Memanfaatkan Masa Muda (Nasihat Daripada Seorang Ulama)

Berikut adalah nasihat daripada seorang ulama rabbani kepada para pemuda, nasihat dari seorang yang sudah pernah mengalami masa muda, yang menasihati kita dengan ilmunya yang dalam dan dengan pertimbangan kemaslahatan akhirat dan dunia. Berdasarkan dalil-dalil dari pencipta kita dan dari rasulNya yang mulia –sallallahu 'alaihi wa sallam-. Inilah nasihat dari Syeikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- agar para pemuda memanfaatkan masa mudanya sebelum datang masa tuanya. Semoga kita dapat mengamalkannya.

Oleh
Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, balasan kebaikan hanya bagi orang-orang yang bertakwa, selawat serta salam kepada hamba dan rasulNya, sebaik-baik makhlukNya, yang amanah terhadap wahyuNya, nabi kita, imam kita, pemimpin kita Muhammad bin Abdillah, juga kepada keluarga dan sahabat beliau serta orang-orang yang menempuh jalan beliau dan mengambil petunjuk dengan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Amma ba’du.

Sesungguhnya masa muda merupakan nikmat Allah yang istimewa, para pemuda dianugerahi kekuatan untuk menggapai cita-citanya dengan pertolongan Allah -azza wa jalla-, masa ini adalah masa agung yang semestinya terbentengi dari akhlak dan perbuatan yang tercela, dan semestinya para pemuda bersungguh-sungguh terhadap perkara-perkara yang menyampaikannya kepada (jalan) Allah -azza wa jalla- dan kepada perkara yang bermanfaat bagi para hamba-Nya. Masa muda merupakan masa yang istimewa, masa yang paling berharga.

Di antara sunnatullah adalah setiap hamba jika dia istiqomah dan terus menerus dalam keistiqomahannya maka Allah akan menolongnya untuk menyempurnakan keistiqomahan tersebut, seta Dia akan mewafatkan hamba tersebut sesuai dengan kebiasaannya dan usahanya di dalam kebaikan.

Sungguh Islam telah memberi petunjuk kepada para pemuda dan menganjurkan mereka untuk istiqomah, serta memotivasi mereka dengan sebab-sebab keselamatan dan kebahagiaan. Oleh karena itu terdapat hadits di dalam Shahihain dari nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- beliau bersabda,

سبعةٌ يظلهم الله في ظله ، يوم لا ظل إلا ظله : إمام عادل ، وشاب نشأ في عبادة الله ، ورجل قلبه معلق بالمساجد ، ورجلان تحابا في الله اجتمعا على ذلك وتفرقا عليه ، ورجل دعته امرأة ذات منصب وجمال ؛ فقال : إني أخاف الله ، ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه ، ورجل ذكر الله خاليًا ففاضت عيناه

Tujuh golongan yang Allah naungi dengan naungannya di hari yang tidak ada naungan melainkan naungan-Nya, (yaitu)

  1. imam yang adil,
  2. pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah,
  3. seseorang yang hatinya terkait dengan masjid,
  4. dua orang yang saling mencintai karena Allah dan berpisah karena Allah,
  5. laki-laki yang diajak oleh wanita yang baik keturunannya lagi cantik kemudian laki-laki itu berkata sesungguhnya saya takut Allah,
  6. laki-laki yang bersedekah, dia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya,
  7. dan laki-laki yang berdzikir kepada Allah di saat sendiri lalu meneteskan air mata.”

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya perkara pemuda, yang semestinya bagi para pemuda untuk memperhatikan masa ini, serta dia beristiqomah di masa itu dalam melaksanakan perintah Allah, introspeksi diri, sehingga dia tidak menjadi sebab sesatnya orang lain.

Nabi -sallallahu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan tujuh golongan tersebut, beliau memulainya dengan imam yang adil, karena imam yang adil merupakan kemaslahatan yang bersifat umum dan bermanfaat bagi kaum muslimin. Pemimpin yang adil dapat menegakkan syariat Allah di tengah-tengah mereka, menghukumi mereka dengan adil, memberantas kezholiman dari orang-orang yang berbuat zholim di antara mereka, dan menolong mereka dalam ketaatan kepada Allah -azza wa jalla-. Oleh karenanya pemimpin yang adil menjadi yang pertama dari tujuh golongan yang dinaungi oleh Allah dengan naungan-Nya di hari tidak ada naungan melainkan naungan-Nya.

