun 428 Hijrah/1037 Masihi di Hamadan dalam usia 57 tahun.
Kata-Kata Ibnu Sina
- Orang yang arif itu berani, bagaimana ia tidak berani, kerana cintanya akan kebenaran telah menyebabkan diri tidak takut mati.
- Aku pulang ke rumah dan meletakkan lampu di hadapanku, lalu terus membaca dan mengarang. Bila rasa mengantuk itu sangat mendesak, atau badanku terasa letih sekali, maka akupun minum secangkir hingga timbul kembali kesegaranku dan aku teruskan membaca lagi. Tetapi jika mengantuk tak tertahankan, aku lalu tidur dan biasanya aku bermimpi tentang soal-soal yang belum selesai dalam fikiranku. Di dalam mimpi itu, kebanyakan soal-soal itu biasanya menjadi terang masalahnya.
Rujukan:
- Ensiklopedia Para Wali Jilid 7 susunan Ahmad Muhammad Abdul Ghaffar
- Mengenali Tokoh-Tokoh Islam terbitan PKPIM
- Ensiklopedia Islam Untuk Pelajar terbitan Era Visi dan Yadim