Pages

Senin, Mei 12, 2008

Syeikh Yasin Isa al-Fadani Dalam Kenangan

Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Makkah pada tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. Beliau adalah ulama besar yang pernah sekolah di Madrasah Shaulatiyyah. Beliau adalah pencetus idea berdirinya Madrasah Darul-Ulũm sekaligus menjadi murid pertama madrasah itu.

Konon sebab tercetusnya idea membangun Madrasah tersebut disebabkan karena tindakan dan perlakuan direktur Madrasah Shaulatiyyah yang sangat menyinggung (hususnya) pelajar yang kebanyakan dari Asia Tenggara saat itu. Hal ini terbukti dengan berpindahnya 120 orang pelajar dari Shaulatiyyah ke Madrasah Darul-Ulum yang baru didirikan. Ini hampir tidak pernah dialami oleh Madrasah-madrasah yang baru dibuka mendapat murid yang begitu banyak sebagaimana Darul-Ulũm.

Dalam sebuah situs(1) dinyatakan bahwa pada tahun 1934, karena suatu konflik yang menyangkut kebanggaan nasional orang Indonesia, guru dan murid 'Jawah' telah keluar dari Shaulatiyah dan mendirikan madrasah Darul Ulum di Makkah.

Mengenai kesehari-harian beliau, dari cerita yang saya dengar dari ayah saya, yaitu Ustaz Sukarnawadi H. Husnuddu’at: “Syekh Yasin orangnya santai, sederhana, tidak menampakkan diri, sering muncul menggunakan kaos biasa, sarung, dan sering nongkrong di "Gahwaji" untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)… tak seorangpun yang berani mencela beliau karena kekayaan ilmu yang beliau miliki… Yang ingkar kepada beliau hanyalah orang-orang yang lebih mengutamakan tampang zahir daripada yang bathin…

Pujian Para Ulama

Syekh Zakaria Abdullah Bila teman dekat pendiri Nahdlatul Wathan yaitu Syekh M. Zainuddin pernah berkata, “waktu saya mengajar Qawa’idul-Fiqhi di Shaulatiyyah, seringkali mendapat kesulitan yang memaksa saya membolak balik kitab-kitab yang besar untuk memecahkan kesulitan tersebut. Namun setelah terbit kitab Al-Fawa’idul-Janiah karangan Syekh Yasin... menjadi mudahlah semua itu, dan ringanlah beban dalam mengajar.

Seorang ahli Hadits bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari pernah memuji dan menjuluki beliau sebagai kebanggaan Ulama Haramain dan sebagai Muhaddits.

Doctor Abdul Wahhab bin Abu Sulaiman (Dosen Dirasatul ‘Ulya Universitas Ummul Qura) di dalam kitab: الجواهر الثمينة في بيان أدلة عالم المدينة berkata: Syekh Yasin adalah Muhaddits, Faqih, Mudir Madrasah Darul-Ulum, pengarang banyak kitab dan salah satu Ulama Masjid Al-Haram...

Syekh Umar Abdul-Jabbar berkata didalam surat kabar Al-Bilad (jumat 24 Dzulqaidah 1379H/ 1960M): “...bahkan yang terbesar dari amal bakti Syekh Yasin adalah membuka madrasah putri pada tahun 1362H. Dimana dalam perjalanannya selalu ada rintangan, namun beliau dapat mengatasinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan…

Assayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Ahdal sebagai Mufti negeri Murawah Yaman saat itu, mengarang sebuah syiir yang panjang husus untuk memuji Syekh Yasin Al-Fadani Berikut saya nukilkan satu bait saja yang berbunyi:

أنت في العلم والمعاني فريد...... وبعقد الفخار أنت الوحيد

“Engkau tak ada taranya dalam ilmu dan hakekat, Dibangun orang kejayaan kaulah satu-satunya yang jaya”

Doctor Yusuf Abdurrazzaq sebagai dosen kuliah Ushuluddin Universitas Al-Azhar cairo juga memuji beliau dengan perkataan dan syiir yang panjang, saya nukilkan satu bait saja yang bunyinya:

أنت فينا بقية من كرام......لا ترى العين مثلهم إنسانا

“Engkau di tengah kami orang terpilih dari orang terhormat, tak pernah mata melihat manusia seumpama mereka.”

Ustaz Fadhal bin M. bin Iwadh Attarimi-pun berkata:

فيا طالب العلم لب نداء......ياسين وافرح بهذا القرى

“Wahai pencari ilmu sambutlah panggilan Yasin, bergembiralah dengan sajian yang ia sajikan,”

Doctor Ali Jum’ah yang menjabat sebagai Mufti Mesir dalam kitab Hasyiah Al-Imam Al-Baijuri Ala Jauharatittauhid yang ditahqiqnya, pada halaman 8 mengaku pernah menerima Ijazah Sanad Hadits Hasyiah tersebut dari Syekh Yasin yang digelarinya sebagai مسند الدنيا Musnid Addunia…

Al-Habib Assayyid Segaf bin Muhammad Assagaf seorang tokoh pendidik di Hadramaut (pada tahun 1373H) menceritakan kekaguman beliau terhadap Syekh Yasin, dan menjulukinya sabagai "Sayuthiyyu Zamanihi". Beliau juga mengarang sebuah syiir untuk memuji beliau, berikut saya nukilkan dua bait saja yang bunyinya sebagai berikut:

لله درك يا ياسين من رجل......أم القرى أنت قاضيها ومفتيها

في كل فن وموضوع لقد كتبا ......يداك ما أثلج الألباب يحديها

“Bagus perbuatanmu hai Yasin engkau seorang tokoh,

dari Ummul Qura engkau Qhadi dan Muftinya.”

“Setiap pandan judul ilmu tertulis dengan dua tanganmu,

Alangkah sejuknya akal pikiran rasa terhibur olehnya.”

Assayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki sebagai guru Madrasah Al-Falah dan Masjid Al-Haram, Syekh M. Mamduh Al-Mishri dan Al-Habib Ali bin Syekh Balfaqih Siun Hadramaut dan Ulama lainnya, pernah memuji karangan-karangan beliau…

Doctor Yahya Al-Gautsani bercerita, pernah ia menghadiri majlis Syekh Yasin untuk mengkhatam Sunan Abu Daud. Ketika itu hadir pula Muhaddits Al-Magrib Syekh Sayyid Abdullah bin Asshiddiq Al-Gumari dan Syekh Abdussubhan Al-Barmawi dan Syekh Abdul-Fattah Rawah.

H.M.Abrar Dahlan berkata: “yang membuat beliau lepas dari sorotan publikasi ialah karena ia telah menjadi lambang Ulama Saudi yang “bukan Wahabi” yang tersisa di Makkah. Walaupun begitu ia diakui juga oleh ulama Wahabi sebagai Ulama yang bersih dan tidak pernah menyerang kaum Wahabi… Seorang tokoh agama Najid dari Ibukota Riyadh (Pusat Paham Wahabi) yaitu Jasim bin Sulaiman Addausari pada tahun 1406H pernah berkata:

أبلغوا مني سلاما من صبا نجد......ذكيالأبي الفيض فداني

مسند الوقت بعيد عن نزول......هابط أما لما يعلو فداني

فدى أسر الروايات فلوتنطق......لقالت: علم الدين فداني

Karya Tulis & Murid-Murid Beliau

Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang Ilmu-ilmu yang lain… di antara karangan beliau adalah: al-Arba'un al-Buldaniyyah, al-Arba'un Haditsan Min Arba'ina Kitaban An Arba'ina Syaikhan, Bulug al-Amani, Arraudh al-Fatih, dan lain-lain...