Kemudian beliau menyebutkan setelah itu pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, ini yang kedua, sebab pemuda jika tumbuh di dalam ibadah kepada Allah maka Allah akan membuatnya bermanfaat bagi ummat, dia akan mengajari umat, mendakwahi ke jalan Allah dalam masa mudanya, masa dewasa serta masa tuanya nanti. Maka jadilah manfaat yang besar dan faedah yang banyak, sebab dia tumbuh di dalam ketaatan kepada Allah dan beribadah kepada-Nya, dan sebab dia belajar dalam keadaan yang kuat dan rajin, maka bertambahlah ilmu, pentunjuk, dan taufik seiring dengan bertambahnya usianya. Dengan demikian manfaat dan pengaruhnya lebih besar bagi umat.

Demikian juga diantara para pemuda bisa menjadi teladan, para pemuda dapat saling memberi pengaruh, sebagian mereka mengikuti sebagian yang lain, maka jika ada pemuda yang sangat rajin di dalam ketaatan kepada Allah maka akan berpengaruh kepada lainnya, dan semakin banyaklah hamba-hamba Allah yang istiqomah, tersebarlah ilmu diantara mereka, dan berpengaruh kepada selain mereka, semakin bertambah banyak lah kebaikan dan berkuranglah kejahatan, tegaklah perintah Allah, hilanglah kebatilan, lahirlah keutamaan-keutamaaan, dan hilanglah keburukan.

Diantara sabda nabi -sallallahu ‘alaihi wa sallam-,

يا معشر الشباب ! من استطاع منكم الباءة فليتزوج ، فإنه أغض للبصر ، وأحصن للفرج ، ومن لم يستطع فعليه بالصوم ، فإنه له وجاء ) . فأمر الشباب بالزواج ، حتى يحصنوا فروجهم ويغضوا أبصارهم ، وحتى يكونوا قدوة لغيرهم في الخير ، ولهذا قال : ( فإنه أغض للبصر ، وأحصن للفرج

“Wahai para pemuda, jika kalian telah memiliki kemampuan (ba-ah) maka menikahlah karena itu akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah ia shaum, karena itu sebagai perisai baginya.”

Beliau memerintahkan pemuda untuk menikah agar mereka menjaga kemaluan dan menundukkan pandangan sehingga mereka bisa menjadi teladan bagi orang lain di dalam kebaikan. Oleh karenanya beliau bersabda, “karena (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan”.

Dimaklumi dari hadits ini bahwa para pemuda semestinya bersegera untuk melakukan perkara-perkara yang menolongnya untuk menta’ati Allah, agar orang lain dapat mengambil teladan darinya, dan agar dia dapat terus beramal di atas ketaatan kepada Allah.

Diantara yang dapat menolong para pemuda (dalam ketaatan) adalah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, memperhatikan Al Qur’anul Karim, agar pemuda tersebut mengenal hukum-hukum Allah, dan agar dia berjalan di atas bashiroh (ilmu) dari Allah dalam keadaan masa mudanya dan masa tuanya nanti. Berbeda dengan kondisinya di saat tua, kesibukan mulai banyak dan pemahaman melemah. Adapun di masa mudanya keadaannya lebih kuat untuk memahami nash, lebih mudah untuk menghafal, lebih condong dan lebih kuat untuk mengamalkannya. Oleh karena itu, sudah semestinya para pemuda menjaga waktu mereka dan membentengi masa muda mereka agar tidak terjerumus kepada perkara-perkara yang Allah haramkan, sampai tidak ada rasa malas dan lemah terhadap perkara-perkara yang diwajibkan oleh Allah.

Wahai para pemuda, saudara-saudaraku di jalan Allah, anak-anakku, sesungguhnya kewajiban itu perkara yang agung, maka kalian harus bersungguh-sungguh dalam menta’ati Allah, di dalam menuntut ilmu, dan memahami agama, serta menjaga waktu dari perkara-perkara yang tidak semestinya dilakukan. Waktu itu secara hakiki lebih berharga dibandingkan emas, maka hendaklah kalian membentengi diri dari perkara-perkara yang tidak semestinya, dari perkara-perkara yang diharamkan, dari perbuatan jelek, dari seluruh perkara yang merendahkan seorang mukmin. Semestinya mereka menjaga diri dalam ketaatan kepada Allah, dalam belajar dan memahami agama, serta belajar perkara lain yang bermanfaat bagi ummat yang dapat menolong kebutuhan orang lain. Umat islam butuh pemahaman agara, dan penjelasan tentang syariat Allah dan tentang perkara yang diwajibkan oleh Nya. Sebagaimana umat juga butuh kepada pemuda agar mereka mempelajari seluruh perkara yang dibutuhkan di dalam segala bidang seperti pertahanan, dan bidang-bidang yang dibutuhkan umat di dalam kehidupan. Maka sudah semestinya bagi pemuda untuk memperhatikan dan menjaga waktunya, serta menyibukkan diri terhadap perkara-perkara yang bermanfaat bagi ilmu syar’i dan amal yang shalih, serta ilmu dunia yang berguna untuk mempersiapkan diri dari musuh-musuh, menjaga negeri, menolong agama Allah, jihad di jalan-Nya, sehingga kita tidak membutuhkan pertolongan dari musuh-musuh Allah agar kita tidak bergantung kepada mereka.

