Kamis, Agustus 27, 2009

Nikmat Ramadhan

Ramadhan
yang lazat
rasanya begitu sedap
rasanya begitu enak
rasanya begitu manis.

Nikmat puasa
pada pagi hari
menahan lapar
dan dahaga
mengisinya dengan
kerohanian.

Nikmat solat tarawih
pada malam hari
menghadap Tuhan yang Esa
dengan rohani yang khusyuk
bersama keimanan,
kehambaan dan ketaqwaan.

Begitu nikmatnya
bulan Ramadhan ini
nikmat yang tiada terhingganya
terasa insaf
tersa hamba
terasa asyik
terasa bertuhan
terasa cinta.

Ramadhan
hampir menutup tirainya
pergi meninggalkan kesan
yang mendalam
dan Syawal pun
membuka tabirnya.

M.A.Uswah,
Sandakan,
November 2004.

Puasa Ramadhan oleh Hamka

Ini ialah rakaman ceramah lama oleh Hamka mengenai puasa Ramadhan. Dengarlah ceramah beliau ini yang ada gaya khas dan tersendiri dalam berceramah dan boleh memukau orang apabila mendengarnya.









Nur Ramadhan

Telah tibalah pelita Ramadhan
yang tiada tandingannya
memancarkan cahaya yang
terang-benderang
walaupun ia hanya
terjadi sekali saja
namun kejadiannya sangat
menakjubkan.

Puasa
mendidik kita supaya
membaiki diri
menginsafkan kita
di kala menderita
dan sabarlah yang
menjadi kekuatan iman.

Solat tarawih ibadah
yang istimewa
merasakan kehambaan dan
kerdilnya kita di hadapan Tuhan.

Ramadhan
menghadiahkan kerahmatan
menghadiahkan keampunan
menghadiahkan kenikmatan.

Zakat
tunaikanlah ia
pada akhir Ramadhan
agar mereka yang susah
tidak meminta
pada hari raya.

Moga nur Ramadhan
menyala buat selama-lamanya.

M.A.Uswah,
Sandakan,
November 2004.

Minggu, Agustus 23, 2009

Bersama Orang Soleh Di Bulan Ramadhan

Para sahabat, tabiin dan orang-orang soleh lainnya benar-benar mengetahui hikmah dari disyariatkannya puasa Ramadhan. Mereka meyakini, Allah tidaklah mensyariatkan puasa Ramadhan dengan sia-sia. Puasa Ramadhan tidak hanya sekadar meninggalkan kebiasaan makan dan minum saja. Tapi lebih dari itu, puasa disyariatkan guna mengingatkan manusia bahawa mereka memiliki Ilah yang harus diibadahi.

Segala praktik yang dilakukan para salafus soleh adalah praktik ibadah demi menggapai redha Allah SWT. Rasulullah saw bersabda, "Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat pada Ramadhan, mereka berharap Ramadhan sepanjang tahun."

Pada bulan ini, Allah SWT memberikan berbagai keistimewaan yang tidak diberikan di bulan - bulan lain. Bayangkan, betapa Allah memuji bau mulut orang yang sedang shaum dengan menyatakannya lebih harum dari wewngian kasturi. Itu baru bau mulut saja, belum lagi praktik - praktik ibadah lainnya semisal membaca Al-Qur'an dan qiyaamullail.

Para sahabat menjadikan Ramadhan sebagai salah satu representasi kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam. Sungguh menarik apa yang dilakukan para sahabat dalam menata kehidupannya setiap tahun.

Setiap puasa Ramadhan, Abu Hurairah ra dan para sahabat lainnya lebih banyak berdiam diri di masjid. "Kami menjaga puasa kami," begitu kata mereka. Selain itu, para salafush shalih senantiasa berhati-hati dalam berbicara. Di luar Ramadhan saja, mereka selalu berkata dengan perkataan baik, apalagi ketika Ramadhan. Pasalnya, rasulullah saw mewanti-wanti agar menjaga ucapan.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, "Semua amalan anak-anak Adam untuknya, kecuali puasa. Karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya. Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, 'Aku sedang berpuasa'. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wangi kasturi, orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya." (Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini milik Bukhari).

Dan di antara amalan-amalan ibadah yang utama dan dilakukan salafush shalih adalah qiyaamullail. Diriwayatkan, Abu Bakar ash-Shiddiq senantiasa melaksanakan shalat di malam hari dengan khusyuk dan sampai meneteskan air mata. Sementara Umar bin Khattab, setelah melakukan shalat malam, beliau membangunkan keluarganya untuk shalat malam sembari menyitir ayat al-Qur'an di surat Thaha ayat 132 yang berbunyi, "Dan perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberikan rizki kepadamu.Dan akibat itu adalah bagi orang yang bertakwa."

