Pages

Tampilkan postingan dengan label Taman Kisah Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taman Kisah Ulama. Tampilkan semua postingan

Kamis, Februari 25, 2010

Syair Al-Abbadi Buat Rasulullah SAW

Pada suatu malam, Al-Abbadi menyendiri unruk solat dan menyenandungkan beberapa bait syair:
Janganlah terbenam wahai matahari

Sebelum habis pujianku terhadap keluarga

Al-Mustafa (Muhammad saw) dan anaknya

Hendaklah kau mengerakkan awanmu jika engkau ingin memuji mereka

Apakah kau lupa bahawa engkau berdiam untuk dia

Jika engkau berdiam adalah untuk dia

Maka jadikanlah diammu tersebut juga sebagai naungan untuk pasukan

berkuda dan infanterinya.


Ibnu Jauzi berkata, "Maka matahari pun muncul dari balik awan. Al-Abbadi hidup selama 56 tahun, semoga Allah merestuinya."

Nama sebenar Al-Abbadi ialah Abu Mansur Al-Muzaffar bin Ardasyir Al-Mawarzi Al-Abbai diberi julukan dengan Al-Amir. Beliau ialah seorang pemberi nasihat yang menyenangkan.

Ibnu Jauzi berkata lagi, "Dia memiliki perbendaharaan kata-kata yang bagus, banyak orang yang mengutip nasihatnya kemudian dijadikan ke dalam buku yang berjilid-jilid."

Al-Abbadi wafat pada tahun 547H.

Rujukan:
Siyar A'lam An-Nubala' (Jilid 4) karya Imam Az-Zahabi

Jumat, Januari 15, 2010

Bakti Syeikh Abdurrahman bin Nasir Al-Barrak Pada Ibundanya

Syeikh Abdurrahman bin Nasir Al-Barrak[1] ialah salah seorang ulama Arab Saudi saat ini. Di sini, dipaparkan kisah betapa berbaktinya syeikh terhadap ibundanya dan syeikh hafizahullah

telah mencontohkan teladan yang sungguh ajaib dalam berbakti, terkhusus di zaman sekarang ini. Ibunda syeikh telah wafat sekitar 5 tahun silam. Berikut beberapa kisahnya tanpa perincian yang luas:

1. Syeikh Abdurrahman Al-Barrak hafizahullah dikenal hanya sedikit pergi haji. Sebabnya adalah tidak adanya persetujuan ibundanya rahimahallah. Beliau mulai berhaji lagi sejak Ibunya lemah ingatannnya dan bercampurnya sebahagian hal sehingga menjadi memberikan izin baginya untuk pergi haji

2. Syeikh Al-Barrak tidak pergi safar kecuali setelah diberi izin ibundanya.Suatu waktu,terjadi suatu permasalah di kampung halaman beliau di Albakiriyah daerah Al Qosim.Penduduk daerah tersebut meminta Syaikh untuk datang agar membantu menyelesaikan masalah tersebut karena kedudukan Syaikh yang berpengaruh dikalangan mereka.Maka Syaikh menyetujuinya untuk pergi asalkan dengan syarat jika diizinkan Ibunya.Maka sebagian sebagian saudara ibunya berbicara kepada Ibu Syaikh ,dan karena segan maka kemudian diizinkanlah Syaikh Al Barrak.Setelah saudara-saudara Ibunya pergi,maka sang Ibu berkata pada Syaikh Abdurahman bin Nashir Al Barrak :”Saya menyetujuinya karena mereka terus menerus meminta padaku”.

3. Syaikh Abdurrahman dalam safarnya ke Mekah dalam liburan musim panas tidaklah terputus dari menelepon ibunya. Tidak kurang dari dua kali menelepon ibunya dalam sehari.Bahkan beliau sempat memutuskan pelajaran yang sedang disampaikan dimana saat itu kami sedang membacakan kitab pada beliau di Masjidil Haram ,Syaikh menelepon ibunya dan kemudian disambung lagi pelajaran saat itu

4. Ibunda Syaikh tidaklah terus menerus tinggal bersama Syaikh.Berpindah-pindah,terkadang tinggal di rumah Syaikh namun terkadang di rumah anaknya yang lain (saudara kandung Syaikh).Tatkala tinggal dirumah Syaikh ,maka Syaikh Al Barrak tidak tidur dengan istrinya,tapi tidur bersama Ibunya dikamar Ibunya dengan maksud siap sedia memenuhi segala permintaan Ibunya

5. Diantara bentuk memenuhi hajat Ibunya,adalah Syaikh Al Barrak senantiasa berdiri menuntun memegangi tangan ibunya,karena Ibunya sudah lambat dalam berjalan.Syaikh mengantar untuk pergi ke kamar mandi sampai ibunya duduk dikursi khusus baginya.Kemudian Syaikh menunggu hingga ibunya menyelesaikan keperluannya di kamar mandi,setelah itu Ibunya diantar lagi ketempat semula.Ini semua dilakukan Syaikh,walaupun ada anak-anak perempuan Syaikh dan istrinya

6. Diantara bentuk bakti yang lain, Syaikh Abdurrahman Al Barrak hafidzahullah tidak pernah memutus kebiasaan Ibunya.Saya pernah membaca kitab dihadapan beliau disuatu hari dipelataran rumah beliau dipintu masuk khusus laki-laki.Pelajaran yang disampaikan Syaikh di sore hari biasanya tidak terputus kecuali apabila terdengar adzan maghrib.Tatkala menjelang adzan maghrib beliau meminta saya keluar dari rumah.Ini bukanlah kebiasaan Syaikh sebelumnya.Setelah Isya tiba-tiba Syaikh meneleponku di rumah,beliau meminta maaf dari kejadian dihari itu dan memberitahu bahwa dilakukannya hal tersebut karena Ibunya punya kebiasaan berwudhu untuk shalat maghrib di keran air disebelah pintu dimana kami tadi berada.

7. Syaikh Al Barrak sangat memperhatikan keinginan Ibunya.Adalah kebiasaan Syaikh bermajlis dengan tamu-tamunya hingga adzan tiba kemudian mereka keluar untuk sholat.Namun jika sedang ada ibunya ,maka Syaikh akan berdiri sebelum adzan tiba karena hal ini kesukaan Ibunya yang sholehah

8. Tatkala semakin parah sakit yang dialami ibunya,maka Syaikh berusaha mengobatinya,beliau tidur bersamanya serta memberinya makanan dan minuman.Bahkan Syaikh kami ini apabila selesai sholat shubuh dari masjid,beliau menyiapkan minuman ,kemudian memberikannya kepada Ibunya,atau terkadang mendinginkan minuman tersebut untuk ibunya.Semua ini dilakukan beliau dengan keadaan beliau yang buta matanya.Setelah itu beliau kembali ke masjid untuk menyampaikan kajian shubuh


[1] Usia Syeikh Abdurrahman bin Nasir Al-Barrak hafidzahullah saat ini 78 tahun.Beliau sudah menjadi yatim sejak balita,yakni saat umur setahun.Diusia 10 tahun beliau terkena penyakit dimatanya sehingga tidak bisa melihat sampai saat ini.Diantara guru beliau yang sangat berpengaruh adalah Al Allamah Asy Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, dimana lebih dari 50 tahun belajar dengan beliau rahimahullah.Syaikh Ibn Baz seringkali meminta beliau untuk masuk lembaga fatwa namun ditolaknya.Syaikh bin Baz pun ridho pada Syaikh Al Barrak untuk menggantikannya berfatwa di Darul Ifta di Riyadh di saat musim panas tatkala para mufti pindah tempat ke kota Thaif, Syaikh Nashir Al Barrak ini dengan malu memenuhinya,namun itu dilakukan hanya dua kali,setelah itu ditinggalkannya.Setelah wafat Syaikh Bin Baz, seringkali Syaikh Alu Syaikh mufti sekarang meminta dengan sangat agar beliau menjadi anggota lajnah ifta namun beliau keberatan untuk memutus pelajaran yang biasa beliau sampaikan di masjid.

Selasa, Januari 12, 2010

Sekelumit Kisah Kecekalan Syeikh Al-Albani

Perpustakaan Az-Zahiriyah dimana Syeikh Al-Albani banyak menghabiskan waktunya untuk menelaah kitab, terkadang di meja khususnya di antara pengunjung dan terkadang membaca buku di tangga-tangga perpustakaan. Dan menurut anak beliau, Abdul Latif, beliau sering lupa makan dihari itu.

