Pages

Rabu, Desember 16, 2009

Imam Bukhari - Mawaddah

Hayati lagu ini... (Video kreativiti saya)



Wahai tokoh muda harapan agama, bangsa dan negara
Mari bersama kita contohi pemuda bertaqwa
Oh Imam al-Bukhari anak yatim yang rajin dan gigih
Waktu muda sudah menjadi ulama

Sedari kecil diperkenalkan kepada Tuhan yang Maha Esa
Di besarkan dan dididik oleh ibu yang solehah

Oh Imam al-Bukhari banyak jasamu kepada perjuangan Islam menghimpun hadis Nabi
Sebagai panduan
Engkau perkenalkan kami kepada Rasul yang Mulia

Wahai pemuda harapan bangsa, agama dan negara
Mari ikuti langkah Imam al-Bukhari

Senin, Desember 14, 2009

Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, Ulama & Pengarang Tafsir al-Aisar

Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi ialah seorang ulama hadis yang zuhud. Beliau dilahirkan di Algeria pada tahun 1342 H/1921 M. Ketika umurnya lebih kurang satu tahun, ayahnya telah meninggal dunia. Ibunya seorang yang soleh yang unggul dalam mendidik anak berdasarkan panduan Islam. Beliau belajar al-Quran ketika beliau masih kanak-kanak saat umurnya dua belas tahun. Beliau selesai awal pendidikan di rumah, kemudian dipindahkan ke ibu kota Algeria dan bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah.

Selama masa itu, beliau menghadiri pelajaran oleh At-Tayyab Abu Qir dan telah mendapat penerangan-penerangan dengan cahaya kepercayaan dalam tauhid dan sunnah Nabi saw.

Beliau juga menghafal matan kitab, ilmu lughah dan fiqh Maliki kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke kota lainnya sampai kemudian belajar di Madinah di Masjid Nabawi dan Makkah sehingga mendapat pengakuan (ijazah) dari para masyaikh di sana.

Diantara gurunya dinegerinya iaitu Syeikh Nu’aim An-Nu’aimi, Syeikh Isa Mu’tauqi dan Syaikh Thayib Al-Uqbi, sedangkan di Madinah ialah Syeikh Umar Bari, Syeikh Muhammad Al-Hafiz, Syeikh Muhammad Khoyal dan selainnya.

Ketika penjajahan Perancis dimulai pada tahun 1952, beliau pindah ke Madinah. Raja Saud bin Abdul Aziz adalah penguasa saat itu dan Universiti Islam Madinah yang telah dibina. Beliau pertama kali bekerja sebagai seorang guru di Madinah, kemudian ia bergabung dengan Universiti Madinah dan mengajar di sana iaitu di Darul Hadis Madinah hingga bersara. Beliau juga bekerja sebagai penasihat dan penolong di beberapa lembaga berkaitan dengan dunia muslim selama waktu itu.

Beliau menyerang ahli sufi dan tasauf yang sesat sebagai alasan mengapa umat Islam hilang dalam perjuangan melawan kolonialisme Eropah.

Karya-karyanya

Antara karya-karyanya yang terkenal:

1. Tafsir al-Aisar
2. Minhajul Muslimin
3. 90 Seruan Ilahi dalam Al-Quran

Tafsir al-Aisar ialah suatu kitab tafsir yang mudah difahami sebagaimana nama tafsir ini iaitu 'al-Aisar (termudah)', yang menggabungkan antara erti yang dimaksud dalam firman Allah Taala dengan huraian-huraian bahasa yang mudah, sehingga kalangan awam pun dapat dengan mudah memahaminya.

Kata-katanya

Mereka mengatakan: “Orang-orang tabligh membuat bid’ah berupa keluar di jalan Allah swt secara berjama’ah dan membatasi keluar tiga hari, 40 hari, dan empat bulan.