Di antara murid-murid yang pernah berguru dan mengambil Ijazah sanad-sanad Hadits dari beliau adalah Al-Habib Umar bin Muhammad (Yaman), Syekh M. Ali Asshabuni (Syam), Doctor M. Hasan Addimasyqi, Syekh Isma’il Zain Alyamani, Doctor Ali Jum’ah (Mesir), Syekh Hasan Qathirji, Tuan Guru H. M. Zaini Abdul-Ghani (Kalimantan) dll…

Dan di antara murid-murid beliau yang di samping mengambil Sanad Hadits, mendapatkan Ijazah ‘Ammah dan Khasshah, juga diberi izin untuk mengajar di Madrasah Darul-Ulum adalah: H. Sayyid Hamid Al-Kaff, Dr. Muslim Nasution, H.Ahmad Damanhuri, H.M.Yusuf Hasyim, H.M. Abrar Dahlan, Dr. Sayyid Aqil Husain Al Munawwar, Ayah saya sendiri yaitu Ustaz Sukarnawadi KH. Husnuddu’at dll...

Ayah saya pernah bercerita, seseorang bernama H.Abdul-Aziz asal Jeruwaru Lombok NTB pernah mendatangi Syekh Yasin untuk meminta bai’at, izin serta restu untuk menjadi Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah… ketika itu Syekh Yasin memberi satu syarat, yaitu, ayah saya harus turut dibai’at, karena ayah saya di samping menjadi Guru yang lama mengajar di Madrasah Darul-Ulum, (dari tahun 1978 sampai 1990) juga sebagai salah satu dari sekian murid yang selalu diberikan bimbingan dan perhatian khusus… maka yang mendapat izin dari beliau untuk menjadi Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah yang berasal dari Lombok saat itu hanyalah Ayah saya dan H.Abdul Aziz...Ayah saya sebagai warga, bahkan tokoh NW (ketika pulang ke lombok) menceritakan hal itu kepada pendiri Nahdlatul Wathan, yaitu Syekh M. Zainuddin, dan beliaupun tidak mengingkari hal tersebut, bahkan beliau merestui, memberikan Ijazah dan doa yang khusus serta harapan agar di samping itu tetap berjuang membela NW…

Kekeramatan Beliau

Seseorang bernama Zakariyya Thalib asal Syiria pernah mendatangi rumah Syekh Yasin Pada hari jumat. Ketika Azan jumat dikumandangkan, Syekh Yasin masih saja di rumah, ahirnya Zakariyya keluar dan solat di masjid terdekat. Seusai solat jum’at, ia menemui seorang kawan, Zakariyyapun bercerita pada temannya bahwa Syekh Yasin ra. tidak solat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata temannya, “kami sama-sama Syekh solat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…H.M.Abrar Dahlan bercerita, suatu hari Syekh Yasin pernah menyuruh saya membikin Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakaudari buah-buahan/rokok teradisi bangsa arab). Setalah saya bikinkan dan syekh mulai meminum teh, saya keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali, saya melihat Syekh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari masjid.

Dikisahkan ketika K.H.Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, beliau menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, beliau menerima sepucuk surat dari Syekh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan K.H.Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..!

Ketika ayah saya tamat Darul-Uulum (Aliah), beliau dilarang oleh Syekh Yasin untuk melanjutkan studinya di Universitas manapun, ayah saya diperintahkan untuk mengabdi di Darul-Ulum. Sedangkan mata pelajaran yang pernah dipegang oleh ayah saya sejak tahun 1978 hingga 1990 adalah Hadits, Fiqih, Tauhid, Tarikh dan Geografi. Di samping itu Syekh Yasin pernah berdo’a untuk ayah saya agar menjadi seorang penulis… kekeramatan do’a beliau dapat dirasakan sendiri oleh ayah saya. Walaupun sibuk dalam pekerjaannya sebagai guru dan pegawai di kantor, namun beliau selalu menyempatkan diri untuk menulis. Dan kini tulisan beliau sudah mencapai 24 judul. Yang sudah dicetak sampai saat ini baru 12 judul saja… Ayah saya berkata pada saya, “ini berkat do’a restu Syekh Yasin dan Syekh Zainuddin” Oleh karena itu Ayah saya berpesan agar kami di Mesir, juga mencari seorang guru yang benar-benar pewaris Nabi, agar mendapatkan barokah do’a restu serta barokah ilmunya...

H.Mukhtaruddin asal Palembang bercerita, pernah ketika pak Soeharto sedang sakit mata, beliau mengirim satu pesawat khusus untuk menjemput Syekh Yasin. Ahirnya pak Soehartopun sembuh berkat do’a beliau. Kisah ini selanjutnya didengar sendiri oleh ayah saya dari Syekh Yasin.Semoga Allah swt. merahmati beliau, amin ya Rabbal-Alamin…

Dipetik dari:
http://solahnawadi.blogspot.com/2007/06/yasin-padang.html

Selasa, Mei 06, 2008

Badi’uddin As-Sindi, Ulama Hadis Syria

Badi’uddin As-Sindi adalah seorang ulama hadis yang ternama dari Syria. Beliau dilahirkan pada tahun 1267H/1850M di Syria.

Beliau suatu figur yang menonjol yang mempunyai ingatan yang jarang ditemui di masa ini. Beliau dilaporkan telah menghafal keseluruhan hadis Bukhari dan Muslim seperti juga empat buku lainnya dari Sunan dengan sanad dari tiap hadis, begitu juga sejarah, tanggal kelahiran dan kematian dari tiap perawi.

Apa lebih mengejutkan adalah ajarannya tentang rancang-bangun dan matematik.
Apa yang membezakan dia dari ulama hadis lainnya dari abad ini adalah peranannya di dalam mengumpulkan rakyat banyak untuk jihad melawan Perancis yang menduduki Syria. Beliau menulis lebih dari 40 buku, banyak anotasi atas berbagai karya dan pendapat.

Syeikh
Muhammad Bakhit berkata: "Jika beliau bersama dengan kami di Mesir, murid-muridnya akan mengangkat beliau di atas bahu mereka."

Ulama hadis, Abdul Wasi al-Yamani berkata: "Saya ada terdengar ulama dan ahli injil dalam banyak tempat, tetapi saya tidak pernah melihat barangsiapa serupa dengan beliau tentang keahliannya dalam segala ilmu pengetahuan."

Seorang ulama dari India berkata: "Dia penyelamat dari masa kami dan
mujaddid dari hayat kami."

Syeikhul Islam di Istanbul, Musa Kazim Afandi berkata: "Dia penyelamat dari dunia orang Islam."

Sayyid
Kabir al-Kitani al-
Maghribi berkata: "Di sana tidak ada satu bandingan dengan beliau sejak lima ratus tahun."

Beliau wafat pada tahun 1354H/1935M.

Jumat, Mei 02, 2008

Syeikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, Pakar Dalam Ilmu Tafsir

Syeikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi dilahirkan pada tahun 1325 H/1897 M. Ketika berumur 10 tahun, beliau telah menghafal Al-Qur’an di bawah bimbingan pamannya, Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Mukhtar Bin Ibrahim Bin Ahmad Nuh Al-Ja’ni.