Dalam sebuah kaset ceramah milik Syeikh Abu Ishaq Al-Huwainy yang berjudul “Ainal Ulama Ar-Rabbaniyun?”, beliau menceritakan tentang ujian yang pernah menimpa guru beliau Syeikh Al-Albani rahimahullah. Inilah cerita beliau:

Para ulama Rabbani dalam mengubah masyarakat itu sungguh berat, kerana mereka memiliki dua tanggungjawab besar, yakni :

  • Membersihkan khurafat yang tertanam di jiwa-jiwa manusia dan
  • Menancapkan Islam yang sahih pada jiwa mereka.

Dan tatkala para alim Rabbani memikul tanggungjawab yang berat sekali itu, merekapun juga diuji oleh berbagai tuduhan yang disebabkan dari pemelintiran ucapan mereka serta penyebaran berbagai berita dusta. Hampir-hampir tidak selamat seorangpun dari alim Rabbani dari hal seperti ini sebagaimana dicatat dalam sejarah.

Cukup sebagai contoh adalah Syeikh Nasiruddin Al-Albani, seorang ulama hadis abad ini rahimahullah taala.

Syeikh Al-Albani adalah orang yang sangat banyak sekali dinisbatkan kedustaan padanya, padahal tidak pernah beliau katakan. Kerana sebab kedustaan-kedustaan itulah beliau pernah dicekal di sejumlah negara. Maka tidaklah engkau lihat beliau memiliki suatu negeri ataupun tempat tinggal. Hidup beliau diakhir masa hidupnya sengsara sekali. Seorang alim semisal beliau terpaksa mengungsi. Kerana beliau berpendapat haramnya safar ke negeri kafir, maka beliau tidak pergi ke Amerika atau Perancis atau yang lainnya. Dan kalau tidak berpendapat demikian, mungkin beliau akan mendapatkan kebebasan besar di negara-negara tersebut.

Selama 6 bulan terkatung-katung nasibnya di perbatasan UEA! Beliau dilarang masuk ke sana! Juga dilarang memasuki Kuwait! Dan juga memasuki Saudi! Dilarang memasuki Suriyah. Lantas bagaimana beliau akan tinggal?

Dan tidaklah beliau bisa tinggal di Jordan saat itu kecuali dengan tazkiyah (rekomendasi) khusus dari salah seorang murid beliau, yakni Syeikh Muhammad bin Ibrahim Syaqrah, wakil kementrian waqaf sekaligus Imam Masjid Dar Ash Shofwah.

Syeikh Ibrahim Syaqrah ini kemudian menemui Raja Husain secara peribadi memintanya membolehkan Syeikh Nasiruddin Al-Albani tinggal di Jordan. Itupun dengan kesepakatan agar beliau tidak ditemui seorangpun saat itu. Dan juga mereka kemudian memaksa menulis di pintu rumah (vila) Syeikh Al-Albani dengan tulisan “Dilarang didatangi lebih dari dua orang!”. Jika ingin berjumpa harus melalui perjanjian melalui telefon.

Dan dihari-hari pertama mereka sangat mempersempit sekali kepada Syaikh Albani,akan tetapi dihari-hari belakangan mereka melupakannya hingga tidak ketat lagi dengan aturan-aturan ini.

Tatkala aku menemui Syeikh Al-Albani di Amman, beliau mengundang sejumlah relasi untuk makan dan kebetulan aku disana. Kami saat itu berjumlah 25 orang dan kukatakan pada syeikh: "Wahai Syaikh, bukankah ada semacam banner peringatan bahawa dilarang masuk lebih dari dua orang?” Syeikh Al-Albani berkata dengan cepat: "Mereka masuk dua orang dua orang saja!"

Beliau yang alim ini tidak mendapatkan baginya tempat yang nyaman. Sebelumnya mereka pun melarang durus beliau di Masjib Umar di Zurqa, hingga beliau tidak memiliki tempat untuk memberi pelajaran kepada talabul ilmi kecuali dirumah salah seorang mereka setelah solat isyak.

Saat diselenggarakan Muktamar Assunnah dan Sirah Nabawiyah di Mesir, mereka tidak mengundang Syeikh Al-Albani, padahal beliaulah orang paling besar saat itu jasanya kepada kaum muslimin di abad ini bagi sunnah dan sirah nabawiyah. Dan mereka tidak mengundang Syeikh Al-Albani misalnya dengan mengatakan: "Kemarilah akan kami muliakan engkau”, tidak ada salah satu anggota pertemuan itu yang berbicara demikian.

Adalah semisal mereka para ulama Rabbani ini, lihatlah muamalah kepada mereka! Bagaimana mungkin kaum muslimin bisa mendapatkan manfaat dengan ilmu mereka sedang mereka diusir diberbagai negeri!?. Bahkan yang lebih aneh lagi, sejumlah kitab-kitab ulama diberbagai perpustakaan dilarang, buku Tahzir As-Sajid, buku Hurmatut Tashwir karya Syeikh Al-Albani dan Syeikh bin Baz dan sejumlah ulama, Tahqiq Syarh At-Thahawiyah, mengapa wahai saudara-saudara kami? Mereka mengatakan bahawa ini kitab terlarang, Al-Azhar telah memutuskan bahawa kitab-kitab tersebut terlarang! Bagaimana bisa terlarang? Apakah kerana karya dan peneliian dari Al-Albani? Beginikah bermuamalah dengan ulama-ulama Rabbani?

Kamis, Januari 07, 2010

Syeikh Al-Albani Di Usia 84 tahun

Dalam kitab Sahih Mawarid Az-Zam’an ila Zawaid Ibnu Hibban (2087) dalam pembahasan hadis Abu Hurairah radiallahu ‘anhu dimana disebutkan bahawa Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam berkata:
أعمار أمتي ما بين الستين إلى السبيعين ، وأقلهم من يجوز ذلك

“Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, kecuali sedikit dari mereka yang usianya lebih dari itu”.

Ibnu Arafah mengulas hadis ini dengan berkata: "Saya termasuk yang sedikit tersebut". Syeikh Al-Albani turut mengulas atas ucapan ini dengan menuliskan dalam tahqiqnya, sebagai berikut:

Dan saya pun termasuk yang sedikit tersebut. Saat ini usiaku sudah mencapai 84 tahun. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Taala menjadikanku termasuk golongan orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.

Bersamaan dengan itu pula, sesungguhnya aku pun terkadang mengharapkan kematian, terlebih jika melihat kaum muslimin banyak menyimpang dari agamanya dan tertimpa kehinaan sehingga menjadi umat yang direndahkan. Akan tetapi terlarang berharap demikian,dan hadist Anas masih aku ingat sejak aku masih muda. Maka tidaklah bagiku kecuali mengatakan apa yang diperintahkan Nabi padaku salallahu ‘alaihi wasalam :

اللهم أحيني ما كانت الحياة خيرا لي وتوفني إذا كانت الوفاة خيرا لي

“Ya Allah hidupkan aku selama kehidupanku lebih baik bagiku dan wafatkanlah aku jikalau kematian itu baik bagiku.”

Serta berdoa dengan apa yang diajarkan kepadaku oleh Nabi ‘alaihi solatu wasalam:

اللهم متعنا بأسماعنا وأبصارنا وقوتنا ما أحييتنا ، واجعلها الوارث منا

“Ya Allah jadikan pendengaran dan penglihatanku senantiasa sihat dan kuatkanlah seluruh anggota badanku, kemudian jadikanlah itu semua tetap seperti itu hingga tibanya kematian”.

Dan Allah Subhanahu wa Taala telah mengabulkan doa ini padaku dan sungguh aku dapat menikmati itu semua (isi doa diatas). Inilah saya yang sampai usia sekarang ini masih giat membahas dan meneliti serta menulis dengan giat, saya pun solat sunnah dengan berdiri, saya juga membawa kenderaan sendiri dalam perjalanan yang jauh, juga membawa dengan “ngebut” sampai-sampai sebahagian pelajar sering menyarankanku untuk tidak berbuat demikian. Menurut saya dalam masalah membawa kenderaan dengan laju ini perlu dirinci hukumnya sebagaimana juga telah diketahui oleh mereka. Saya ceritakan demikian ini sebagai wujud dari firman Allah:

“Dan terhadap nikmat Rabbmu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya” (Ad-Dhuha ayat 11)

Dengan senantiasa berharap agar Allah Subhanahu wa Taala menambahkan kurnianya kepadaku dan menjadikan nikmat ini tidak dicabut hingga kematian tiba, serta mewafatkanku sebagai muslim diatas sunnah yang aku telah bernazar untuk itu kehidupanku adalah dakwah dan menulis. Juga semoga Allah mengumpulkanku kelak dengan para syuhada dan orang-orang soleh sebagai sebaik-baik teman. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi menjawab doa.

