Pages

Senin, Agustus 18, 2008

Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari, Ulama Sufi Banjar

Dalam deretan ulama Banjar, nama Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari tak kalah masyhur dibanding Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Kalau Muhammad Arsyad dikenal sebagai ahli syariat, maka Muhammad Nafis dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan tasawuf. Dengan keilmuannya, ia berhasil menorehkan prestasi sebagai salah seorang ulama terkemuka Nusantara.

Dialah pengarang “Durr Al-Nafis”, kitab berbahasa Jawi yang dicetak berulang-ulang di Timur Tengah dan Nusantara, yang masih dibaca sampai sekarang. Dia berada dalam urutan kedua setelah Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari segi pengaruhnya atas kaum muslimin di Kalimantan. Apa yang yang harus dilakukan kaum muslimin agar memperoleh kemajuan dalam hidup? Mengapa Belanda melarang kitabnya beredar di Indonesia?

Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari bin Idris bin Husien, lahir sekitar tahun 1148 H/1735 M,di Kota Martapura Kalimantan Selatan, dari keluarga bangsawan atau kesultanan Banjar, silsilah dan keturunanya bersambung hingga Sultan Suriansyah (1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam sebelumnya bernama Pangeran Samudera.

Silsilah lengkapnya adalah: Muhammad Nafis bin Idris bin Husien bin Ratu Kasuma Yoeda bin Pangeran Kesuma Negara bin Pangeran Dipati bin Sultan Tahlillah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah. Muhammad Nafis hidup pada periode sama dengan Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Jika Arsyad meninggal tahun 1227/1812, Nafis belum diketahui tahun wafatnya. Yang kita ketahui, peristirahatan terakhir beliau di Mahar Kuning Desa Bintaru, sekarang menjadi bagian Kelua Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan, sekitar 125 kilometer dari Banjarmasin. Tidak ada catatan pasti tahun pergi menuntut ilmu ke tanah suci Makkah. Diperkirakan ia pergi menimba ilmu pada usia dini sangat muda, sesudah mendapat pendidikan dasar-dasar agama Islam di kota kelahirannya Martapura.

Sebagian ahli berpendapat, masa belajar Muhammad Nafis tak jauh dari masa Muhammad Arsyad al-Banjari. Bahkan, para masyasyikh-nya juga kebanyakan sama, yakni Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani, Muhammad al-Jauhari, Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi al-Mishry (syekh al-Azhar sejak 1207 H/ 1794 M), Muhammad Shiddiq bin Umar Khan (murid al-Sammani) dan Abdurrahman bin Abdul Aziz al-Maghribi.

Dari para gurunya itu, Muhammad Nafis banyak belajar tasawuf. Sekian lama ia mematangkan pengetahuan dan lelaku tasawufnya sampai ia diberi gelar kehormatan “Syekh Mursyid.” Dengan gelar itu, ia beroleh ijazah untuk mengajarkan dan membimbing ilmu tasawuf kepada orang lain. Pencapaian itu tentunya tak mudah dan instan, tapi membutuhkan waktu latihan dan perenungan yang sangat lama.

Sekian lama berada di Mekkah, ia akhirnya kembali ke Nusantara, diperkirakan pada 1210 H/1795. Saat itu, yang memerintah di Banjar adalah Sultan Tahmidillah (Raja Islam Banjar XVI, 1778-1808 M). Tapi, karena Nafis tak suka dekat dengan kekuasaan, ia memilih meninggalkan Banjar dan berhijrah ke Pakulat, Kelua, sebuah daerah yang terletak sekitar 125 km dari Banjarmasin. Alasan lain adalah perkembangan Islam di daerah sekitar Martapura dan Banjar sudah ditangani oleh Syekh Muhammad Arsyad.

Sedang daerah Kelua, termasuk daerah pedalaman, masih belum terjangkau oleh dakwah Islamiyah ulama Banjar. Dengan gigih, Muhammad Nafis mengenalkan Islam di sana. Berkat kegigihannya, daerah itu kemudian menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Juga menjadi daerah yang turut melahirkan para pejuang anti-Belanda.

Dalam berdakwah, Muhammad Nafis dikenal sebagai sosok pengembang tasawuf yang andal. Meski di Banjar saat itu terjadi pertentangan antara kubu Muhammad Arsyad dengan Syekh Abdul Hamid Abulung yang didakwa sebagai pengembang wujudiyyah, dakwah tasawuf ala Muhammad Nafis berlangsung dengan lancar dan damai. Ini tak lepas dari corak tasawuf yang diusungnya, yakni “merukunkan” tasawuf sunni dan falsafi yang diposisikan secara diametral.

Ia juga tampak tak terikat dengan satu tarekat secara total. Shingga, menurut pengakuannya sendiri, ia adalah pengikut tarekat Qadariyah, Syathariyah, Naqsabandiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Keikutsertaan Muhammad Nafis dalam ragam tarekat Mu’tabarah itu seolah menunjukkan bahwa suluk menuju Tuhan bisa dilakukan lewat berbagai jalan, tak hanya mengandalkan satu jalan saja. Juga menunjukkan betapa pengetahuan tasawuf Muhammad Nafis sangatlah mendalam.

Ciri khas ajaran tasawuf Muhammad Nafis adalah semangat aktivisme yang kuat, bukan sikap pasrah. Ia dengan gamblang menekankan transendensi mutlak dan keesaan Tuhan sembari menolak determinisme fatalistik yang bertentangan dengan kehendak bebas. Menurutnya, kaum muslim harus aktif berjuang mencapai kehidupan yang lebih baik, bukan hanya berdiam diri dan pasrah pada nasib.

Sebab itulah, ajaran tasawuf ala Muhammad Nafis turut membangkitkan semangat masyarakat Banjar untuk berjuang lepas dari penjajah. Malah, konon, setelah membaca kitab karangannya, orang menjadi tak takut mati. Situasi ini jelas membahayakan Belanda karena akan mengobarkan jihad. Tak heran kalau kemudian berbagai intrik dilakukan oleh Belanda untuk menghentikan ajaran Muhammad Nafis, mulai dari kontroversi ajaran sampai pelarangan. Namun, dakwah Muhammad Nafis terus berlanjut sampai ia wafat.

Islam di Kalimantan

Bebeda dengan Muhammad Arsyad yang menjadi perintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencemplungkan dirinya dalam usaha penyebarluasan Islam di wilayah pedalaman Kalimantan. Dia memerankan dirinya sebagai ulama sufi kelana yang khas, keluar-masuk hutan menyebarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Dan oleh karena itu beliau memainkan peranan penting dalam mengembangkan Islam di Kalimantan.

Islam masuk Kalimantan Selatan lebih belakangan ketimbang misalnya, Sumatera Utara dan Aceh. Seperti diungkapkan Azra, diperkirakan pada awal abad ke-16 sudah ada sejumlah muslim di sini, tetapi Islam baru mencapai momentumnya setelah pasukan Kesultanan Demak datang ke Banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perjuangannya melawan kalangan elite di Kerajaan Daha. Setelah kemenangannya, Pangeran Samudra beralih memeluk Islam pada sekitar tahun 936/1526, dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dia diberi gelar Sultan Suriansyah atau Surian Allah oleh seorang da’i Arab.

Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, otomatis Islam dianggap sebagai agama resmi negara. Namun demikian, kaum muslimin hanya merupakan kelompok minoritas di kalangan penduduk. Para pemeluk Islam, umumnya hanya terbatas pada orang-orang Melayu. Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan di kalangan suku Dayak. Bahkan di kalangan kaum Muslim Melayu, kepatuhan kepada ajaran Islam boleh dibilang minim dan tidak lebih dari sekadar pengucapan dua kalimah syahadat. Di bawah para sultan yang turun-temurun hingga masa Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, tidak ada upaya yang serius dari kalangan istana untuk menyebarluaskan Islam secara intensif di kalangan penduduk Kalimantan. Karena itu, tidak berlebih jika Muhammad Nafis dan terlebih Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan tokoh penting dalam proses Islamisasi lebih lanjut di Kalimantan. Dua orang ini pula yang memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru di Kalimantan Selatan.

Daya Spiritual dan Kewajiban Syariat

Tak banyak karya yang ditinggalkannya. Namun, karya-karyanya senantiasa menjadi rujukan, tak hanya bagi kaum muslim Nusantara, tapi juga mancanegara. Di antara kitabnya adalah al-Durr al-Nafs. Nama kitab “Durr Al-Nafis” sesungguhnya amatlah panjang. Lengkapnya, kitab yang ditulis di Makkah pada 1200/1785 ini: “Durr Al-Nafis fi Bayan Wahdat Al-Af’al Al-Asma’ wa Al-Shifat wa Al-Dzat Al-Taqdis”. Kitab ini berkali-kali dicetak di Kairo oleh Dar Al-Thaba’ah (1347/192 8)dan oleh Musthafa Al-Halabi (1362/1943), di Makkah oleh Mathba’at Al-Karim Al-Islamiyah (1323/1905), dan di berbagai tempat di Nusantara. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi, sehingga dapat dibaca oleh orang-orang yang tidak faham bahasa Arab.

Seperti diungkapkan Azyumardi Azra, dalam kitabnya itu, Muhammad Nafis dengan sadar berusaha mendamaikan tradisi Al-Ghazali dan tradisi Ibn ‘Arabi. Dalam karyanya ini, di samping menggunakan ajaran-ajaran lisan dari para gurunya, Nafis merujuk pada karya-karya “Futuhat Al-Makkiyah” dan “Fusushl-Hikam” dari Ibn ‘Arabi, “Hikam” (Ibn Atha’illah), “Insan Al-Kamil” (Al-Jilli), “Ihya’ ‘Ulumiddin” dan “Minhaj Al-‘Abidin (Al-Ghazali), “Risalat Al-Qusyairiyyah” (Al-Qusyairi), “Jawahir wa Al-Durar” (Al-Sya’rani), “Mukhtashar Al-Tuhfat al-Mursalah” (‘Abdullah bin Ibrahim Al-Murghani), dan “Manhat Al-Muhaammadiyah” karya Al-Sammani.