Syaikh Muhammad Al-Amin belajar tajwid dan menulis khat Ustmani dengan saudara sepupunya, Syaikh Muhammad Bin Ahmad Bin Muhammad Al-Mukhtar. Beliau juga belajar kepada bibinya mengenai dasar-dasar tata bahasa Arab seperti Al-Ajurumiyah, Sirah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam, dan sejarah nasab bangsa Arab.

Adapun bidang pengetahuan yang lainnya seperti ilmu fiqih, tafsir, hadist, tata bahasa Arab, ushul fiqih, dan syair, Asy-Syaikh belajar kepada beberapa ulama terkenal di negerinya dan mereka semua dari suku Al-Ja’ni, di antaranya adalah: Syaikh Muhammad Bin Salih (lebih dikenal dengan nama Ibnu Ahmad Al-Afram), Syaikh Ahmad Al-Afram Bin Muhammad Al-Mukhtar, Syaikh Ahmad Bin Umar, Syaikh Ahmad Bin Mud, Syaikh Muhammad An-Nimah Bin Zaidan, dan Syaikh Ahmad Fal bin Audah.

Syaikh Muhammad Al-Amin telah menyelesaikan dalam mengajar tafsir Al-Qur’anul Karim dua kali di Masjid Nabawi. Karena banyaknya murid beliau, maka tidak dapat diketahui siapa saja mereka. Namun, yang bisa disebutkan di sini, antara lain:
1. Syaikh Abdul Aziz Bin Baz tetap menghadiri pelajaran beliau dalam tafsir di Masjid Nabawi ketika beliau sebagai kepala Universitas Islam.
2. Syaikh Atiyah Muhammad Salim, salah satu yang menyelesaikan tulisan Syaikh Muhammad Al-Amin (sepeninggal beliau) berjudul tafsir Adwa Al-Bayan.
3. Syaikh Bakr Bin Abdullah Abu Zaid.
4. Putranya, Syaikh Abdullah Bin Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi.
5. Putranya, Syaikh Muhammad Al-Mukhtar Bin Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi.

Syaikh telah menulis kitab-kitab yang masyhur dengan segenap tenaga dan kemampuan sebagai bukti amalan beliau, kejelasan atas nasihat dan metodologi yang beliau gunakan, dan kemurnian pemikiran yang terang, serta sepanjang ketelitian atas tata bahasa Arab. Berikut adalah beberapa kitab yang beliau tulis:
1. Adwa Al-Bayan fi Idhah Al-Qur’an bil Quran
2. Adab Al-Bath wal Munatharah
3. Daf’u Iham Al-Idhtirab ‘an Ai Al-Kitab
4. Alfiyah fil Mantiq
5. Khalis Al-Jaman fi Zikr Ansab Bani Adnan
6. Man’u Jawaz Al-Majaz fil Munazzal lit Ta’abbud wal I’jaz
7. Mudzakhirah Ushul Al-Fiqih
8. Manhaj Ayat Al-Asma wa Sifat
9. Rajz fi Fura’ Madzhab Malik Yakhtas bil ‘Uqad min Al-Buya’ wa Ruhan 10. Syarah Maraqi As-Saud
11. Nadzm fil Fara’id

Adapun akhlaqnya, beliau adalah sosok ulama yang mengamalkan ilmunya. Beliau tidak pernah membiarkan orang membuat fitnah di majelis beliau. Beliau begitu mulia dan tidak menghiraukan godaan dunia yang datang kepadanya. Beliau jujur dalam berbicara, bersikap adil, dan tidak segan mengubah pendapat beliau jika ternyata dalil berbicara lain.

Syaikh sendiri paham akan pentingnya dalam mencari ilmu. Beliau memandang bahwa ilmu hanya merupakan perantara (alat). Adapun intinya adalah Kitabullah itu sendiri.

Seseorang yang telah lama belajar kepada beliau memberikan kesaksian bahwa ilmu beliau tentang Kitabullah sangat kuat dan luas. Apabila seseorang bertanya kepadanya tentang sebuah ayat, ketika itu juga beliau akan menjelaskan dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Demikianlah Asy Syaikh Muhammad Al-Amin Asy Syinqithi, semoga Allah merahmati beliau.

Beliau meninggal pada tahun 1393 H/ 1972 M.

Minggu, April 27, 2008

Tuan Tulis, Rajin Menyalin Kitab Agama

Makam Tuan Tulis kerap dikunjungi orang ramai sejak dahulu kerana menghormatinya sebagai orang alim dan sholeh. Mungkin kerana dakwaan bahawa beliau keramat atau bertaraf wali maka ada pula yang melakukan perkara-perkara bidaah ketika mengunjungi makam beliau. Nama sebenar beliau ialah Ismail Jaaman. Beliau dipercayai lahir dalam tahun 1840an di Kampung Talang iaitu dalam Daerah Kuala Pilah dan yatim piatu sejak kecil.

Apabila berusia lapan tahun, beliau mula hidup berdikari dan berakhlak mulia. Tuan Tulis mendapat nama gara-gara kerajinan beliau menyalin isi kitab-kitab yang dimilikinya atau didakwa pernah menjadi jurutulis gurunya. Terdapat juga dakwaan bahawa beliau menulis kerana tidak mampu membeli kitab-kitab pengajian maka beliau terpaksa menyalin semula kitab-kitab yang dipelajarinya. Tuan Tulis menulis seolah-olah seperti membaca kitab-kitab itu. Ada pula memanggilnya Tuan Tulus kerana sifat peribadinya yang tulus ikhlas dalam menyampaikan dakwah.

Menghilangkan Diri

Menurut cerita orang-orang tua, ketika usianya 15 tahun saudara maranya ingin menjodohkan beliau. Kerana beliau tidak bersedia atau tidak bersetuju maka Tuan Tulis pun membawa dirinya keluar dari kampung tersebut. Disebabkan hampir 48 tahun atau setengah abad menghilangkan diri, saudara maranya telah menyangka beliau telah meninggal dunia. Sebetulnya beliau pergi Temerloh, Pahang dan mengaji agama dibanyak tempat seperti di Pancur, Sanggang, Lubuk Kawah dan lain-lain tempat. Di Lubuk Kawah beliau berguru dengan Tuan Guru Haji Abdul Rahman yang berasal dari Kelantan.

Penulis buku "Tujuh Wali Melayu" Saudara Abdul Ghani Said menyebut kitab yang disalin oleh Tuan Tulis jilid pertama kitab Tafsir Jalalain dan tafsir Al Quran 30 juzuk masih ada dalam simpanan Tuan Haji Ismail Hussein, imam Masjid Tuan Tulis di Kuala Talang. Kitab-kitab tersebut dikatakan ditulis dengan dakwat campuran arang para dan getah limau kasturi. Penanya pula dari bilah segar kabung.

Dipujuk Pulang

Apabila mendapat tahu Ismail Jaaman ini masih hidup di Temerloh, saudara maranya datang menjemput dan memujuk beliau supaya pulang ke kampung halamannya. Beliau bersetuju pulang dalam tahun 1903. Menariknya, Ismail Jaaman dirayu lagi supaya berkahwin kerana umurnya ketika itu 63 tahun. Kali ini dia bersetuju tetapi hayat alam rumah tangganya selama tiga hari sahaja. Beliau lebih selesa membujang sepanjang hayatnya.Segi perawakannya, Tuan Tulis bertubuh kecil dan gemar memakai kain pelikat, berseluar jerut, baju Melayu dan bertongkat.