Syeikh Abu Bakar al-Jazairi katakan: Sesungguhnya keluar untuk memperbaiki diri adalah seperti keluar untuk menuntut ilmu dan hidayah. Juga seperti keluar untuk menda’wah manusia kepada Allah swt dan mengajar mereka hal-hal yang bermanfaat di dunia dan di akherat. Semuanya itu adalah keluar di jalan Allah swt, apabila dilandasi niat yang benar semata-mata untuk meraih ridha Allah swt, bukan untuk memperoleh harta dan pernghormatan atau hiburan, permainan dan kebatilan.

Adalah termasuk kelakuan bodoh atau pura-pura bodoh apabila ada orang yang mengingkari keluarnya Jama’ah Tabligh untuk kepentingan hidayah bagi manusia, mengajar mereka, memperbaiki diri mereka, dan mendidik ruhani mereka. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Satu pagi atau satu petang keluar di jalan Allah, lebih baik daripada mendapatkan dunia beserta seluruh isinya” Juga Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa mendatangi masjid ini semata-mata untuk kebaikan yang ia ajarkan atau ia pelajari, laksana mujahid (orang yang berjuang) fi sabilillah” [1] Dan masih banyak hadits lainnya yang shahih dan yang hasan yang mengajarkan dan memberikan semangat (dorongan) untuk keluar di jalan Allah SWT.

Alangkah mengherankannya perkataan mereka, bahwa keluarnya Jama’ah Tabligh adalah bid’ah. Dan lebih mengherankan lagi, mereka berhujjah bahwa “keluar fi sabilillah secara berjama’ah adalah bid’ah” dengan sangkaan bahwa Rasulullah SAW mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman seorang diri saja, tidak berjama’ah. Mereka lupa atau tidak tahu bahwa Rasulullah SAW tidak mengutus Mu’adz sendirian, tetapi beliau mengutus juga Abu Musa Al-Asy’ari bersamanya. “Hendaklah kamu berdua menggembirakan mereka dan janganlah membuat mereka lari, hendaklah kamu berdua memudahkan mereka dan janganlah mempersulit mereka, dan bertolong-tolonglah kamu berdua dan jangan berselisih”

Dan beliau telah mengirim Ali Bin Abi Thalib RA dan Khalid bin Sa’id bin Al’Ash RA. Bersama mereka beliau mengirimkan rombongan besar untuk da’wah , ta’lim dan memutuskan perkara di antara manusia.

Tentang pembatasan masa keluar yang mereka (para penyerang) katakan sebagai bid’ah, adalah pengaturan da’wah sebagaimana peraturan sekolah dan universitas yang mengenal batasan masa belajar dan libur untuk menyiapkan bekal dan perbelanjaan selama masa keluar. Apakah dengan demikian orang-orang tabligh dianggap membuat bid’ah karena mereka mengatur hari-hari, untuk kepentingan da’wah dan khuruj fi sabilillah (keluar di jalan Allah SWT?

Subhanallah, mereka yang mengatakan demikian seperti dikatakan dalam syair: “Pandangan ridha atau senang selalu tumpul (buta) terhadap setiap aib, sedangkan benci selalu membongkar keburukan”

Apakah yang menyebabkan kemarahan kalian wahai hamba-hamba Allah? Seorang hamba Allah, menda’wah manusia kepada Allah, kemudian ia mendapat keridhaan untuk dirinya dan kepada saudaranya yang ia da’wahi. Jiwa mereka menjadi suci, hati mereka menjadi bersih dan akhlaq mereka menjadi mulia disebabkan mereka selalu mengucapkan kata-kata yang baik dan melakukan amal-amal yang sholeh.

Apakah yang menjadikan kalian marah, wahai hamba-hamba Allah? Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita. Kami tidak mengatakan bahwa dalam jama’ah tabligh ada suatu yang dapat dianggap sebagai penghalang manusia dari jalan Allah SWT. Alhamdulillah.
Dan orang-orang yang maksum hanyalah orang yang dijaga oleh Allah SWT. Dan supaya para pembaca yang ingin mencari kebenaran dan menghindari tujuan-tujuan rusak dan gambaran-gambaran yang salah mengetahui bahwa saya belum pernah keluar satu haripun bersama jama’ah tabligh, dan saya tidak bergabung dengan mereka.

