Pages

Tampilkan postingan dengan label Taman Artikel Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taman Artikel Umum. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 18, 2010

Perlukah Menghentikan Aktiviti Lain Selama Bulan Ramadhan Khusus Untuk Membaca al-Quran Saja?

Oleh: Syeikhah Sukainah bintu Muhammad Nasiruddin al-Albani hafizahullah (Puteri Syeikh al-Albani)

بسم الله الرحمٰن الرحيم

الحمد لله وحده، والصَّلاة والسَّلام عَلىٰ مَن لا نبيَّ بَعْدَه

أمّا بعد


Aku pernah bertanya kepada ayahku (Syeikh al-Albani rahimahullah, pent) yang secara ringkasnya:

Aku membaca bahawa sebagian Imam jika telah masuk bulan Ramadhan, mereka memutus aktiviti hanya untuk membaca al-Quran saja, walaupun mereka adalah ulama yang memberi fatwa kepada orang-orang, maka merekapun menghentikan aktivitinya walaupun untuk berfatwa kepada orang-orang. Apakah ini benar? Apakah aku perlu mengkhususkan bulan Ramadhan ini untuk membaca al-Quran saja dan aku tinggalkan aktiviti membaca hadis beserta syarahnya, kajian-kajian dan yang selainnya?

Maka beliau menjawab:

Pengkhususan ini tidak ada asalnya dalam sunnah, akan tetapi yang merupakan sunnah dan terdapat dalam as-Sahihain (sahih al-Bukhari dan Muslim, pent) [1] adalah: memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadhan.

Adapun mengkhususkan bulan Ramadhan untuk hanya membaca al-Quran saja tanpa ibadah lainnya seperti menuntut ilmu, mengajarkan hadis, menjelaskan dan mensyarahnya, maka yang seperti ini tidak ada asalnya. Begitu pula mengerjakan kebaikan-kebaikan, sedekah, berbuat baik kepada manusia dan seterusnya. Maka memutus aktiviti hanya untuk tilawah al-Quran saja tidak ada asalnya, yang ada asalnya adalah semata-mata memperbanyak membacanya.

Audio fatwa Ayahku boleh di download di link ini.

_________________

[1] Dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ


“Adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam orang yang paling dermawan dan beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau dan malaikat Jibril menemui beliau di setiap malam Ramadhan dan mengajarkan al-Quran kepada beliau. Maka ketika itulah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam lebih dermawan untuk memberikan kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.”

An-Nawawi rahimahullah berkata: “Teman-teman kami berpendapat: disunnahkan banyak-banyak membaca al-Quran di bulan Ramadhan dan saling mempelajarinya, iaitu dengan seseorang membacakannya kepada yang lain dan yang lain membacakan kepadanya, berdasarkan hadis Ibnu Abbas tadi” [al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 6/274]

Dan al-hafiz Ibnu Rajab rahimahullah berkata tentang hadis ini: “dan dalam hadis ini terdapat dalil disukainya memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadhan” [Latho’if al-Ma’arif hal. 169]

***

Diterjemahkan dari blog Syaikhah Sukainah bintu Muhammad Nasiruddin al-Albani hafizahullah: http://tamammennah.blogspot.com/2010/08/blog-post.html

Sumber:
http://ummushofi.wordpress.com/2010/08/11/perlukah-menghentikan-aktifitas-lain-selama-bulan-romadhon-khusus-untuk-membaca-al-qur%E2%80%99an-saja

Senin, Agustus 16, 2010

Bersama Nabi SAW Di Bulan Ramadhan

Oleh:
Syeikh Muhammad Musa Nasr

Bulan Ramadhan adalah bulan dibukanya pintu-pintu syurga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu, turun dua malaikat, yang pertama mengatakan: “Wahai orang yang meng
harap kebaikan, datanglah!”. Yang kedua mengatakan: “Wahai orang yang mengharap kejahatan, tahanlah!”. Dalam bulan itu terdapat satu malam, barangsiapa diharamkan pada malam itu maka ia telah diharamkan dengan kebaikan yang banyak. Ia adalah suatu malam yang diputuskan setiap perkara yang bijaksana. Sesunguhnya malam itu adalah Lailatul Qadar, yang satu malam di dalamnya lebih baik dari seribu bulan.

Sesungguhnya, mencukupkan diri dengan petunjuk Nabi dalam setiap ketaatan adalah perkara yang sangat penting, khususnya (mencukupkan diri dengan) petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam pada bulan Ramadhan. Kerana amal soleh seseorang tidak diangkat kecuali jika apabila ia ikhlash kerana Allah dan hanya mengikuti tuntunan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya ikhlas dan mutaaba’ah (mengikuti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam) merupakan dua syarat esensial diterimanya amal soleh. Keduanya ibarat dua sayap burung, maka alangkah jauhnya (dari realiti) jika ada burung yang terbang dengan satu sayap!

Di dalam risalah ini -wahai para pembaca budiman-, kita akan mempelajari bagaimana keadaan Nabi sallallahu alaihi wasallam di dalam bulan Ramadhan secara singkat dan ringkas, dengan harapan agar semoga anda dapat mengetahui dengan jelas petunjuk baginda sallallahu alaihi wa sallam. Ketahuilah, barangsiapa y
ang tidak bersama Rasul di dalam mengikuti petunjuknya di dunia ini, niscaya dia tidak akan bersama beliau di akhirat kelak. Karena setiap kesuksesan ada pada ittiba’ (mengikuti) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam baik secara zhahir maupun bathin, dan hal ini tidak akan diperoleh kecuali dengan ilmu yang bermanfaat, dan ilmu yang bermanfaat tidak bakal dapat dicapai melainkan dengan amal yang shalih. Maka buah ilmu yang bermanfaat adalah amal yang shalih.

Wahai hamba Allah, inilah penjelasan sebagian keadaan-keadaan Rasulullah dan petunjuk beliau dalam bulan Ramadhan [Hadis-hadis yang terdapat dalam makalah ini adalah hadis-hadis sahih, sebagian besar terdapat dalam shahih Bukahri dan Muslim, atau salah satu dari keduanya], agar anda dapat meneladaninya sehingga anda memperoleh kecintaan kepadanya dan dikumpulkan bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam kelak.

Berikut ini kami kemukakan beberapa keadaan dan petunjuk Nabi sallallahu alaihi wa sallam di bulan Ramadhan:

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tidak berpuasa hingga ru’yah (melihat) hilal dengan penglihatan yang pasti, atau dari berita seorang yang adil dalam penentuan awal bulan Ramadhan, atau menyempurn
akan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam merasa cukup dengan persaksian satu orang, ini merupakan hujjah diterimanya khabar ahad. Tersebut dalam hadits shahih bahwa kaum muslimin berpuasa hanya dengan ru’yah yang dilakukan oleh seorang Arab Badui yang datang dari padang pasir, kemudian ia memberitahukan kepada Nabi bahwa ia telah melihat hilal, maka beliau memerintahkan Bilal agar mengumumkan untuk puasa.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya untuk mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari (sebelumnya) dengan alasan berhati-hati, kecuali apabila ia merupakan kebiasaan salah seorang diantara kalian, oleh karena itu dilarang berpuasa pada hari yang diragukan.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berniat puasa pada malam hari sebelum fajar dan memerintahkan kepada umatnya (untuk berniat), dan hukum ini khusus untuk puasa wajib. Adapun puasa nafilah (sunnah) maka tidak wajib.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tidak menahan dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa hingga ia melihat fajar shadiq dengan penglihatan yang pasti, sebagai pengimplementasian firman Allah:

كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” (Al Baqarah : 187)

Rasulullah allallahu alaihi wa sallam menerangkan pada umatnya bahwa fajar ada dua yaitu shadiq dan kadzib. Selama fajar kadzib, tidak diharamkan makan, minum dan jima’. Rasulullah tidak pernah memberatkan umatnya baik dalam bulan Ramadhan atau selainnya, beliau tidak pernah mensyariatkan apa yang dinamakan oleh kaum muslimin ini sebagai adzan (seruan) imsak.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, serta memerintahkan umatnya untuk melaksanakan hal ini. Beliau bersabda :

لاَ تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفُطُوْرَ

“Senantiasa umatku selalu selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”.

* Jarak antara sahur beliau dan shalat fajar (shubuh) adalah kurang lebih seperti membaca 50 ayat.

* Adapun tentang akhlak baginda, maka ceritakanlah dan tidak mengapa. Sungguh Rasulullah adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Betapa tidak, padahal sungguh akhlak beliau adalah Al-Qur’an, sebagaimana disifatkan oleh Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau telah memerintahkan umatnya supaya berakhlak baik, terlebih lagi bagi orang yang sedang berpuasa, beliau bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَعَمِلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةً فِى أَنْ يَدَعْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makanan dan minumannya”.

* Baginda sallallahu alaihi wa sallam menjaga keluarganya dan memperbaiki cara bergaulnya dengan mereka pada bula
n Ramadhan melebihi bulan lainnya.

* Puasa yang beliau kerjakan tidak menghalanginya mencium istri-istrinya atau menyentuh mereka. Namun beliau adalah seorang yang paling mampu mengendalikan syahwatnya.