Amalan Hidup

Dalam tempoh beliau kembali di kampungnya, Allahyarham Tuan Tulis banyak membuat kerja kebajikan dalam masyarakat. Beliau tidak berat tulang untuk menolong orang susah, memberi nasihat dan menyeru amal maaruf dan nahi mungkar. Kesannya ramailah orang-orang yang dijadikan sahabat kembali taat dalam ibadah walaupun dulunya liat dalam menunaikan tuntutan agama. Menyentuh tugas membuka kelas pengajian, penyusun melihat ada sedikit perbezaan maklumat antara Saudara Nawawi Haji Indek dalam buku " Alim Ulama Negeri Sembilan" ( cetakan 1971) dengan penulis buku " Tujuh Wali Melayu" Saudara Abdul Ghani Said. Nawawi Haji Indek menyatakan Tuan Tulis tidak mengajar agama kepada orang lain secara langsung seperti membuka kelas pengajian. Sebaliknya, Abdul Ghani dalam penyelidikannya meriwayatkan Tuan Tulis ada membuka kelas pengajian di surau atau di rumahnya.

Kebakaran di Mekah

Dipercayai bahawa Tuan Tulis mewarisi Tarekat Satariah dan kuat beribadah. Diriwayatkan semasa hayatnya, terdapat perkara-perkara pelik berlaku pada Tuan Tulis. Antaranya ialah beliau sempat ke Mekah membantu memadamkan kebakaran besar pada awal tahun 1900 ketika tukang cukurnya masuk ke rumah untuk mengasah pisau cukurnya. Kerbau-kerbau milik beliau juga akur dengan perintahnya tidak memakan padi orang di sawah dan tetapi makan rumput sahaja. Keanehan lain pula ialah beliau pergi mengubat Yang Dipertuan Besar Tuanku Muhamad di London dengan air jampi sedangkan beliau telah meninggal dunia tiga tahun sebelum itu. Kisah menarik sifat kewalian beliau boleh dibaca dari buku Tujuh Wali Melayu" karangan Saudara Abdul Ghani Said.

Beliau amat diingati dengan kejayaan beliau menghasilkan sebuah masyhaf Al-Quran tulisan tangan. Beliau juga telah berusaha mendirikan sebuah masjid di Kg Kuala Talang pada tahun 1920 dan masih digunakan sehingga ke hari ini.

Meninggal Dunia

Tuan Tulis meninggal dunia dalam tahun 1923 selepas subuh hari ke sepuluh bulan Ramadhan ketika berusia 83 tahun. Beliau dikebumikan di Kawasan Masjid Kuala Talang, Tanjung Ipoh. Tuanku Muhamad Yang Dipertuan Besar telah perkenan membina makamnya di sana sejurus bila baginda balik dari England selepas diubati oleh Tuan Tulis. Mengikut kepercayaan masyarakat tempatan, jenazahnya dikatakan ghaib secara tiba-tiba semasa dituruni ke liang lahad.

Kamis, April 24, 2008

Syeikh Abdul Qadir al-Fathani, Murid Syeikh Daud al-Fathani

Kedudukan Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani dari sudut ilmu pengetahuan adalah setaraf dengan ulama-ulama besar yang berada di Mekah dan Madinah pada zaman itu. Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani menjalankan tugas ulama dengan aktiviti pengajarannya di Masjidil Haram, Mekah dan di rumahnya sendiri.

Syeikh Ahmad al-Fathani menyebut bahawa ayahnya, Syeikh Wan Muhammad Zain al-Fathani lahir dalam tahun 1233 H/1817 M. Diriwayatkan bahawa Syeikh Abdul Qadir al-Fathani itu lebih tua daripada Syeikh Muhammad Zain al-Fathani.

Riwayat lain menyebut bahawa usia Syeikh Abdul Qadir al-Fathani lebih tua sekitar lima tahun daripada Syeikh Wan Muhammad Zain al-Fathani. Jadi bererti Syeikh Abdul Qadir al-Fathani lahir dalam tahun 1228 H/1813 M. Diriwayatkan pula bahawa Syeikh Abdul Qadir al-Fathani lebih tua daripada Syeikh Nawawi al-Bantani (Imam Nawawi Tsani).

Syeikh Nawawi al-Bantani lahir dalam tahun 1230 H/1814 M. Kedua-dua ulama yang berasal dari Patani dan Banten itu bersahabat ketika kedua-duanya belajar di Mekah. Kedua-duanya menerima bai`ah Thariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah daripada Syeikh Ahmad Khatib Sambas (1217 H/1802 M-1289 H/1872 M). Dalam beberapa hal Syeikh Nawawi Banten belajar kepada Syeikh Abdul Qadir al-Fathani, di antaranya ilmu qiraah. Dan demikian sebaliknya dalam beberapa hal Syeikh Abdul Qadir al-Fathani belajar pula kepada Syeikh Nawawi al-Bantani.

Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani telah menyelamatkan cukup banyak karya yang masih dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip) yang dikarang oleh ulama dunia Melayu, terutama sekali karya-karya Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Selain memelihara manuskrip dengan rapi, Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani pula telah melakukan pentahqiqan dan pentashhihan beberapa buah kitab yang dianggap penting, yang secara tradisinya banyak diajarkan dari sebelum hingga zaman beliau.

Pertubuhan

Daripada khazanah simpanan Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani itulah menimbulkan ilham bagi Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani sehingga beliau mengasaskan suatu pertubuhan pentashhihan di Mesir, Mekah dan Turki. Munculnya istilah tashhih dan mushahhih bermula dari sini.

Pendek kata Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani ini sangat penting bagi orang-orang Melayu yang berada di Mekah pada zamannya. Beliau adalah guru bagi seluruh ulama Asia Tenggara, pakar tempat rujukan dalam semua bidang keilmuan keislaman.

Ada beberapa ulama besar yang berasal dari Patani yang bernama Syeikh Abdul Qadir al-Fathani. Di antara mereka yang sangat terkenal ialah Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani yang dibicarakan ini. Menjalankan aktivitinya di Mekah, Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani, lebih dikenali de-

ngan nama Syeikh Abdul Qadir Bukit Bayas, Terengganu, kerana menjalankan aktivitinya di Bukit Bayas Terengganu, Syeikh Abdul Qadir bin Mushthafa al-Fathani lebih dikenali dengan nama Tok Bendang Daya, kerana menjalankan aktivitinya di Bendang Daya Patani. Ketiga-tiga ulama besar Patani itu satu sama lainnya sempat bertemu, yang lebih tua menjadi guru kepada yang muncul kemudiannya.

Ketiga-tiga mereka masih ada kaitan keluarga pertalian nasab yang dekat, yang bersumber daripada satu datuk nenek yang sama. Syeikh Abdul Qadir al-Fathani bin Abdur Rahman adalah cucu saudara bagi Syeikh Daud bin Abdullah al- Fathani, dan dalam sebuah manuskrip ada dinyatakan bahawa beliau merupakan Khalifah Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Pendidikan dan Keluarga

Nama lengkapnya, Syeikh Wan Abdul Qadir bin Wan Abdur Rahman bin Wan Utsman bin Tok Wan Su bin Tok Wan Abu Bakar bin Tok Kaya Wan Pandak bin Tok Wan Faqih Ali. Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani adalah peringkat murid kepada Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim Bukit Bayas Terengganu dan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Beliau mendapat pendidikan asas dimulai daripada beberapa pondok di Patani, tetapi yang lebih lama tempatnya memondok adalah di Pondok Pauh Bok Patani, iaitu sebuah pondok pengajian yang pernah mendidik ramai ulama, di antaranya termasuk Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani, Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan ramai lagi.