Hal ini bukan karena adanya kesalahan-kesalahan mereka. Kesalahan jama’ah tabligh tidak dapat dihilangkan tanpa bekerja sama dengan mereka dan mengajar mereka hal-hal yang terkadang tidak mereka ketahui. Yang demikian itu karena kesalahan-kesalahan itu sangat sedikit dan pengaruhnya tidak berarti. Siapakah manusia yang tidak pernah berbuat salah selain para Nabi dan Rasul Alaihimush Shalatu Wassalam?

Yang menjadi penghalang kebenaran adalah karena kita mampu untuk berkorban, bersifat memberi, bertahan dengan ketabahan sebagaimana yang mereka lakukan.
Maka dari itu cukuplah bagi kita untuk memberi nasehat kepada mereka, memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka dalam da’wah yang terlihat oleh kita dan menahan lisan kita dari mengkritik mereka dan menjelek-jelekkan mereka, sehingga kita tidak menjadi bagian dari orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah SWT.

Tetapi saudara-saudara kita, ketika merasa tidak mampu berbuat seperti apa yang telah diperbuat oleh orang-orang tabligh, lalu cenderung untuk mengkritik mereka, menjelek-jelekkan mereka, menyebutkan kejelekan mereka dan mengganggu mereka. Perbuat ini sangat tidak pantas. Semoga Allah SWT menolong kita.

Wafatnya

Beliau wafat pada tahun 1999.

(Terjemahan bebas daripada bahasa Inggeris dan dari pelbagai sumber)

Senin, Desember 07, 2009

Orang Alim dan Lautan

Seorang alim yang biasa merenungkan makna segala sesuatu, pergi ke lautan dan menanyakan mengapa lautan memakai pakaian biru, kerana warna ini ialah warna duka dan mengapa ia mendidih tanpa api?

Lautan menjawab pada manusia perenung itu, “Aku risau kerana terpisah dari sahabatku. Kerana kekuranganku, aku tak layak baginya, maka kukenakan pakaian biru ini sebagai tanda sesal yang kurasa. Dalam kesedihanku, pantai-pantai bibirku kering dan disebabkan api cintaku, aku berada dalam gebalau ini. Kalau dapat kuperoleh setitik saja air syurgawi dari al-Kausar, maka akan dapat kukuasai gerbang kehidupan kekal. Tanpa setitik ini aku akan mati kerana ghairah damba bersama ribuan yang lain, yang binasa dalam perjalanan.”

Petikan:
Mantiqu't Thair (Musyawarah Burung) karya Fariduddin Attar

Nasihat Tuan Guru Syafie Losong

Sedarilah wahai soleh, tidak seorang pun yang boleh terlepas daripada kejahatan syaitan kecuali sembilan perkara:
Pertama: Ilmu
Kedua: Makrifat
Ketiga: Menyucikan diri
Keempat: Solat pada malam hari
Kelima: Berlapar pada waktu siang hari
Keenam: Takut kepada Allah Taala
Ketujuh: Sentiasa berair wuduk
Kelapan: Sentiasa berzikir
Kesembilan: Solat

Hakikat Bahagia - UNIC

Hayatilah lagu ini...



Bahagia itu dari dalam diri
Kesannya zahir rupanya maknawi
Terpendam bagai permata di dasar hati

Bahagia itu ada pada hati
Bertakhta di kerajaan diri
Terbenam bagai mutiara di lautan nurani

Bahagia itu ada di jiwa
Mahkota di singgahsana rasa
Bahagia itu adalah suatu ketenangan

Bila susah tiada gelisah
Bila miskin syukur pada Tuhan
Bila sakit tiada resah di jiwa
Bukankah Tuhan telah berfirman
Ketahuilah dengan mengingati Allah
Jiwa kan menjadi tenang

Kebahagiaan itu suatu kesyukuran
Bila kaya jadi insan pemurah
Bila berkuasa amanah
Bila berjaya tidak alpa
Bila sihat tidak lupakan Tuhan