Senin, Januari 04, 2010

Kemuliaan Jenazah Para Ulama'

Jenazah Imam Ahmad bin Hanbal

Pada hari wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal, tak sedikit mereka yang turut menghantar jenazah beliau sampai beratusan ribu orang. Ada yang mengatakan 700 ribu orang, ada pula yang mengatakan 800 ribu orang, bahkan ada yang mengatakan sampai satu juta lebih orang yang menghadirinya.

Semuanya menunjukkan bahawa sangat banyaknya mereka yang hadir pada saat itu demi menujukkan penghormatan dan kecintaan mereka kepada beliau. Beliau pernah berkata ketika masih sihat, "Katakan kepada ahlu bid'ah bahawa perbezaan antara kami dan kalian adalah (tampak pada) hari kematian kami."

Jenazah Imam Bukhari

Ghalib bin Jibril berkata: “Kami telah menunaikan pesanannya (Imam Bukhari), sudah mengafaninya, kemudian menyolatkannya, barulah kami memasukkannya ke dalam liang lahad. Sejurus itu terdapat bau yang amat wangi seperti ‘Misk’ terbesar dari tanah perkuburannya dan ia berterusan beberapa hari.”

Jenazah Tok Kenali

Di tengah-tengah suasana yang sepi, berduyun-duyun manusia yang berwajah sebam, hampir semuanya berkopiah, berserban dan bersongkok telah memasuki saf untuk mensolatkan jenazah Tok Kenali. Mereka kelihatan penuh khusyuk dan insaf.

Bersaf-saf orang mengangkat takbir, susul-menyusul. Alim ulama, guru-guru dan murid serta orang kampong tua-muda datang bersolat tanpa meminta upah dan habuan, demi untuk kebahagiaan roh Tok Kenali buat selama-lamanya. Orang-orang besar dan berpangkat dari ibukota, tidak juga ketinggalan.

Hari wafatnya dilawati oleh tidak kurang daripada 2,500 orang dan jenazahnya disolatkan lebih 1,000 orang yang ikhlas kepada Allah.

Tok Kenali wafat pada 19 November 1933 M

Jenazah Badiuzzaman Said Nursi

Pertama kali berita duka wafatnya Badiuzzaman Said Nursi, tersebar di Urfah dan tidak lama kemudian masyarakat kota ini tampak berhimpun di sekitar hotel. Kemudian berita ini tersebar di bandar-bandar Turki yang lain. Masyarakat luas dari luar Urfah berdatangan sehingga kota ini seketika menjadi lautan manusia yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada pahlawannya.

Jenazah Said Nursi dipikul para murid dan orang-orang yang mencintainya dengan diiringkan oleh puluhan ribu penghantar jenazah dan dengan disertai hujan yang turun rintik-rintik untuk dikebumikan di pemakaman Ulu Jami.

Said Nursi wafat pada 23 Mac 1960.

Jenazah Syeikh Mutawalli Sya'rawi

Umat Islam ketika itu terkejut dan tersentak apabila seorang Imam yang memperjuangkan Islam sehingga digelar sebagai "Lampu Kebenaran" telah wafat ketika berumur 87 tahun. Iaitu Syeikh Mutawalli Sya'rawi.

Jenazah beliau telah dikebumikan di kampungnya iaitu Doqdus berdasarkan wasiat beliau sendiri. Jenazahnya telah dibawa oleh anak-anak muridnya, penduduk kampung serta semua pencinta beliau. Hampir sejuta orang telah menghadiri pengkebumian beliau.

Syeikh Sya'rawi wafat pada 17 Jun 1998.

Jenazah Syeikh Abdul Aziz bin Baz

Pada hari wafatnya Syeikh Abdul Aziz bin Baz, seramai 50,000 orang telah menghadiri upacara pengkebumian beliau. Semoga Allah SWT merahmati beliau. Amin.

Syeikh Abdul Aziz wafat pada 13 Mei 1999.

Jenazah Syeikh Al-Albani

Sesaat setelah wafatnya Syeikh Al-Albani, jenazah beliau dipersiapkan untuk segera dimakamkan sesuai dengan amanatnya dalam surat wasiat yang telah ditulisnya sejak sepuluh tahun sebelum wafatnya.

Selepas solat isyak pada malam itu juga, jenazah beliau disolatkan oleh kurang lima ribu orang, diimami oleh Syeikh Muhammad Ibrahim Syuqrah kemudian dengan berjalan kaki, mereka membawa jenazahnya untuk dimakamkan di pemakaman terdekat.

Syeikh Al-Albani wafat pada 2 Oktober 1999.

Jenazah Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pada hari wafatnya Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, seramai 500,000 orang telah menghadiri upacara pengkebumian beliau. Semoga Allah SWT merahmati beliau. Amin.

Syeikh Muhammad wafat pada 10 Januari 2001.

Jenazah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki

Pada hari wafatnya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, hampir 300,000 manusia membanjiri upacara pengebumiannya. Semua orang menangis dan sangat bersedih. Ia merupakan satu situasi yang tidak dapat dilupakan. Allahu Akbar.

Terdapat sekurang-kurangnya 500 orang tentera diperintah oleh kerajaan Arab Saudi di perkuburan Ma’ala untuk mengawal ribuan orang yang menangisinya. Kerabat diraja juga turut hadir. Para manusia menempikkan Kalimah dengan kuat sepanjang uapcara pengebumian beliau, memenuhi Makkah dari Masjidil Haram sehingga ke tanah perkuburan.

Sayyid Muhammad wafat pada 29 Oktober 2004.

M.A.Uswah,
5 Januari 2010,
Sandakan.

Dikemaskini semula dari:
Lembaran Hidup Ulama' karyaku dan tambahan lainnya.





Sabtu, Januari 02, 2010

Candanya Para Ulama' (Syeikh Al-Albani, Syeikh Ibnu Baz & Syeikh Ibnu Utsaimin)

1. Ada seorang pemuda penuntut ilmu pernah naik kenderaan bersama Syeikh Al-Abani rahimahullah. Syeikh Al-Abani membawa kenderaannya dengan kelajuan yang tinggi. Melihatnya, maka pemuda itupun menegur: "Wahai syeikh, ini namanya ‘ngebut’ dan hukumnya tidak boleh. “Syeikh Ibnu Baz mengatakan bahawa hal ini termasuk menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Mendengarnya, Syeikh Al-Albani rahimahullah tertawa lalu berkata: "Ini adalah fatwa seseorang yang tidak merasakan nikmatnya membawa kenderaan!.” Pemuda itu berkata: “Syeikh, akan saya laporkan hal ini kepada Syeikh Abdul Aziz bin Baz.” Jawab Syeikh Al-Abani: ”Silakan, laporkan saja.”

Pemuda itu melanjutkan ceritanya: “Suatu saat, saya bertemu dengan Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah di Makkah maka saya laporkan dialog saya dengan Syeikh Al-Abani rahimahullah tersebut kepada beliau. Mendengarnya, beliau juga tertawa seraya berkata: ‘Katakan padanya: "Ini adalah fatwa seseorang yang belum merasakan enaknya terkena denda!” (Al-Imam Ibnu Baz, Abdul Aziz as-Shadan hlm.73)

2. Diceritakan bahawa suatu ketika Raja Khalid rahimahullah mengunjungi rumah Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, sebagaimana kebiasaan para raja sebagai sikap menghormati dan memuliakan para ulama. Dan ketika sang Raja melihat rumah syeikh yang sangat sederhana maka raja menawarkan kepada syeikh untuk
dibangunkan sebuah rumah untuk beliau, syeikh berterima kasih dan berkata: "Saya sedang membangun rumah di daerah As-Salihiyah (wilayah Unaizah, Qasim), bagaimanapun masjidnya dan panti sosialnya membutuhkan
bantuan (dana)”

Maka setelah sang Raja pergi, beberapa orang yang ikut dalam pertemuan itu berkata: “Wahai syeikh, kami tidak mengetahui kalau anda sedang membangun rumah di As-Salihiyah?”

Maka syeikh menjawab: “Bukankah pekuburan ada di As-Salihiyah?”

(Ad-Dur Ath-Thamin Fi Tarjamti Faqihil Ummah Al-Allamah Ibn Utsaimin – p.218)

3. Ada salah seorang suami dari cucu Syeikh Ibnu Baz menemui beliau dan berkata, “Wahai Syeikh, kami ingin agar engkau mengunjungi dan makan di rumah kami”. Jawapan beliau, “Tidak masalah, jika engkau menikah untuk kedua kalinya maka kami akan datang ke acara walimah insya Allah”.