Dimaklumi bahwa pemuda itu kuat dalam beramal, dan bersabar melakukannya, kuat juga dalam hafalan dan pemahaman melebihi jika usianya telah tua. Dimana di masa tuanya sudah muncul rasa lemah, kondisinya tidak sama dengan kondisi masa muda. Maka semestinya bagi para pemuda agar menjaga waktu dan kesempatan mereka yang istimewa ini, agar mereka tidak berpaling kecuali kepada perkara yang bermanfaat di dalam agama dan dunia, serta yang bermanfaat bagi dirinya dan umat islam, agar bermanfaat juga bagi agama dan dunia umat islam, dan agar membantu untuk membangun kegiatan umat islam yang bermanfaat, serta agar membantu juga membentengi umat dari makarnya musuh-musuh islam, mempersiapkan kekuatan berguna yang membantu umat dalam melawan musuh, melindungi negeri dan menjaganya dari tipu daya musuh-musuh islam.

Diterjemahkan dari:
http://www.sahab.net/home/index.php?Site=News&Show=677

Fairuzabadi, Sanggup Membeli Buku Walau Harganya Mahal dan Sukar Didapati

Fairuzabadi ialah seorang ulama yang tawaduk, luas ilmunya di samping mendapat julukan sebagai salah seorang tokoh bahasa dan sastera. Beliau dilahirkan di Kazrawan sebuah kampung berhampiran Syiraz, Iran pada tahun 729 H/1329 M. Nama sebenarnya ialah Abu Tahir Muhammad bin Yakkub bin Muhammad al-Fairuzabadi.

Sejak berusia lapan tahun, Fairuzabadi telah mulai belajar bahasa dan sastera secara mendalam dari ayahnya sendiri dan al-Qawwam bin Najm serta ulama-ulama terkenal lainnya di Syiraz. Minat beliau terhadap bahasa sangat besar, sehingga mengatasi teman-teman lainnya. Beliau juga belajar ilmu feqah, mendengarkan hadis-hadis Sahih Bukhari dari Muhammad bin Yusuf al-Zarandi dan mengkajinya secara mendalam.

Sanggup Membeli Buku Walau Harganya Mahal dan Sukar Didapati

'Tidak ada masa tanpa buku' ialah semboyan dalam hidup Fairuzabadi yang selalu dahagakan ilmu itu, sehingga beliau boleh dikatakan sebagai 'kutu buku' yang kuat. Minat beliau terhadap buku-buku sangat besar sehingga sanggup membelinya walaupun harganya sangat mahal dan sukar didapati. Beliau berani mengeluarkan wang berapa saja untuk sesebuah buku yang diingininya.

Diceritakan bahawa beliau sentiasa berdampingan dengan buku-bukunya sama ada ketika menetap di suatu tempat atau sedang dalam perjalanan. Jika beliau berpergian selalu kelihatan membawa beberapa buah peti yang penuh dengan buku. Beliau akan membaca buku-buku yang dikehendakinya setiap kali berhenti rehat, kemudian ditutupnya dan meneruskan perjalanannya.

Selain terkenal kerana alimnya, Fairuzabadi juga terkenal kerana borosnya, tidak berkira dalam membelanjakan hartanya terutama untuk membeli buku. Apabila sudah tidak punya wang langsung untuk membeli barang keperluan asasnya, beliau menjual beberapa buku koleksinya dan membelanjakan wang hasil dari jualannya itu. Apabila sudah punya wang, beliau membeli buku lagi. Begitulah seterusnya.

Karyanya

Karyanya yang sangat terkenal ialah kamus Al-Muhit, yang telah mendapat sanjungan di serata dunia Islam dan merupakan buku yang paling banyak ditatapi oleh para penulis.