Hakikatnya bahagia itu
Adalah ketenangan
Bila hati mengingati Tuhan

Semua insan kan mengerti
Maksud terseni Ilahi
Itulah zikir yang hakiki

Lagu: Putra Aiman
Lirik: Pahrol Mohd Juoi

Selasa, Desember 01, 2009

Masa Depan Islam oleh Syeikh Al-Albani

Oleh
Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani

Allah SWT berfirman:

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” [At-Taubah: 33]

Kita patut merasa gembira dengan janji yang telah diberikan oleh Allah SWT melalui firmanNya itu, bahawa Islam dengan kearifan dan kebijaksanaannya mampu mengalahkan agama-agama lain. Namun tidak sedikit yang mengira bahawa janji tersebut telah terwujud pada masa Nabi saw, masa Khulafaur-Rasyidin, dan pada masa-masa khalifah sesudahnya yang bijaksana. Padahal kenyataannya tidak sedemikian. Yang sudah terealisasi saat itu hanyalah sebahagian kecil dari janji di atas, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasul saw melalui sabdanya:

“Malam dan siang tidak akan sirna sehingga Al-Lata dan Al-’Uzza telah disembah. Lalu Aisyah bertanya: “Wahai Rasul, sungguh aku mengira bahawa tak kala Allah menurunkan firman-Nya: “Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai,” hal itu telah sempurna (realisasinya).” Beliau menjawab: “Hal itu akan terealisasi pada saat yang ditentukan oleh Allah”.” [1]

Banyak hadis-hadis lain yang menjelaskan masa kemenangan Islam dan tersebarnya ke berbagai penjuru. Dari hadits-hadits itu tidak diragukan lagi bahawa kemenangan Islam di masa depan semata-mata atas izin pertolongan Allah swt dengan catatan harus tetap kita perjuangkan, itu yang penting. Berikut ini akan saya tampilkan beberapa hadits yang saya harapkan dapat membakar semangat para pejuang Islam dan dapat dijadikan argumentasi untuk menyedarkan mereka yang fatalis tanpa mahu berjuang sama sekali.

Pertama: “Allah swt telah menghimpunkan (mengumpulkan dan menyatukan) bumi ini untukku. Oleh kerana itu, aku dapat menyaksikan belahan bumi Barat dan Timur. Sungguh kekuasaan umatku akan sampai ke daerah yang dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku itu.” [2]

Ada hadits-hadits lain yang lebih jelas dan luas yaitu:

Kedua: “Sungguh agama Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan agama ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulia dan merendahkan yang hina. Yakni memuliakannya dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran.” [3]

Tidak diragukan lagi bahawa tersebarnya agama Islam kembali kepada umat Islam sendiri. Oleh kerana itu mereka harus memiliki kekuatan moral, materi dan persenjataan hingga mampu melawan dan mengalahkan kekuatan orang-orang kafir dan orang-orang durhaka. Inilah yang dijanjikan oleh Nabi saw:

Ketiga: “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Qubail. Ia menuturkan: “(Pada suatu ketika) kami bersama Abdullah Ibnu Amer Ibnu Al-Ash. Dia ditanya tentang mana yang akan terkalahkan lebih dahulu, antara dua negeri, Konstantinopel atau Romawi. Kemudian ia meminta petinya yang sudah agak lusuh. Lalu ia mengeluarkan sebuah kitab.” Abu Qubail melanjutkan kisahnya: Lalu Abdullah menceritakan*: “Suatu ketika, kami sedang menulis di sisi Rasulullah saw. Tiba-Tiba beliau ditanya: “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab: “Kota Heraclius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.”. Maksudnya adalah Konstantinopel.” [4]

Kata Rumiyyah dalam hadis di atas maksudnya adalah Roma, ibu kota Itali sekarang ini, sebagaimana bisa kita lihat di dalam Mu’jamul Buldan (Ensiklopedia Negara).