Kitab itu membicarakan sufisme dan tauhid, menjelaskan maqam-maqam perjalanan (suluk) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Al-Durr al-Nafs ditulis atas permintaan sahabat-sahabatnya ketika berada di Mekkah. Menurut penuturannya, ia menulis kitab itu untuk menyelamatkan para salik (perambah jalan Tuhan) dari syirik khafi dan penyakit riya’ yang umum menghinggapi umat muslim. Kitab itu ditulis dalam bahasa Melayu Arab untuk memudahkan umat membaca dan memahaminya. Karena mutu dan ajarannya yang tinggi, kitab itu dicetak berkali-kali, baik di dalam maupun luar negeri.

Sebagai penganjur aktivisme-sufistik, kontribusi Muhammad Nafis al-Banjari dalam membangun Islam di Banjar sangatlah besar. Tak aneh kalau kemudian ia diberi gelar Maulana al-Allamah al-Fahhamah al-Mursyid ila Tariq as-Salamah (Yang mulia, berilmu tinggi, terhormat, pembimbing ke jalan kebenaran) sebagai bentuk penghormatan masyarakat atas jasa-jasanya. Menimbang pencapaian dan prestasinya, gelar itu memang tak berlebihan baginya.

Bagi generasi muda masa kini, kita berharap saatnya untuk mengenang kembali, kemudian menghargai dan meneruskan cita-cita dan perjuangan Muhammad Nafis al-Banjari dalam konteks kekinian. Selain itu, menelusuri jejak-jejak sejarah beliau mampu merekatkan kembali jalinan psikologis dan spiritual dari sang ulama tersebut. Dari peran beliau kita dapat mengetahui akar-akar pemikiran, akar-akar perjuangan, serta pengaruh yang muncul dalam fenomena kebangsaan kita. Sehingga paparan ini dapat memberikan gambaran utuh mata rantai perjuangan tokoh-tokoh Islam dulu, kini dan esok.

Gambaran tersebut akan sangat berarti bagi individu-individu yang ingin mempelajari dan menelaah kembali jaringan ulama Kalimantan yang mempersembahkan dedikasi dan loyalitasnya untuk pembangunan bangsa.

Karya

Karya beliau yang terkenal ialah ad-Durr an-Nafis. Kitab tersebut selesai ditulis pada 27 Muharam 1200 H/30 November 1785 M. Cetakan pertama kitab ini ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani, di Mathba'ah al-Miriyah bi Bulaq, Mesir al-Mahmiyah. Pada terbitan pertama tercantum syair Syeikh Ahmad al-Fathani:

"Berpeganglah kamu dengan ilmu orang sufi,
Nescaya kamu menyaksikan bagi Tuhanmu itu keesaan.

Wahai yang meninggalkan sebaik-baik teman sekedudukan,
Adalah kitab ini mengandung maksud keseluruhan,
Seperti lautan,
daripadanya tiap-tiap yang berharga penilaian''.

Sebagai keterangan lanjut Syeikh Ahmad al-Fathani mencatatkan, ``Ketahui olehmu hai yang waqif atas kitab ini. Bahawa segala naskhah kitab ini sangatlah bersalah-salahan setengah dengan setengahnya, dan tiada hamba ketahuikan mana-mana yang muafakat dengan asal naskhah Muallifnya. Maka hamba ikutkan pada naskhah yang hamba cap ini akan barang yang terlebih elok dan munasabah. Dan tiada hamba kurangkan daripada salah suatu daripada beberapa naskhah itu akan sesuatu kerana ihtiyat''.

Ad-Durr an-Nafis cetakan pertama Syeikh Ahmad al-Fathani telah memberi keterangan beberapa istilah seperti terdapat pada kalimat-kalimat: 1. ``... maka hendaklah lihat olehmu kepada Abi Bakar, iaitu ibarat daripada mati nafsu yang ammarah ...''. Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan, bahawa nafsu ammarah, ialah ``nafsu yang cenderung kepada kejahatan''.
2. ``Bermula hasilnya segala wujud sesuatu itu dengan dinisbahkan kepada wujud Allah Taala yang haqiqi itu khayal, dan waham, dan majaz jua, kerana wujudnya antara dua `adam Bermula wujud yang antara dua `adam itu `adam jua adanya ...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Dua `adam, ertinya `adam lahiq dan `adam sabiq. Pengertian `adam lahiq, ialah tiada yang mengikut. Pengertian `adam sabiq, ialah tiada yang mendahului''.
3. ``Dan pada sekira-kira zahir mumkin itu lain daripada Allah Taala. Dan sekira-kira haqiqatnya wujud mumkin itu, iaitu `ain wujud Allah Taala. Dan misalnya seperti buih dan ombak...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Katanya, ``Dan pada sekira-kira zahir dan pada sekira-kira haqiqat ...'', maka kedua (-dua) itu `athaf. Katanya, ``Pada sekira-kira wujud, dan dhamir pada haqiqatnya dan dhamir pada nyatanya. Kedua (-dua) itu kembali kepada buih, dan dhamir daripadanya itu kembali kepada air''.
4. Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan istilah ma'iyah, kata beliau, ``Yakni berserta: a. ittihad = bersuatu. b. hulul = bertempat. c. khayal, yakni apabila kita lihat jauh ada sesuatu, dan kita lihat dekat tiada ada, seperti alung-alung di tengah jalan Madinah''. Ad-Durr an- Nafis setelah cetakan pertama oleh Matba'ah al-Miriyah di Bulaq, Mesir tahun 1302 H/1884 M yang diusahakan dan ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani itu terdapat berbagai-bagai edisi.

Sabtu, Agustus 16, 2008

Tuanku Imam Bonjol, Menentang Penjajahan Belanda Di Sumatera

Tuanku Imam Bonjol atau nama sebenarnya Muhammad Sahab dilahirkan pada tahun 1772 di Kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman Sumatra Barat. Beliau dilahirkan dalam lingkungan agama. Mula-mula dia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian dari beberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pendiri negeri Bonjol.

Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan dakwah di Sumatera, yang pada mulanya menentang perjudian, laga ayam, penyalahggunaan dadah, minuman keras, dan tembakau, tetapi kemudian mengadakan penentangan terhadap penjajahan Belanda yang memiliki semboyan Gold, Glory, Gospel sehingga mengakibatkan perang Padri (1821-1837).

Pertentangan kaum Adat dengan kaum Paderi atau kaum agama ikut melibatkan Tuanku Imam Bonjol. Kaum Paderi berusaha membersihkan ajaran agama Islam yang telah banyak diselewengkan agar dikembalikan kepada ajaran agama Islam yang murni. Golongan adat yang merasa terancam kedudukanya, mendapat bantuan dari Belanda. Namun gerakan pasukan Imam Bonjol yang cukup tangguh sangat membahayakan kedudukan Belanda. Oleh sebab itu Belanda terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1824. Perjanjian itu disebut "Perjanjian Masang". Tetapi perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Negeri Pandai Sikat.

Pertempuran-pertempuran berikutnya tidak banyak bererti, kerana Belanda harus memusatkan kekuatannya terhadap Perang Diponogoro. Tetapi setelah Perang Diponogoro selesai, maka Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menaklukan seluruh Sumatra Barat. Imam Bonjol dan pasukanya tak hendak menyerah dan dengan gigih membendung kekuatan musuh. Namun Kekuatan Belanda sangat besar, sehingga satu demi satu daerah Imam Bonjol dapat direbut Belanda. Tak urung Bonjol pun jatuh ke tangan musuh. Tapi tiga bulan kemudian Bonjol dapat direbut kembali. Ini terjadi pada tahun 1832.

Belanda kembali mengerahkan kekuatan pasukanya yang besar. Tak ketinggalan Gubernur Jendral Van den Bosch ikut memimpin serangan ke Bonjol. Namun ia gagal. Ia mengajak Imam Bonjol berdamai dengan maklumat "Palakat Panjang", Tapi Tuanku Imam curiga. Untuk waktu-wakyu selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit, namun ia tak sudi untuk berdamai dengan Belanda.Tiga kali Belanda mengganti panglima perangnya untuk merebut Bonjol, sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat. Setelah tiga tahun dikepung, barulah Bonjol dapat dikuasai, yaitu pada tanggal 16 Ogos 1837.

Akhirnya Tuanku Imam Bonjol terjebak oleh pengkhianatan Belanda dengan berselubung perundingan. Ia dapat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur. Takut akan pengaruh pemimpin Paderi itu di Jawa Barat, ia pun dipindahkan ke Ambon dan kemudian ke Manado. Di sana Tuanku Imam Bonjol wafat tanggal 6 November 1864 dalam usia 92 tahun dan dimakamkan di Khusus Lotak, Minahasa.

Kamis, Agustus 14, 2008

Tokku Paloh, Menentang Pertapakan British Di Terengganu

Tokku Paloh atau nama sebenarnya Sayid Abdul Rahman bin Muhammad Al-Aidrus adalah ulama kerohanian yang berkecimpung dalam bidang pentadbiran dan diplomatik di Terengganu. Beliau hidup dalam zaman pemeritahan lapan orang sultan silih berganti; paling lama dan paling kuat pengaruh beliau ialah semasa pemerintahan Sultan Zainal Abidin III, Sultan Terengganu ke-II.

Kerana kewibawaannya, beliau diberi mandat oleh Sultan mentadbir kawasan Paloh dan mengawasi kawasan Hulu Terengganu. Beliau juga diterima sebagai penasihat pertama dan utama kepada Sultan dalam berbagai persoalan. Beliau tegas dan pintar dalam bidang diplomatik, dan sering diberi peluang mewakili Sultan berunding dengan pihak British sehingga pada zaman itu British gagal menjajah Terengganu.