Menetap Di Zabid Sehingga Wafatnya

Ketika berusia lima puluh tahun, Fairuzabadi mengembara ke berbagai negara. Mula-mula pergi ke Syria dan tinggal di sana beberapa masa. kesempatan itu telah digunakan oleh orang ramai untuk mengambil ilmu daripada beliau dan namanya menjadi terkenal.

Fairuzabadi pula mengambil kesempatan untuk bertemu dengan ulama-ulama terkenal di Syria seperti Ibnu Qayyim, Ibnu al-Hamawi, Ahmad bin Mattar An-Nablusi dan lain-lain. Kemudian beliau mengunjungi kota Kaherah dan beberapa kota lainnya di belahan utara sehingga sampai ke India.

Setelah itu, beliau berziarah ke kota Zabid di Yaman dan disambut dengan penuh penghormatan oleh Sultan al-Asraf Ismail bin Rasul yang memerintah Yaman ketika itu. Kebetulan Kadi Besar Yaman iaitu Jamaluddin Ar-Rini baru saja wafat, maka Sultan melantik Fairuzabadi menjadi Kadi Besar. Hubungan Fairuzabadi dengan Sultan Yaman bertambah rapat lagi, kerana seorang puteri Fairuzabadi yang sangat cantik jelita telah dikahwin oleh Sultan Yaman itu.

Diceritakan bahawa Fairuzabadi pernah mempersembahkan sebuah karyanya kepada sultan di dalam sebuah dulang. Sultan telah memenuhkan dulang tersebut dengan wang dirham dan diberikan kepada Fairuzabadi sebagai balasannya. Beliau menetap di Zabid sehingga wafat. Beliau wafat pada tahun 1415 M.

Susunan:
M.A.Uswah,

Sandakan,

9 November 2009.


Rujukan:
Ensiklopedia Para Wali

Kisah Firasat Para Ulama

~ Diceritakan pada suatu ketika, dua ulama besar imam mazhab iaitu Imam Syafie dan gurunya Imam Malik sedang berbincang apabila terlihat seorang lelaki masuk ke dalam masjid. Lalu seorang daripada mereka mencadangkan masing-masing mencuba kebolehan dengan meneka pekerjaan lelaki itu.

Imam Syafie dan Imam Malik kemudian membuat taakulan mengenai pekerjaan lelaki itu berdasarkan pelbagai pemerhatian terhadap jasad, pakaian dan sebagainya. “Peniaga,” jawab Imam Syafie. “Tukang besi,” jawab Imam Malik sekali gus meningkah jawapan anak muridnya.

Bagi memastikan tekaan siapa yang benar, mereka berdua bertanya terus kepada lelaki itu sebaik dia keluar dari masjid. Lelaki itu memberitahu dia bekerja sebagai peniaga sekali gus membenarkan taakulan Imam Syafie. Bagaimanapun Imam Malik terus bertanyakan soalan kedua: “Apa pekerjaan kamu sebelum kamu menjadi peniaga?” “Tukang besi,” jawab lelaki itu sekali gus membenarkan juga taakulan Imam Malik.

Kisah itu membuktikan kedua-dua imam besar itu adalah ahli firasat dan ilmu itu sudah lama wujud di dunia ini.

~ Suatu hari Imam Abu Hanifah sedang duduk di dalam masjid, tiba-tiba datang seorang lelaki berjalan di hadapan beliau.

“Lelaki ini orang asing, di dalam bajunya ada gula-gula dan dia adalah seorang guru kepada kanak-kanak.” kata Imam Abu Hanifah.

Seorang teman beliau yang kebetulan ada di situ ingin tahu kesahihan tekaan itu. Maka dengan senyap-senyap, dia mengikuti gerak-geri si lelaki dan diikutinya ke mana perginya. Ternyata betul, lelaki itu memang orang asing, di dalam bajunya ada menyimpan gula-gula dan seorang guru kanak-kanak.

~ Seorang lelaki yang dulunya pandai baca al-Quran bertanya kepada sebahagian ulama, lalu mereka berkata kepadanya, “Duduklah, sebab aku mencium dari ucapanmu bau ‘kekufuran’.” Tak berapa lama setelah itu, orang tersebut muncul lagi, tapi sudah masuk agama Nasrani, wal ‘iyaazu billah. Lalu ia ditanya, “Adakah ayat al-Quran yang masih kamu hafal?.” a menjawab, “Aku tidak hafal kecuali satu ayat saja, ‘Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim." (al-Hijr: 2)