Sebagaimana kita ketahui, bahawa kemenangan pertama ada di tangan Muhammad al-Fateh Al-Usmani. Hal ini terjadi lebih dari lapan ratus tahun setelah Nabi saw menyabdakan hadits di atas. Kemenangan kedua pun akan segera terwujud atas seizin Allah swt, sebagaimana firmanNya:

“Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Qur’an setelah beberapa waktu lagi.” [Shaad: 88]

Tidak diragukan lagi bahawa kemenangan kedua mendorong adanya kebutuhan terhadap Khilafah yang tangguh. Hal inilah yang telah diberitakan oleh Rasulullah saw melalui sabdanya:

Keempat: “Kenabian telah terwujud di antara kamu sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Dia akan menghilangkannya sesuai dengan kehendak-Nya, setelah itu ada khalifah yang sesuai dengan kenabian tersebut, sesuai dengan kehendak-Nya pula. Kemudian Dia akan menghapusnya juga sesuai dengan kehendak-Nya. Lalu ada raja yang gigih (berpegang teguh dalam memperjuangkan Islam), sesuai dengan kehendak-Nya. Setelah itu ada seorang raja diktator bertangan besi, dan semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya pula. Lalu Dia akan menghapuskannya jika menghendaki untuk menghapusnya. Kemudian ada khalifah yang sesuai dengan tuntunan Nabi. Lalu Dia diam.” [5]

Selanjutnya hadits yang berisi berita gembira dari Nabi saw mengenai kembalinya kekuasaan kepada kaum Muslimin dan tersebarnya pemeluk Islam di seluruh penjuru dunia hingga dapat membantu tercapainya tujuan Islam dan menciptakan masa depan yang prospektif dan membanggakan hingga meliputi bidang ekonomi dan pertanian. Hadits yang dimaksud adalah sabda Nabi saw:

“Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum tanah Arab menjadi tanah lapang yang banyak menghasilkan komoditas penting dan memiliki pengairan yang memadai.” [6]

Berita-berita gembira itu mulai terealisasi di beberapa kawasan Arab yang telah diberi karunia oleh Allah berupa alat-alat untuk menggali sumber air dari dalam gurun pasir. Di sana bisa kita lihat adanya inisiatif untuk mengalirkan air dari sungai Eufrat ke Jazirah Arab. Saya membaca berita ini dari beberapa surat kabar lokal. Hal ini mungkin akan menjadi kenyataan. Dan selang beberapa waktu kelak, akan benar-benar terwujud dan bisa kita buktikan.

Selanjutnya yang perlu diketahui dalam hubungannya dengan masalah ini adalah sabda Nabi saw:

“Tidak akan datang kepadamu suatu masa, kecuali masa sesudahnya akan lebih buruk, sampai kalian bertemu dengan Tuhanmu (yakni datangnya hari kiamat).” [7]

Hadits ini selayaknya dipahami dengan membandingkan hadits-hadits lain yang terdahulu dan hadits lain (yang ada hubungannya). Seperti halnya hadits-hadits tentang Mahdy dan turunnya Nabi Isa as. Hadits-hadits itu menunjukkan bahawa hadits ini tidak mempunyai arti secara umum, tetapi mempunyai arti khusus (sempit). Oleh kerana itu, kita tidak boleh memahaminya secara umum (apa adanya), sehingga menimbulkan keputusan yang merupakan sifat yang harus dibuang jauh dari orang mukmin. Sebagaiman firman Allah swt:

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya, dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” [Yusuf: 87]

Saya senantiasa memohon ke haribaan Allah swt, semoga Dia berkenan menjadikan kita sebagai orang-orang yang benar-benar mukmin.

Nota Kaki:

[1] Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam-Imam yang lain. Saya (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani) telah mentakhrijnya di dalam kitab saya Tahdzirus Sajid Min Ittikhadzil Qubur Masajida. (Peringatan Bagi yang Sujud Untuk Tidak Menjadikan Makam Sebagai Masjid) (hal: 122)

[2] Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim (8/171), Imam Abu Dawud (4252), Imam Turmudzi (2/27) yang menilainya sebagai hadits shahih, Imam Ibnu Majah (2952) dan Imam Ahmad dengan dua sanad. Pertama berasal dari Tsauban (5/278) dan kedua dari Syaddad bin Aus (4/132), jika memang haditsnya mahfuzh (terjaga).