Setelah pulang, orang ini bercerita kepada isterinya tentang apa yang dikatakan oleh datuknya. Kontan saja cucu perempuan dari Syeikh Ibnu Baz buru-buru menelefon datuknya. “Wahai Syeikh, apa maksudnya?”. Ibnu Baz berkata kepada cucunya, “Kami hanya guyon dengan dia. Kami tidak mengharuskannya untuk nikah lagi. Kami akan berkunjung ke rumahmu meski tidak ada acara pernikahan”. (www.ustadzaris.com)

4. Abdullah bin Ali Al-Matawwu’ menceritakan bahawa dia menemani Syeikh Ibnu Utsaimin (dari Unaizah) menuju Al-Bada-i yang jaraknya 15 km dari Unaizah untuk memenuhi undangan makan pagi.

Setelah makan pagi, ketika mereka dalam perjalanan pulang mereka melihat seorang dengan janggut berwarna merah (mungkin dicelup dengan hinna) dengan wajah tenang melambaikan tangan (mencari tumpangan).

Syeikh berkata: “Perlahanlah! Kita akan mengajaknya bersama kita”

Maka syeikh berkata kepada orang itu: “Engkau mahu kemana?”

Orang itu menjawab: “Ajak aku bersama kalian ke Unaizah”

Syeikh berkata: “Dengan dua syarat, pertama engkau tidak boleh merokok, kedua engkau harus mengingat Allah”

Orang itu menjawab: “Masalah rokok, aku tidak merokok, walaupun tadi aku menumpang seseorang yang merokok dan (kerana itu) aku minta diturunkan disini dan tentang mengingat Allah maka tidak ada muslim kecuali diamengingat Allah”

Maka orang itu naik ke kenderaan.

(Terlihat jelas sepanjang perjalanan bahwa) orang itu tidak menyedari kalau dia sedang bersama Syeikh Ibnu Utsaimin. Ketika tiba di Unaizah orang itu berkata: "Tunjukkan padaku rumah Syeikh Ibnu Utsaimin, kerana aku punya pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada beliau.”

Maka Syeikh berkata:”Kenapa tidak engkau tanyakan pada beliau ketika engkau bertemu dengan beliau di Al-Bada-i?”

Orang itu berkata: "Aku tidak bertemu dengan beliau”

Syeikh berkata: "Aku melihat sendiri engkau berbicara dengan beliau dan memberi salam kepadanya”

Orang itu berkata: "Engkau mempermainkan orang yang lebih tua dari orang tuamu!”

Syeikh tersenyum dan berkata kepadanya:”Solat Asarlah di masjid ini (Jami’ Unaizah) nanti engkau akan melihat beliau”

Orang itu pergi tanpa mengetahui bahawa tadi dia sedang berbicara dengan Syeikh Ibnu Utsaimin sendiri.

Setelah dia selesai solat Ashr, orang itu melihat syeikh didepan selesai mengimami solat jamaah, maka dia bertanya (pada orang lain) tentang beliau dan diberitahukan kepadanya bahawa syeikh itu adalah Syeikh Ibnu Utsaimin. Maka orang itu mendekati syeikh dan meminta maaf kerana tidak mengenali beliau tadi (diperjalanan), kemudian dia menyampaikan pertanyaannya. Syeikh pun menjawab pertanyannya dan orang itu mulai menangis memohon kepada syeikh.

(Al-Jami’ li Hayaat Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.38)

5. Jika ada seorang yang berkunjung ke rumah Syeikh Ibnu Baz rahimahullah, maka beliau pasti menawari orang tersebut untuk turut makan malam bersama beliau. Jika orang tersebut beralasan, “Wahai syeikh, saya tidak bisa” maka dengan nama berkelakar Ibnu Baz berkata, “Engkau takut dengan isterimu ya?! Marilah makan malam bersama kami”. (www.ustadzaris.com)

6. Dalam pelajaran fiqh, ketika membahas tentang cacat di dalam pernikahan, seorang murid bertanya kepada Syeikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah : “Wahai syeikh, bagaimana seandainya ada seorang lelaki menikah, ternyata setelah itu diketahui isterinya tidak punya gigi, bolehkah dia mencerainya?”

Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab : “Itu isteri yang sangat istimewa! Kerana dia tidak muungkin dapat menggigitmu!” (Majalah al-Furqon)

7. Ketika Syeikh Ibnu Baz rahimahullah hendak rakaman untuk acara Nurun ‘ala Darb (acara tanya jawab di radio al-Quran al-Karim di Saudi), biasanya beliau melepaskan kain serbannya dan dengan nada canda beliau berkata, “Siapa yang mahu memikul amanah?”. Jika ada salah seorang yang ada di tempat tersebut mengatakan, “Saya” maka beliau berkata, “Silakan ambil”. (www.ustadzaris.com)

8. Seseorang bertanya kepada Syeikh Utsaimin rahimahullah: “Ada sebuah hadis mengatakan : ‘Tidak ada pertaruhan dalam perlumbaan kecuali lumba panah atau unta atau kuda’. Apa pendapat anda mengenai orang yang menyelenggarakan lumba untuk ayam dan merpati?”

Beliau menjawab: “Wallahi- Ya akhi- Rasulullah salallahu ‘alaihi wasalam berkata “Tidak ada pertaruhan dalam perlumbaan kecuali lumba panah atau onta atau kuda”.”As-Sabaq” disini bermakna “Al-’audh”(mengganti). Kerana hal-hal ini membantu dalam kondisi peperangan. Kerana ada faedah (manfaat) darinya. Pembuat syariat membolehkan berlumba pada hal tersebut. Apabila ayammu bisa membantumu dalam peperangan bisa kau tunggani, meninju (melompat) dan menggali... maka tidak mengapa, jika tidak maka jangan…”
(Liqo Bab Al-Maftuh pertanyaan ketiga, kaset No.200)

9. Seseorang bertanya kepada Syeikh Utsaimin rahimahullah: “Apa hukum menggantungkan doa-doa di kenderaan seperti doa menaiki kendaraan atau safar dan lain sebagainya. Apa jawapan bagi yang berkata bahawa hal tersebut termasuk tamimah?”

Beliau menjawab: “Termasuk tamimah (jimat)? Saya katakan terhadap orang yang berkata bahawa hal ini tergolong tamimah: Sungguh telah benar, apabila kenderaannya sakit! Digantungkan doa-doa ini di mobilnya bukan di penumpangnya dan diletakkan di mobilnya juga baik kerana bisa mengingatkan penumpang dengan doa menaiki kendaraan. Atau dengan doa safar. Semua yang bisa membantu kebaikan maka hal itu baik.Saya tidak memandang menggantungknnya tidak boleh. Ini bukan termasuk tamimah kecuali sebagaimana saya katakan tadi : Jika mobilnya sedang sakit, kemudian digantungkannya doa-doa ini kemudian sembuh dengan izin Allah!! Oleh kerananya perkara ini baik-baik saja!

(Liqo As-Syahri, kaset No.9 Side B)

10. Diceritakan oleh Ihsan bin Muhammad Al-Utaybi: Setelah selesai solat di Masjidil Haram al-Makki, Syeikh Ibnu Utsaimin meninggalkan al-Haram untuk pergi ke suatu tempat dengan mobil, maka beliau menghentikan sebuah teksi dan menaikinya. Dalam perjalanan, sang pemandu ingin berkenalan dengan penumpangnya, maka dia menanyakan:”(Nama) anda siapa wahai syeikh?”

Syeikh menjawab:”Muhammad bin Utsaimin”

Dengan terkejut sang pemandu bertanya:”Syeikh Ibnu Utsaimin?” kerana mengira syeikh berbohong kepadanya, sebab dia tidak menyangka seorang seperti syeikh Ibnu Utsaimin akan menjadi penumpang teksinya.

Maka syeikh menjawab:”Ya, Asy-Syeikh”

Pemandu teksi memusing kepalanya untuk melihat wajah Asy-Syeikh al-Utsaimin.

Syeikh pun bertanya: "Siapakah (nama) kamu wahai saudaraku?”

Pemandu itu menjawab: "Saya Asy-Syeikh Abdul Aziz bin Baz!”

Syeikh pun tertawa dan menanyakan: "Engkau Syeikh Abdul Aziz bin Baz?!”

Pemandu teksi itu menjawab: "Ya, seperti anda Syeikh Ibnu Utsaimin”

Lalu syeikh berkata: "Tapi kan Syeikh Abdul`Aziz bin Baz buta dan beliau
tidak membawa mobil”

Seketika itu sang pemandu teksi mulai menyedari bahawa penumpang yang duduk disebelahnya benar-benar Syeikh Ibnu Utsaimin. Dan sungguh kacau apa yang dia hadapi sekarang (salah tingkah).