~ Abu Said al-Kharraz berkata, “Di Masjidil Haram, Makkah, aku melihat seorang lelaki miskin yang tidak memiliki apa-apa dan hanya mengenakan pakaian yang menutup auratnya saja. Kerana keadaannya itu, aku menghindarinya dan diriku jijik terhadapnya. Lalu ia memfirastiku seraya melantunkan firman Allah, “Dan ketahuilah bahawasanya Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya.” (al-Baqarah: 235)

Maka aku pun menyesali atas sikapku tersebut dan memohon ampun kepada Allah. Lalu dia melantunkan ayat lagi, “Dan Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan…” (asy-Syura: 25)

Sifat Pemurah Imam Abu Hanifah

Sifat pemurah Imam Abu Hanifah tersebar begitu luas, terutamanya di kalangan teman-temannya. Suatu hari seorang temannya datang ke kedainya. Sambil melihat kain-kain yang tersusun rapi di kedai tersebut dia berkata :

"Saya memerlukan sehelai baju bulu, wahai Abu Hanifah," Sambil tersenyum Abu Hanifah bertanya: Warna apa yang kamu inginkan?

Temannya menjawab: "Warnanya...."

"Tungguhlah hingga saya memperolehinya dan saya akan bawakan kepadamu,: jawab Abu Hanifah sambil tersenyum.

Apabila hari Jumaat, baju yang dipesan pun tiba. Lantas baju ini dibawa kepada temannya. Sambil mengeluarkan kain bulu tersebut Abu Hanifah berkata :"Saya telah menerima pesanan yang engkau perlukan."

Dengan wajah yang girang, temannya bertanya:"Berapakah harganya?"

"Satu dirham."jawab Abu Hanifah

"Satu Dirham?!" balas temannya dengan terkejut.

"Ya.",tegas Abu Hanifah.

Temannya merasa tidak percaya dengan kata-kata Abu Hanifah:"Apakah engkau bergurau, wahai Abu Hanifah."

Abu Hanifah menguntum senyum seraya berkata:"Saya tidak bergurau. Saya beli baju ini bersama satu lagi baju dengan harga 20 dinar emas dan satu dirham perak. Sehelai saya telah jual dengan harga 20 dinar emas dan tinggal yang ini saya jual dengan satu dirham. Saya tidak mahu ambil untung daripada teman saya."

Ustaz Bahtiar Hud, Guruku Yang Luas Ilmunya & Peramah

Ustaz Bahtiar bin Hud merupakan salah seorang guruku semasa ku menuntut di Institut Latihan Perindustrian Sandakan ketika tahun 2007. Beliau dilahirkan pada 16 Februari 1975 di Sandakan, Sabah. Beliau merupakan lulusan dari Universiti Al-Azhar, Mesir dalam bidang Pengajian Islam dan Bahasa Arab.

Ustaz Bahtiar (dua dari kanan) bersama dengan Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (duduk atas kerusi) di Makkah.

Guru-gurunya

1. Ilmu al-Quran & Qiraat

- Syeikh Mustafa bin Ahmad bin Abd al-A'Al al-Helwani
- Syeikh Nabil bin Muhammad al-Ja'fari
- Syeikh Umar bin As-Sudani
- Syeikh Muhammad Abd An-Nabi Abd al-Husin
- Syeikh Abd al-Hakim bin Abd As-Salam Khotir

2. Ilmu Hadis

- Mufti Mesir, Syeikh Ali Jumaah
- Syeikh Nuruddin al-Banjari al-Makki
- Syeikh Toha Ar-Rayyan
- Ustaz Ahmad Abdullah
- Ustaz Muhammad Aziz bin Aman

3. Ilmu Tafsir, Feqah, Ulum Hadis & Sirah Nabawi

- Syeikh Umar Abdullah Kamil
- Syeikh Ogeil al-Yamani
- Syeikh Ibrahim bin Abd al-Baith al-Husaini
- Syeikh Yusri al-Husaini
- Syeikh Saad Jawish

Ustaz Bahtiar (kanan sekali) bersama gurunya, Syeikh Nuruddin al-Banjari al-Makki (duduk kanan atas kerusi), ulama Indonesia terkini yang terkenal.

Guru-guru yang Sempat Belajar

1. Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki
2. Syeikh Mutawalli Sya'rawi (melalui televisyen)

Ustaz Bahtiar (duduk kanan sekali) bersama gurunya, Syeikh Ogeil al-Yamani (duduk tengah).

Peribadinya

Antara peribadinya selamaku bersama-sama dengannya ialah beliau seorang yang alim, ilmunya sangat luas, peramah, pemurah, mengajar kepada sesiapa saja tanpa apa-apa bayaran, suka belanja orang makan dan rumahnya sentiasa terbuka bagi sesiapa saja yang hendak belajar dengannya.