Tokku Paloh terkenal sebagai seorang wali Allah yang mempunyai berbagai karamah dan sentiasa mendapat bantuan Allah SWT khususnya sewaktu mengendalikan urusan rakyat. Tokku Paloh adalah khalifah Tareqat Naqsyabandiah, dan beliau turut mengamal dan mengembangluaskan 'Syahadat Tokku', satu amalan yang disusun oleh ayahnya Tokku Tuan Besar

Pencatur Dasar Luar Terengganu

"Kalau untuk mencampuri urusan pentadbiran kami, saya menolak walau atas alasan apa sekalipun," kata Tukku Paloh. 'Tetapi, kalau hendak tanah, silakan. lsilah ke dalam armada tuan sebanyak mana pihak British mahu... ambillah tanah."

Itulah jawapan Tokku Paloh kepada wakil British, semasa berlaku perundingan antara pihak British dengan Tokku Paloh yang mewakili kerajaan Negeri Terengganu. Jawapan dalam bentuk sindiran itu, yang diluahkan dengan tenang tapi tegas, ternyata menyakitkan hati wakil-wakil British itu. Mereka bangun untuk beredar. Tetapi, dengan kuasa Allah, punggung mereka tidak semena-mena terlekat di kerusi. Apabila mereka mengangkat punggung, kerusi turut terangkat sama buat seketika sebelum jatuh ke lantai. Waktu itu Tokku Paloh bersuara secara bersahaja: "Sudahlah tuan-tuan hendak ambil tanah Terengganu, kerusi rumah saya pun tuan-tuan hendak ambil".

Demikianlah gagalnya diplomasi British untuk menjajah Terengganu pada sekitar awal abad ke-20. Taktik diplomasi yang berjaya digunakan di beberapa negeri lain, gagal di Terengganu kerana adanya gandingan rapat antara ulama dan umarak (pemerintah). Tegasnya, antara Sayid Abdul Rahman Al-Idrus atau Tukku Paloh, dengan Sultan Zainal Abidin III, Sultan Terengganu ke-ll (memerintah 1881-1918).

Keturunan Rasulullah SAW

Dilahirkan pada tahun 1817 (1236 Hijrah) di Kg. Cabang Tiga, Kuala Terengganu, Tokku Paloh adalah nasab ke-32 daripada Rasulullah SAW di kalangan keluarga Al-Aidrus. Nasab sebelah bapanya sampai kepada Sayidina Hussein r.a. anak Sayidatina Fatimah Az-Zahrah r.ha. binti Rasulullah. lbunya, Hajah Aminah, ialah isteri pertama daripada beberapa orang isteri Sayid Muhammad yang terkenal dengan gelaran Tokku Tuan Besar. Semasa pemerintahan Sultan Omar, Tokku Tuan Besar menjadi Syeikhul Ulama iaitu ketua seluruh ulama Terengganu, dan dianugeiahkan gelaran Paduka Raja Indra oleh baginda Sultan. Kedua-dua kedudukan itu menjadikan Tokku Tuan Besar sangat dihormati dan berpengaruh di kalangan istana dan rakyat keseluruhannya.

Sebagai seorang ulama yang bertanggungjawab dan berpengaruh, Tokku Tuan Besar berusaha sehingga terlaksana hukum-hukum Islam secara meluas dalam sistem pentadbiran dan kehidupan di bawah pemerintahan Sultan Omar (memerintah 1839-1875), hingga Terengganu terus terkenal sebagai negeri yang berpegang teguh dengan Islam, di sekitar pertengahan abad ke-18 Masihi.

Menyedari pentingnya penyebaran ilmu agama dan bimbingan amal, maka Tokku Tuan Besar mendirikan masjid di Kampung Cabang Tiga. Masjid ini kini telah diubahsuai dan meriah dengan ahli jemaah. Di sinilah Tokku Tuan Besar yang juga pengarang beberapa buah kitab itu menyebarkan ilmu dan tarbiah kepada ramai anak muridnya dan anak-anaknya sendiri termasuk Sayid Abdul Rahman (Tokku Paloh).

Dengan itu nyatalah Tokku Paloh itu bukan saja berketurunan Rasulullah SAW yang mulia malah mendapat didikan dan asuhan dalam keluarga yang kuat beragama. Semua adik-beradiknya juga mempunyai keahlian dalam hal-ehwal agama dan di antara yang terkenal ialah Sayid Zain (dilantik menjadi Menteri Besar pada tahun 1864 oleh Sultan Omar), Sayid Ahmad (bergelar Tuan Ngah Seberang Baroh) dan Sayid Mustaffa (seorang ulama yang juga ahli Majlis Mesyuarat Negeri; merupakan salah seorang dan empat pembesar yang pernah diwakilkan memegang pemerintahan negeri sewaktu Sultan Zainal Abidin III melawat Siam pada Ogos 1896.

Di kalangan adik-beradiknya, Tokku Palohlah yang paling masyhur dan mempunyai banyak keistimewaan yang luar biasa.

Menurut cucunya Sayid Abdul Aziz, sejak kecilnya lagi sudah ada tanda-tanda pelik yang mengisyaratkan Tokku Paloh akan muncul menjadi orang penting masyarakat. Satu ketika semasa Tokku Paloh berada bersama ayahnya Tokku Tuan Besar, tiba-tiba saja Tokku Paloh melihat seorang yang berserban dan berjubah hijau memanggilnya. Tokku Tuan Besar menahannya seraya berkata, "Engkau jangan pergi dekat orang itu, nanti engkau tidak boleh bersama abah lagi."

Perkataan Tokku Tuan Besar itu tidak begitu pasti apa maksudnya. Tetapi yang nyala, Tokku Tuan Besar juga seorang yang kasyaf; dapat melihat kemunculan seorang yang berserban dan berjubah hijau itu. Siapa orangnya? Wallahu a'lam.

Menuntut di Mekah

Tokku Paloh mendapat didikan awal daripada ayahnya sendiri dan beberapa orang ulama tempatan. Kemudian beliau mengikut jejak ayahnya mendalami ilmu dan meluaskan pengalaman di Makkah Al Mukarramah. Di sana beliau belajar dengan ulama-ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah, dan khatam banyak kitab muktabar dalam berbagai bidang ilmu- tauhid, feqah, tasawuf, tafsir, nahu, saraf dan lain-lain.

Penulis gagal menemui orang yang tahu secara detail liku-liku perjalanan Tokku Paloh menuntut ilmu. Bagaimanapun, yang jelasnya Tokku Paloh sangat arif tentang ilmu tasawuf dan ilmu tareqat. Malah beliau ada mengarang kitab dan risalah mengenai persoalan kerohanian.

Setelah lebih 10 tahun di Makkah, Tukku Paloh pulang sebagai seorang ulama besar. Beliau seorang yang warak dan terkenal sebagai pemimpin kerohanian yang mengembangkan Tareqat Naqsyabandiah. Beliau adalah khalifah tareqat ini.

Sepulangnya dari Makkah, Tokku Paloh terus mengajar di masjid peninggalan ayahnya di Kampung Cabang Tiga, Kuala Terengganu. Ini merupakan langkah awal beliau berkhidmat kepada orang rarnai, sebelum melangkah kepada kegiatan yang lebih mencabar, bukan saja dalam bidang pengajaran ilmu tetapi juga dalam bidang pentadbiran, pemerintahan dan jihadnya menentang mungkar dan penjajah British.

Regu Sultan Zainal Abidin III

Seperti juga ayahnya, Tokku Paloh seorang yang sangat berpengaruh di kalangan istana dan menjadi tempat rujuk sultan. Malah perlantikan sultan itu sendiri mempunyai kaitan rapat dengan pengaruh Tokku Paloh di kalangan istana, yang diwarisi daripada ayahnya Sayid Muhammad bin Zainal Abidin, yang terkenal dengan panggilan Tokku Tuan Besar, juga merupakan tokoh agama yang amat terkenal dan pengarang kepada lebih kurang 16 buah buku agama dan nazam.

Hubungan Tokku Paloh dengan sultan ini boleh disamakan dengan hubungan antara Sultan Zainal Abidin I (memerintah 1725-1734) dengan seorang lagi ulama besar Terengganu, Syeikh Abdul Malik bin Abdullah. Ulama yang terkenal dengan gelaran Tuk Pulau Manis ini juga dikenali sebagai wali Allah, dan banyak mengarang kitab. Sebagai Syeikhul Ulama dan mufti, Tuk Pulau Manis amat berpengaruh di kalangan istana dan dikatakan bertanggungjawab atas pertabalan Sultan Zainal Abidin I yang kemudian menjadi menantu beliau.

Menyedari peri pentingnya pemerintahan raja yang adil yang berlunaskan hukum-hukum Allah SWT, Tokku Paloh bersama Sayid Abdullah (Menteri Besar ketika itu) mengetuai sokongan terhadap perlantikan Tengku Zainal Abidin sebagai Sultan Terengganu menggantikan Sultan Ahmad Shah II (memerintah 1876-1881).

Sokongan dua orang yang berpengaruh ini sungguh berkesan sehingga Sultan Zainal Abidin kekal sebagai raja yang berjaya menegakkan pemerintahan yang kukuh dan bermaruah walaupun usianya ketika mula memegang tampuk pemerintahan negeri baru 16 tahun. Kejayaan baginda itu adalah berkat mendampingi serta menerima keputusan ulama. Baginda memerintah selama kira-kira 36 tahun 11 bulan hingga ke akhir hayatnya pada tahun 1918.

Ketika Sultan Zainal-Abidin III mula naik takhta, Tokku Paloh belum menjawat apa-apa jawatan penting secara rasmi. Tetapi sebagai seorang tokoh agama, beliau sudah berpengaruh di kalangan istana. Kemudian beliau menjadi Syeikhul Ulama (ketua ulama) Terengganu dan dilantik sebagai ahli Majlis Mesyuarat Negeri dalam kerajaan Sultan Zainal Abidin. Dengan kedudukan itu Tokku Paloh bertanggungjawab membantu kerajaan mentadbir negeri dan rakyat.