[3] Hadits ini diriwayatkan oleh sekelompok imam yang telah saya sebutkan di dalam kitab At Tahdzir (hal. 121). Sementara Imam Ibnu Hibban meriwayatkannya di dalam kitab Shahih-nya (1631, 1632). Sedang Imam Abu ‘Arubah meriwayatkannya di dalam kitab Al-Muntaqa minat-Thabaqat (2/10/1).

[4] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (2/176), Ad-Darimi (1/126), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushon (2/47,153), Abu Amer Ad-Dani di dalam As-Sunanul Waridah fil-Fitan (Hadits-hadits tentang fitnah), Al-Hakim (3/422 dan 4/508) dan Abdul Ghani Al-Maqdisi dalam Kitabul Ilmi (2/30). Abdul Ghani bahawa hadits itu hasan sanadnya. Sedangkan Imam Hakim menilainya sebagai hadits shahih. Penilaian Al-Hakim itu juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi.

[5] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/273). kami mendapatkan riwayat dari Sulaiman bin Dawud Ath-Thayalisi, juga dari Dawud bin Ibrahim Al-Wasithi, Hubaib bin Salim, dan Nu’man bin Basyir yang mengisahkan, “Kami sedang duduk-duduk di masjid. Basyir adalah seorang yang sering menyembunyikan haditsnya. Lalu datanglah Abu Tsa’labah Al-Khasyafi dan bertanya: “Wahai Basyir bin Sa’id, apakah Engkau menghafal hadits Rasul tentang Umara’?” Tetapi Khudzaifahlah yang justru menjawab: “Saya menghafal khutbahnya.”"
Mendengar itu kemudian Abu Tsa’labah duduk, sementara Khudzaifahlah selanjutnya meriwayatkan hadits itu secara marfu’.

Hubaib mengomentari dengan bercerita: “Tak kala Umar bin Abdul Aziz mulai tampil dan saya mengetahui bahawa Yazid bin Nu’man bin Basyir menjadi pengikutnya, maka saya menulis surat kepadanya, berisikan tentang hadis ini. Saya memperingatkan dengan mengatakan kepadanya: Saya berharap agar beliau (Umar bin Abdul Aziz) benar-benar bisa menjadi Amirul Mu’minin setelah adanya raja yang gigih memperjuangkan agama sebelum dia naik takhta. Lalu surat saya itu disampaikan kepada Umar bin Abdul Aziz. Dia merasa gembira dan mengaguminya.”
Melalui sanad Ahmad, hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Hafidz Al-Iraqi di dalam Mahajjatul Ghurab ila Mahabbatul-Arab (2/17). Selanjutnya Al-Hafidz mengatakan:

“Status hadits ini shahih. Ibrahim bin Dawud Al-Wasithi dinilai tsiqah (baik akhlaknya dan kuat ingatannya) oleh Abu Dawud, Ath-Thayalisi dan Ibnu Hibban. Sedangkan perawi-perawi yang lain bisa dibuat hujjah di dalam menetapkan hadits shahih.”

Yang dimaksudkan Al-Hafizh ini adalah yang terdapat di dalam kitab Shahih Muslim, tetapi mengenai Hubaib oleh Al-Bukhari dinilainya dengan “fihi nadharun” (ungkapan yang menunjukkan masih diragukannya keabsahan seorang perawi). Sedangkan Ibnu Addi mengatakan: Dalam matan hadits yang diriwayatkannya (Hubaib) tidak terdapat hadits mungkar (hadits yang ditolak), tetapi ia telah memutarbalik sanadnya (mudhtharib). Akan tetapi Abu Hatim, Abu Dawud dan Ibnu Hibban menilainya tsiqah. Oleh kerana itu, setidak-tidaknya nilai haditsnya adalah hasan. Bahkan Al-Hafizh menilainya “La’ba sabihi” (lafazh ta’dil tingkat ke-empat). Perawi yang dinilai dengan lafazh pada tingkat ini haditsnya bisa dipakai, tetapi harus dilihat kesesuaiannya dengan perawi-perawi lain yang “dhabit” (kuat ingatannya), sebab lafazh itu tidak menunjukkan ke-dhabit-an seorang perawi (Penerj.).