Ustaz Bahtiar bersama gurunya, Syeikh Nabil bin Muhammad al-Ja'fari.

Beliau telah mengambil tarekat Syaziliah dan Naqsabandiyah. Beliau juga sering menjadi khatib dan imam solat Jumaat.

Ustaz Bahtiar (kiri sekali).

Kini beliau tetap menetap dan mengajar di Sandakan. Beliau telah mendirikan sebuah Maahad Tahfiz al-Quran dan Sunnah di Sandakan. Beliau juga menjadi pensyarah sambilan di Universiti Terbuka Malaysia, cawangan Sandakan.

Ustaz Bahtiar, ilmunya luas & ramai gurunya.

Ustaz Bahtiar, peramah & murah dengan senyuman.

Ustaz Bahtiar yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan isterinya pada Mei lalu.

Syeikh Muhammad Adib al-Kallas, Sangat Murah Hati & Rendah Hati

*Biografi ini didedikasikan buat syeikh yang telah wafat pada 21 Oktober lalu yang saya terjemahkan dari web bahasa Inggeris.

Syeikh Muhammad Adib al-Kallas ialah seorang ulama yang zuhud, ahli hukum terkenal dan sarjana berpendidikan tinggi.

Syeikh Adib dilahirkan pada tahun 1921 di pinggiran kota al-Qamariyah di Damsyik, Syria.

Awal Kehidupan

Ayahnya, Ahmad al-Kallas ialah salah seorang mujahid melawan penjajah Perancis dan syeikh Adib telah hafal al-Quran dan dipertahankan dengan sangat baik. Ayahnya juga ialah seorang ahli perniagaan. Ibunya, Durriya al-Kallas dikenal seorang yang dermawan, memiliki peribadi bagus dan mempunyai kesabaran. Ibunya meninggal sedangkan beliau masih kecil dan diasuh oleh saudara perempuannya. Sejak usia muda, beliau dikenal kerana kecerdasan dan cara beliau mengakui hak orang lain.

Guru-gurunya

Ayahnya mendaftarkan dirinya di sekolah-sekolah yang dikelola oleh para syeikh kerana beliau berharap bahawa anaknya akan menjauhkan dari sekolah-sekolah pemerintah selama zaman pendudukan Perancis. Beliau belajar di Madrasah al-Kamiliyyah dan di Madrasah al-Jauhariyah al-Safarjalaniyah. Pada kedua beliau mengenal dirinya dengan Syeikh Muhammad Salat Idul Safarjalni.

Beliau pindah ke al-Madrasah al-Aminiyyah mana Syeikh Kamil al-Baghal itu dan di mana beliau diajar oleh Syeikh Khair al-Jalad. Setelah itu beliau melanjutkan belajar di masjid dan di sekolah Syeikh Abdullah al-Munjalan setelah itu ia pindah ke Madrasah Al-Irshad wa al-Ta'lim.

Pada tahun 1931, ketika beliau berusia 10 tahun beliau sudah membaca dan mempelajari al-Arba'in al-Nawawiyah dan beberapa hal penting seperti Fiqh dasar Nur al-Idah di bawah Syeikh Solih Al-Farfur. Setelah itu ayahnya membuatnya bekerja sebagai seorang penjahit, pekerjaan beliau lakukan sampai larut malam. Akibatnya beliau tidak dapat melanjutkan pelajaran dengan Syeikh Shlih Al-Farfur.

Beliau bekerja bersama ayahnya di perniagaan keluarga tetapi beliau tepat waktu menghadiri pelajaran dan lingkaran-lingkaran belajar yang dilakukan oleh Syeikh al-Khatib Suhail yang berfokus pada pengiriman salam pada Nabi Muhammad saw dan pelajaran oleh Syeikh Hashim al-Khatib di mana ia membaca al-Quran.

Beliau akhirnya kembali ke pelajaran dari Syeikh Solih al-Farfur dan alasan untuk ini adalah bahawa beliau digunakan untuk membantu adiknya dalam memecahkan beberapa masalah matematik yang telah dipelajari di sekolah. Adik merasa terkejut dan beliaua biasa mengatakan bahawa beliau seharusnya untuk menemaninya ke masjid di mana beliau akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan kompleks lainnya. Syeikh Adib diterima dan kembali memperoleh pengetahuan.