Bagaimanapun, ulama dan ahli tareqat yang arif perjalanan rohani ini lebih banyak berhubung secara peribadi dalam berbagai-bagai hal dengan Sultan Zainal Abidin. Keistimewaan ini menjadikan Tokku Paloh sebagai penasihat Sultan dan orang yang bertanggungjawab di belakang keputusan-keputusan yang dibuat oleh Sultan dalam pelbagai perkara terutamanya mengenai dasar luar negeri.

Ini terbukti dengan keputusan berani Tokku Paloh memberi perlindungan kepada pahlawan-pahlawan Pahang sekitar tahun 1894 dan keengganannya bekerjasama dengan pihak British. Pendirian beliau ini mempengaruhi sikap Sultan Zainal Abidin (kebetulan menantu kepada Sultan Ahmad Pahang) untuk terus-menerus menentang pertapakan British di Terengganu.

Penglibatan Tokku Paloh dalam perjuangan menentang campurtangan British di Pahang berlaku apabila pahlawan-pahlawan Pahang yang memberontak terpaksa berundur akibat tekanan hebat daripada pihak berkuasa. Mereka yang dipimpin oleh Datuk Bahaman, Tuk Gajah dan anaknya Mat Kilau berada dalam keadaan serba salah dan hampir-hampir putus asa.

Akhirnya pada bulan Mei 1894, mereka membuat keputusan menghubungi Tokku Paloh. Ternyata hubungan ini memberi nafas dan tenaga baru kepada perjuangan mereka kerana Tokku Paloh bukan saja bersimpati malah bersedia membantu pahlawan-pahlawan itu menentang pencerobohan British di Pahang. Selama berada di Paloh, pahlawan-pahlawan yang terkenal hebat itu menggunakan sepenuh kesempatan menuntut ilmu agama dan mendalami perjalanan rohani sebagai bekalan dalam perjuangan yang amat sukar itu. Mereka berguru dengan Tokku Paloh.

Kemudian baru Tokku Paloh menyeru pahlawan-pahlawan itu supaya melancarkan perang jihad. Sebagai bekalan rohani, beliau memberi mereka wirid-wirid dan jampi-jampi tertentu dan menghadiahkan mereka pedang yang bertulis ayat-ayat Al-Quran pada matanya. Dan dengan sokongan dan pengaruh Tokku Paloh, pasukan pahlawan itu semakin besar dan mendapat sokongan sultan dan rakyat Terengganu untuk melancarkan serangan tahap kedua berdasarkan kecintaan kepada agama dan tanahair dengan semboyan 'perang jihad'. Semangat perang jihad begitu ketara sekali di kalangan para pejuang itu.

Ketika inilah, Hugh Clifford, Residen British di Pahang, menyedari bahayanya pahlawan-pahlawan itu berada di negeri jiran kerana mendapat sokongan Tokku Paloh untuk melancarkan serangan baru dengan kekuatan agama. Demi menjaga kepentingan British di Pahang, pada bulan April 1895 Clifford mengetuai satu angkatan serarnai 250 orang untuk melumpuhkan kekuatan pihak yang disifatkannya sebagai pemberontak-pemberontak.

Sesampai di Terengganu, Clifford mengadap Sultan Zainal Abidin untuk mendapat kerjasama baginda. Sultan Zainal Abidin dengan senang hati mengeluarkan surat kuasa (waran) kepada Clifford untuk menangkap sesiapa saja daripada kalangan rakyat baginda yang bersubahat dengan pernberontak-pemberontak. Tetapi surat itu tidak memberi kuasa untuk menyiasat kerabat diraja, keluarga Sayid serta pembesar-pembesar baginda.

Baginda juga mengeluarkan satu surat sulit kepada orang-orang Besut supaya membantu pahlawan-pahlawan Pahang yang bersembunyi di daerah itu. Taktik diplomasi yang bijak itu menyelamatkan semua pejuang Pahang dan mengecewakan usaha ketua penjajah Pahang bernama Clifford itu. Clifford sentiasa curiga terhadap Tokku Paloh kerana dalam beberapa perundingan yang diadakan dengannya, pernimpin British itu percaya Tokku Paloh tidak berkata yang sebenarnya mengenai pemberontak-pemberontak.

Kadangkala wakil-wakil British itu dipersendakan oleh Tokku Paloh. Menurut cerita Syed Omar Abdul Kadir Al-Aidrus (cucu Tokku Paloh) kepada penulis, dalam sata pertemuan antara Tokku Paloh dan Clifford terjadi antara lain dialog seperti berikut:

Clifford:

Saya datang mahu mendapat kerjasama Tokku untuk menangkap pemberontak-pemberontak dari Pahang yang berada dalam negeri Terengganu.

Tokku Paloh:

Siapa yang dimaksudkan? Kerana kami orang Islam tidak boleh menyimpan pemberontak dan penjahat-penjahat. Kalau ada penjahat tentu kami sudah tangkap dan mengenakan hukuman berdasarkan hukum Islam.

Clifford:

Itu, Datuk Bahaman, Tuk Gajah, Mat Kilau dan pengikut-pengikut mereka melakukan banyak kacau dalam negeri Pahang. Sekarang mereka lari ke negeri ini.

Tokku Paloh:

Orang-orang itu semua baik-baik, bukan pengacau, bukan pemberontak kerana mereka menuntut pembebasan daripada campurtangan kuasa luar dalam negeri mereka, dan sebagai orang-orang Islam mereka mesti menuntut hak itu.


Sebagai satu helah, Tokku Paloh membenarkan juga angkatan Clifford itu menyiasat di Paloh sama ada benar pahlawan-pahlawan Pahang itu bersembunyi di sana (ketika itu semua mereka sudah bersembunyi di tempat-tempat selamat).

Clifford masih tidak berpuas hati kerana pasukannya gagal menemui 'pemberontak-pemberontak' itu. Dia percaya mereka ada bersembunyi di kawasan rumah Tokku Paloh. Ini berdasarkan beberapa bukti yang dia sendiri perolehi semasa siasatan dibuat. Tetapi dia dan pasukannya tidak berdaya berbuat apa-apa walaupun berkali-kali berunding dengan Tokku Paloh. Sebab itu bagi Clifford, penghalang besar kepada usahanya untuk menangkap pahlawan-pahlawan Pahang itu ialah Tokku Paloh sendiri.

Malah usaha terakhir Clifford meminta jasa baik Sultan supaya memaksa Tokku Paloh menyerahkan mereka itu juga gagal. Ini membuatkan dia sedar pengaruh Tokku Paloh begitu besar sekali di istana. Akhirnya Clifford mengambil keputusan meninggalkan Terengganu pada 17 Jun 1895.

Menentang Pertapakan British di Terengganu

Percubaan British untuk menjajah Terengganu bermula sejak awal abad ke-20. Gabenor Negeri-negeri Selat, Frank Swettenham, tanpa terlebih dahulu berunding, datang ke Terengganu pada tahun 1902 dan mengadap Sultan untuk mendapat persetujuan sultan mengenai satu rangka perjanjian yang disediakan di London antara kerajaan British dan Siam. Tetapi perjanjian yang kononnya memberi pengiktirafan yang lebih jelas terhadap naungan kerajaan Siam ke atas Terengganu itu secara rasmi ditolak oleh kerajaan Terengganu.

Sultan Zainal Abidin dan penasihat-penasihat baginda menyedari kesan daripada perjanjian itu dan nampak perancangan jauh kerajaan British yang beria-ia benar mempelopori perjanjian itu supaya ditandatangani. Sedangkan kerajaan Siam sentiasa menghormati pemerintahan Terengganu yang berdaulat.

Perkiraan itu ternyata berlaku pada 10 Mac 1909 bertempat di Bangkok di mana kerajaan British secara senyap menandatangani satu perjanjian baru dengan kerajaan Siam. Entah ganjaran apa yang diperolehi oleh kerajaan Siam, melalui pejanjian itu kerajaan Siam memindahkan (menyerahkan) segala hak naungan, perlindungan, pentadbiran, kawalan dan apa saja yang dipunyainya ke atas negeri-negeri Kelantan, Perlis, Kedah dan Terengganu serta pulau-pulau berhampiran.

Dengan perjanjian baru itu bermakna Terengganu bulat-bulat duduk di bawah kekuasaan British seperti terkandung dalam butir-butir perjanjian pertama tajaan British yang kononnya untuk menjelaskan pengiktirafan terhadap naungan Siam itu.

Sekali lagi kerajaan Terengganu ridak mengiktiraf dan menentang perjanjian berniat jahat itu. Malah pihak istana dan pembesar-pembesar negeri sangat marah dengan taktik halus British. Tokku Paloh, yang sangat berpengaruh terhadap dasar luar Terengganu, memberi pandangannya mengenai cita-cita British yang berkehendakan Terengganu dengan pertolongan Siam itu, dengan katanya antara lain:

"Dimaklumkan bahawa perkara ehwal treaty (perjanjian) yang dikehendaki oleh Inggeris dengan kebenaran Siam itu sangat besarlah pada paham paduka ayahanda (maksudnya beliau) waqiahnya dan sangatlah pada fuad (hati) Seri Paduka Anakanda Sultan Zainal Abidin akan akllahu al dafihi (telah menolong akan engkau oleh Allah SWT atas penolakannya) kerana sudah bersatu kira antara Siam dan Inggeris tetapi Insya-Allah tiada sekali-kali Allah SWT tasalitkan (beri kekuasaan-Nya) kuffar (orang kafir) atas Muslimin melainkan sebab tadyik (menghilangkan) mereka itu akan huquk (hak) syariat dan tiada bersungguh-sungguh mereka itu berpegang atas syariat yang mutahharah (undang-undang suci Islam) dan pemasukan ke dalam agama Islam akan barang yang dibenci oleh Rasulullah SAW. Maka wajiblah pada sekarang ini Seri Paduka Anakanda (Sultan) berkuat pada menzahirkan agama dan membatalkan segala mungkarat (kejahatan), jangan sekali tidak hirau..."