Pada zaman itu hampir semua pondok di Patani yang menjadi Tok Guru adalah di kalangan keluarga mereka. Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani terganggu pendidikannya di Patani kerana terjadinya satu peperangan besar antara Patani dengan Siam (1828 M-1830 M). Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani termasuk keluarga besar ulama Patani Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani dan Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim Terengganu yang turut berhijrah ke Pulau Duyung Kecil Terengganu.

Dalam peristiwa penghijrahan itu diriwayatkan bahawa beliau baru berusia sekitar belasan tahun saja. Walau pun hijrah yang penuh darurat itu dilakukan, namun belajar kitab terus juga dilaksanakan, masa tidak boleh dibuang dan diabaikan. Dipercayai di Pulau Duyung Kecil itu beliau belajar kepada kedua-dua ulama yang telah disebutkan di atas.

Lebih kurang empat puluh hari setelah kelahiran saudara sepupunya, iaitu Syeikh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani/Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani keluarga besar ulama Patani tersebut, termasuk Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani meneruskan perjalanan ke Mekah dan sepupunya bayi yang baru dilahirkan juga dibawa bersama-sama.

Yang tinggal di Pulau Duyung Kecil itu hanya sebahagian kecil termasuk Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahim al-Fathani. Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani saya katakan sepupu dengan Syeikh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani/Syeikh Nik Mat Kecik al-Fathani kerana ibunya adik beradik/saudara kandung.

Ibu Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman bernama Wan Fathimah binti Syeikh Wan Idris al-Fathani, ibu Syeikh Nik Mat Kecik bernama Wan Zainab binti Syeikh Wan Idris al-Fathani. Ada pun Syeikh Wan Idris al-Fathani tersebut, nama lengkapnya ialah Syeikh Wan Idris bin Syeikh Wan Abdullah bin Syeikh Wan Idris bin Syeikh Senik al-Karisiqi al-Fathan. Syeikh Wan Idris bin Syeikh Wan Abdullah adalah saudara kandung Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani. Jadi dengan demikian Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani juga sempat belajar kepada datuknya, Syeikh Wan Idris bin Abdullah al-Fathani yang tersebut.

Diriwayatkan bahawa ayahnya, Syeikh Abdur Rahman bin Utsman, juga termasuk ulama. Dipercayai Syeikh Abdul Qadir juga belajar kepada ayahnya itu.

Selain belajar di lingkungan kaum keluarga sendiri Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani juga pernah belajar kepada Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki (1233 H.-1335 H), Syeikh Muhammad Haqqi Nazili (wafat di Mekah 1301 H/1884 M), Syeikh Ahmad As'ad ad-Dihan (1222 H-1294 H), Saiyid Muhammad Amin Ridhwan dan ramai lagi.

Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani merupakan kader Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, oleh itu manakala Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani meninggal dunia, beliau menjadi rujukan utama ulama-ulama yang berasal dari dunia Melayu, yang berada di Mekah. Hal ini kerana beliau adalah seorang ulama yang menguasai ilmu pengetahuan keislaman dalam berbagai-bagai bidang. Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani adalah seorang ulama ahli syariat dan haqiqat.

Pengaruh

Telah disebutkan bahawa Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani adalah keluarga dekat kepada Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani, maka Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani inilah yang pertama mengambil tempat kemasyhuran Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani setelah beliau meninggal dunia. Pengetahuan Islam dan predikat ulama pada peribadi Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani tidak pernah diragukan oleh para ulama yang sezaman dengan beliau.

Kedudukan Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani dari sudut ilmu pengetahuan adalah setaraf dengan ulama-ulama besar yang berada di Mekah dan Madinah pada zaman itu. Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani menjalankan tugas ulama dengan aktiviti pengajarannya di Masjidil Haram, Mekah dan di rumahnya sendiri.

Beliau mengajar kitab yang tinggi-tinggi dalam bahasa Arab, juga kitab-kitab Melayu/Jawi yang dikarang oleh ulama-ulama yang berasal dari dunia Melayu yang terkenal. Murid beliau sangat ramai.

Di antaranya yang terkenal mengarang dan menterjemah kitab-kitab ialah Syeikh Utsman bin Syeikh Syihabuddin al-Funtiani (Pontianak, Kalimantan Barat, Indonesia). Muridnya ini banyak meninggalkan karangan.

Di antara kitab yang diterjemahkannya berjudul Tajul `Arus). Syeikh Ahmad al-Fathani juga termasuk salah seorang murid Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani, iaitu kader yang bersambung dan berhubung dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani hingga sampai kepada kegiatan datuk nenek mereka, iaitu ulama-ulama Patani yang telah berhasil sebagai patriot-patriot penyebar ilmu pengetahuan Islam di dunia Melayu khususnya, dan dunia umumnya.

Suatu hal yang menarik disebut di sini bahawa Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani adalah seorang ulama yang besar pengaruhnya di kalangan Thariqat Syathariyah. Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani adalah seorang Mursyid dalam Thariqat Syathariyah tersebut. Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani menerima Thariqat Syathariyah adalah secara langsung kepada Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Oleh sebab Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani telah diperbolehkan mentawajjuh, membai'ah, dan mengijazahkan Thariqat Syathariyah tersebut, maka pengaruh beliau lebih besar di kalangan masyarakat pengamal sufi Islami. Syeikh Wan Ali Kutan al-Kalantani dipercayai telah menerima Thariqat Syathariyah daripada Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani kerana ulama yang berasal dari Kelantan itu tidak bertemu ketika dewasa dengan Syeikh Daud bin Abdullah al-Fathani.

Selain Syeikh Wan Ali Kutan, murid Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani yang menjadi ulama pula, yang menerima bai`ah Thariqat Syathariyah kepadanya di antara mereka ialah Syeikh Muhammad Shalih bin Syeikh Zainal Abidin al-Fathani, Syeikh Muhammad Zain bin Muhammad al-Fathani Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani, Syeikh Muhammad bin Ismai/Nik Mat Kecik al-Fathani dan ramai lagi.

Bagi orang yang belajar ilmu tasawuf yang mempergunakan kitab Siyarus Salikin karangan Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani pada masa dahulu, nama Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al- Fathani ini tidak asing lagi bagi mereka. Kitab tersebut cetakan asalnya kemudian masih beredar sampai sekarang adalah berasal daripada naskhah tulisan, tashhih dan bekas Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani mengajarnya.

Penulisan

Syeikh Abdul Qadir al-Fathani bin Abdur Rahman al-Fathani sekurang-kurangnya telah menghasilkan 14 buah karangan, namun kerana kekurangan ruangan perbicaraan tentangnya terpaksa ditangguhkan.