* Baginda sallallahu alaihi wa sallam tidak meninggalkan siwak baik pada bulan Ramadhan atau selain bulan Ramadhan, beliau senantiasa mensucikan mulutnya.

* Nabi sallallahu alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berpuasa, dan beliau memberi keringanan bagi orang yang bepuasa untuk berbekam, adapun hadits yang menyelisihi hal ini telah mansukh (terhapus).

* Baginda sallallahu alaihi wa sallam berjihad di bulan Ramadhan, dan memerintahkan sahabatnya untuk berbuka agar kuat dalam menghadapi musuh.

* Di antara rahmat baginda sallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya, iaitu bagi musafir diberi keringanan untuk tidak berpuasa, demikian juga orang yang sakit, laki-laki dan perempuan tua (jompo), perempuan hamil dan menyusui. Bagi musafir harus mengganti puasanya (dihari lain), sedangkan orang yang sudah lanjut usia, perempuan hamil atau menyusui yang khawatir terhadap diri dan bayinya, maka ia mengganti puasanya dengan memberi makan (fakir miskin).

* Baginda sallallahu alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam ibadah dan shalat malam pada bulan Ramadhan melebihi kesungguhannya pada bulan-bulan lainnya, terutama pada 10 malam terakhir, beliau mencari Lailatul Qodar.

* Nabi sallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada bulan Ramadhan, khususnya 10 hari yang terakhir. Pada tahun dimana beliau wafat, Nabi sallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf selama 20 hari. Beliau tidaklah beri’tikaf melainkan dalam keadaan berpuasa.

* Adapun dalam hal mengulangi (bacaan) al-Quran, maka tidak ada seorangpun yang memiliki kesungguhan seperti kesun
gguhan baginda sallallahu alaihi wa sallam. Jibril menemui beliau untuk mengulangi Al Qur’an dalam bulan Ramadhan, dikarenakan bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an.

* Adapun kedermawanan beliau dalam bulan Ramadhan tidaklah dapat digambarkan. Beliau seperti angin yang berhembus (membawa kebaikan), sebagaimana keadaan orang yang tidak takut miskin.

* Nabi sallallahu alaihi wa sallam adalah mujahidin yang paling agung, puasa tidaklah menjadi penghalang baginya dari mengikuti peperangan-peperangan. Baginda sallallahu alaihi wa sallam telah mengikuti 6 peperangan dalam 9 tahun, semuanya di bulan Ramadhan. Demikian pula beliau melakukan amalan-amalan yang besar di bulan Ramadhan, diantaranya penghancuran Masjid Dhirar (masjid yang didirikan orang-orang munafik), penghancuran berhala terbesar di Jazirah Arab, menyambut utusan-utusan, menikah dengan Hafshah Ummul Mu’minin, dan membebaskan kota Mekkah (dari kekuasaan musyrikin) pada bulan Ramadhan.

Ringkasan: Bulan R
amadhan adalah bulan kesungguhan, bulan jihad dan bulan pengorbanan bagi kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Tidak sebagaimana yang difahami oleh mayoritas kaum muslimin pada zaman ini, yang memahami bulan Ramadhan adalah bulan istirahat, bulan bermalas-malasan, kelemahan dan pengangguran.

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami untuk mengikuti NabiMu dan hidupkanlah kami di atas sunnahnya dan wafatkan kami diatas syariatnya sallallahu alaihi wa sallam.

Sumber:
Majalah Al-Ashalah edisi III hal 66-69

Mengenai Syeikh Muhammad Musa Nasr

Syeikh Muhammad Musa Nasr merupakan salah seorang murid Syeikh al-Albani yang terkenal. Syeikh al-Albani memuji dia dan biasa mendahulukannya sebagai imam di rumahnya atau ketika safar. Dan terkadang Syeikh al-Albani berkata: "Bersama kami imam kami". Dan asy-Syeikh mengirim kepada Syeikh Muhammad Musa para penuntut ilmu untuk belajar qiraah dari dia.

Ikuti lanjut profilnya:http://tamanulama.blogspot.com/2008/02/syeikh-muhammad-musa-nasr.html

Jumat, Juni 04, 2010

Keprihatinan Ulama' Terhadap Penderitaan Gaza

Sejak tahun-tahun sebelumnya, penderitaan penduduk Gaza dalam wilayah Palestin telah diketahui umum, termasuklah waktu-waktu sebegini, mereka mengalami sekatan ekonomi yang sungguh dashyat yang dilakukan oleh Negara Zionis Kafir, juga merangkumi dokongan negara-negara kafir (yang menyokong Zionis) hingga memudaratkan penduduk-penduduk Gaza akibat sekatan tersebut yang melemahkan serta menekan mereka. Sebaik musuh menyedari kelemahan mereka (penduduk Gaza) disamping rasa putus harapan, meliputi penduduk terdekat disekitar mereka, Zionis terus menyerang mereka dengan ledakan bom serta peluru berpandu, memusnahkan tanaman dan ternakan, hingga membunuh ribuan, mencederakan hampir ribuan penduduk awam serta tentera, golongan kanak-kanak serta wanita, semata-mata memenuhi hasrat pembersihan etnik (genocide) ke atas orang-orang Islam yang berada di wilayah tersebut, menamakan mereka sebagai pengganas terutamanya kelompok yang mempertahankan agama Islam, mempertahankan diri sendiri dan orang-orang lemah sedaya upaya mereka. Tidak syak lagi bahawa Yahudi adalah musuh Islam sebagaimana firman Allah Taala, dalam surah Maidah, ayat 82,

Demi sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan dapati manusia yang keras sekali permusuhannya kepada orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik


Fatwa Ulama Isu Gaza

Syeikh Abdullah bin Abdul Rahman al-Jibrin rahimahullah.

Dengan ini, maka wajib ke atas orang Islam yang ditindas agar terus bersabar dan mengiranya sebagai pahala dalam musibah ini, mengingati firman Allah Taala dalam surah Ali Imran, ayat 186, Demi sesungguhnya, kamu akan diuji pada harta benda dan diri kamu hingga akhir ayat, dan firmanNYA lagi, dalam surah Baqarah, ayat 155, Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan (dengan merasai) kelaparan dan (dengan berlakunya) kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dan kami juga berpesan ke atas mereka agar bertahan dengan kemampuan sedia ada serta berserah sepenuhnya kepada Allah dan berdoa memohon kemenangan ke atas musuh-musuh, juga merasa yakin sepenuhnya (thiqah) dengan pertolongan Allah Taala, kerana Allah Taala mengkhabarkan mengenainya, dalam surah Muhammad ayat 7, Wahai orang-orang yang beriman, kalau kamu membela (agama) Allah nescaya Allah membela kamu (untuk mencapai kemenangan) dan meneguhkan tapak pendirian kamu. Firman Allah lagi, Dan kemenangan itu pula hanyalah dari sisi Allah (Al-Anfal, ayat 10), maka hendaklah mereka menjaga perintah-perintah Allah dengan perbuatan yang diperintahkanNYA dan meninggalkan perkara dilarang, beriltizam dengan syariat, memelihara keimanan, selain tidak merasa takut melainkan Allah, mengingati firman Allah Taala, Sesungguhnya yang demikian itu ialah syaitan yang (bertujuan) menakut-nakutkan (kamu terhadap) pengikut-pengikutnya (kaum kafir musyrik). Oleh itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu (jangan cuaikan perintahKu), jika betul kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imran, ayat 175)

Begitu juga, kami mengingatkan sekalian orang-orang Islam di setiap pelusuk tempat mengenai hak-hak persaudaraan umum Islamiyah, kerana orang Islam ada bersaudara di setiap tempat, dan orang-orang Islam dari penduduk Gaza adalah lebih utama dimana mereka memerlukan pertolongan saudara seIslamnya dengan kemampuan yang boleh, hingga terangkat kezaliman musuh daripada mereka. Melalui cara menekan musuh supaya menghentikan kezaliman yang dilakukan tanpa sebab melalui setiap persidangan (antarabangsa) serta menakutkan musuh mengenai akibat dari perbuatan zalim dan permusuhan (yang dilakukan oleh mereka iaitu Zionis)

Kami menasihatkan orang-orang Islam di setiap tempat supaya mendoakan saudara-saudara mereka agar dikurnia kemenangan serta keteguhan (jiwa), maka kami berpandangan diharuskan berqunut dalam setiap solat atau dalam solat maghrib serta subuh, mendoakan ke atas orang-orang tertindas, doa (kemusnahan)ke atas golongan melampau yang zalim (Zionis), begitu juga kami berpesan agar segera membantu mereka bentuk material dan moral semampu boleh seperti berinfak untuk mereka dengan harta, terutamanya bantuan makanan, kerana tanaman dan ternakan mereka dimusnahkah musuh (Zionis), kemudian, menderma darah bagi pesakit yang memerlukannya, menerima pesakit-pesakit yang mengalami kecederaan serta merawat mereka semampunya, dengan harapan agar mereka dapat menerus kehidupan dengan gembira bersama ahli keluarga dan anak-anak mereka, maka kirimkanlah (sebanyal-banyaknya) bantuan pelbagai bentuk, seperti pakaian, makanan, peralatan mahupun apa jua yang diperlukan mereka.