Walaupun usaha itu gagal, British terus menjalankan diplomasinya dalam berbagai bentuk rundingan. Antara pegawai yang mewakili British ialah W.L. Conlay. Dalam beberapa kali rundingan yang diadakan dengan pihak istana (tidak kurang dua kali). Sultan Zainal Abidin mengarahkan pihak British supaya berunding secara langsung dengan Tokku Paloh.
Sultan berkata kepada wakil British: "Terengganu ini ada tuannya, sila berunding dengan tuannya (yang dimaksudkan ialah Tokku Paloh)."

Berunding Dengan British

Rundingan pertama yang dijadualkan berlangsung di atas armada British terpaksa dibatalkan oleh British kerana dikatakan kapal armada itu beberapa kali senget apabila Tokku Paloh menyengetkan serbannya. Ini menakutkan wakil-wakil British yang menganggap kejadian itu satu magic (sihir atau silap mata) sedangkan yang sebenarnya adalah karamah kurniaan Allah kepada Tokku Paloh.

Ekoran itu, rundingan diadakan juga pada waktu lain dan kali ini di rumah Tokku Paloh. Untuk itu, Tokku Paloh meminjam beberapa buah kerusi bagi meraikan orang putih yang tidak pandai duduk bersila itu. Dengan duduk di atas kerusi, rundingan berjalan dengan panjang lebar dan antara lain wakil British memaklumkan bahawa pihaknya ingin mendapatkan tanah Terengganu dengan alasan membantu membangunkan dan memajukan negeri Terengganu. Dengan kata lain, dalam rundingan itu seolah-olahnya British hendak membantu memajukan Terengganu. Negeri Terengganu ketika itu berpenduduk sekitar 10,000 orang, kebanyakannya bekerja sebagai nelayan, tukang dan petani. Mereka diakui oleh Clifford sebagai "orang Melayu yang paling pandai dan paling rajin di Semenanjung Tanah Melayu".

Tokku Paloh mempunyai pandangan yang jauh dan dapat membaca niat jahat wakil British yang mahu menguasai negeri Terengganu dan seterusnya menjajah. Lalu dengan selamba Tokku menjawab segala kehendak wakil British itu dengan penuh sindiran tanpa sedikit pun terpengaruh dengan 'gula-gula' yang diumpan oleh orang-orang putih itu. Dalam perternuan inilah berlakunya kerusi yang diduduki oleh wakil-wakil British itu melekat seketika di punggung mereka seperti telah diceritakan pada awal tulisan ini.

Wakil-wakil British itu pulang dari rumah Tokku Paloh dengan hati yang berang bercampur takut akan kelebihan yang ada pada Tokku Paloh. Mereka gagal sama sekali untuk menguasai Terengganu menerusi diplomasi.

Tidak berapa lama selepas itu, beberapa buah armada British datang lagi ke persisiran pantai Kuala Terengganu. Tanpa memberi sebarang amaran, armada itu melepaskan tembakan meriam dan senapang ke arah pantai dan mengarah ke udara. Serangan yang bertujuan menggertak itu telah membunuh seekor kambing di Padang Hiliran.

Orang rarnai menjadi gempar dan cemas, dan sekali lagi Sultan Zainal Abidin menyerahkan urusan ini kepada Tokku Paloh. Lalu dengan tenang dan yakin Tokku Paloh bersama orang-orang kanannya termasuk Haji Abdul Rahman Limbong, Syeikh lbrahim dan Tuk Kelam dan pengikut-pengikutnya yang lain meronda sepanjang pantai. Operasi rondaan ini berjalan siang dan malam.

Dikatakan ekoran dari itu, British tidak lagi membuat kacau, dan semua armadanya berundur. Mengikut laporan, angkatan perang British itu nampak 'beribu-ribu' pahlawan Terengganu lengkap dengan senjata bersiap sedia untuk melancarkan serangan balas. Sebab itulah mereka cabut lari.

Demikian kehebatan perjuangan Tokku Paloh yang mempunyai karamah menentang British berhabis-habisan. Beliau berpegang kepada firman Allah SWT bermaksud:

"Sesungguhnya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang soleh". (Al-Anbia: 105)

Beliau juga berpegang kepada falsafah: Perjuangan tidak kenal hidup atau mati. Dengan benteng iman dan taqwa yang kukuh pada diri Tokku Paloh itu, pihak British gagal menjajah Terengganu sehinggalah beliau kembali ke rahmatullah pada tahun 1917, dan diikuti dengan kemangkatan Sultan Zainal Abidin III pada tahun berikutnya. Perginya ulama dan umara yang berganding bahu dalam pemerintahan...

Memerintah Paloh Dengan Hukum Islam

Dalam kesibukannya membantu pihak istana memerintah negeri Terengganu, Tokku Paloh diamanah pula mentadbir kawasan Paloh oleh Sultan Zainal Abidin. Dan dalam masa yang sama beliau diminta menjadi ri'ayah (pengawas) daerah Hulu Terengganu termasuk Kuala Berang hingga ke Kampung Cabang Tiga yang jaraknya dari hujung ke hujung kira-kira 50km. Ada juga maklumat yang mengatakan pihak istana meminta Tokku Paloh mengawasi kawasan Kuala Nerus.

Di Paloh, beliau mempunyai kuasa penuh sehingga kerana itu mendapat gelaran istimewa "Tokku Paloh'. Beliau menyusun struktur pentadbiran yang sesuai dengan keperluan semasa bagi memimpin pengikut dan rakyatnya kepada satu cita-cita murni - Islam. Untuk itu, beliau menggunakan kaedah tarbiah, ta'kim serta bimbingan rohani dan kuatkuasa undang-undang yang melibatkan pembantu-pembantu- nya yang amanah.

Biasanya urusan-urusan kemasyarakatan dibincangkan secara syura di kalangan orang kanan dan pengikut setianya. Perbincangan atau mesyuarat itu selalunya diadakan di balai yang didirikan oleh Tokku Paloh bersebelahan rumahnya. Balai ini juga dijadikan tempat beliau mendirikan sembahyang jemaah lima waktu bersama orang ramai.

Dalam hal kedudukan raja yang memerintah, Perlembagaan Terengganu 1911, antara lain menyebut:

"...Tetapi disyaratkan yang dipilih dan dijadikan raja itu seorang lelaki yang cukup umurnya dan sempurna akal, beragama Islam, berbangsa Melayu Terengganu dan daripda darah daging yang merdeka lagi diakui dengan sah dan halal serta baik pengetahuannya, boleh membaca dan menyurat (menulis) bahasanya dan mempunyai tabiat perangai yang baik dan tingkah laku yang terpuji."

Dan raja akan hilang kelayakan menjadi raja sebagaimana tersebut pada fasal ketiga perlembagaan itu yang berbunyi:

"...Jika ada kecacatan yang besar yang menyalahi sifat raja seperti gila, buta, bisu atau ada sifat kekejian yang tiada dibenarkan oleh syarak (hukum Allah) menjadi raja."
Perlembagaan ini digubal pada masa pemerintahan Sultan Zainal Abidin III di bawah nasihat utamanya Tokku Paloh iaitu pada tahun 1911. Ianya bertepatan dengan kehendak Islam di mana tiada siapa yang boleh mengatasi undang-undang Allah SWT.

Sembahyang Berimamkan Nabi Khidir a.s.

"Tokku mengajar di surau ini juga", cerita Sayid Abdul Aziz, sambil menunjuk balai serbaguna yang dibangunkan oleh Tokku Paloh itu.

Menurutnya, semasa hayat Tokku Paloh, sekurang-kurangnya dua kali Nabi Khidir a.s datang berjemaah Subuh di balai tersebut. Peristiwa pertama berlaku semasa Tokku Paloh tidak sembahyang berjemaah bersama dengan murid-muridnya. Para ahli jemaah mendapati ada orang asing yang berserban jubah menjadi imam pada pagi itu. Selesai sembahyang, orang yang tidak dikenali itu duduk bersandar di tiang hujung di sebelab kanan balai itu sambil berwirid sebelum beliau pergi menghilangkan diri.

Tokku Paloh tahu hal ini, lalu berkata kepada murid-muridnya: "Kamu tahu siapa yang jadi imam tadi?" Masing-masing diam dan Tokku Paloh terus berkata: "Beruntunglah kamu, yang menjadi imam itu tadi ialah Nabi Khidir a.s. Dapat pahala besarlah kamu.

Kali kedua, Nabi Khidir a.s. datang berjemaah Subuh di balai itu ketika Tokku Paloh menjadi imam. Selain balai itu, Tokku Paloh mendirikan sebuah masjid kira-kira 10 rantai dan rumahnya sebagai tempat mendirikan sembahyang Jumaat dan sembahyang lima waktu. Masjid itu juga menjadi tempat murid-muridnya belajar ilmu dan mengadakan perhimpunan besar bagi merayakan satu-satu majlis yang berkaitan agama.

Di dua pusat inilah (balai dan masjid) Tokku Paloh memimpin dan membimbing orang ramai dengan ilmu, amal dan tarbiah rohani. Beliau mengajar ilmu-ilmu tauhid, feqah, tasawuf, tafsir, Hadis dan juga nahu saraf.

Beliau sangat menekankan ilmu dan amalan tasawuf di kalangan pengikut-pengikutnya. Malah Tokku Paloh mengarang kitab Maarijulah fan (tangga orang-orang yang sangat dahaga untuk naik kepada hakikat-hakikat pengenalan). Kitab ini membicarakan persoalan hati bagi mereka yang bermujahadah sehingga menjadi seorang yang bertakarrub ilallah.