Hadits yang senada (Asy-Syahid) disebutkan di dalam musnad karya Ath-Thayalisi (nombor: 438): “Saya diberi riwayat oleh Dawud Al-Wasithi -ia adalah orang yang tsiqah-, ia menceritakan: “Saya mendengar hadits itu dari Hubaib bin Salim. Tetapi dalam matan hadits tersebut ada yang tercecer matannya. Tapi kemudian ditutup (dilengkapi) dengan hadits dari Musnad Ahmad.”"

Al-Haitsami di dalam kitabnya Al-Majma’ (5/189) menjelaskan: “Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Ahmad, sedangkan Al-Bazzar juga meriwayatkan, namun lebih sempurna lagi. Imam Ath-Thabarani juga meriwayatkan sebagian dalam kitabnya Al-Ausath dan perawi-perawinya adalah tsiqah.”

Dengan demikian menurut saya, kecil sekali kemungkinannya hadits tersebut diriwayatkan oleh Umar bin Abdul Aziz, sebab masa pemerintahannya adalah setelah masa Khulafaur-Rasyidin, yang jaraknya setelah dua masa pemerintahan dua orang raja.**

[6] Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim (3/84), Imam Ahmad (2/703, 417), dan Imam Hakim (4/477), dari hadits Abu Hurairah.

[7] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Al-Fitan, dari hadits Anas, secara marfu’.

*Perkataan Abdullah ini juga diriwayatkan oleh Abu Zur’ah di dalam bukunya Tarikhu Damsyiq (Sejarah Damaskus 1/96). Di situ juga ditunjukkan bahawa hadits tersebut juga ditulis pada masa Rasulullah saw.

**Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam kitabnya Al-Ausath yang bersumber dari Mu’adz bin Jabal secara marfu’ adalah dhaif. Bunyinya adalah: “Tiga puluh kenabian dan satu orang raja, dan tiga puluh raja dan satu Jaburut (Raja bertangan besi) sedangkan setelah itu tidak ada kebaikan sama sekali”.

Sumber:
Silsilah Hadis Sahih, Buku 1 oleh Syeikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani, halaman 17-24

Patani, Kezaliman yang Tidak Berperikemanusiaan yang Dilakukan Ke Atas Umat Islam Thailand

Lebih dari 36,000 umat Islam telah dibunuh setakat ini dalam pembunuhan di Patani. Jumlah mereka yang cedera dan cacat adalah jauh lebih tinggi. Umat Islam Patani masih berjuang bagi mempertahankan identiti keIslaman mereka.

Kawasan pergunungan dan perhutanan Patani adalah yang terkaya di Thailand, dan ia menjadi sumber 35 peratus daripada keseluruhan eksport negara. Namun demikian, umat Islam Patani, yang mem­bentuk kira-kira 10 peratus daripada keseluruhan populasi seramai 55 juta orang, sedang ditekan dan ditindas sejak 200 tahun, dan kini sedang berhadapan dengan polisi genocide.

Penderitaan umat Islam Patani yang pertama bermula pada tahun 1782 apabila Dinasti Rama mula berkuasa di Patani. Dinasti ini memindahkan ibu negaranya ke Bangkok dan seterusnya mewujudkan sebuah sistem pentadbiran moden. Pada waktu itu, pergaduhan berlaku di antara umat Islam Patani dan masyarakat tempatan yang dikenali sebagai orang-orang Siam, dan ia berlarutan selama beberaa hari. Banyak bandar-bandar Pattani yang habis dibakar, ibu pejabat militarinya dimusnahkan, dan kira-kira 4,000 orang umat Islam Patani dipenjarakan oleh Siam sepanjang tempoh berlakunya pergaduhan itu.