Selasa, Juni 01, 2010

Pulanglah...Musafir

MUSAFIR

Masa
Untuk
Semua
Anda
Fikirkan
Itulah
Realiti

Boleh dikatakan semua orang pernah bermusafir. Mereka keluar meninggalkan kampung halaman , bertebaran ke pelusuk muka bumi untuk tujuan tujuan tertentu.ini bukan lah tabiat baru, ianya telah dipelopori semenjak khidupan zaman awal lagi.Samada mereka keluar mencari ilmu pengetahuan, mencari rezeki ataupun untuk membuat penemuan dan kajian baru demi memuaskan rasa hati yang rasa tidak mencukupi untuk terus tetap pada tempat yang sama.Manakan ilmu dan pengalaman itu sama jika berlainan

tempatnya.Melihat budaya dan gaya hidup masyarakat sahaja sudah cukup untuk menggambarkan bahawa manusia itu berlainan bila mereka dipecahkan mengikut muka bumi, bahasa dan budaya.Melihatkan adanya "gap" pembeza antara beberapa bangsa, sesetengah mereka yang pernah berjalan jauh menyusuri jalan jalan asing mengambil pendekatan mendekatkan perbezaan antara dua darjat bangsa itu.Biar tidak pada masyarakatnya tersendiri, paling tidak terhadap dirinya sendiri yang paling tidak dapat merefleks apa yang ingin dibawa dan diterjemahkan kedalam kehidupannya dari apa yang telah diambil daripada tamadun bangsa lain.

Melihat dan belajar tentang kehidupan bangsa yang, baik dan buruk yang sering ketara dengan bangsa sendiri memang tidak dapat dinafikan.Kadang terasa diri adalah bangsa yang "perfect"…kadang kadang terasa kesian dengan kelemahan bangsa sendiri.Itulah bangsa bangsa.Beribu ribu bangsa yang wujud di muka bumi.Bangsa bangsa yang dipisah dengan pelbagai ketidaksamaan gaya hidup, bahasa dan pelbagai lagi.Namun bila kita ketemui satu titik persamaan dengan bangsa sendiri, terasa bahawa ia tidak lagi asing.Terasa bahawa diri itu telah berjaya menerapkan nilai nilai bangsa lain.Terasa bahasa diri itu sudah mampu mentafsir bangsa yang baru di"anuti" itu.Setelah lama menetap di satu satu lokasi luar, setelah menguasai bahasa dan perangai tempat tersebut, ia telah menyebabkan walaupun sedikit, kita terasa bahawa inilah dirikita yang sebenarnya.CAMPUR.Mampu untuk terus mendabik hari hari mendatang tidak kira di mana aku berada.Samada di bumi ibunda atau di bumi musafir.Mereka makin sebati dengan kehidupan baru yang pada mulanya dibenci oleh hati mereka, yang pernah di cemuh oleh mulut mereka sendiri, yang pernah di pandang rendah oleh mata mereka sendiri pada suatu hari dulu.Mungkin juga pernah dipuji.

Status masyarakat tidak dapat dinilai dengan sekelip mata.Sejuta ketidaksamaan akan terpancar pada pandangan pertama, namun dengan menjadikan masyarakat itu sebahagian hidup kita maka tidak lagi ia terasa asing.tidak lagi ia dianggap sebagai "dunia" lain.


TAK KENAL MAKA TAK CINTA.

Kalau tak cinta bagaimana nak kenal dengan lebih dalam?

MUSAFIR PERGI


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Daripada Anas Bin Malik, Rasulullah bersabda : "Sesiapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah sehingga dia kembali."

[Hadith riwayat Tarmizi dengan sanad Hasan, Kata syeikh Albani dalam Sahih at-targhiib wa at-tarhiib – hadith hasan lighairihi]

Perkara ini mungkin pernah terfikir oleh mereka yang pernah bermusafir.Merantau demi mendapatkan sesuatu yang tiada pada bumi sendiri adalah satu mujahadah yang tiada nilainya.Meniggalkan keluarga.Meninggalkan udara kampung.Meninggal tempat bermain.Segenggam tekad haruslah di genggam dengan kemasnya pada hari pertama mereka melangkah keluar dari pagar rumah mereka bagi memastikan perjalan dan tapak tapak yang akan disusun nanti tidak tersasar dari target asal.Supaya tiada yang kecewa di belakang hari.

Entah pulang entah tidak…?


Jika pulang berbaloikah pemergian selama ini…?

Adakah aku akan pulang dengan TOPENG asal? Adakah aku akan menjadi BARU?


MUSAFIR MENCARI

Jika kita terus hidup dalam satu "template" yang sama, setiap yang susah akan menjadi biasa dan mungkin akan dianggap senang.Lama kelamaan kehidupan akan menjadi hambar dan tiada perubahan jika kita mencuba untuk mengubahnya.Mungkin disinilah terbuktinya kesan perubahan musim bagi negara negara yang mengalami 4 musim setahun.Samada kesan psikologi, cara berfikir dan sikap atau apa saja, ia memang memberi pengaruh besar terhadap mereka yang tinggal di lokasi yang mengalami 4 iklim berbanding mereka yang terus bangun dan tidur dalam cuaca yang hampir sama sepanjang tahun.Tiada "action" baru yang perlu difikirkan dan diinovasikan kerana semua akan berlalu seperti hari yang sebelumnya.


Mungkin lebih teruk lagi jika mereka mereka ini tidak langsung berfikir untuk apa apa perubahan pada hari esok.Ibaratkan "fikir pagi, buat pagi, fikir petang buat petang".Mereka menerima, itulah hari mereka, itu kehidupan mereka, mungkin besok yang tak pasti itu tidak langsung penting bagi mereka walaupun jika kehidupan hari ini penuh dengan masalah , mereka berkata " masalah hari ini adalah masalah hari ini, jika esok ia masih ada, barulah kita fikirkan penyelesaian baru esok hari.

Berkata Imam As-Syafie:

تغرَّب عن الأوطان في طلب العلى *** وسافر ففي الأسفار خمس فوائد
تَفَرُّج همٍّ واكتسابُ معيشــة *** وعلـمٌ وآدابٌ وصحبةُ ماجد

Berkelanalah dari bumi watan untuk mencari ketinggian(kemuliaan),Dan kamu menjadi musafir, maka pada permusafiran itu ada lima faedah kebaikan,Ia menghapuskan kebimbangan dan mencapai erti kehidupan,Dan mendapat ilmu pengetahuan dan adab dan jua teman terpuji.[Diwan As-Syafie]

Apa yang hendak dicari? Sudah berjumpa apa yang diimpikan?

Mencari Diri?

SAFAR MENDEDAHKAN DIRI SEBENAR

وسمي السَّفَرُ سَفَراً لأَنه يُسْفِرُ عن وجوه المسافرين وأَخلاقهم فيظهر ما كان خافياً منها

Dan dinamakan as-safar itu safar kerana ia membuka/mendedahkan dari muka muka musafir itu dan juga akhlak sebenar mereka, maka jelaslah/zahirlah apa yang tersembunyi disebaliknya.

[Lisaanul Arab]

Identiti diri kita atas definisi orang lain.Kita hanya merasai apa itu diri kita.Selama ini hidup dipandu oleh keluarga.Bila dilepaskan merantau jauh, sudah masanya untuk menjadi "driver" terhadap diri sendiri.Bila mahu dipecut, bila mahu diperlahankan.Bila mahu berhenti dan bila mahu menyimpang.Dunia sungguh luas untuk diterokai, hanya masa menjadi titik jawapan.Pada akhirnya samada kita jatuh tersungkur atau masih tegap berjalan.

Bila bermusafir itu kita mengenali apa yang berada di sudut hati.Juga orang yang berada disisi kita.Kerana banyak mushkilah dan mashaqqah yang akan dilalui semasa permusafiran, di situ ia menguji tahap ketahanan iman dan nafsu.Di era ujian2 berat, maka terserlahlah identity sebenar.Jika disedari dari awal, maka boleh diubah dan dijinakkan kearah kebaikan.Bahkan semasa bermusafirlah masa terbaik untuk mengkoreksi diri dan membuat perubahan tadarruji.Namun jika tidak dibendung, hawa akan mengemudi diri, terus belayar dalam kehidupan dunia yang luas terbentang.


MUSAFIR LALU

Bagi mereka yang jelas tujuannya, setiap perjalanan hanya difokuskan pada niat asal permusafiran tersebut.Tidak sanggup mereka membuang , menghabis masa dengan perkara perkara yang tidak perlu atau tidak membawa faedah kepada hidup mereka atau perjalanan tersebut.

Bila kita bermusafir, kita telah mencipta satu zon masa yang baru, keluar dari zon masa kehidupan biasa kita.Kerana zon masa itu telah ditetapkan, ianya haruslah dipatuhi.Itulah perjalanan musafir yang dirancang.Bukan bermain dengan permusafiran.Namun masih ada yang hanya keluar bertapak kehadapan tanpa menyusun had zon zon masa tersebut, dengan harapan yang baik dan buruk akan ketemu jua.Tidak kisah dimana akhirnya.