Di antara anak murid dan pengikut Tokku Paloh yang terkenal ialah Haji Abdul Rahman Limbong, Haji Mat Shafie Losong, Tuk Kelam, Tuk Janggut, Datuk Bahaman, Mat Kilau, Haji Wan Embong Paloh, Haji Abdullah Chik Fatani, Tuk Gajah, dan Sultan Zainal Abidin III sendiri. Baginda sultan sering berulang-alik dan istananya ke Paloh untuk belajar ilmu dan berbincang mengenai berbagai perkara dengan Tokku Paloh. Baginda mempunyai minat dan kebolehan yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan. Selain Tokku Paloh, guru-guru baginda yang lain temasuklah Hj. Wan Abdullah Mohd Amin (Tuk Syeikh Duyung), Hj. Wan Mohd bin Abdullah, Hj. Wan Abdul Latif bin Abdullah Losong dan lain-lain. Baginda juga boleh berbahasa Arab hasil tunjuk ajar seorang guru khas, Habib Umar.

Berkat dan kesungguhan menuntut ilmu dan sikap memuliakan ulama, Sultan Zainal Abidin III diakui oleh rakyat sebagai raja yang alim dan taat berpegang kepada ajaran Islam. Hingga dikatakan, semasa pemerintahan baginda, susah untuk dicari seorang yang sudah sampai umur yang belum khatam Al-Quran di Terengganu.

Selain itu, Tokku Paloh juga menjadi guru kepada anak-anaknya sendiri seperti Sayid Abu Bakar (Tokku Tuan Embong), Sayid Akil (Engku Sri Wijaya) dan Sayid Sagof (Engku Kelana). Kesemua mereka diakui sebagai ulama.

Dari hari ke hari, anak-anak murid dan pengikut Tokku Paloh semakin ramai. Mereka datang dari merata tempat. Paling ramai ialah orang-orang Pahang yang kebanyakan mereka adalah pahlawan-pahlawan yang menentang British. Di Paloh, mereka dilindungi di bawah pentadbiran yang adil, makmur, tegas berdasarkan hukum Allah SWT dan tidak bertolak-ansur dengan pihak British.

Untuk memastikan kawasan Paloh terhindar daripada segala perbuatan maksiat dan pelanggaran undang-undang serta untuk menjaga daripada pencerobohan luar maka Tokku Paloh menubuhkan pasukan penguatkuasa yang terkenal dengan nama Budak Raja. Pasukan ini bertanggungjawab menjaga keamanan sepertimana peranan polis pada hari ini.

Dalam pada itu Tokku suka keluar malam-malam untuk memastikan keselamatan dan kebajikan orang ramai terjamin. "Pada masa tertentu, Tokku keluar malam berselubung kepala dengan kain, meninjau-ninjau tentang kehidupan orang ramai. Jika ada perkara-perkara tak elok, besok Tokku suruh budak raja pergi tangkap," cerita Sayid Abdul Aziz.

Sikap ini memperlihatkan betapa bertanggungjawabnya Tokku Paloh terhadap keselamatan dan kebajikan anak-anak buahnya seperti berlaku pada khalifah Umar Al-Khattab r.a. Bagaimanapun, kata Sayid Abdul Aziz, kawasan Paloh sentiasa terpelihara daripada gangguan penjahat luar dan dalam. "Musuh dan penjahat tidak dapat masuk ke Paloh dan kalau ada barang curi yang hendak dibawa keluar pun tak boleh". Sayid Abdul Aziz tidak menolak kemungkinan adanya 'pagar kerohanian' yang dibuat oleh Tokku Paloh selain daripada kawalan Budak Raja umpamanya, dan pagar lahir.

Amalan Tareqat dan Syahadat Tokku

Selaku pembawa amalan Tareqat Naqsyabandiah, Tokku Paloh terkenal sebagai seorang yang kuat mengamalkan zikir-zikir yang disusun oleh Syeikh Bahauddin, Syeikhul Tareqat Naqsyabandiah yang susur galurnya sampai kepada Sayidina Abu Bakar As Siddiq (maqam Syeikh Bahauddin terdapat di Uzbekistan). Begitu pula dengan amalan ibadah yang asas seperti sembahyang, puasa dan membaca Al-Quran dan lain-lain amalan sunat. Dengan kata lain Tokku Paloh sangat warak dan berhalus dalam beribadah.

Selain mengamalkan zikir Tareqat Naqsyabandiah secara istiqamah, Tokku Paloh juga mengamalkan dan mengembangkan amalan yang disusun oleh ayahnya Tokku Tuan Besar iaitu 'Syahadat Tokku'. Amalan ini terus popular dan hingga kini masih diamalkan di banyak tempat di Terengganu secara jemaah dan bersendirian. Syahadat Tokku yang diamalkan dengan suara zihar (nyaring) itu ialah:

Ertinya aku ketahui dan aku iktiqad dengan hatiku dan aku nyatakan bagi yang lain daripadaku akan bahawa sesunggahnya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah jua yang kaya Ia daripada tiap-tiap yang lain daripada-Nya dan berkehendak oleh tiap-tiap yang lain itu kepada-Nya. Lagi yang bersifat Ia dengan tiap-tiap sifat kesempurnaan yang maha suci Ia daripada segala kekurangan dan daripada barang yang terlintas Ia di dalam segala hati daripada barang yang tiada patut Ia bagi-Nya lagi tiada beristeri dan tiada anak dan tiada yang memperanakkan bagi-Nya. Dan tiada menyamai Ia pada zat-Nya dan sifat-Nya dan af'al-Nya akan seseorang maka Ialah Tuhan yang menjadi Ia akan segala makhluk yang 'ulvi-Nya dan syufli-Nya lagi ketunggalan Ia pada mengadakan dan mentiadakan dengan kekerasan takluk qudrat dan iradat-Nya maka terserahlah segala kainat ini semuanya pada bawah perintah-Nya dan tiadalah jenis 'itirat bagi seorang jua pun akan kehendak-Nya.

Dan aku ketahui dan aku iktiqad dengan hatiku dan aku nyatakan bagi yang lain daripadaku akan bahawa sungguhnya penghulu kita Nabi Muhammad anak Abdullah itu hamba Allah dan pesuruh-Nya kepada sekalian makhluk lagi sangat benar ia pada tiap-tiap barang yang ia khabarkan dengan dia daripada Tuhannya. Maka wajiblah atas tiap-tiap makhluk itu benar akan dia dan mengikut akan dia dan haram atas mereka itu mendusta akan dia atau menyalahi akan dia maka barang siapa yang mendusta ia akan dia maka orang itu zalim ia lagi kafir ia, dan barang siapa yang menyalahi ia akan dia maka orang itu derhaka ia lagi binasa ia. Mudah-mudahan memberi taufiq akan kita oleh Allah bagi sempurna mengikut akan dia dan mengurnia ia bagi kita akan sempurna berpegang dengan jalannya dan menjadi ia akan kita akan setengah daripada orang yang menghidup ia akan segala hukum syariat-Nya dan memati Ia akan kita atas keagamaan-Nya dan menghimpun Ia akan kita serta perhimpunannya. Demikian lagi segala yang memperanak akan kita dan ahli kita dan segala saudara kita dan yang kasih la akan kita dan segala sahabat kita daripada segala orang yang Muslimin. Amin.

Syahadat Tokku ini diwariskan kepada murid-muridnya. Pengikut kanan beliau Haji Abdul Rahman Limbong mengembangkan amalan ini kepada murid-murid dan anak cucunya pula. Ini diakui oleh Pak Cik Ali Haji Yusof, cicit Haji Abdul Rahman Limbong. Beliau berkata: "Saya dapat mengamalkan syahadat ini semasa datuk (menantu Haji Abdul Rahman Limbong) dan ayah saya lagi." Menurut beliau, amalan itu masih kekal sebagamaana dilakukan pada zaman Hj. Abdul Rahman Limbong iaitu bermula dengan ratib Al-Hadad dan diakhiri dengan Syahadat Tokku, sekali-sekala disusuli dengan burdah pula.

Kontroversi Syahadat Tokku

Amalan Syahadat Tokku ini pernah menjadi kontroversi apabila salah seorang pembawa amalan ini dihadap ke mahkamah kerana dituduh sesat. Peristiwa ini berlaku kepada Tuan Haji Hussein Haji Mat yang mengembangkan amalan ini di Kampung Gong Ubi Keling, Besut di mana dalam masa yang singkat saja sudah meriah dengan ramai pengikut.

Tuan Haji Hussein tidak menolak kemungkinan tindakan yang dikenakan ke atas dirinya itu didorong oleh iri hati dan hasad dengki orang-orang tertentu kerana surau yang baru beliau bangunkan lebih meriah berbanding dengan surau-surau lain. Mereka mendesak pihak berkuasa mengambil tindakan ke atas beliau (Haji Hussein) atas alasan yang batil dan fitnah.

Mengenang peristiwa pahit yang berlaku pada sekitar tahun 1950 itu, Haji Hussein bercerita: "Hampir seribu orang yang berada di Mahkamah Kadhi Besut untuk mendengar keputusan perbicaraan saya yang dituduh sesat kerana mengamalkan Syahadat Tokku ini."

Orang ramai nampak cemas kerana peristiwa ini besar dan kali pertama berlaku di Besut. Menurut Haji Hussein, sewaktu perbicaraan, beliau disuruh membaca segala amalan yang diamalkannya selama ini.

"Saya pun membaca habis satu persatu bermula dengan ratib Al-Hadad, Burdah dan akhirnya Syahadat Tokku. Selesai saya membaca sernuanya, Hakim Cik Awing yang juga Kadhi Besut itu berkata: "Apa yang Tuan Haji baca itu ada pada saya".