Karya:
Ustaz Wan Mohd Shaghir Abdullah

Selasa, April 22, 2008

Syeikh Wan Ali Kutan, Guru Para Ulama Melayu


Keluarga Besar

Sebagaimana Syeikh Jalaluddin al-Kalantani mempunyai hubungan keturunan yang luas, demikian pula halnya Syeikh Wan Ali al-Kalantani, kerana Syeikh Wan Ali al-Kalantani mempunyai beberapa orang adik beradik. Mereka ialah: 1. Haji Wan Seman, 2. Wan Bulat, 3. Wan Hawa, 4. Wan Kaltsum, 5. Wan Siti Hajar, dan yang bungsu ialah Syeikh Wan Ali. Haji Wan Seman bin Wan Abdur Rahman mendapat tiga orang anak, iaitu Nik Sah, Wan Timun dan Nik Wan Zainab. Melalui anaknya Wan Timun, anak perempuan Wan Timun bernama Wan Embong, anak perempuan Wan Embong bernama Nik Wan Zainab kahwin dengan Tengku Hamzah Tengku Setia Maharaja, anaknya bernama Tengku Razaleigh Hamzah (Ku Li).

Wan Hawa binti Wan Abdur Rahman berkahwin dengan Wan Muhammad bin Wan Musa, memperoleh 4 orang anak. Salah seorang di antaranya Wan Salamah yang berkahwin dengan Wan Ya'qub bin Wan Sulaiman, memperoleh anak bernama Wan Kaltsum yang kahwin dengan Wan Ahmad Hakim bin Ibrahim (Hakim di Besut, Terengganu), keturunannya di Terengganu. Di antara anaknya ialah Wan Muhammad Ali, ayah kepada Haji Wan Abdur Rahim Kamil, salah seorang tokoh perbankan Islam.

Wan Kaltsum binti Wan Abdur Rahman berkahwin dengan ulama bernama Haji Abdus Shamad Kutan, yang kemudian dikenali dengan gelar Tuan Tabal. Beliau adalah guru kepada Bentara Guru Haji Wan Saleh, iaitu Dato' Bentara Guru Mufti Terengganu. Mengenai Tuan Tabal yang bererti saudara ipar kepada Syeikh Wan Ali Kutan diperoleh maklumat daripada keluarga ini di Terengganu, secara terperinci akan diceritakan pada siri-siri berikut dalam judul yang tersendiri.

Wan Siti Hajar binti Wan Abdur Rahman mempunyai anak iaitu Haji

Muhammad Sa'id. Beliau berhijrah ke Langkat, belajar dan berkhidmat kepada Mursyid Thariqat Naqsyabandiyah yang terkenal, iaitu Syeikh Abdul Wahhab Rokan di Besilam. Akhirnya Haji Muhammad Sa'id menjadi murid kesayangan dan orang kanan ulama yang terkenal itu. Haji Muhammad Sa'id memperoleh enam orang anak, di antaranya ialah Khalifah Haji Abdul Hamid. Anak beliau ialah Haji Muhammad Saleh Hamid, Ketua Majlis Ulama Indonesia, Kabupaten Langkat dan Drs. Haji Usman Hamid, bekas dosen/pensyarah FPOK, IKIP, Medan, Sumatera Utara.

Kelahiran

Wan Ali bin Wan Abdur Rahman adalah saudara bungsu enam beradik yang diriwayatkan ini, oleh itu dalam surat menyurat Syeikh Ahmad al-Fathani memanggil ulama Kelantan tersebut dengan panggilan `Pak Cu Wan Ali'. Syeikh Wan Ali adalah ayah saudara sepupu kepada Syeikh Ahmad al-Fathani. Syeikh Wan Ali al-Kalantani pula berkahwin dengan saudara sepupunya bernama Wan Aisyah binti Wan Muhammad Saleh al-Fathani, adik beradik dengan Wan Cik binti Wan Muhammad Saleh al-Fathani, ibu kepada Syeikh Ahmadal-Fathani.

Syeikh Wan Ali lahir dekat Kota Kubang Labu, di tepi Sungai Kelantan. Ismail Awang dalam majalah Pengasuh menyebut bahawa beliau lahir tahun 1253 Hijrah/1837 Masihi, tarikh inilah yang diikuti oleh kebanyakan penulis. Penulis sendiri tetap mempertikaikan tahun yang disebutkan itu, jika ditulis tahun 1235 Hijrah/1820 Masihi, barangkali lebih mendekati kebenaran. Hujah-hujah penulis adalah bahawa di kalangan keluarga telah popular cerita tentang Syeikh Wan Ali bin Abdur Rahman Kutan al-Kalantani adalah sebaya umurnya dengan Syeikh Wan Muhammad Zain bin Mustafa al-Fathani.

Selain itu, antara beliau terjadi tukar menukar ilmu pengetahuan dengan Syeikh Abdul Qadir bin Mustafa al-Fathani (adik Syeikh Muhammad Zain al-Fathani). Adapun hubungan Syeikh Muhammad Zain al-Fathani dengan Syeikh Wan Ali Kutan itu adalah berbirasan, kerana isteri kedua-duanya adalah adik beradik. Isteri Syeikh Wan Ali Kutan bernama Wan Aisyah binti Wan Muhammad Saleh al-Fathani dan isteri Syeikh Wan Muhammad Zain al-Fathani bernama Wan Cik binti Wan Muhammad Saleh al-Fathani. Syeikh Ahmad al-Fathani mencatat tahun kelahiran ayahnya itu pada tahun 1233 Hijrah/ 1817 Masihi dan ibunya lahir pada tahun 1241 Hijrah/1825 Masihi. Sedangkan dalam riwayat bahawa Wan Cik al-Fathani itu walaupun menjadi kakak ipar kepada Syeikh Wan Ali Kutan, namun Syeikh Wan Ali Kutan lebih tua daripada Wan Cik. Wan Aisyah adik Wan Cik pula dilahirkan pada tahun 1243 Hijrah/1827 Masihi, sedangakn Wan Ali Kutan adalah lebih tua daripada isterinya itu.

Dengan fakta-fakta tersebut di atas, penentuan tarikh lahir Syeikh Wan Ali Kutan adalah pada tahun 1253 Hijrah/1837 Masihi (yang bererti lebih muda sekitar sepuluh tahun daripada isterinya) itu adalah suatu kekeliruan. Diharapkan kepada para pengkaji sejarah dapat meneliti kembali tahun-tahun yang tersebut itu, mudah-mudahan sejarah yang tepat dapat menjadi pegangan yang tidak menjadi keraguan lagi.

Pendidikan

Pendidikan ketika di Kelantan tidak jelas, yang dapat dikaji dimulai dari umur 12 tahun, kerana ketika usia itulah beliau dibawa ke Mekah untuk belajar di sana. Pendidikan di Mekah itu merupakan penentuan bahawa Syeikh Wan Ali al-Kalantani dapat dikategorikan sebagai ulama besar yang lengkap dengan pelbagai ilmu pengetahuan keIslaman. Di antara gurunya di Mekah dapat dicatat ialah Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Syeikh Muhammad Haqqi an-Nazili an-Naqsyabandi. Kedua-dua ulama ini sangat terkenal.

Selain itu, Syeikh Wan Ali al-Kalantani belajar pula kepada Syeikh Ahmad As'ad ad-Dihan, Syeikh Abdus Shamad Pulau Condong, Kelantan dan lain-lain. Di Madinah Syeikh Wan Ali belajar kepada Syeikh Muhammad Amin bin Sayid Ridhwan al-Madani, terutama sekali menerima ijazah Shalawat Dalailul Khairat dengan sanad yang bersambung sampai kepada pengasasnya Syeikh Sulaiman al-Jazuli.