MUSAFIR LARI

Baiknya mencipta had zon masa itu, kerana ia dapat menjaga si musafir dari leka dengan perjalanannya sendiri.lalai dengn persinggahan.Tenggelam dengan keluasan waktu REHAT.Bermusafir boleh MEMENATKAN dan MEREHATKAN.Ia boleh menjadikan seseorang kekeringan tenaga untuk menimba sesuatu yang berharga untuk dibawa pulang , tetapi ia juga boleh menjadi tempat bersembunyi bagi mereka yang cuba lari dari tuntutan agama dan watan.Mereka akan berselindung atas nama musafir yang ketagihan ilmu, tidak cukup² sampai kemati.Lantas terus memusafirkan diri tanpa memikirkan priority dan tangunggjawab yang sebenar.Tidak bersedia pulang.Tidak penuh ilmu dada untuk pulang.Itulah alasan².

MUSAFIR PULANG

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنْ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

Daripada Abi Hurairah, daripada Nabi S.A.W " Permusafiran itu adalah potongan (sebahagian) dari azab/seksaan kerana ia menghalang dia dari makanan, minuman dan tidur secukupnya. Sekiranya dia telah menghabiskan urusannya, maka bersegeralah (kembali) kepada keluarganya.

[Hadith Muttafaqun 'Alaih]

Jelaslah dari maksud hadith tuntutan untuk kembali dari permusafiran setelah menyelesaikan hajat yang hendak dicapai.Kerna jauh disudut hati, satu perasaan rindu yang menebal untuk berjumpa dengan ahli keluarga dan kampung halaman.Rindukan adik adik yang masa ditinggalkan masih dalam buaian.Entah kenal entah tidak akan kakak dan abang mereka ini.Risaukan ibu yang tidak berapa bagus kesihatannya.Risaukan ayah yang semakin penat mencari rezeki menampung perjalanan kita yang jauh.

Agaknya berapa kali Ibu mengairi matanya dengan kesuaman air suci itu mengenangkan anak jauh di perantauan?.Hari gembira hari raya umpama tiada ruhnya.Keceriaan hari2 raya umpama tiada warna bila terkenang anak yang dilahirkan keseorangan di negeri asing.


MUSAFIR DUNIA

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Daripada Abu Hurairah, Nabi bersabda : "Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir"

[Hadith riwayat Muslim]

Jangan cepat terasa senang dan bahagia dengan fana yang telah diberitakan.Ambillah kesenangan dunia yang didapati untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari bekalan menujuNya.Bukan bersenang menjulur kaki melupakan janji asal tujuan penciptaan kita.Itulah dunia. Tempat baru kita bersinggah dalam perjalanan menuju akhirat.Terasa baru dengan dunia ini.Terasa ingin semua aku kecapi apa yang ada padanya. Terasa ingin mencuba segala gala.Bila kita tiada target yang jelas untuk dicapai didunia ini, maka kita akan dibawa bawa, di alun alun oleh arusnya yang senantiasa berubah bagi memastikan mereka yang leka dengannya akan terus leka dan mengejar mereka.


REDHA IBU DAN BAPA


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ جِئْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَتَرَكْتُ أَبَوَيَّ يَبْكِيَانِ فَقَالَ ارْجِعْ عَلَيْهِمَا فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا

Seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan berkata "Aku datang untuk berbaiah kepada kamu untuk berhijrah dan aku tinggalkan ibu bapaku mereka menangis", maka Nabi berkata " Kembalilah kepada kedua mereka, ceriakanlah mereka sebagaimana kamu telah menyebabkan mereka menangis.

[Hadith riwayat Imam Ahmad, Abu daud.Disahihkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim.Ta'liq Syeikh Albani : Sahih. Ta'liq Syeikh Syuib Al-Arnout : Sanad hadith ini hasan]


عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَأْذَنَهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

[Muttafaqun Alaih]

Ibnu Hajar ketika mensyarah hadith di atas dalam kitabnya Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari dalam bab Jihad Dengan Izin Kedua Ibu Bapa :


قَالَ جُمْهُور الْعُلَمَاء : يَحْرُم الْجِهَاد إِذَا مَنَعَ الْأَبَوَانِ أَوْ أَحَدهمَا بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَا مُسْلِمَيْنِ ، لِأَنَّ بِرّهمَا فَرْض عَيْن عَلَيْهِ وَالْجِهَاد فَرْض كِفَايَة ، فَإِذَا تَعَيَّنَ الْجِهَاد فَلَا إِذْن . وَيَشْهَد لَهُ مَا أَخْرَجَهُ اِبْن حِبَّانَ مِنْ طَرِيق أُخْرَى عَنْ عَبْد اللَّه بْن عَمْرو " جَاءَ رَجُل إِلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَهُ عَنْ أَفْضَل الْأَعْمَال ، قَالَ : الصَّلَاة . قَالَ ثُمَّ مَهْ ؟ قَالَ الْجِهَاد . قَالَ فَإِنَّ لِي وَالِدَيْنِ ، فَقَالَ آمُرك بِوَالِدَيْك خَيْرًا . فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَك بِالْحَقِّ نَبِيًّا لَأُجَاهِدَنَّ وَلأَتْرُكَنَّهُما قَالَ فَأَنْتَ أَعْلَم " وَهُوَ مَحْمُول عَلَى جِهَاد فَرْض الْعَيْن تَوْفِيقًا بَيْن الْحَدِيثَيْنِ ،

"Jumhur ulama mengatakan : diharamkan jihad sekiranya salah satu atau kedua ibu bapa menghalang pemergian jihad tersebut dengan syarat kedua duanya adalah muslim.Kerana berbuat baik kepada ibu bapa adalah wajib fardu ain dan jihad adalah fardu kifayah, tetapi sekiranya jihad (pada satu masa itu) menjadi fardu ain, maka tidak perlu meminta izin daripada ibu bapa.Ianya disokong oleh dalil hadith yang di keluarkan oleh ibnu hibban dari jalan yang berlainan(sanad), daripada Abdullah bin amru , telah datang seorang lelaki kepada rasulullah maka dia bertanya tentang sebaik² amalan.Nabi berkata : " Solat".Dia bertanya lagi, kemudian apa?.Nabi menjawab :"berjihad".Lelaki itu bertanya, jika aku mempunyai dua ibu bapa? Nabi menjawab: "aku menyuruh kamu untuk berbuat baik kepada keduanya.lelaki itu berkata, demi Allah yang membangkitkan kamu sebagai Nabi, aku bertekad akan berjihad dan akan meninggalkan kedua dua mereka, nabi menjawab " Engkau lebih mengetahui". Bermakna disini ia membawa maksud kedua dua hadith selari menyatakan tentang jihad fardu ain(pada Ibu Bapa)…"

Sambung Ibnu Hajar lagi dalam bab yang sama :


وَاسْتَدَلَّ بِهِ عَلَى تَحْرِيم السَّفَر بِغَيْرِ إِذْن لِأَنَّ الْجِهَاد إِذَا مُنِعَ مَعَ فَضِيلَته فَالسَّفَر الْمُبَاح أَوْلَى نَعَمْ إِنْ كَانَ سَفَره لِتَعَلُّمِ فَرْض عَيْن حَيْثُ يَتَعَيَّن السَّفَر طَرِيقًا إِلَيْهِ فَلَا مَنْع ، وَإِنْ كَانَ فَرْض كِفَايَة فَفِيهِ

"Dan ianya(hadith) dijadikan dalil pengharaman safar(musafir) tanpa izin kerana jihad dilarang walaupun padanya terdapat banyak fadilat, apatah lagi safar mubah(safar yang diharuskan), sudah tentu safar itu lebih utama untuk dihalang(jika tidak mendapat izin).Sekiranya pula safar itu untuk menuntut ilmu fardu ain, maka safar mesti maka dibenarkan(safar tanpa izin), tetapi jika ianya pada level fardu kifayah, maka terdapat khilaf padanya."[tamat]

Bermusafirlah selagi mana ia dapat memberi manfaat padamu dan orang sekelilingmu.Mencari ilmu atau menunaikan tugas.Patuhilah adab adab bermusafir dan gunakan rukhsah yang telah islam bukakan kepada mereka yang bermusafir.Bawalah restu kedua ibu bapamu, semoga perjalananmu itu akan terhasil seribu input baru yang berguna, moga dengannya kamu bawa balik ke rantau mu untuk menyinari kegelapan yang sedia ada.Jangan lupa permusafiran kita di dunia ini yang hanyalah sekejap sahaja berbanding kehidupan disana yang kekal abadi.Yang ditakutkan nanti bila sampai disana, tiada bekal yang kita bawa.

Bila selesai…PULANGLAH

Masih banyak tanggungjawabmu

Petikan:
http://waruza.multiply.com/journal/item/41/PULANGLAH

Selasa, Desember 01, 2009

Patani, Kezaliman yang Tidak Berperikemanusiaan yang Dilakukan Ke Atas Umat Islam Thailand

Lebih dari 36,000 umat Islam telah dibunuh setakat ini dalam pembunuhan di Patani. Jumlah mereka yang cedera dan cacat adalah jauh lebih tinggi. Umat Islam Patani masih berjuang bagi mempertahankan identiti keIslaman mereka.