(Safahat Musyiqah min Hayaatil Imam Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – p.79
Ref:Al-Madinah ((Ar-Risalah)), no: 13788)

11. Diceritakan oleh Abu Khalid Abdul Karim Al-Miqrin: Ketika di studio sedang melakukan rakaman acara “Pertanyaan melalui Telefon”, seorang saudara bernama Sa’d Khamis selalu berkata kepada Syeikh Ibnu Utsaimin setiap kali selesai sesi rakaman: "Jazakallahu khairan wahai syeikh, (dan semoga) Allah mengasihi kedua orang tua anda”

(Pada kesempatan kali ini) Syeikh berkata: "Amin ya Sa’d dan untukku?”

Maka Sa’d barkata (lagi): "Semoga Allah mengasihi kedua orang tuamu”

Dan syeikh menjawab (lagi): "Amin dan untukku?”

Kemudian Sa’d Khamis menyedari apa yang dimaksud (oleh perkataan syeikh), maka dia berkata:”Semoga Allah mengasihi anda dan semoga Allah mengasihi kedua orang tua anda dan semoga Allah membalas kebaikan anda dengan sebaik-baik balasan”

Maka syeikh pun tersenyum lalu tertawa dan kita semuapun tertawa.

(Arba'ah 'asyar'aam ma'a Samahatil-Allamah Asy-Syeikh Ibnu Utsaimin – p.63)

Diterjemahkan dari bahasa Indonesia:
http://alqiyamah.wordpress.com/2009/12/18/candanya-para-ulama-syaikh-al-albani-syaikh-ibn-baz-syaikh-ibn-utsaimin-rahimahumullah

M.A.Uswah,
3 Januari 2010,
Sandakan.

Jumat, November 27, 2009

Salam Aidiladha 1430H: Koleksi Kisah Ulama Menunaikan Haji

Salam Aidiladha 1430H buat seluruh kaum muslimin dan muslimat dan juga kepada pengunjung setia blog ini. Ikutilah sunnah dalam berkorban, ingatilah para pejuang Islam yang telah banyak berkorban dan ingatilah saudara semuslim kita di Palestin dan Patani yang setiap masa menjadi mangsa korban dan dalam keadaan tidak ketenteraman. Di sini, saya ingin menghimpunkan semula koleksi kisah-kisah ulama yang menunaikan haji dari entri-entri saya terdahulu yang tersimpan di arkib. Moga ada manfaatnya. Sama-sama kita hayati kembali kisah-kisah mereka yang soleh.

Imam Ahmad bin Hanbal dan Syeikh Al-Albani


Imam Ahmad bin Hanbal telah mengerjakan haji sebanyak lima kali, tiga kali dengan berjalan kaki, beliau membelanja pada tiap-tiap kali hanya sebanyak tiga puluh dirham sahaja.

Syeikh Al-Albani pula telah mengerjakan haji lebih dari tiga puluh kali. Beliau selalu melaksanakan umrah dan haji setiap tahun jika mampu. Boleh jadi beliau melaksanakan umrah dalam setahun dua kali. Ibadah hajinya yang terakhir dilakukan pada tahun 1410H.

Syeikh Samir bin Amin az-Zuhairi mengatakan: Berkat kurnia Allah SWT, aku menemani beliau dalam menunaikan hajinya yang terakhir ini.

Di hari Arafah, aku mendatanginya sesudah matahari tergelincir, ketika itu beliau sedang berdoa, lalu aku katakan padanya: "Wahai syeikh kami! Ini adalah puteraku, aku sangat senang jika syeikh mendoakannya." Beliaupun mendoakannya dan aku sangat berharap doa beliau terkabul (semoga Allah SWT merahmatinya dengan rahmat yang luas).

Abdullah bin Mubarak dan Seorang Lelaki

Abdullah bin Mubarak turut mengerjakan haji pada suatu musim haji. Dia telah tertidur di Masjidil Haram lalu bermimpi. Dalam mimpinya itu, telah turun dua malaikat. Mereka mengisahkan bahawa pada tahun itu seramai enam ratus ribu orang telah mengerjakan haji, tetapi tidak seorang pun diterima haji mereka.

Namun ada seorang lelaki yang tidak mengerjakan haji tetapi disebabkan berkatnya, menyebabkan semua orang yang mengerjakan haji itu diterima hajinya. Lelaki itu bernama Muwaffaq, seorang tukang kasut yang tinggal di Damsyik.

Setelah terjaga dari tidurnya, Abdullah lalu pergi ke Damsyik untuk mencari lelaki itu. Setelah bertemu dan memperkenalkan dirinya, Abdullah lalu bertanya apakah amalan yang telah dilakukannya sehingga dia mendapat darjat yang begitu tinggi.

Muwaffaq pun menceritakan bahawa dia telah mengumpulkan wang hasil dari pekerjaannya. Jadi dia berhasrat untuk menunaikan haji. Suatu hari, isterinya yang sedang hanil telah terhidu bau masakan jirannya. Dia teramat ingin untuk merasai masakan tersebut.

Muwaffaq pun pergi ke rumah jirannya dan memberi tahu keinginan isterinya itu. Jirannya dengan sedih memberitahu rahsia yang sebenarnya. Dia bersama anak-anaknya yang yatim sudah tiga hari tidak makan. Jadi dia pun keluar mencari rezeki. Akhirnya dia telah bertemu dengan bangkai himar. Dia lantas mengambil sebahagian dagingnya lalu membawa pulang ke rumah untuk dimasak.

Jelas wanita itu lagi, makanan itu halal bagi mereka tetapi haram buat Muwaffaq. Muwaffaq berasa kasihan mendengar penjelasan jirannya itu. Dia terus pulang ke rumah dan mengambil wang yang dikumpulnya selama ini. Wang itu lalu diberikan kepada jirannya sebagai perbelanjaan buat anak-anaknya yang yatim.

Sebab itulah dia tidak dapat menunaikan haji pada tahun itu. Disebabkan keikhlasan membantu jirannya, Allah SWT mengurniakan ganjaran pahala haji kepadanya. Muwaffaq menyatakan lagi bahawa sebenarnya hajinya berada di depan pintu rumahnya.

Ahmad Al-Syarisyi, Izin Untuk Naik Haji

Ahmad Al-Syarisyi seorang ulama sufi dari Sepanyol wafat pada tahun 608 Hijrah. Beliau sempat bertemu dengan Ibnu Arabi dan bahkan wafat ketika sedang bersama-sama cendikiawan besar Islam tersebut di Syu'b.

Sejak dalam usia kanak-kanak lagi, Ahmad Al-Syarisyi sudah rajin mengerjakan ibadah. Hal ini terjadi kerana berkat asuhan dan didikan Syeikh Abu Ahmad bin Saidabun yang menjaganya sejak kecil. Ketika berusia sepuluh tahun, Al-Syarisyi telah mengalami hub (mabuk cinta kepada Allah) yang diliputi oleh keadaan rohani yang sangat tinggi sehingga pengsan dan jatuh ke dalam api. Akan tetapi sedikit pun api tersebut tidak mencederakan badannya. Keadaan seperti itu seringkali terjadi pada dirinya.

"Apakah engkau sedar pada saat-saat terjatuh ke dalam api dan pengsan itu?" tanya Ibnu Arabi pada suatu hari.

"Tidak, aku tidak menyedarinya." jawabnya.

Suatu hari Ahmad Al-Syarisyi minta izin kepada ayahnya untuk mengerjakan haji ke tanah suci Makkah, tapi ayahnya agak keberatan.

"Wahai anakku, aku ini ayahmu dan menginginkan agar engkau selalu berada di sampingku. Tapi sekarang engkau akan pergi meninggalkanku. Pergilah." kata ayahnya seperti kecewa.

Al-Syarisyi faham bahawa ayahnya agak sukar untuk melepaskannya, semata-mata kerana tidak ingin berenggang dengan anak kesayangannya.

"Wahai ayahku. Kalau ayah mahu menjawab pertanyaanku dengan berterus terang, aku akan mematuhi segala arahanmu." kata Al-Syarisyi.

"Pertanyaan apa itu?" tanya ayahnya.

"Pada saat ayah berkumpul dengan ibuku, apakah ayah menghendaki kehadiranku ke dunia ini?"

"Tidak wahai anakku. Ayah melakukannya kerana hanya ingin memuaskan nafsu saja." jawab ayahnya.