"Rupa-rupanya Tuan Hakim Cik Awing juga mengamalkan Ratib Al-Hadad dan Syahadat Tokku. Kemudian saya dibebaskan tanpa sebarang tindakan yang dikenakan malah nampaknya tuan hakim itu pula yang seolah-olahnya menggalakkan amalan ini diteruskan. Mendengarkan keputusan yang benar itu maka oriang ramai di luar mahkamah turut bersyukur dan ada yang menitiskan air mata gembira", cerita Haji Hussein lagi. Sehingga kini Haji Hussein terus mengamalkan Syahadat Tokku ini bersama-sama sahabat-sahabatnya, amalan yang pada setengah orang jahil dikatakan 'syahadat tambahan'.

Syahadat Tokku yang disusun oleh wali Allah itu terus popular di kalangan orang yang arif di banyak tempat dalam negeri Terengganu. Amalan yang menjelaskan unsur-unsur tauhid dan pembersihan hati yang amat diperlukan oleh seorang hamba terhadap Tuhannya, Allah SWT.

Rupa Paras Tokku Paloh

Tentang rupa paras Tokku Paloh, cucunya Sayid Abdul Aziz berkata Tokku Paloh berjanggut tanpa berjambang. Orangnya tidak tinggi tetapi badannya berisi. Rupa kasar itu adalah gambaran yang dilihat dalam mimpinya.

"Beberapa kali saya bermimpi Tuk Aki saya", cerita Sayid Abdul Aziz kepada penulis.

Kenyataan mengenai rupa paras Tokku Paloh yang dilihat dalam mimpi itu diakui oleh murid beliau yang masih hidup iaitu Pak Cha yang berumur lebih 90 tahun. Penulis bertemu dua kali dengan beliau pada akhir tahun 1989 dan 1991. "Dia rendah", kata Pak Cha sambil menunjuk salah seorang yang berada di tepinya yang berbadan agak gemuk tetapi tidak tinggi sangat.

Mahkamah Keadilan Sendiri

Tokku Paloh mempunyai mahkamah keadilan sendiri di Paloh. Beliau mendapat mandat daripada sultan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan besar dan mengadili penjahat-penjahat di kawasan pentadbirannya. Mana-mana keputusan yang dibuatnya dikira muktamad tanpa perlu merujuk kepada sultan. Dan dalam soal ini beliau ada mengeluarkan surat kuasa terhadap pembawa ajaran sesat.

Dengan itu tidak hairanlah nama Tokku Paloh semakin masyhur sebagai seorang ulama yang berwibawa dalam pemerintahan. Beliau berjaya membangunkan Paloh menjadi kawasan yang aman damai dan mempunyai kekuatan yang digeruni musuh.

Selain itu, Tokku Paloh juga dilantik sebagai Syeikhul Ulama, jawatan tertinggi dalam urusan agama. Jawatan ini pernah disandang oleh ayahnya Tokku Tuan Besar. Tokku Paloh adalah juga ahli Majlis Mesyuarat Negeri. Bagaimanapun, Tokku Paloh lebih banyak membuat perhubungan peribadi dengan Sultan Zainal Abidin III daripada perhubungan secara rasmi. Eratnya hubungan Tokku Paloh dengan Sultan amat nyata di mana salah seorang isterinya, Tengku Mandak, ialah kekanda kepada Sultan Zainal Abidin. Baginda Sultan pula telah menyerahkan anaknya, Tengu Sulaiman kepada Tokku Paloh untuk dijadikan anak angkat dan dididik dengan didikan agama. Tengku Sulaiman ini kemudiannya menjadi Sultan Terengganu yang ke-13, memerintah antara 1920-1942.

Demikianlah, setelah begitu lama menyumbang bakti kepada rakyat dan kerajaan maka Tokku Paloh jatub uzur dan kembali ke rahmatullah menernui kekasihnya Allah SWT pada 1 Zulhijjah 1336 Hijrah (1917) dalam usia 100 tahun. Setahun kemudian Sultan Zainal Abidin III pula mangkat iaitu pada 1 November 1918. Jenazah Tokku Paloh dimaqamkan di satu kawasan tinggi di Paloh. Beliau meninggalkan lebih 23 orang anak daripada lapan orang isteri. Semasa hayatnya Tokku Paloh sentiasa saja beristeri empat orang secara poligami, dan isterinya seramai 13 orang kesemuanya.

Dipetik dari:
7 Wali Melayu karya Abdul Ghani Said terbitan Mahbook Publications

Selasa, Agustus 12, 2008

Sheikh Abdullah Fahim, Penentu Tarikh Kemerdekaan Negara

Sheikh Abdullah Fahim dilahirkan pada tahun 1870 di Makkah, Arab Saudi di satu tempat yang tidak jauh dari Masjidil Haram yang bernama Shuib Ali. Bagaimanapun ada juga pihak lain yang mengatakan ulama terkenal ini dilahirkan di Kampung Kubur Panjang, kira-kira 32 kilometer dari Alor Setar, Kedah.

Sheikh Abdullah Fahim adalah anak kedua daripada empat orang adik-beradik. Bapanya Sheikh Ibrahim bin Haji Tahir bermastautin di kota Makkah dan menjadi guru agama di Masjidil Haram dalam bidang pengajian al-Quran. Semasa hayatnya, Sheikh Ibrahim Tahir juga pernah dilantik sebagai ahli lembaga pengelola Masjidil Haram selama tujuh tahun. Kedua beranak ini dikenali oleh masyarakat Makkah sebagai keturunan Jawa dan Patani.

Sheikh Abdullah Fahim pernah menuntut dengan 45 orang guru agama terkenal dan mendapat kelulusan dalam lebih 15 bidang ilmu Islam. Kemahiran utama datuk kepada Perdana Menteri Malaysia kelima ini adalah dalam bidang ilmu Falak dan Kesusasteraan Arab. Sewaktu berada di Makkah, beliau mengambil kesempatan mempelajari ilmu politik Islam.

Kesedaran beliau untuk mempelajari selok-belok ilmu politik Islam ini jelas menunjukkan bahawa beliau adalah seorang ulama yang cintakan ilmu pengetahuan yang seimbang antara dunia dan akhirat. Di samping itu, ia juga membuktikan betapa Sheikh Abdullah Fahim seorang ulama yang memiliki pemikiran terbuka serta tidak terkongkong sifatnya.

Semasa tinggal di Makkah, Abdullah Fahim mendirikan rumah tangga dengan Hajjah Wan Habsah Haji Abdullah. Mereka dikurniakan dua orang anak lelaki iaitu Ghazali dan Ahmad Badawi. Ghazali dan ibunya, Wan Habsah meninggal dunia di Makkah.

Dalam bidang agama, Abdullah Fahim mengajar ilmu usuluddin, falak, tafsir al-Quran dan Hadis di Masjidil Haram. Pelajarnya terdiri daripada pelbagai bangsa termasuk yang berasal dari Tanah Melayu, Sabah, Sarawak, Brunei, Sumatera, Jawa, Pattani, Filipina, India dan China. Disebabkan oleh kemasyhurannya, apabila pulang ke Tanah Melayu pada 1921, Abdullah Fahim sering diundang untuk menyampaikan ceramah atau memberi pendapat pada seminar dan forum mengenai Islam. Ketinggian ilmu agama yang beliau miliki turut diakui oleh ulama terkenal Indonesia, Profesor Dr. Hamka.

Sekembalinya beliau ke Tanah Melayu pada 1921, Abdullah Fahim tinggal di kampung Limbong Kapal, Alor Setar, Kedah dan menjadi guru di Maahad Mahmud yang ketika itu menggunakan sistem pendidikan secara pondok. Pada peringkat awal kepulangan beliau ke tanah air, beliau terpaksa menggilap semula kemahirannya berbahasa Melayu mkerana sudah sekian lama tidak mengamalkan bahasa itu.

Selepas menetap di Kedah selama beberapa tahun, pada 1925, beliau berpindah ke Kepala Batas, Seberang Prai, Pulau Pinang. Semasa mula-mula tinggal di Kepala Batas, beliau mengajar agama di anjung rumahnya dan di Masjid Kepala Batas. Apabila jumlah muridnya semakin bertambah, ulama yang merupakan Mufti pertama Pulau Pinang ini mengasakan penubuhan Madrasah Daeratul Maarif al-Wataniah di Kepala Batas yang tenaga pengajarnya termasuklah anak beliau, Ahmad Badawi.

Selain terkenal sebagai pendidik agama, ulama dan pejuang politik Islam, Sheikh Abdullah Fahim juga adalah penulis handalan yang banyak karyanya tersiar dalam majalah dan akhbar di negara Arab pada 1920-an. Selain itu, tulisannya dalam bahasa Melayu pula banyak diterbitkan di Tanah Melayu dan Singapura.

Pendek kata, sepanjang hayatnya, Abdullah Fahim telah menggunakan segala ilmu yang di kurniakan oleh Allah kepadanya untuk memberi manfaat kepada umat Islam dari seluruh pelosok dunia. Jariah yang beliau curahkan itu mengalir hingga ke hari ini apabila ramai muridnya menjadi guru agama, mufti, kadi dan sebagainya yang mencurahkan khidmat bakti demi kesejahteraan masyarakat di dunia dan akhirat.

Ulama yang Tegas dan Pentingkan Perpaduan

Selain itu, Sheikh Abdullah Fahim adalah salah seorang daripada ulama yang tegas dan sangat prihatin kepada perpecahan umat Islam. Beliau memberikan nasihat kepada orang Melayu supaya jangan mengikut ajaran Khawarij yang mencetuskan perbalahan di kalangan umat Islam apabila mereka keluar dan berpisah daripada kepimpinan Saidina Ali r.a.. Beliau juga pernah menunjukkan tingakan tegas dengan meninggalkan majlis yang menyerang dan memperkecilkan orang melayu yang berpegang kepada mazhab Syafie.