Kawasan pergunungan dan perhutanan Patani adalah yang terkaya di Thailand, dan ia menjadi sumber 35 peratus daripada keseluruhan eksport negara. Namun demikian, umat Islam Patani, yang mem­bentuk kira-kira 10 peratus daripada keseluruhan populasi seramai 55 juta orang, sedang ditekan dan ditindas sejak 200 tahun, dan kini sedang berhadapan dengan polisi genocide.

Penderitaan umat Islam Patani yang pertama bermula pada tahun 1782 apabila Dinasti Rama mula berkuasa di Patani. Dinasti ini memindahkan ibu negaranya ke Bangkok dan seterusnya mewujudkan sebuah sistem pentadbiran moden. Pada waktu itu, pergaduhan berlaku di antara umat Islam Patani dan masyarakat tempatan yang dikenali sebagai orang-orang Siam, dan ia berlarutan selama beberaa hari. Banyak bandar-bandar Pattani yang habis dibakar, ibu pejabat militarinya dimusnahkan, dan kira-kira 4,000 orang umat Islam Patani dipenjarakan oleh Siam sepanjang tempoh berlakunya pergaduhan itu.

Siam dengan kejam mendera mereka yang dipenjarakan, membawa mereka ke Bangkok dengan mengikat di antara satu sama lain dengan tali yang yang dikenakan pada telinga dan kaki mereka dengan menggunakan jarum, dan memaksa mereka bekerja mengorek terowong tanpa diberikan sebarang peralatan dan perkakasan. Sultan Patani turut dibunuh dengan kejam oleh Siam. Thailand telah terbahagi kepada 7 kawasan selepas peperangan, dan Patani dipaksa membayar cukai, dan berada selama 70 tahun yang berikutnya di bawah kawalan Siam. Umat Islam Patani mendakwa bahawa mereka bukannya berbangsa Siam, dan mereka juga bukannya berbangsa Thailand, tetapi lebih kepada Indonesia dan Malaysia. Sebenarnya, mereka menggunakan Bahasa Melayu, iaitu bahasa umat Islam Malaysia. Walaupun bahasa tersebut telah ditulis dalam huruf Arab selama beratus-ratus tahun, mereka telah dipaksa untuk meng­gunakan huruf Roman oleh kerajaan Thailand.

Pada tahun 1909, Siam menganugerahkan kepada Pattani sesuatu yang konon­nya dipanggil kemerdekaan, walaupun polisi menindas kerajaan Thailand tidak ber­ubah sama sekali. Umat Islam Pattani bangkit bagi menuntut kemerdekaan se­benar selama berkali-kali, tetapi pasti dikalahkan de­ngan kejam sekali, lalu me­nyebabkan mereka ber­hijrah beramai-ramai ke Malaysia.

Para pemerintah Thai terus menjalankan polisi mene­kan dan asimilasi yang bertujuan untuk me­ma­dam­kan identiti Islam Pattani. Tindakan yang pertama ber­laku pada tahun 1932, apabila pertubuhan-pertubuhan pendidikan Islam telah di­haramkan dari menjalankan sebarang kegiatan. Polisi penghapusan yang lebih besar telah dimulakan pada tahun 1944, dan mengakibatkan umat Islam Pattani dan ahli keluarga mereka dibunuh dengan kejam oleh para penganut Budda. Pengamalan rukun-rukun Islam dilarang sama sekali, dan ajaran Budda mula disebarkan kepada masyarakat. Ajaran Buddhisme menjadi wajib di sekolah-sekolah, dan para pelajar Islam dipaksa mengamalkan ajaran-ajaran Budda.

Selama bertahun-tahun, para pemerintah Thailand telah melakukan pembunuhan beramai-ramai ke atas umat Islam Pattani. Pada tahun 1944, 125 buah keluarga Islam yang tinggal di Belukar Samak telah dibakar hidup-hidup. Polisi-polisi asimilasi yang dilaksanakan oleh Thailand dapat dilihat dan dirasai dalam setiap aspek kehidupan. Banyak menara-menara yang diruntuhkan di Pattani.

Sebagai sebahagian daripada polisi asimilasi ini, keseimbangan demografi di kawasan Pattani turut diubah apabila orang-orang Budda digalakkan supaya berpindah ke sana. Patung Budda terbesar di Thailand telah ditegakkan di Pattani, dan umat Islam dipaksa supaya menyembahnya. Sesiapa yang enggan telah dibunuh atau dicampakkan ke Kota River.

Pada masa yang sama, tempat perlindungan pejuang kebebasan Pattani telah diruntuhkan oleh kerajaan Thailand dan beratus-ratus rakyat Pattani yang tidak bersalah telah didera. Para ulama Islam yang terkenal telah mati di bawah keadaan yang sangat mencurigakan di pusat-pusat kesihatan milik kerajaan Thailand. Pembunuhan dan kehilangan yang tidak berkesudahan sudah menjadi darah daging kehidupan.

Perjuangan bagi mendapatkan kemerdekaan oleh umat Islam Pattani, yang sedang mengalami penderitaan, bermula selepas Perang Dunia II dan berterusan sehingga ke hari ini.

Minggu, November 29, 2009

Imbasan Sejarah Penderitaan Palestin

Polisi ganas kerajaan Israel

Kekacauan dan penindasan di tanah rakyat Palestin masih berlaku sehingga kini, yang mana dahulunya sewaktu pemerintahan Empayar Uthmaniyyah, rakyat yang terdiri daripada pelbagai agama, bahasa dan bangsa dapat hidup dengan aman dan selamat selama lebih kurang 400 tahun. Penyembelihan dan pembunuhan yang di­lakukan dengan penuh kejam yang berterusan sehingga ke hari ini, bermula apabila kawasan tersebut jatuh ke dalam dominasi British dan ditambah pula dengan keinginan untuk me­wujudkan negara Yahudi yang merdeka.

Pokok utama yang menerangkan apa yang sedang berlaku di sana adalah kerana tanah Palestin dianggap suci oleh tiga agama langit. Walau bagaimanapun, mereka yang mempertahankan pandangan Zionis telah melakukan polisi yang bertujuan untuk meng­hapuskan yang lain, berbanding untuk men­jadikan kawasan suci itu berada dalam ke­adaan aman dan bersatu-padu. Zionis ber­pendapat bahawa orang-orang Yahudi me­rupakan "bangsa terbaik", yang telah dipilih oleh Tuhan dan semua manusia lain di dunia ini harus tunduk kepada mereka. Bagi Zionis­me, kepercayaan kepada "tanah yang di­janjikan" adalah sama penting dengan ke­dudukan mereka sebagai "insan terpilih." Berdasarkan kepada kepercayaan tersebut, orang-orang Yahudi mesti tinggal di kawasan tanah suci yang telah dijanjikan oleh Tuhan kepada mereka. Kawasan ini yang bermula dari Sungai Nil ke Euph­rates, terdiri dari tanah-tanah milik rakyat Pa­lestin, dan Jerusalem pula terletak di tengah-tengah­nya. Zionisme percaya ba­hawa adalah menjadi hak asasi semula jadi rakyat Yahudi untuk tinggal di atas tanah yang di­janji­kan, dan segala macam bentuk kekejaman dan pe­nindasan boleh dilakukan untuk menghapuskan mana-mana pihak yang cuba menentang mereka. Kepercayaan dan pan­da­ngan terhadap perkauman menjadi sebab utama ke­pada ketidakadilan yang sedang berlaku di Palestin, dan juga kepada pem­bentukan polisi-polisi kejam dan penindasan yang dilakukan oleh Israel terhadap penduduk Pales­tin.

Bagi orang-orang Yahu­di, penubuhan negara Yahudi merdeka di atas tanah milik rakyat Palestin merupakan satu misi suci. Matlamat penting yang lain adalah untuk terus mengekalkan kewujudan negara tersebut, yang mana telah dibuat ada Mei 1948. Berdasarkan kepada pemerintah kerajaan Israel, ia hanya boleh dijamin dengan me­nam­bahkan populasi mereka di dalam wilayah Palestin dan seterusnya meluaskan lagi kawasan pendudukan mereka. Untuk merealisasikan hasrat tersebut, keseluruhan populasi Israel mesti diusir keluar dari tanah tersebut, ataupun dihapuskan sahaja. Sehingga kini sudah lebih separuh abad, negara Israel melakukan proses penghapusan jangka panjang rakyat Palestin, selaras dengan kepercayaan mereka.

Harus dijelaskan bahawa keinginan Yahudi untuk memiliki tanah air mereka sendiri adalah berjustifikasi sepenuhnya. Malah, wilayah Palestin merupakan bekas tanah air Yahudi suatu ketika dahulu. Walau bagaimanapun, Zionisme merupakan ideologi terpesong yang menggunakan pelan-pelan agresif untuk mengambil-alih keseluruhan Palestin dan mengusir atau menghapuskan umat Islam Arab yang tinggal di dalamnya, dan melihat tiada apa yang salah dengan melakukan perkara-perkara tersebut. Inilah sebabnya mengapa pendekatan yang dilakukan bukan sahaja dikecam oleh umat Islam, tetapi juga oleh ramai orang-orang Israel, Yahudi dan Kristian.