Siam dengan kejam mendera mereka yang dipenjarakan, membawa mereka ke Bangkok dengan mengikat di antara satu sama lain dengan tali yang yang dikenakan pada telinga dan kaki mereka dengan menggunakan jarum, dan memaksa mereka bekerja mengorek terowong tanpa diberikan sebarang peralatan dan perkakasan. Sultan Patani turut dibunuh dengan kejam oleh Siam. Thailand telah terbahagi kepada 7 kawasan selepas peperangan, dan Patani dipaksa membayar cukai, dan berada selama 70 tahun yang berikutnya di bawah kawalan Siam. Umat Islam Patani mendakwa bahawa mereka bukannya berbangsa Siam, dan mereka juga bukannya berbangsa Thailand, tetapi lebih kepada Indonesia dan Malaysia. Sebenarnya, mereka menggunakan Bahasa Melayu, iaitu bahasa umat Islam Malaysia. Walaupun bahasa tersebut telah ditulis dalam huruf Arab selama beratus-ratus tahun, mereka telah dipaksa untuk meng­gunakan huruf Roman oleh kerajaan Thailand.

Pada tahun 1909, Siam menganugerahkan kepada Pattani sesuatu yang konon­nya dipanggil kemerdekaan, walaupun polisi menindas kerajaan Thailand tidak ber­ubah sama sekali. Umat Islam Pattani bangkit bagi menuntut kemerdekaan se­benar selama berkali-kali, tetapi pasti dikalahkan de­ngan kejam sekali, lalu me­nyebabkan mereka ber­hijrah beramai-ramai ke Malaysia.

Para pemerintah Thai terus menjalankan polisi mene­kan dan asimilasi yang bertujuan untuk me­ma­dam­kan identiti Islam Pattani. Tindakan yang pertama ber­laku pada tahun 1932, apabila pertubuhan-pertubuhan pendidikan Islam telah di­haramkan dari menjalankan sebarang kegiatan. Polisi penghapusan yang lebih besar telah dimulakan pada tahun 1944, dan mengakibatkan umat Islam Pattani dan ahli keluarga mereka dibunuh dengan kejam oleh para penganut Budda. Pengamalan rukun-rukun Islam dilarang sama sekali, dan ajaran Budda mula disebarkan kepada masyarakat. Ajaran Buddhisme menjadi wajib di sekolah-sekolah, dan para pelajar Islam dipaksa mengamalkan ajaran-ajaran Budda.

Selama bertahun-tahun, para pemerintah Thailand telah melakukan pembunuhan beramai-ramai ke atas umat Islam Pattani. Pada tahun 1944, 125 buah keluarga Islam yang tinggal di Belukar Samak telah dibakar hidup-hidup. Polisi-polisi asimilasi yang dilaksanakan oleh Thailand dapat dilihat dan dirasai dalam setiap aspek kehidupan. Banyak menara-menara yang diruntuhkan di Pattani.

Sebagai sebahagian daripada polisi asimilasi ini, keseimbangan demografi di kawasan Pattani turut diubah apabila orang-orang Budda digalakkan supaya berpindah ke sana. Patung Budda terbesar di Thailand telah ditegakkan di Pattani, dan umat Islam dipaksa supaya menyembahnya. Sesiapa yang enggan telah dibunuh atau dicampakkan ke Kota River.

Pada masa yang sama, tempat perlindungan pejuang kebebasan Pattani telah diruntuhkan oleh kerajaan Thailand dan beratus-ratus rakyat Pattani yang tidak bersalah telah didera. Para ulama Islam yang terkenal telah mati di bawah keadaan yang sangat mencurigakan di pusat-pusat kesihatan milik kerajaan Thailand. Pembunuhan dan kehilangan yang tidak berkesudahan sudah menjadi darah daging kehidupan.

Perjuangan bagi mendapatkan kemerdekaan oleh umat Islam Pattani, yang sedang mengalami penderitaan, bermula selepas Perang Dunia II dan berterusan sehingga ke hari ini.