Ketika Syeikh Salih melihatnya, beliau menyambutnya dengan ramah dan segera setelah beliau melihat anak itu kecerdasan dan memorinya mengarahkan beliau kepada seorang guru, 'Abd al-Halim faris yang mengajarinya beberapa tatabahasa Arab. Beliau datang dalam pemeriksaan pertama dan beliau menerima salinan al-Risdlat al-Qushayriyyah dari Syeikh Solih al-Farfur yang masih memiliki. Beliau menyelesaikan pelajaran tatabahasa, Ibnu 'Aqil dan al-Balaghah al-Wadihah.

Beliau belajar beberapa teks-teks di bawah Fiqih Syeikh Abd al-Razzaq al-Halabi dan beberapa buku penting dalam Tauhid di bawah Syeikh Solih al-Farfur bersama-sama dengan beberapa logik, warisan, tafsir, hadis, mustalah, tasauf, tajwid dan beberapa khulasat al-hisab oleh al-Āmili.

Syeikh Adib menghabiskan waktu setelah subuh terlibat dalam ibadah dan setelah itu beliay belajar Ḥashiyat Ibnu' Abidin dan di malam hari setelah Maghrib beliau terus belajar. Pada siang hari, beliau bekerja dengan ayahnya.

Syeikh Adib telah hafal Alfiyah Ibnu Malik dan bahkan menulis ringkasan pelajaran dan direvisi mereka selama hari, sementara beliau sedang bekerja. Beliau unggul dalam pelajarannya dan menjadi otoritas di bidangnya, tetapi beliau terus membantu ayahnya.

Itu adalah Kehendak Allah bahawa Syaikh menghabiskan waktu mempromosikan firman Allah dan jadi beliau adalah imam, guru dan pembicara publik di sejumlah masjid di Damsyik. Beliau lebih diperkuat oleh apa pun dia belajar lebih jauh belajar di bawah Mufti Syria, Syeikh Abu al-Yusr Abidin yang sering berkata kepadanya: "Kalau saja aku tahu anda sebelumnya." Dia mengatakan hal ini setelah mengamati pengetahuan dan kerendahan hati syeikh.

Syeikh Adib membaca beberapa surah dalam Al-Quran di bawah Fayiz Syeikh Mahmud al-Dair Atani. Syeikh Mahmud kadang-kadang bertanya kepadanya dan benar-benar terkesan dengan jawapan.

Beliau juga membaca dan belajar di bawah Syeikh Fauzi al-Munayir dan Syeikh Ahmad 'Abd al-Majid al-Dowmāni yang merupakan salah satu dari Syeikh Muhammad Salim al-Ḥalwānī murid. Beliau belajar di bawah Syeikh Abu al-Hasan al-Khabzu yang dikenal kerana retensi yang sangat baik dari al-Quran.

Ijazah-ijazahnya

Di antara para ulama yang beliau terima ijazah ialah daripada:

Syeikh Muhammad Solih Al-Farfur, Syeikh Abu al-Yusr Abidin, Syeikh Muhammad Said al-Burhani dan Syeikh Ahmad al-Siddiqi (dari Pakistan tapi beliau dibesarkan di Makkah).

Beliau bertukar Ijazah dengan Syeikh Abdul Razzaq al-Halabi dan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Selama perjalanan beliau ke Hijaz yang beliau gunakan untuk bertemu dengan para ulama dan mereka akan bertukar ijazah.

Sifat Peribadinya

Syeikh Adib sangat murah hati dan sangat rendah hati. Jika seseorang meminjam wang dari beliau, beliau tidak pernah meminta bahkan jika orang tidak membayar. Beliau ditampilkan sangat menghormati guru-gurunya dan orang-orang berilmu. Beliau memberikan preferensi untuk menanamkan ilmu di atas dan di atas kenyamanan peribadinya.

Pada siapa yang beruntung yang telah bertemu dengannya bersetuju bahawa beliau adalah salah satu yang paling luar biasa orang yang dapat bertemu. Meskipun memiliki segunung pengetahuan, beliau adalah orang yang dalam kerendahan hati dan murni, layanan tulus kepada orang lain. Bahkan beliau akan menyajikan teh buatannya untuk para tetamu dan memberi waktu untuk menghibur para murid dan bahkan yang paling dasar pertanyaan.

Beliau sangat khusus pada upaya mempertahankan ikatan keluarga dan beliau mencintai menunaikan haji dan umrah di mana beliau senang menghabiskan setidaknya satu bulan terlibat dalam ibadah dan pengabdian. Dia mencintai khulafa dan sisanya dari sahabat dan keluarga Rasulullah saw dan para auliya.