Dalam karangannya Lum'atul Aurad, Syeikh Wan Ali al-Kalantani menyebut bahawa beliau menerima ijazah Hizbul Bahri kepada Syeikh Ahmad bin As'ad ad-Dihan juga kepada Syeikh Abdus Shamad Pulau Condong, Kelantan. Syeikh Abdus Shamad Pulau Condong menerima daripada Syeikh Abdullah bin Muhammad Saleh, beliau menerima daripada ayahnya Syeikh Muhammad Saleh bin Abdur Rahman al-Fathani, beliau pula menerima daripada Syeikh Muhammad Saleh bin Ibrahim Mufti Syafi'ie di Mekah pada zamannya. Silsilah ini bersambung terus hingga kepada pengamal pertama Hizbul Bahri, iaitu Wali Allah Syeikh Abil Hasan asy-Syazili. Syeikh Wan Ali al-Kalantani termasuk pengikut Thariqat Syaziliyah yang sanad/silsilahnya bersambung daripada Syeikh Abil Hasan asy-Syazili hingga kepada Rasulullah s.a.w.

Syeikh Wan Ali al-Kalantani juga belajar berbagai-bagai ilmu kepada Syeikh Abdul Qadir bin Abdur Rahman al-Fathani termasuk beliau menerima Thariqat Syathariyah kepada ulama Patani itu. Syeikh Wan Ali al-Kalantani juga termasuk pengamal Thariqat Ahmadiyah yang dinisbahkan kepada Sayid Ahmad bin Idris. Dipercayai Syeikh Wan Ali al-Kalantani telah menerima talqin bai'ah Thariqat Ahmadiyah itu daripada Syeikh Ibrahim ar-Rasyidi.

Karangan

Syeikh Wan Ali bin Abdur Rahman, Kutan al-Kalantani meninggalkan beberapa karangan, yang senarai lengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Al-Jauharul Mauhub wa Munabbihatul Qulub, 1306 Hijrah/1888 Masihi. Kandungannya merupakan terjemahan dan syarah Lubabul Hadits. Matan Lubabil Hadits adalah karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Cetakan pertamanya ditashih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani. Pada cetakan pertama tercantum puisi dalam bahasa Arab gubahan Syeikh Ahmad al-Fathani yang terdiri daripada 27 bait, dua-dua rangkap.

2. Zahratul Murid fi `Aqaidit Tauhid, 1310 Hijrah/1892 Masihi. Kandungannya membicarakan perkara tauhid menurut pegangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Cetakan pertama, juga ditashih oleh Syeikh Ahmad al- Fathani. Di bahagian muka dan belakang cetakan Mathba'ah al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1315 Hijrah terdapat keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani. Kitab ini terdapat beberapa edisi cetakan di antaranya dicetak oleh Mathba'ah al-Kamaliyah, Kota Bharu, Kelantan.

3. Lum'atul Aurad, 1311 Hijrah/1894 Masihi. Kandungannya mengenai selawat, wirid dan pelbagai doa. Terdapat pelbagai edisi cetakan, di antaranya oleh Matba'ah al-Miriyah, Mekah, cetakan kedua 1314 Hijrah. Edisi cetakan Matba'ah Al-Ahmadiah, Singapura, 1346 Hijrah. Dan edisi yang terakhir ialah yang diusahakan oleh cucunya, Haji Wan Abdul Qadir Daud al-Kalantani. Edisi yang terakhir ini dicetak terus menerus dan masih beredar di pasaran kitab sampai sekarang ini. Lum'atul Aurad ini sangat banyak diamalkan oleh para ulama dan orang awam dunia Melayu, bagi pengamal-pengamalnya selalu menceritakan akan keberkesanan amalan tertentu yang termaktub dalam kitab itu setelah mereka mengamalkannya secara teratur dan rutin.

4. Majma'ul Qashaid wal `Awaid, 1320 Hijrah/1902 Masihi. Kandungannya merupakan kumpulan pelbagai qasidah. Cetakan pertama Mathba'ah al-Miriyah, Mekah, 1321 Hijrah.

5. Ilmu Perubatan, ditulis dalam bahasa Arab, masih dalam bentuk manuskrip.

6. Ilmu Perubatan, ditulis dalam bahasa Melayu, masih dalam bentuk manuskrip.

7. Catatan-catatan, masih dalam bentuk manuskrip.

Petikan:

Syeikh Wan Ali Kutan, Guru Para Ulama Melayu karya Ustaz Wan Mohd Shaghir Abdullah di ruangan Ulama Nusantara, akhbar Utusan Malaysia

Sabtu, April 19, 2008

Syeikh Muhammad Arsyad al‑Banjari, Ulama Banjar Terkenal

Syeikh Muhammad Arsyad al‑Banjari dilahirkan pada 15 Safar 1122 Hijrah bersarnaan 17 Mac 1710 Masihi di Kampung Lok Gabang, Martapura, Banjarmasin. Bapanya Abdullah merupakan seorang pemuda yang dikasihi sultan (Sultan Hamidullah atau Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah 1700‑1734M). Bapanya bukan asal orang Banjar, tetapi datang dari India, mengembara untuk menyebarkan dakwah. Beliau seorang ahli seni ukiran kayu.

Semasa ibunya hamil, kedua ibu bapanya sering berdoa agar dapat melahirkan anak yang alim dan zuhud. Setelah lahir, ibu bapanya mendidik dengan penuh kasih sayang setelah mendapat anak sulung yang dinanti‑nantikan ini. Beliau dididik dengan dendangan Asmaul‑­husna, di samping berdoa kepada Allah. Setelah itu diberi pendidikan Al‑Quran kepadanya. Kemudian barulah menyusul kelahiran adik-adiknya iaitu 'Abidin, Zainal Abidin, Nurmein, dan Nurul Amien.

Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari Semasa Kecil

Sejak kecil, Syeikh Muhammad Arsyad al‑Banjari kelihatan cergas dan cerdas serta mempunyai akhlak yang baik dan terpuji. Kehebatan beliau sejak kecil ialah dalam bidang seni lukis dan seni tulis, sehingga sesiapa sahaja yang melihat karyanya akan berasa kagum dan terpukau.

Pada suatu hari, sultan mengadakan kunjungan ke kampung‑kampung. Apabila baginda sultan sampai ke kampung Lok Gabang, baginda berkesempatan melihat hasil karya lukisan Muhammad Arsyad yang indah lagi memukau hati itu. Justeru, sultan berhajat untuk memelihara dan mendidik Muhammad Arsyad yang tatkala itu baru berusia 7 tahun.

Syeikh Muhammad Arsyad al‑Banjari mendapat pendidikan penuh di istana sehingga usianya mencapai 30 tahun. Kemudian, beliau dikahwinkan dengan seorang perempuan yang solehah bernama Tuan Bajut. Hasil perkahwinan, beliau memperoleh seorang puteri yang diberi nama Syarifah.

Syeikh Muhammad Arsyad telah meneruskan pengembaraan ilmunya di Makkah dan Madinah. Segala perbelanjaannya ditanggung oleh Sultan Tamjidillah (1745‑1778M) dan pengganti baginda Sultan Tahmidillah (1778‑1808M). Selama belajar di Makkah, Syeikh Muhammad Arsyad tinggal di sebuah rumah yang dibeli oleh Sultan Banjar yang terletak di kampung Samiyyah iaitu dikenali sebagai Barhat Banjar.