Pengusiran Rakyat Palestin

Apabila Zionis bercadang untuk menubuhkan negara Yahudi merdeka di dalam wilayah Palestin, masalah pertama yang terpaksa mereka hadapi ialah kekecilan saiz populasi Yahudi yang tinggal di situ. Pada awal 1900-an, populasi Yahudi adalah kurang dari 10 peratus berbanding keseluruh populasi Palestin. Berdasarkan kepada perangkaan rasmi, dengan usaha Zionis, bilangan pendatang Yahudi, telah meningkat dari 100,000 orang pada 1920-an, kepada 232,000 orang pada 1930-an Pada tahun 1939, ada kira-kira 445,000 orang-orang Yahudi daripada populasi jumlah 1.5 juta. Bermula dengan 10 peratus daripada keseluruhan populasi dua dekad yang lalu, kini menjadi 30 peratus pada tahun 1939. Kawasan pendudukan Yahudi turut berkembang selaras dengan pertambahan populasinya. Pada tahun 1939, kawasan yang dimiliki oleh Yahudi telah berganda jika dibandingkan pada tahun 1920-an. Pada 1947, ada kira-kira 630,000 orang-orang Yahudi di Palestin dan 1.3 juta rakyat Palestin. Dalam proses pembahagian Palestin oleh Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu pada 29 November 1947 dan penubuhan kerajaan Israel pada 15 Mei 1948, rakyat Israel berjaya mendapat bahagian tanah Palestin yang cukup banyak. Kesan dari tekanan dan pembunuhan di kampung-kampung Palestin, bilangan rakyat Palestin yang tinggal di dalam kira-kira 500 buah bandar, pekan dan perkampungan jatuh dari 950,000 orang kepada 138,000 orang. Kebanyakan dari mereka telah dibunuh, dan yang lain telah diusir keluar. Kumpulan pengganas Zionis yang kemudiannya menjadi pasukan askar Israel telah menyerang perkampungan umat Islam pada waktu malam. Umat Islam ditembak, dan ke mana sahaja kumpulan ini pergi mereka pasti melakukan pembakaran dan kemusnahan. Dengan cara ini, kira-kira 400 buah perkampungan Palestin dilenyapkan dari peta pada tahun 1948 dan 1949. Harta milik rakyat Palestin yang ditinggalkan telah diambil-alih dengan menggunakan Undang-undang Harta Tidak Bertuan. Sehingga 1947, pemilikan tanah di Palestin oleh rakyat Yahudi adalah dalam 6%. Apabila negara Israel telah ditubuhkan, mereka merampas 90% daripada jumlah tanah. Penduduk Arab Palestin hanya ditinggalkan dengan dua kawasan yang berasingan, iaitu Semenanjung Gaza dan Tebing Barat.



Bagi rakyat Palestin, perjalanan 15 minit ke tempat kerja atau melawat saudara terdekat di kem pelarian yang berhampiran adalah sesuatu yang dahsyat. Mereka akan diherdik dan didera secara fizikal oleh askar-askar Israel yang mengawal di pos-pos pemeriksaan di sepanjang jalan.


Seperti yang telah kita lihat, setiap kedatangan orang-orang Yahudi yang baru membawa maksud kekejaman, penindasan dan keganasan terhadap populasi umat Islam. Dalam usaha menempatkan pendatang yang baru, organisasi Zionis memaksa rakyat Palestin supaya meninggalkan tanah yang telah mereka duduki selama beratus-ratus tahun. Joseph Weitz, yang manjadi ahli komiti perpindahan kerajaan Israel pada tahun 1948, menulis di dalam diarinya pada 20 Disember 1940: "Ia mesti jelas bahawa tiada tempat bagi kedua-dua pihak di dalam negara ini. Tiada pembangunan yang akan membawa kita lebih rapat kepada matlamat, untuk menjadi rakyat merdeka di dalam sebuah negara yang kecil ini. Selepas orang-orang Arab dipindahkan, negara ini akan terbuka luas untuk kita; jika orang-orang Arab terus tinggal, negara ini akan menjadi lebih sempit dan terbatas. Satu-satunya cara ialah dengan memindahkan orang-orang Arab dari sini ke negara-negara jiran, kesemua mereka. Tiada sebuah perkampungan ataupun sebuah suku kaum mesti dibiarkan wujud." Heilburn, pengerusi komiti untuk pilihan raya semula untuk jawatan Jeneral Shlomo Lahat, Datuk Bandar Tel Aviv, telah mengekspresikan pandangan Zionis terhadap rakyat Palestin seperti berikut: "Kita mesti membunuh seluruh rakyat Palestin, melainkan mereka bersetuju untuk hidup di sini sebagai hamba."

Kawasan
Dalam Kem
Luar Kem
Jumlah
Jordan
238.188
1.050.009
1.288.197
Tebing Barat
131.705
358.707
517.412
Pinggir Gaza
362.626
320.934
683.560
Lubnan
175.747
170.417
346.164
Syria
83.311
253.997
337.308
Jumlah
991.577
2.181.064
3.172.641

Kem-kem Pelarian

Sehingga kini sebahagian besar umat Islam yang dipaksa keluar dari tempat yang telah mereka duduki selama beratus-ratus tahun masih berada di kem-kem pelarian. Bilangan rakyat Palestin yang hidup di kem-kem pelarian, termasuklah juga di negara-negara jiran seperti Lebanon dan Jordan, berjumlah 3.5 juta orang.




Kebanyakan rakyat Palestin yang dipaksa keluar dari tanah air yang telah mereka diami selama beribu-ribu tahun, sedang berjuang untuk terus hidup di kem-kem pelarian. Angka terkini mereka yang berada di kem-kem pelarian adalah dalam 3.5 juta orang. Mereka yang berada di sana sering didera, ditindas dan dibom oleh Israel.


Keadaan yang dihadapi oleh rakyat Palestin di kem-kem tahanan dan di dalam wilayah yang diduduki Israel amat menyedihkan. Mereka menghadapi kesukaran untuk mencari rezeki walaupun keperluan-keperluan asasi manusia. Mereka hanya dapat menikmati kemudahan elektrik dan air setakat apa yang dibenarkan oleh Israel, dan terpaksa berjalan berbatu-batu ke tempat kerja yang tidak lumayan untuk meneruskan kehidupan. Sehinggakan perjalanan yang hanya memakan masa selama 10-15 minit, untuk ke tempat kerja atau pun melawat saudara-mara di kem tahanan yang berdekatan, merupakan sesuatu yang sukar bagi rakyat Palestin. Mereka terpaksa melalui proses pemeriksaan identiti di tempat-tempat tertentu di jalan yang dilalui, dan turut didera secara lisan dan fizikal. Kadang-kala, tentera Israel menutup jalan-jalan atas sebab "keselamatan", dan rakyat Palestin tidak dapat pergi ke tempat kerja, atau ke mana sahaja, walaupun ke hospital jika mereka sakit.

Di samping serangan-serangan Israel, rakyat Palestin juga bergelut dengan kepayahan ekonomi, kelaparan dan kemarau.

Di samping semua ini, mereka terus hidup dalam keadaan sentiasa dibayangi ketakutan untuk dibunuh, dicedera atau ditahan. Ini kerana mereka yang tinggal di kem-kem sering mengalami serangan bersenjata oleh kumpulan Yahudi fanatik yang tinggal di kawasan petempatan yang berhampiran, terutama sekali pada waktu malam.

Di dalam buku The Israe­li Connection yang ditulis oleh Benjamin Beit Hallahmi, se­orang profesor psikologi di Universiti Haifa Israel, telah menggambarkan keadaan umat Islam yang tinggal di Semenanjung Gaza dan pan­da­ngan orang-orang Israel terhadap mereka:

Pada 1986, populasi Gaza adalah seramai 525,000 dan kepadatannya pula ialah 2,150 per kilometer persegi (di Israel ia 186). Ke­banya­kan penduduk Gaza yang sudah cukup kuat, bermula kadang-kala pada usia lapan tahun, bekerja di Israel, pada gaji di bawah 40 peratus di bawah gaji orang-orang Israel. Mereka membayar cukai pendapatan - tanpa mendapat sebarang faedah, kerana mereka di anggap sebagai bukan pemastautin.

Dalam kesedaran orang-orang Israel, Gaza telah menjadi simbol ketidakupayaan dan kehinaan, tetapi tiada simpati untuk para penghuni Gaza, kerana mereka adalah musuh.