Pengetahuan, Mengajar dan Membimbing

Syeikh Adib unggul dalam perdebatan seni dan kemampuan untuk memecah konstruktif argumen dan beliau memiliki kemampuan luar biasa untuk merespons secara efektif terhadap idea-idea menyimpang. Beliau juga seorang ahli dalam ilmu tauhid, warisan dan fiqh. Fiqh dan tauhid mungkin pelajaran yang paling disayangi olehnya. Syeikh Abu al-Yusr menggambarkan dirinya sebagai orang yang mirip dengan sahabat terbilang, Umar al-Khattab kerana beliau menentang tanpa takut akan kebatilan.

Beliau mengajar di Maahad al-Fath al-Islami dari waktu yang didirikan juga di Madrasah al-Aminiyyah dan beberapa sekolah menengah.

Beliau sangat rendah hati dengan murid-murid dan beliau tidak pernah berbalik siapa pun menjauh. Jika seorang murid mendekatinya dengan permintaan untuk belajar di bawahnya, beliau akan berkata: "Ini adalah waktu senggang, jadi pilih waktu yang cocok untuk anda, sehingga kami dapat membaca sesuatu." Beliau biasa mengatakan bahawa pengetahuan zakat adalah untuk menanamkan itu. Beliau selalu menanggapi positif terhadap sesuatu yang baik.

Murid-muridnya

Murid-muridnya yang banyak dan mereka termasuk orang-orang yang belajar di bawah beliau atau menghadiri pelajaran dan juga mereka yang belajar di Mahad Al-Fath Al-Islami. Ijazah beliau diberikan kepada mereka yang lulus dari Maahad Al-Fath dan beliau menyarankan para murid untuk mengikuti empat mazhab dan untuk melanjutkan dalam mengejar ilmu dan untuk memasukkan dia dalam Du'a.

Siapa pun yang membaca atau belajar di bawahnya, mencintainya dan siapa pun bertanya padanya, bahkan pernah menjadi teman dan siapa pun yang memasuki rumahnya mengenali kerendahan hatinya dan siapa pun yang berbicara dengannya mengetahui keadilan dan siapa pun yang melihatnya kagum mengamati dan cahaya.

Wafatnya

Beliau wafat pada 21 Oktober 2009 bersamaan 2 Zulkaedah 1430 di Damsyik, Syria. Umur beliau ialah 88 tahun, setelah menjalani kehidupan yang didedikasikan untuk pengetahuan, pengajaran dan pelayanan tanpa pamrih untuk para pencari pengetahuan.

Semoga Allah memberinya syurga tertinggi dalam kedekatannya dengan kekasih, Rasulullah saw dan yang paling agung, Ya Rabb!

Terjemahan daripada web bahasa Inggeris:
http://marifah.net/index.php?option=com_content&view=article&id=224:shaykh-muhammad-adib-al-kallas&catid=16:biographies&Itemid=46

Wafatnya Ulama Besar Syria Hari Ini

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Hasbunallahu wa ni'mal wakil.

Syeikh Muhammad Adib al-Kallas, ulama besar Hanafi yang faqih, telah wafat pada hari ini, 21 Oktober 2009 bersamaan 2 Zulkaedah 1430 di Damsyik, Syria. Umur beliau ialah 88 tahun, setelah menjalani kehidupan yang didedikasikan untuk pengetahuan, pengajaran dan pelayanan tanpa pamrih untuk para pencari pengetahuan.

Pada siapa yang beruntung yang telah bertemu dengannya bersetuju bahawa beliau adalah salah satu yang paling luar biasa orang yang dapat bertemu. Meskipun memiliki segunung pengetahuan, beliau adalah orang yang dalam kerendahan hati dan murni, layanan tulus kepada orang lain. Bahkan beliau akan menyajikan teh buatannya untuk para tetamu dan memberi waktu untuk menghibur para murid dan bahkan yang paling dasar pertanyaan.

Semoga Allah memberinya syurga tertinggi dalam kedekatannya dengan kekasih, Rasulullah saw dan yang paling agung, Ya Rabb!

Semoga Allah melindungi para ulama umat Nabi saw dan inspirasi yang paling tulus dan ditentukan dari para pengikutnya untuk mencari yang terbaik dan paling menguntungkan pengetahuan dan tersebar di dalam yang terbaik, paling menguntungkan, dan jalan yang paling indah.

Terjemahan dari web bahasa Inggeris:
http://seekersguidance.org/blog/2009/10/shaykh-adib-kallas-died-today-october-21-2009-one-of-the-foremost-scholars-of-our-times

*Insya Allah, biografi syeikh akan menyusul selepas ini.