Syeikh Muhammad Arsyad AI‑Banjari Semasa Di Makkah Dan Madinah

Semasa di Makkah, Syeikh Muhammad Arsyad belajar dengan tekun di Masjidil Haram dalam pelbagai bidang ilmu. Beliau berguru dengan ulama'‑ulama' terkenal pada masa itu seperti Syeikh Ataillah Bin Ahmad al‑Misriy, Syeikh Muhammad Bin Sulaiman al‑Kurdiy, Syeikh Muhammad Bin Abd Karim al‑Qadiri, Syeikh Ahmad Bin Abd Mun'im al‑Damanhuri, Syeikh Hasan Bin Ahmad 'Akisy al‑Yamani, Sheikh Salim Bin Abdullah al­Basri, dan banyak lagi.

Sahabat‑sahabat Syeikh Muhammad Arsyad merupakan golongan pencinta kepada ilmu pengetahuan sehingga setiap perternuan yang merupakan majlis ilmu, mereka saling ber­muzakarah bersama‑sama. Antara sahabat beliau ialah: Syeikh Abdul Samad al‑Falimbani, Syeikh Abdul Rahman Mesri, Syeikh Daud bin Abdullah al‑Fatani, Syeikh Abdul Wahab Sadengreng (Bugis), dan Syeikh Muhammad Salih bin Umar al‑Samarani atau 'Semarang'.

Untuk menambah ilmu, Syeikh Muhammad Arsyad bersama sahabatnya ingin merantau pula ke Mesir. Namun, setelah bersiap untuk berangkat, mereka mendapat khabar bahawa ulama' besar Mesir iaitu Syeikh Muhammad Bin Sulaiman al­-Kurdie datang ke Madinah. Lantas beliau bersama sahabat pergi ke Madinah untuk berguru dengan syeikh tersebut.

Pulang Ke Tanah Air

Setelah berada selama 30 tahun di Makkah dan lima tahun di Madinah, Syeikh Muhammad Arsyad al‑Banjari pulang ke tanah air untuk menyebarkan Islam. Setibanya beliau ke kampung halaman, beliau membuka pusat‑pusat pengajian untuk memudahkan masyarakat Islam menimba ilmu pengetahuan. Selain itu, Syeikh Muhammad Arsyad

turut membiasakan diri bersama orang kampong berkebun, bersawah, dan bertani.

Di samping aktif mengajar dan mendidik masyarakat Islam yang datang dari pelbagai pelosok daerah, beliau turut turun berdakwah ke segenap lapisan masyarakat yang terdiri daripada rakyat biasa hinggalah kepada golongan pembesar dan bangsawan.

Dalam menyampaikan dakwah, Syeikh Muhammad Arsyad menggunakan pelbagai kaedah pendekatan iaitu Dakwah bil Hal (dakwah yang menggunakan pendekatan contoh dan akhlak yang dipamerkan oleh beliau), Dakwah bil Lisan (dakwah dengan menggunakan pendekatan lidah iaitu mengajak dan menyeru) dan Dakwah bil Kitabah (dakwah dengan menggunakan pendekatan penulisan buku dan risalah).

Karya‑karya Syeikh Muhammad Arsyad AI‑Banjari

  1. Kitab Usuluddin ‑ Ditulis pada 1188H (1774 M), ditulis dalam bahasa Melayu, yang memuatkan masalah tauhid dan keimanan. Risalah ini belum pernah dicetak.
  1. Luqthatul 'AjIan fi Bayan Haid wa istihadhati wa nifas al‑Niswan ‑ Iaitu kitab yang mengupas mengenai masalah haid, istihadhah, dan nifas. Isi kitab ini terdiri daripada muqaddimah, 15 fasal, dan penutup. Dicetak pada tahun 1992 di Indonesia. Dalam kitab ini dinyatakan bahawa wajib hukumnya bagi perempuan belajar masalah haid, istihadhah, dan nifas. Jika suami orang berilmu, dia wajib mengajar isterinya; jika sebaliknya, dia wajib memberi keizinan kepada isterinya untuk belajar mengenainya.
  1. Kitab Tuhfat al‑Raghibin ‑ Ditulis pada 1188H (1774M). Pernah diterbitkan di Mesir pada 1353H. Kitab ini membincangkan masalah tauhid iaitu penjelasan tentang hakikat iman, perkara­-perkara yang boleh merosakkan iman, tanda seseorang menjadi murtad, dan sebagainya. Kitab ini terdiri daripada muqaddimah, tiga fasal, dan penutup.
  1. Kitab al‑Qawl al‑Mukhtasar fi 'Alamat al­Mahdi al‑Muntazar ‑ Kitab ini mula dikarang pada tahun 1196H. Mengandungi perbahasan tentang tanda‑tanda kiamat seperti Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Nabi Isa, terbit matahari sebelah barat. Ditulis dalarn tulisan jawi dan pernah dicetak di Singapura tahun 1356H (1937M).
  1. Kitab Ilmu Falak ‑ Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab. Penulisannya mernuatkan kaedah bila terjadinya gerhana matahari dan bulan. Walau bagaimanapun kitab ini belum sempat dicetak.
  1. Kitab al‑Nikah ‑ Kitab ini menerangkan tentang pengertian wali dan kaedah melaksanakan akad nikah berdasarkan apa yang telah diajar oleh Rasulullah s.a.w. Kitab ini pernah diterbitkan di Istanbul pada 1304H.
  1. Kitab Kanzul Ma'rifah ‑ Kitab ini berkaitan dengan ilmu tasawuf serta penjelasan mengenai hakikat mengenal diri untuk mencapai makrifat kepada Allah. Isi kandungannya ditulis dalam bahasa Melayu dan belum dicetak.
  1. Kitab Sabil al‑Muhtadin ‑ Inilah kitab beliau yang paling masyhur. Kemasyhuran kitab ini akhirnya menjadi khazanah di beberapa perpustakaan besar iaitu di Makkah, Mesir, Turki, dan Beirut. Kitab ini amat popular di Nusantara yang merangkumi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Kemboja, dan Brunei.

Karya Syeikh Muhammad Arsyad al‑Banjari yang paling terkenal ini merupakan kitab fiqh Melayu yang tersebar luas di seluruh alam Melayu. Terdapat di dalam dua jilid, jilid pertama mempunyai 252 halaman dan jilid kedua 272 halaman. Perbincangan dalam kitab ini meliputi persoalan ibadah yang menyentuh thaharah, solat, puasa, zakat, haji, akikah, korban, makanan yang halal dan haram serta sembelihan.

Kitab ini ditulis atas permintaan Sultan Tahmidillah Bin Sultan Tamjidillah. Penulisannya mengambil masa selama dua tahun iaitu dimulai pada 1193H/1779M dan selesai pada 27 Rabiul Akhir 1195H. Kitab ini pertama kali dicetak di Istanbul pada tahun 1300H/1882M kemudian diulang cetak di Kaherah dan Makkah.

Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari Meninggal Dunia

Beliau meninggal dunia pada malam Selasa iaitu di antara waktu Maghrib dan Isyak, pada 6 Syawal 1227 Hijrah bersamaan 13 Oktober 1812 Masihi. Beliau meninggal dunia pada usia 105 tahun dengan meninggalkan sumbangan yang besar terhadap masyarakat Islam di Nusantara.

Bagi mengenang jasa dan sumbangan beliau, beberapa tempat di Indonesia telah mengabadikan nama dan karya beliau. Antaranya ialah Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad al‑Banjari dan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.