Beliau juga pernah merayu supaya orang melayu berpegang teguh dengan semangat perpaduan ummah dan bersatu padu dalam kesatuan bangsanya.

Kesetiaan Abdullah Fahim dalam Politik

Walaupun Abdullah Fahim tidak begitu terkenal dalam arena politik tanah air, tetapi beliau sebenarnya amat berjasa kepada negara, khususnya kepada UMNO. Ini kerana, ketika sebilangan besar mereka yang dianggap sebagai ulama meninggalkan parti itu untuk menyertai PAS, beliau dan anaknya, Ahmad Badawi tetap setia menyokong UMNO dalam perjuangannya membela nasib bangsa dan seluruh penduduk Tanah Melayu mengira kaum dan agama.

Kesetiaan Abdullah Fahim terhadap perjuangan UMNO tidak dapat dinafikan apabila beberapa hari selepas parti itu ditubuhkan pada Mei 1946, Yang DiPertua Pertama parti itu, Onn bin Jaafar dating menemuinya dan meminta beliau menjadi ahli UMNO pertama bagi kawasan Seberang Prai Utara.

Sebaik sahaja Abdullah Fahim, menandatangani borang keahlian, Onn menyematkan lencana UMNO pada kolar kot beliau. Lencana tersebut dipakai oleh Abdullah Fahim hingga akhir hayatnya bagi membuktikan betapa beliau amat menyayangi dan menghayati perjuangan parti itu.

Sumbangan Abdullah Fahim Yang Berharga (Penentu Tarikh Kemerdekaan Negara)

Nama Sheikh Abdullah Fahim juga berkait rapat dengan kemerdekaan Tanah Melayu kerana beliaulah tokoh yang diberi kepercayaan untuk memilih tarikh yang dirasakan serasi untuk dikemukakan kepada pentadbiran Inggeris.

Semasa beliau dikunjungi Tunku Abdul Rahman dan para pemimpin UMNO lain untuk mendapatkan tarikh berkenaan, Abdullah Fahim mencadangkan dua tarikh iaitu 31 Ogos 1957 dan 31 Ogos 1962. Pada pendapat beliau, tarikh 31 Ogos 1957 paling sesuai memandangkan segala usaha dan perjuangan rakyat Malaya sudah sampai kepada masanya untuk membuat tuntutan dan sekiranya pihak British tidak bersetuju dengan tarikh itu, maka satu lagi tarikh yang sesuai dan baik untuk Tanah Melayu mencapai kemerdekaan ialah 31 Ogos 1962.

Apabila kedua-dua tarikh tersebut dibincangkan pada mesyuarat peringkat tertinggi UMNO, Ketua pemuda UMNO, Saadon Haji Jubir menolak tarikh alternatif 31 Ogos 1962 dan bertekad bahawa sekiranya British menolak tarikh 31 Ogos 1957 sebagai tarikh kemerdekaan negara ini, pemuda UMNO akan bertindak secara habis-habisan untuk menentangnya.

Walau bagaimanapun dengan nasihat Abdullah Fahim dan kebijaksanaan Tunku, akhirnya seperti yang terakam dalam sejarah tanah air, Tanah Melayu mencapai kemerdekaannya pada 31 Ogos 1957. Tarikh keramat ini sebenarnya bukan dipilih dengan sesuka hati oleh Abdullah Fahim tetapi melalui ilmu firasat yang beliau miliki. Tarikh inilah yang kini dirayakan setiap tahun oleh seluruh rakyat Malaysia yang menghargai erti kemerdekaan.

Mungkin juga tidak ramai yang mengetahui bahawa pada pertemuan untuk membincangkan tarikh kemerdekaan Tanah Melayu itu, Abdullah Fahim memberitahu Tunku bahawa selepas lima tahun Tanah Melayu mencapai kemerdekaan, negara ini akan bertukar namanya. Ramalan yang dibuat berdasarkan ilmu firasat yang beliau miliki itu ternyata benar apabila dengan kehendak Allah jua, Tanah Melayu telah ditukar namanya kepada Malaysia lima tahun selepas kemerdekaannya.

Walaupun ramai orang yang kagum dengan kelebihan yang dimiliki oleh Sheikh Abdullah Fahim, tetapi bagi beliau dan ahli keluarganya, semua itu adalah pemberian Allah kepada sesiapa jua yang dikehendakinya.

Sungguhpun Abdullah Fahim bukan pemimpin utama UMNO, tetapi buah fikiran beliau sebagai orang tua dan ulama yang dihormati amat diperlukan dalam menangani sesuatu isu besar yang dihadapi oleh rakyat dan negara. Sebagai ulama, segala kata-kata dan buah fikirannya diyakini bebas daripada sebarang kepentingan diri serta mendapat petunjuk dari Allah.

Sifat Peribadi Abdullah Fahim

Dalam kehidupan sehariannya, Sheikh Abdullah Fahim adalah seorang yang mudah sekali bergaul mesra dan amat disenangi oleh penduduk setempat yang terdiri daripada masyarakat yang berbilang kaum. Pernah dikatakan bahawa pekedai-pekedai di sekitar Pulau Pinang biasanya berasa amat bertuah sekiranya Sheikh Abdullah Fahim masuk ke kedai mereka tetapi akan berasa bimbang sekiranya barang di kedai mereka itu di katakannya mahal, maka alamatnya jualan pekedai itu pada hari itu akan merosot. Begitulah pula sebaliknya pekedai selalu berharap Sheikh Abdullah Fahim akan masuk ke kedai mereka kerana kehadirannya menjadi petanda bahawa jualan mereka pada hari itu akan laris.

Itulah antara keistimewaan yang dimiliki oleh Sheikh Abdullah Fahim yang merupakan seorang wali yang amat dihormati oleh penduduk Pulau Pinag, terutamanya di Seberang Prai dan Kepala Batas.

Sampainya Ajal Beliau

Akhirnya sampailah sudah kesudahan riwayat hidup seorang ulama dan tokoh kemerdekaan yang terkenal dan tiada tandingannya. Sheikh Abdullah Fahim menghembuskan nafas terakhir pada 28 April 1961 pada waktu pagi iaitu pukul 8 di rumahnya di Kepala Batas. Ketika itu, usia beliau ialah 92 tahun. Jenazah beliau disemadikan di tanah perkuburan di perkarangan Masjid Kepala Batas, Pulau Pinang.

Sheikh Abdullah Fahim meninggalkan seorang anak iaitu Ahmad Badawi dan beberapa orang cucu, di antaranya ialah Perdana Menteri kita yang dikasihi, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi.

Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas rohnya. Amin.

Nukilan:
M.A.Uswah,
Oktober 2007,

Sandakan.

(Artikel di atas merupakan di antara senarai pencalonan Sayembara 50 Melayu Terbilang 2007 yang saya sertai di http://esastera.com)

Minggu, Agustus 10, 2008

Menyusuri Ulama Pejuang Kemerdekaan

Para alim ulama juga memikul beban amanah yang ditinggalkan oleh Rasulullah saw, untuk meninggikan Islam di atas semua kepercayaan dalam menggalas perjuangan menentang penjajah samada Barat atau Timur. Penjajahan Barat yang penuh dengan palitan noda hitam yang bernuansakan penyebaran agama Kristian tidak dibiarkan percuma oleh para alim ulama di setiap inci bumi umat Islam, mereka telah bangkit dengan gagah meniupkan api perjuangan kepada ummat yang sedang lena diulit mimpi. Ulama ini dengan anugerah ilmu telah mencetuskan kesedaran untuk membebaskan diri daripada penjajah jauh lebih awal daripada kelompok nasionalis sekular yang telah menculik buah kemenangan, malah hari ini mandabik dada dengan seluruh kepungan media bahawa merekalah pembebas tanahair daripada belenggu penjajah.
Sebahagian ulama ini telah menjadi korban penjajah samada syahid ditali gantung seperti Umar Mukhtar atau dipaksa mendekam dipenjara tanpa pembicaraan seperti Ustaz Abu Bakar Al-Baqir, juga dibuang negeri seperti Imam Diponegoro, Uthman Den Fodio, Haji Abdul Rahman Limbong. Selain itu, ulama lainnya pula yang turut berjuang menentang penjajah dan yang ada kaitannya dengan kemerdekaan negara ialah Tokku Paloh, Sheikh Abdullah Fahim, Haji Sulong al-Fatani, Imam Bonjol dan lainnya lagi. Hari ini paparan sejarah di skrin televisyen telah memadamkan kebaktian mereka dan generasi muda dipaksa menerima versi sejarah baru bahawa kemerdekaan telah diperjuangkan oleh golongan elit sekular yang sememangnya menjadi anak suruhan penjajah.

Diharapkan supaya generasi muda menekuni kembali sejarah getir perjuangan kemerdekaan yang telah banyak diselewengkan, bahkan juga kita tidak mampu memadamkan pahatan sejarah kelompok aliran kiri yang turut berjuang menentang imperialisme di seluruh dunia. Ikuti kisah kemerdekaan yang dirintis oleh alim ulama melalui kisah hidup mereka satu persatu di blog ini sepanjang bulan ogos ini sempena bulan kemerdekaan ini.

Minggu, Agustus 03, 2008

"Bila Rasa Mengantuk Itu Sangat Mendesak...Akupun Minum Secangkir..."

“Aku pulang ke rumah dan meletakkan lampu di hadapanku, lalu terus membaca dan mengarang. Bila rasa mengantuk itu sangat mendesak, atau badanku terasa letih sekali, maka akupun minum secangkir hingga timbul kembali kesegaranku dan aku teruskan membaca lagi. Tetapi jika mengantuk tak tertahankan, aku lalu tidur dan biasanya aku bermimpi tentang soal-soal yang belum selesai dalam fikiranku. Di dalam mimpi itu, kebanyakan soal-soal itu biasanya menjadi terang masalahnya.”
(Ibnu Sina)