"Allahu Akbar. Dialah yang menciptakan diriku, Dia jugalah yang memanggilku agar pergi ke rumah suciNya. Jadi, kerana aku sekarang sudah sanggup melakukannya, tidak ada alasan bagiku untuk menangguhkan perjalananku ke sana. Sebab kehadiranku ke dunia ini bukan anugerah yang ayah berikan, melainkan anugerahNya yang menciptakan diriku untuk mengabdi kepadaNya."

Mendengar jawapan itu, menangislah ayah Al-Syarisyi yang juga orang soleh dan banyak beribadah. Maka dia pun merestui anaknya untuk pergi ke tanah suci Makkah dengan tulus ikhlas.

Rabu, November 04, 2009

Kisah Firasat Para Ulama

~ Diceritakan pada suatu ketika, dua ulama besar imam mazhab iaitu Imam Syafie dan gurunya Imam Malik sedang berbincang apabila terlihat seorang lelaki masuk ke dalam masjid. Lalu seorang daripada mereka mencadangkan masing-masing mencuba kebolehan dengan meneka pekerjaan lelaki itu.

Imam Syafie dan Imam Malik kemudian membuat taakulan mengenai pekerjaan lelaki itu berdasarkan pelbagai pemerhatian terhadap jasad, pakaian dan sebagainya. “Peniaga,” jawab Imam Syafie. “Tukang besi,” jawab Imam Malik sekali gus meningkah jawapan anak muridnya.

Bagi memastikan tekaan siapa yang benar, mereka berdua bertanya terus kepada lelaki itu sebaik dia keluar dari masjid. Lelaki itu memberitahu dia bekerja sebagai peniaga sekali gus membenarkan taakulan Imam Syafie. Bagaimanapun Imam Malik terus bertanyakan soalan kedua: “Apa pekerjaan kamu sebelum kamu menjadi peniaga?” “Tukang besi,” jawab lelaki itu sekali gus membenarkan juga taakulan Imam Malik.

Kisah itu membuktikan kedua-dua imam besar itu adalah ahli firasat dan ilmu itu sudah lama wujud di dunia ini.

~ Suatu hari Imam Abu Hanifah sedang duduk di dalam masjid, tiba-tiba datang seorang lelaki berjalan di hadapan beliau.

“Lelaki ini orang asing, di dalam bajunya ada gula-gula dan dia adalah seorang guru kepada kanak-kanak.” kata Imam Abu Hanifah.

Seorang teman beliau yang kebetulan ada di situ ingin tahu kesahihan tekaan itu. Maka dengan senyap-senyap, dia mengikuti gerak-geri si lelaki dan diikutinya ke mana perginya. Ternyata betul, lelaki itu memang orang asing, di dalam bajunya ada menyimpan gula-gula dan seorang guru kanak-kanak.

~ Seorang lelaki yang dulunya pandai baca al-Quran bertanya kepada sebahagian ulama, lalu mereka berkata kepadanya, “Duduklah, sebab aku mencium dari ucapanmu bau ‘kekufuran’.” Tak berapa lama setelah itu, orang tersebut muncul lagi, tapi sudah masuk agama Nasrani, wal ‘iyaazu billah. Lalu ia ditanya, “Adakah ayat al-Quran yang masih kamu hafal?.” a menjawab, “Aku tidak hafal kecuali satu ayat saja, ‘Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim." (al-Hijr: 2)

~ Abu Said al-Kharraz berkata, “Di Masjidil Haram, Makkah, aku melihat seorang lelaki miskin yang tidak memiliki apa-apa dan hanya mengenakan pakaian yang menutup auratnya saja. Kerana keadaannya itu, aku menghindarinya dan diriku jijik terhadapnya. Lalu ia memfirastiku seraya melantunkan firman Allah, “Dan ketahuilah bahawasanya Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya.” (al-Baqarah: 235)

Maka aku pun menyesali atas sikapku tersebut dan memohon ampun kepada Allah. Lalu dia melantunkan ayat lagi, “Dan Dialah Yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan…” (asy-Syura: 25)

Sifat Pemurah Imam Abu Hanifah

Sifat pemurah Imam Abu Hanifah tersebar begitu luas, terutamanya di kalangan teman-temannya. Suatu hari seorang temannya datang ke kedainya. Sambil melihat kain-kain yang tersusun rapi di kedai tersebut dia berkata :

"Saya memerlukan sehelai baju bulu, wahai Abu Hanifah," Sambil tersenyum Abu Hanifah bertanya: Warna apa yang kamu inginkan?

Temannya menjawab: "Warnanya...."

"Tungguhlah hingga saya memperolehinya dan saya akan bawakan kepadamu,: jawab Abu Hanifah sambil tersenyum.

Apabila hari Jumaat, baju yang dipesan pun tiba. Lantas baju ini dibawa kepada temannya. Sambil mengeluarkan kain bulu tersebut Abu Hanifah berkata :"Saya telah menerima pesanan yang engkau perlukan."

Dengan wajah yang girang, temannya bertanya:"Berapakah harganya?"

"Satu dirham."jawab Abu Hanifah

"Satu Dirham?!" balas temannya dengan terkejut.

"Ya.",tegas Abu Hanifah.

Temannya merasa tidak percaya dengan kata-kata Abu Hanifah:"Apakah engkau bergurau, wahai Abu Hanifah."

Abu Hanifah menguntum senyum seraya berkata:"Saya tidak bergurau. Saya beli baju ini bersama satu lagi baju dengan harga 20 dinar emas dan satu dirham perak. Sehelai saya telah jual dengan harga 20 dinar emas dan tinggal yang ini saya jual dengan satu dirham. Saya tidak mahu ambil untung daripada teman saya."

Minggu, Agustus 23, 2009

Bersama Orang Soleh Di Bulan Ramadhan

Para sahabat, tabiin dan orang-orang soleh lainnya benar-benar mengetahui hikmah dari disyariatkannya puasa Ramadhan. Mereka meyakini, Allah tidaklah mensyariatkan puasa Ramadhan dengan sia-sia. Puasa Ramadhan tidak hanya sekadar meninggalkan kebiasaan makan dan minum saja. Tapi lebih dari itu, puasa disyariatkan guna mengingatkan manusia bahawa mereka memiliki Ilah yang harus diibadahi.

Segala praktik yang dilakukan para salafus soleh adalah praktik ibadah demi menggapai redha Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, "Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat pada Ramadhan, mereka berharap Ramadhan sepanjang tahun."

Pada bulan ini, Allah SWT memberikan berbagai keistimewaan yang tidak diberikan di bulan - bulan lain. Bayangkan, betapa Allah memuji bau mulut orang yang sedang shaum dengan menyatakannya lebih harum dari wewngian kasturi. Itu baru bau mulut saja, belum lagi praktik - praktik ibadah lainnya semisal membaca Al-Qur'an dan qiyaamullail.

Para sahabat menjadikan Ramadhan sebagai salah satu representasi kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Sungguh menarik apa yang dilakukan para sahabat dalam menata kehidupannya setiap tahun.

Setiap puasa Ramadhan, Abu Hurairah ra dan para sahabat lainnya lebih banyak berdiam diri di masjid. "Kami menjaga puasa kami," begitu kata mereka. Selain itu, para salafush shalih senantiasa berhati-hati dalam berbicara. Di luar Ramadhan saja, mereka selalu berkata dengan perkataan baik, apalagi ketika Ramadhan. Pasalnya, rasulullah saw mewanti-wanti agar menjaga ucapan.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, "Semua amalan anak-anak Adam untuknya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, 'Aku sedang berpuasa'. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wangi kasturi, orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya." (Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini milik Bukhari).

Dan di antara amalan-amalan ibadah yang utama dan dilakukan salafush shalih adalah qiyaamullail. Diriwayatkan, Abu Bakar ash-Shiddiq senantiasa melaksanakan shalat di malam hari dengan khusyuk dan sampai meneteskan air mata. Sementara Umar bin Khattab, setelah melakukan shalat malam, beliau membangunkan keluarganya untuk shalat malam sembari menyitir ayat al-Qur'an di surat Thaha ayat 132 yang berbunyi, "Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberikan rizki kepadamu.Dan akibat itu adalah bagi orang yang bertakwa."

Begitu pula halnya dengan Manshur bin al-Mu'tamir. Jika malam yang semakin larut menjelang, dia langsung mengenakan pakaian terbaiknya lalu naik ke atap rumahnya, dan shalat. Tak ketinggalan juga Sufyan ats-Tsauri. Abdul Razaq, salah seorang muridnya, menceritakan, "Suatu saat, Sufyan ats-Tsauri mendatangiku selepas Isya, lalu aku menghidangkan makanan malam yang meliputi kismis dan pisang. Setelah selesai, ia bangkit untuk berwudhu lalu mengencangkan ikat pinggangnya dan menghadap kiblat. Lalu dia berkata, "Wahai Abdul Razaq! Beri makan keledai." Selanjutnya dia meluruskan kakinya dan shalat hingga waktu subuh menjelang."