Agak penting setakat ini untuk mempertimbangkan secara ringkas impresi rakyat Palestin-Amerika yang telah melawat kem-kem pelarian untuk mendapatkan idea yang lebih jelas tentang keadaan di situ. Yasmine Subhi Ali, seorang pelajar perubatan, telah mengatakan seperti berikut di dalam lawatannya ke kem Shatila pada tahun 1999:

...melepasi banyak tinggalan-tinggalan yang musnah akibat perang saudara dan pencerobohan Israel di sepanjang perjalanan kami. Saya menjangka yang kami akan berhenti di beberapa pintu masuk yang menandakan jalan masuk ke kem apabila kami sampai di situ, tetapi saya tidak melihat seperti itu. Saya tidak perlu untuk berbuat demikian: perbezaan di antara kem dan kawasan persekitaran (yang bukannya tempat paling indah di bandar) amat ketara sehingga tidak boleh silap. Terdapat timbunan-timbunan sampah, bahan buangan, dan batu-batan yang memenuhi kedua-dua belah bahu jalan... Kedai-kedai yang sesak sekarang menghiasi jalanan, tetapi di antara kedai-kedai itu ada tanda-tanda ingatan yang masih kekal: bangunan-bangunan yang terdapat lubang-lubang yang ditembusi peluru, dan kesan-kesan bedilan...dan kawasan perkuburan yang mana (kami diberitahu) penghuni kem tidak dibenarkan untuk membina sebarang memorial atau batu nisan sekalipun.

Genocide Terhadap Populasi Awam

Israel telah melaksanakan keganasan yang sungguh sistematik untuk menentang penduduk Palestin sejak ia mula-mula ditubuhkan lagi. Kebiasaannya, sasaran utama mereka adalah umat Islam yang tinggal di kawasan tersebut. Sekarang sudah lebih separuh abad, umat Islam Palestin dihalau dari rumah-rumah mereka tanpa sebarang justifikasi diajukan, dan telah ditembak dan diserang, melihat kediaman mereka dirobohkan dan tanah serta kebun dirampas, dan sentiasa dizalimi dan dikejami. Apa yang sedang berlaku kepada tanah rakyat Palestin mendedahkan genocide dahsyat yang dilakukan oleh kerajaan Israel.





Israel menyerang penduduk yang tidak bersenjata dengan menggunakan rifel automatik dan senjata-senjata berat..

Hanya sedikit sahaja serangan-serangan dan pengeboman-pengeboman ke atas wanita, orang muda dan kanak-kanak Palestin yang dilaporkan oleh media antarabangsa.

Di Palestin, 70 peratus populasi yang terdiri dari orang muda dan kanak-kanak telah mengalami pengalaman diusir, ditahan, dipenjara dan disembelih sejak pendudukan Israel pada 1948. Mereka telah dilayan sebagai rakyat kelas kedua di tanah air sendiri, dan telah belajar untuk menentang walaupun dalam keadaan yang amat sengsara. Separuh dari mereka yang terkorban di dalam Intifada yang bermula apabila Ariel Sharon melakukan lawatan provokatif ke Dome of the Rock pada Oktober 2000 adalah berumur bawah 16 tahun. 60 peratus dari mereka yang cedera pula kurang dari 18 tahun. Sekurang-kurangnya 5 orang kanak-kanak mati setiap hari di kawasan-kawasan yang terus berkonflik, dan lebih dari 10 orang cedera.

GAMBAR DARI ARKIB
Israel melakukan pembunuhan di hadapan mata dunia.

Seorang penulis jurnal Ruth Anderson menggambarkan imej-imej ketidakperikemanusiaan dari Intifada Aksa di dalam The Palestine Chronicle, yang diterbitkan di Palestin:

Tiada siapa pun yang menyebut tentang lelaki muda yang baru berkahwin yang keluar berdemonstrasi hanya untuk mati syahid meninggalkan isterinya sebagai balu. Tiada siapa pun yang menyebut tentang orang muda Palestin yang dihentak kepalanya oleh Israel dan lengannya dipatahkan sebelum disembelih dengan kejam. Tiada siapa pun yang menyebut tentang budak lelaki kecil berusia 8 tahun yang ditembak mati oleh askar Israel. Tiada siapa pun yang mengatakan bagaimana penduduk Yahudi yang dilengkapi dengan pelbagai jenis senjata dan diberi semangat oleh kerajaan Barak, menyerang perkampungan Palestin dan mencabut pokok-pokok zaitun serta membunuh penduduk awam Palestin. Tiada siapa pun yang menyebut tentang bayi-bayi Palestin yang mati apabila rumah mereka dibom dalam serangan-serangan udara atau yang ditangkap di dalam serangan bertubi-tubi peluru Israel ketika mereka sedang enak dibuai mimpi. Semua orang tahu bahawa bayi-bayi itu tidak boleh melontar batu. Semua orang tahu kecuali Israel dan Amerika.

Maklum balas dari Ehud Barak, perdana menteri ketika itu, terhadap senario kebinatangan yang berlaku di Palestin amat menarik sekali sebagai refleksi pandangan kerajaan Israel. Beliau dengan mudah berkata bahawa beliau tidak kisah bagaimana konflik di Gaza, Tebing Barat dan zon-zon lain akan berakhir dan segala macam cara yang digunakan untuk menentang rakyat Palestin adalah berasas. Beliau turut mengatakan bahawa beliau tidak berminat tentang berapa ramai rakyat Palestin yang mati, sebaliknya beliau hanya bimbangkan keselamatan rakyatnya sahaja.

ISRAEL MENUMPAHKAN DARAH KANAK-KANAK



Dan apabila dia berpaling (dari kamu), dia berjalan di bumi untuk melakukan kerosakkan padanya, dan merosakkan tanam-tanaman dan haiwan ternakan. Allah tidak sukakan kebinasaan.
(Al-Baqarah, 2:205)

Respons dari E. Eytan, seorang jeneral dalam pasukan askar Israel, adalah lebih provokasi. Beliau menjelaskan bahawa mereka tidak pernah menyesal terhadap apa yang telah dilakukan dan mereka bersedia menggunakan apa jua cara untuk menjaga keselamatan orang-orang mereka dan juga askar-askarnya. Beliau juga berkata bahawa arahan telah dikeluarkan kepada pasukan askar supaya menggunakan senjata untuk menentang penunjuk perasaan Palestin dan mereka mesti ditembak di kepala dan dada untuk menanam rasa takut kepada populasi Palestin.

Kenyataan-kenyataan di atas yang datang dari orang-orang kuat Israel adalah penerangan munasabah paling jelas tentang mentaliti yang kejam ini. Perangkaan menunjukkan bahawa kebanyakan askar Israel telah menjalankan arahan yang diterima dengan berkesan sekali. Berdasarkan kepada laporan Pertubuhan Kesihatan Palestin, 34 peratus daripada lebih 400 orang yang dibunuh dalam Intifada Aqsa berumur bawah 18 tahun. Walau bagaimanapun, perkara yang paling penting ialah 47 peratus daripada mereka yang mati tidak terlibat langsung di dalam demonstrasi atau pertempuran. 38 peratus daripada mereka yang tercedera di Tebing Barat telah ditembak dengan peluru hidup, dan 75 peratus telah ditembak di bahagian badan yang atas. Di Semenanjung Gaza, 40 peratus dicederakan oleh peluru hidup, dan 61 peratus daripada mereka ditembak di bahagian atas badan, atau dengan kata lain di bahagian dada. Jumlah keseluruhan mereka yang cedera melebihi 10,000 orang. Dalam 1,500 orang menderita kecacatan yang kekal. Hospital tempat mereka dirawat juga sering diserang. Secara total, 1,450 telah ditahan, dan 750 dari mereka masih berada di dalam penjara-penjara Israel.

Dalam 2,760 buah bangunan mengalami kerosakan teruk. Daripada bilangan tersebut, 773 merupakan rumah kediaman rakyat Palestin, 180 telah musnah sama sekali. Daripada bangunan yang musnah, 29 adalah masjid, 12 gereja dan 44 tempat mengambil air. 41 buah sekolah tidak boleh digunakan sama sekali, dan 4 daripadanya digunakan sebagai gudang askar Israel. Tiga puluh buah bangunan sekolah telah dibakar oleh askar Israel. Keadaan ini membawa kepada kerosakan yang dianggarkan bernilai $400,000.

Selama bertahun-tahun, pasukan askar Israel telah melakukan pembunuhan kejam ke atas mereka yang tidak bersenjata, termasuklah kanak-kanak, tanpa ada sebarang perasaan kasihan

Akhir sekali, 45 pelajar telah dibunuh ketika berjalan pulang ke rumah sewaktu dua bulan pertama tercetusnya Intifada al-Aqsa.

Semua fakta statistik ini merujuk kepada satu hakikat nyata: Kerajaan Israel terlibat dalam polisi penghapusan rakyat Palestin yang sungguh sistematik dan jelas.
Perangkaan-perangkaan di atas menunjukkan bahawa askar Israel tidak menggunakan senjata mereka untuk menghapuskan ancaman kepada keselamatan penduduk awam, tetapi digunakan untuk membunuh dan mencederakan. Kebanyakan daripada kanak-kanak yang dibunuh dan dicacatkan telah ditembak di bahagian kepala atau dada, atau yang lain dari belakang. Adalah jelas bahawa tiada askar yang tujuannya hanya mahu menurut arahan akan menembak manusia di bahagian kepala atau dada, atau dari belakang apabila mereka melarikan diri.