Ibnu Wahab memiliki cerita lain lagi. Dia menceritakan, "Aku melihat Sufyan ats-Tsauri di Masjidil Haram selepas Maghrib. Dia melaksanakan shalat dan bersujud. Dia tidak mengangkat kepalanya sampai menjelang waktu Shalat Isya."

Meski tidur bernilai ibadah, para ulama justru mengekang keinginannya untuk mengatupkan mata. Itulah yang dilakukan oleh wanita salafus shalih, Mu'adzah al-'Adawiyah, yang senantiasa melakukan shalat malam, mengatakan, "Aku heran dengan mata-mata yang terpejam. Selama tertidur, aku membayangkan gelapnya kuburan, aku selalu menangis."

Ibnu Qayyim al-Jauziyah malah memberikan peringatan kepada kita tentang waktu tidur yang tidak disukai Allah. "Di antara tidur yang tidak di sukai adalah tidur di antara Subuh dan matahari terbit, karena ia merupakan waktu untuk memperoleh hasil."

Dari Abu Umamah ra diriwayatkan, Rasulullah mengajarkan kepada kita, "Barangsiapa shalat Subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, lalu ia mendirikan shalat dua rakaat, maka seakan-akan ia mendapatkan pahala haji dan umrah dengan sempurna."

Lalu, kapan waktu tidur? Imam al Ghazali memiliki tips yang sangat luar biasa memanfaatkan waktu untuk tidur dan mengumpulkan tenaga. Tidur dan istirahatlah menjelang shalat dzuhur atau sesudahnya. Kurang lebih selama 15 atau 30 menit. Al-Ghazali menceritakan, "Qailullah adalah simpanan energi bagi mereka yang ingin melakukan qiyamul lail pada hari itu."

Dalam Kitab al-Muwatha, Imam Malik menuturkan, Abdullah bin Abi Bakar mengulang perkataan ayahnya yang mengatakan, "Setiap setelah melangsungkan shalat malam, kita menginstruksikan pembantu untuk menyiapakan makanan, karena dikhawatirkan fajar segera menyingsing."

Bahkan, Imam Malik memiliki kebiasaan memaksimalkan kemuliaan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Caranya, selama bulan Ramadhan, Imam Malik menutup rapat semua kitab, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain. "Bulan ini adalah Ramadhan, bulannya al-Qur'an," ujar beliau sambil menunjukkan mushafnya.

Sedangkan Imam Ahmad memiliki kebiasaan tersendiri setiap kali Rmadhan datang menghampiri dengan segala kemuliaannya. Sejak hari pertama Ramadhan, beliau akan memasuki majid dan menetap didalamnya. Bertasbih dan istighfar, memuji dan memohon ampunan. Setiap kali ia berhadas, maka Imam Ahmad berwudhu dan kembali ke dalam masjid melakukan aktivitasnya. Ia tidak pernah pulang ke rumah kecuali untuk makan, minum dan tidur barang sebentar. Mereka semuanya ingin mereguk kemuliaan Ramadhan dengan sempurna, dan tak ingin memiliki penyesalan ketika bulan mulia itu berakhir masanya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menggarisbawahi pentingnya berdiam diri di masjid di dalam bulan Ramadhan. "Allah mensyariatkan ibadah puasa atas mereka untuk menghilangkan kebiasaan makan dan minum secara berlebihan, serta membersihkan hati dari noda - noda syahwat yang menghalangi hamba menuju Penciptanya. Disyariatkan pula I'tikaf, dan dengan ibadah ini ditambatkan hati untuk selalu mengingat Allah, menyendiri dengan-Nya, menghentikan segala kesibukan yang berhubungan dengan makhluk-Nya dan menghabiskan waktu hanya untuk Allah semata. Sehingga kegundahan dan luka hati, terhapus dan diisi dengan dzikrullah, mencintai dan menghadap pada-Nya."

Selain shalat malam, para salafush shalih juga mengisi Ramadhan dengan aktivitas membaca al-Qur'an. Lihatlah, di bulan Ramadhan, Utsman bin 'Affan menamatkan bacaan al-Qur'an sekali setiap harinya. Sedangkan az-Zuhri, diceritakan mengurangi kegiatan mendengar hadist dan majelis ilmu untuk lebih banyak berinteraksi dengan al-Qur'an. Sementara Ibrahim an-Nakha'i, jika memasuki hari kesepuluh terakhir di bulan Ramadhan, mengkhatamkan al-Qur'an setiap malam.

Selain itu, para sahabat juga berlumba-lumba memberi makan dan menyediakan buka puasa untuk kaum Muslimin. Bahkan diriwayatkan, setiap Ramadhan, Ibnu Umar selalu berbuka bersama para dhu'afaa, orang-orang yatim dan miskin.

Dari sini dapat ditarik pelajaran, Ramadhan sejatinya disambut kaum Muslimin dengan kesadaran tinggi akan pentingnya ibadah dan keredhaan Allah SWT.

Rabu, November 05, 2008

Kisah Ulama Menjaga Waktu Dan Ilmu

Kisah Ibnu Nafis

Beliau adalah seorang doktor perubatan yang terkenal. Beliau juga adalah orang pertama yang menjumpai teori perjalanan darah pada kurun ketujuh Hijrah.

Diriwayatkan bahawa Ibnu Nafis seorang yang tidak suka membuang masa. Apabila ingin menulis beliau akan memalingkan mukanya mengadap dinding, kemudian mula menulis daripada ilmu pengetahuannya tanpa merujuk apa-apa kitab. Dikatakan beliau menulis laju seperti air yang mengalir. Apabila penselnya tumpul beliau akan mencampaknya ke suatu tempat khas kemudian mengambil pensel baru, oleh yang demikian beliau akan pastikan pensel-pensel yang telah diasah tersedia di atas mejanya sebelum memulakan penulisan kerana ditakuti masanya akan terbuang dengan mengasah pensel-pensel berkenaan.

Satu ketika, beliau masuk tandas untuk mandi, kemudian keluar kembali seraya meminta pen, dakwat dan kertas, justeru menulis satu karangan mengenai denyutan nadi. Setelah itu beliau masuk semula ke dalam tandas untuk menghabiskan mandiannya

Kisah Ibnu Jauzi

Setiap kali selepas mengasah penselnya, Ibnu Jauzi akan mengumpul habuk tersebut di dalam satu bekas khusus. Apabila beliau jatuh sakit, beliau mewasiatkan agar habuk tersebut dijadikan bahan bakar untuk memasak air mandian mayatnya. Apabila beliau wafat, sahabat dan kerabat beliau melaksanakan wasiat yang ditinggalkan, ternyata habuk pensil tersebut sempat memanaskan air mandian mayatnya malah ianya masih berbaki sedikit.

Kisah Imam at-Tabari

Beliau seorang ahli tafsir yang masyhur. Beliau juga terkenal dengan pengawasannya terhadap ilmu pengetahuan. As-Simsimi berkata: Beliau menulis setiap hari empat puluh helaian dalam masa empat puluh tahun.

Muridnya (al-Qadhi Abu Bakar) telah meriwayatkan bahawa beliau seorang yang terlalu menjaga rutin hariannya. Selepas mengambil sarapan pagi beliau akan tidur kemudian bangun dan solat zohor. Sejurus kemudian beliau akan mula menulis hingga masuk waktu Asar. Pabila selesai menunaikan Fardhu Asar, dia akan bersama murid-muridnya menelaah ilmu sehingga Maghrib. Selepas Maghrib pula beliau akan mengajar ilmu Feqah sehingga larut malam.

Kalau kita perhatikan, betapa beliau pandai membahagikan masa dan usianya demi kepentingan agama, masyarakat dan dirinya sendiri. Beliau tidak pernah membazirkan walaupun sesaat pada perkara yang tidak berfaedah, masa baginya biarlah digunakan untuk perkara-perkara yang berfaedah ataupun untuk mengambil faedah daripada orang lain. Inilah dia ikutan kita, seorang ahli agama yang menggadaikan umurnya semata-mata untuk agama, untuk Allah, untuk beribadah dalam erti kata yang sebenarnya.

Sebuah kisah lain, antara lainnya mengisahkan kehidupan Imam at-Tabari yang tidak boleh terpisah daripada ilmu. Kisah ini diriwayatkan oleh salah seorang sahabat beliau (al-Murafi bin Zakaria) yang datang menziarahi waktu sakitnya. Apabila Imam at-Tabari mendengar salah seorang pelawat membaca doa ke atasnya lalu dia berkata, tolong ambilkan aku sebatang pen dan sehelai kertas, kemudian beliau menulis doa tersebut. Salah seorang daripada mereka bertanya: Apakan kamu masih menulis ilmu sedangkan kamu dalam keadaan begini? Jawab beliau: Sememangnya menjadi kewajipan setiap manusia untuk tidak meninggalkan ilmu berlalu pergi begitu sahaja hingga mati.

Kisah Sulaim ar-Razi

Imam Sulaim ar-Razi ini merupakan seorang yang amat mementingkan masa dan ilmu, warak dan selalu menghisab dirinya. Beliau tidak pernah meninggalkan sedetik waktu tanpa faedah. Samada beliau akan belajar, mengajar, menyalin ataupun membaca. Diriwayatkan daripada beliau sendiri: Aku sempat menghabiskan satu juzuk (bab) bacaanku di dalam perjalanan pulang ke rumahku.

Perkara ini diakui oleh salah seorang sahabat beliau (al-Muammil bin al-Hassan): Aku terlihat Sulaim mengasah pensel sambil mulutnya terkumat kamit menyebut sesuatu. Pabila ditanya, aku mengetahui beliau sedang membaca al-Quran semasa mengasah pensel nya, kerana ditakuti masa akan berlalu begitu sahaja tanpa beliau mengambil apa-apa faedah ataupun suatu tindakan yang positif. Inilah dia seorang ulama’ Islam yang hidup di zaman silam, oelh sebab itulah tidak dinafikan bahawa Islam pada zaman mereka telah melalui satu zaman kegemilangan yang tidak ada tolok bandingnya.

Kisah Imam al-Juwaini

Beliau adalah Imam masjid al-Haram dan masjid an-Nabawi. Katanya: Aku tak tidur dan tak makan pada kebiasaannya, tetapi apabila terlalu mengantuk aku tertidur, samada pada waktu malam ataupun siang, begitu juga aku makan jika aku terasa nak makan, tidak kira masa dan ketika. Hal ini menggambarkan betapa kelazatannya hanya tertumpu pada ilmu semata-mata.

Kisah Abu al-Wafa’

Imam Abu al-Wafa’ pernah berkata: Tidak bisa untukku persiakan setiap detik kuniaan yang Maha Esa buatku, hatta kalaulah lidahku kelu untuk meneruskan hafalan dan mataku penat menatapi patah tulisan, aku akan berusaha menggerakkan fikiranku dengan memikirkan sesuatu cadangan maupun permasalahan, aku tidak akan berasa lega dan berpuas hati melainkan setelah aku mendapati jalan penyelesaiannya.

Aku juga mendapati, kesusahan menghadapi ilmu ini pada usiaku lapan puluhan lebih daripada usiaku dua puluhan. Aku juga berusaha sedaya upaya untuk mengurangkan masa makanku, kadangkala aku hanya memadai dengan sepotong kek dan seteguk air sejuk. Sehingga aku dapat meluangkan semaksima masa yang mungkin untuk ilmu pengetahuanku. Sesungguhnya harta yang paling berharga di sisi ulama ialah waktu dan ilmu. Kerana waktu itu tidak akan menunggu seseorang sebaliknya tanggungjawab yang datang bertandang pula bertindan-tindan.

Setelah tiba saat kewafatan beliau, kedapatan wanita menangis kerana tidak mahu terpisah daripada insan tersayang, tetapi beliau dengan tenang berkata: “Sesungguhnya aku takut berbuat dosa pada Tuhan Yang Rahman selama lima puluh tahun. Kerana selama masa tersebut aku telah mengeluarkan fatwa-fatwa yang mungkin tidak bertepatan dengan kehendak Allah. Maka doakanlah agar aku diampuni-Nya.”

Beliau meninggal dunia tanpa meninggalkan apa-apa pesaka melainkan kitab-kitab nya yang banyak serta beberapa helai pakaian yang hanya cukup untuk dijadikan kain kafan serta membayar segala hutang-hutangnya. Lihatlah betapa agungnya pengorbanan seorang hamba terhadap tuhannya yang Esa. Walaupun telah banyak mengorbankan masanya demi kepentingan agama, tapi masih tidak berpuas hati, masih lagi takut seksa Ilahi. Tapi kita, apakah yang kita cari? Renungilah perbuatan-perbuatanmu wahai diri.

Kisah Imam ar-Razi

Imam ar-Razi adalah seorang ahli tafsir yang terkemuka pernah berkata: Sesungguhnya aku sangat menyesali kerana tidak dapat mengulangkaji ilmu ketika makan, sesungguhnya masa dan usia itu amat mahal harganya.

Kisah Ibnu Asakir

Diriwayatkan daripada anaknya al-Qasim: Ayahku seorang yang terlalu menjaga solat jamaah dan bacaan al-Quran. Beliau akan khatam al-Quran tersebut pada tiap-tiap hari jumaat dan setiap hari di bulan Ramadhan. Beliau juga sentiasa beriktikaf dalam masjid dan membanyakkan perkara-perkara sunnat serta zikir.

Salah seorang muridnya (Abu al-Mawahib) juga berkata: Aku tidak pernah melihat seseorang yang boleh menandingi Ibn Asakir di dalam banyak perkara, seperti mengikuti cara ibadah yang sama sepanjang empat puluh tahun, sentiasa berada di saf yang pertama setiap waktu sembahyang kecuali jika ada keuzuran, sentiasa beriktikaf di masjid pada bulan Ramadhan dan sepuluh Zulhijjah, tidak meminta untuk menjadi seorang pemimpin ataupun khatib (pembaca khutbah, kerana martabat pembaca khutbah pada masa itu terlalu tinggi), beliau juga selalu menasihati manusia ke arah kebaikan dan melarang mereka daripada berbuat kejahatan, tanpa gentar kepada sebarang ugutan ataupun celaan orang-orang yang mencela.

Kisah Ibnu Malik

Beliau adalah seorang ahli Nahu yang terkenal. Seorang yang banyak merujuk dan cepat menyemak. Beliau tidak akan menulis sesuatu tanpa merujuk kepada kitab asal. Para sahabatnya tidak pernah melihat beliau membuat perkara yang sia-sia, kecuali melihat beliau samada sedang solat ataupun membaca al-Quran ataupun mengarang ataupun membaca kitab.

Dan diantara perkara ajaib yang menandakan betapa beliau mengambil berat masalah ilmu dan waktunya iaitu apabila anak lelakinya datang melawat beliau masa sakitnya, bersama anak tersebut lapan bait (baris) syair, maka beliau meminta agar anaknya membaca syair-syair tersebut kemudian beliau menghafalnya sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, rahimahullah.

Seterusnya peristiwa ini mengiyakan kata pepatah: Setinggi mana gunung didaki kamu akan dapati apa yang kamu hajati. Di mana ada kemahuan di situ ada jalan.

Inilah kisah-kisah yang dicedok daripada kitab: Nilai Masa Di Sisi Ulama karangan Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah. Kitab ini antara lainnya menceritakan kesabaran para ulama silam mencari ilmu walaupun terpaksa berpisah daripada isteri kesayangan, anak yang menjadi cahaya kehidupan, bahkan mereka sanggup mengurangkan rutin harian mereka seperti makan, minum serta tidur.

Oleh sebab itu, tidak pelik jika kita perhatikan Islam pernah gemilang di suatu zaman dahulu, malah kita masih berbangga dengan kegemilangan tersebut hingga ke hari ini. Apakah cukup hanya dengan kita berbangga? Adakah Islam akan kembali gemilang dan memerintah dunia hanya kerana kita bangga dengan apa yang umat Islam telah capai dahulu? Justeru itu, marilah kita mendalami kisah hidup para ulama’ yang hidup pada zaman tersebut, pada tangan merekalah datangnya kegemilangan. Apakah yang mereka lakukan sehingga mereka menjadi begitu hebat? Inilah dia pegangan mereka, mereka sanggup buat segala-galanya kerana pentingkan ilmu, hanya demi agama Allah yang suci murni.

Diharapkan melalui kisah-kisah ini pembaca sekalian mendapat sedikit motivasi untuk menjaga dan memprogramkan hidup mereka seharian. Semoga dengan program tersebut mereka lebih berasa lazat berdampingan dengan ilmu pengetahuan daripada keasyikan dunia fana.