Tidak ragu-ragu lagi bahawa tindakan keganasan menyerang penduduk awam oleh beberapa kumpulan radikal Palestin sebagai tentangan kepada penindasan Israel adalah tidak berjustifikasi, dan kami seharusnya mengutuknya. Serangan-serangan tersebut biasanya menjadi kritikan dunia secara besar-besaran dan lebih membawa keburukan dari kebaikan kepada pihak Palestin. Namun, harus diingat bahawa detik permulaan yang membawa kepada tercetusnya tindakan keganasan ini ialah pendudukan rakyat Israel. Sebelum 1967, dengan kata lain sebelum Israel menduduki wilayah Palestin, Israel tidak berhadapan dengan sebarang ancaman keganasan. Pendudukan Israel dan strategi "pembersihan etnik" telah melahirkan dan membenarkan kewujudan terorisme rakyat Palestin.

Namun demikian, umat Islam mesti bersikap seperti yang diarahkan oleh Allah dan dipandu oleh sunnah Nabi Muhammad s.a.w., di setiap waktu kehidupan mereka.

Taburan umur mereka yang dibunuh
Bilangan
%
Bahagian Tercedera
Bilangan
%
Bawah 15
60
14.9
Kepala dan tengkuk (termasuk 9 orang yang ditembak dari belakang)
154
41.8
16-18
75
18.7

Dada (termasuk 12 orang yang ditembak dari belakang)

Perut

117
31.8
19-29
176
43.8
Keseluruhan badan secara umum
32
8.7
30-39
50
12.4

Lengan

61
16.6
40-49
18
4.5

4
1.1
Atas 50
23
5.7



Jadual menunjukkan jumlah mereka yang terkorban sepanjang Intifada al-Aqsa, dan tempat mereka dicederakan. Ia jelas menunjukkan bahawa askar-askar Israel menjadikan kanak-kanak dan golongan muda sebagai sasaran, serta menembak lebih banyak di bahagian kepala dan dada bagi memastikan mereka terbunu

Ayat-ayat al-Quran menyeru manusia kepada etika keislaman. Melaluinya dunia akan menjadi tempat yang aman dan toleransi. Allah memerintahkan kita untuk memerintah dengan adil tanpa ada sebarang diskriminasi sesama manusia, untuk melindungi hak-hak manusia, tidak bertolak-ansur kepada kekejaman, menyokong pihak yang ditindas dengan kejam, dan menghulurkan tangan bagi membantu mereka yang memerlukan. Keadilan ini memerlukan seseorang untuk membuat keputusan dengan melindungi hak kedua-dua pihak, menganalisa peristiwa secara objektif, dan berfikiran tidak berat sebelah. Ia memerlukan keadilan, kejujuran, belas kasihan dan sayang-menyayangi.

Adalah jelas bahawa serangan-serangan tersebut seperti menentang penduduk awam tidak boleh dimaafkan. Seperti yang diterangkan di atas, cara tersebut tidak konsisten dengan ajaran Islam sama sekali. Apabila kita memeriksa ayat-ayat Al-Quran dan tingkah-laku Nabi Muhammad s.a.w., adalah jelas bahawa serangan terhadap penduduk awam bukan dari ajaran Islam. Sama ada semasa pembukaan Kota Makkah atau pun perang-perang yang lain, Baginda sangat berhati-hati melindungi hak-hak mereka yang tidak bersalah dan tidak bersenjata, dan menghalang mereka dari dicederakan. Baginda mengingatkan orang-orang Mukmin tentang perkara ini dalam pelbagai peristiwa, dan mengarahkan mereka supaya "Mulakan perang dengan nama Allah dan untuk Allah. Jangan letakkan tangan ke atas orang tua yang hampir mati, ke atas wanita, kanak-kanak dan bayi. Berbuatlah baik, yang mana Allah mencintai meraka yang berbuat baik dan beramal soleh" (Hadith riwayat Muslim). Umat Islam menentang kezaliman dan barbarisme, penggunaan senjata yang tidak perlu, dan segala macam praktis yang tidak adil.



Sewaktu peristiwa yang tercetus disebabkan oleh tindakan Israel membuka terowong yang telah ditutup selama berkurun-kurun, Menteri Kewangan Palestin telah diserang oleh askar-askar Israel yang menggunakan kayu (atas kiri). Israel menggunakan bom, peluru dan belantan bagi menentang perjuangan suci rakyat Palestin yang telah berlangsung selama lebih separuh abad.

Di dalam segala perbincangan tentang serangan ke atas penduduk awam Israel, topik lain yang mesti dilihat ialah tentang pembunuhan diri dalam Islam. Sesetengah golongan terlampau salah faham tentang Islam, percaya bahawa agama yang damai ini membenarkan serangan berani mati; ia jauh dari kebenaran. Hakikat bahawa Islam melarang seseorang dari membunuh diri, adalah seperti mana ia melarang seseorang dari membunuh orang lain. Allah mengutuk dengan jelas tentang perihal membunuh diri di dalam ayat "jangan membunuh diri." (An-Nisaa', 29). Tidak kira apa jua sebabnya, Islam mengharamkan seseorang dari membunuh diri. Nabi Muhammad s.a.w. turut mencela seseorang yang membunuh diri di dalam satu hadith, memberitahu bahawa mereka yang mengambil tindakan ini akan menerima azab keras untuk selama-lamanya:

Sesiapa sahaja yang dengan sengaja terjun dari gunung dan membunuh diri sendiri, dia akan masuk Neraka dan jatuh di dalamnya dan kekal berada di dalamnya buat selama-lamanya; dan sesiapa yang meminum racun dan membunuh diri sendiri, dia akan membawa racun di tangannya dan meminumnya di dalam Neraka yang ia akan tinggal di dalamnya buat selama-lamanya; dan sesiapa yang membunuh diri dengan senjata besi, dia akan membawa senjata tersebut di tangan dan menikam-nikam perut dengannya di dalam Neraka tempat dia tinggal selama-lamanya. (Hadith riwayat Muslim)


Dunia sudah melihat apa yang sedang berlaku kepada Palestin selama lebih dari separuh abad. Penindasan yang kejam ini telah mendapat liputan akhbar-akhbar dari seluruh dunia setiap hari, dan dibaca pula oleh berbilion-bilion manusia.

Oleh itu, setiap umat Islam harus mengutuk insiden ini, yang menyulitkan lagi tindakan damai rakyat Palestin.

Haruslah diingat bahawa sebarang bentuk perjuangan yang diluar nilai-nilai Al-Quran - sebagai contoh, taktik "gerila" yang dicipta oleh ideologi komunis - adalah salah, dan tidak akan berjaya. Atas sebab ini, situasi semasa di Palestin mesti dipertimbangkan dengan berakal dan realistik, dan strategi baru yang konsisten dengan Al-Quran mesti diputuskan. Jika Palestin mahu melibatkan diri dalam perjuangan diplomasi dan budaya untuk menetang Israel, yang dari segi ketenteraan lebih berkuasa dari Palestin, berbanding jalan peperangan, ia bukan sahaja akan menjamin kejayaan yang lebih baik, malah akan mengakhiri penderitaan rakyat yang tidak bersalah.

Kesimpulan

Seseorang boleh berkata dengan lebih baik lagi, dan mengambil lebih banyak contoh tentang keadaan yang sedang berlaku di Palestin. Namun, apa yang tidak boleh kita lupa tanggungjawab setiap individu yang berkesedaran untuk berhadapan dengannya. Peristiwa di Palestin bukan hanya perang Arab-Israel. Ia mempunyai maksud yang lebih mendalam. Pertama sekali, umat Islam yang tanahnya telah dirampas sedang bergelut untuk mendapatkan keadilan. Tanah yang di­per­soalkan dianggap suci oleh keseluruhan dunia Islam. Rakyat Palestin menentang untuk meninggalkan Jerusalem, sebuah bandar kepunyaan dunia Islam. Inilah sebabnya mengapa setiap Mukmin mempunyai tugas untuk melancarkan peperangan idea terhadap ideologi-ideologi yang menyokong kepada penindasan berterusan di Palestin, dan juga turut berusaha mencari jalan penyelesaian.

Setiap mereka yang berkesedaran mesti memikirkan hakikat tersebut dan mencari jalan keluar. Seperti yang telah kami nyatakan di dalam bahagian lain di dalam buku ini, jalan keluarnya terletak pada usaha menyebarkan ajaran moral al-Quran kepada semua umat manusia di seluruh dunia. Ia satu-satunya cara untuk membawa kedamaian dan persaudaraan, sama ada di Palestin atau di negara-negara lain yang sedang mengalami peperangan dan konflik. Jika keadilan, kerjasama, kasih-sayang, cinta, sanggup berkorban dan saling bermaafan yang merupakan moral yang dituntut di dalam Al-Quran dapat menguasai dunia, kesannya dunia akan menjadi satu tempat yang adil, damai dan selamat.

Melalui ayat "Dan hendaklah ada di antara kamu se­golo­ngan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan merekalah orang-orang yang beruntung" (Ali-Imran, 104), Allah menarik perhatian orang-orang yang beriman terhadap tugas yang mulia ini. Maka apa yang umat Islam perlu lakukan adalah hidup berdasarkan moral yang dapat menarik keredaan Allah, menerangkan kepada manusia lain, dan menyebarkan moral al-Quran ke serata pelusuk dunia.