Begitu pula halnya dengan Manshur bin al-Mu'tamir. Jika malam yang semakin larut menjelang, dia langsung mengenakan pakaian terbaiknya lalu naik ke atap rumahnya, dan shalat. Tak ketinggalan juga Sufyan ats-Tsauri. Abdul Razaq, salah seorang muridnya, menceritakan, "Suatu saat, Sufyan ats-Tsauri mendatangiku selepas Isya, lalu aku menghidangkan makanan malam yang meliputi kismis dan pisang. Setelah selesai, ia bangkit untuk berwudhu lalu mengencangkan ikat pinggangnya dan menghadap kiblat. Lalu dia berkata, "Wahai Abdul Razaq! Beri makan keledai." Selanjutnya dia meluruskan kakinya dan shalat hingga waktu subuh menjelang."

Ibnu Wahab memiliki cerita lain lagi. Dia menceritakan, "Aku melihat Sufyan ats-Tsauri di Masjidil Haram selepas Maghrib. Dia melaksanakan shalat dan bersujud. Dia tidak mengangkat kepalanya sampai menjelang waktu Shalat Isya."

Meski tidur bernilai ibadah, para ulama justru mengekang keinginannya untuk mengatupkan mata. Itulah yang dilakukan oleh wanita salafus shalih, Mu'adzah al-'Adawiyah, yang senantiasa melakukan shalat malam, mengatakan, "Aku heran dengan mata-mata yang terpejam. Selama tertidur, aku membayangkan gelapnya kuburan, aku selalu menangis."

Ibnu Qayyim al-Jauziyah malah memberikan peringatan kepada kita tentang waktu tidur yang tidak disukai Allah. "Di antara tidur yang tidak di sukai adalah tidur di antara Subuh dan matahari terbit, karena ia merupakan waktu untuk memperoleh hasil."

Dari Abu Umamah ra diriwayatkan, Rasulullah mengajarkan kepada kita, "Barangsiapa shalat Subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah sampai terbitnya matahari, lalu ia mendirikan shalat dua rakaat, maka seakan-akan ia mendapatkan pahala haji dan umrah dengan sempurna."

Lalu, kapan waktu tidur? Imam al Ghazali memiliki tips yang sangat luar biasa memanfaatkan waktu untuk tidur dan mengumpulkan tenaga. Tidur dan istirahatlah menjelang shalat dzuhur atau sesudahnya. Kurang lebih selama 15 atau 30 menit. Al-Ghazali menceritakan, "Qailullah adalah simpanan energi bagi mereka yang ingin melakukan qiyamul lail pada hari itu."

Dalam Kitab al-Muwatha, Imam Malik menuturkan, Abdullah bin Abi Bakar mengulang perkataan ayahnya yang mengatakan, "Setiap setelah melangsungkan shalat malam, kita menginstruksikan pembantu untuk menyiapakan makanan, karena dikhawatirkan fajar segera menyingsing."

Bahkan, Imam Malik memiliki kebiasaan memaksimalkan kemuliaan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Caranya, selama bulan Ramadhan, Imam Malik menutup rapat semua kitab, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain. "Bulan ini adalah Ramadhan, bulannya al-Qur'an," ujar beliau sambil menunjukkan mushafnya.

Sedangkan Imam Ahmad memiliki kebiasaan tersendiri setiap kali Rmadhan datang menghampiri dengan segala kemuliaannya. Sejak hari pertama Ramadhan, beliau akan memasuki majid dan menetap didalamnya. Bertasbih dan istighfar, memuji dan memohon ampunan. Setiap kali ia berhadas, maka Imam Ahmad berwudhu dan kembali ke dalam masjid melakukan aktivitasnya. Ia tidak pernah pulang ke rumah kecuali untuk makan, minum dan tidur barang sebentar. Mereka semuanya ingin mereguk kemuliaan Ramadhan dengan sempurna, dan tak ingin memiliki penyesalan ketika bulan mulia itu berakhir masanya.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menggarisbawahi pentingnya berdiam diri di masjid di dalam bulan Ramadhan. "Allah mensyariatkan ibadah puasa atas mereka untuk menghilangkan kebiasaan makan dan minum secara berlebihan, serta membersihkan hati dari noda - noda syahwat yang menghalangi hamba menuju Penciptanya. Disyariatkan pula I'tikaf, dan dengan ibadah ini ditambatkan hati untuk selalu mengingat Allah, menyendiri dengan-Nya, menghentikan segala kesibukan yang berhubungan dengan makhluk-Nya dan menghabiskan waktu hanya untuk Allah semata. Sehingga kegundahan dan luka hati, terhapus dan diisi dengan dzikrullah, mencintai dan menghadap pada-Nya."

Selain shalat malam, para salafush shalih juga mengisi Ramadhan dengan aktivitas membaca al-Qur'an. Lihatlah, di bulan Ramadhan, Utsman bin 'Affan menamatkan bacaan al-Qur'an sekali setiap harinya. Sedangkan az-Zuhri, diceritakan mengurangi kegiatan mendengar hadist dan majelis ilmu untuk lebih banyak berinteraksi dengan al-Qur'an. Sementara Ibrahim an-Nakha'i, jika memasuki hari kesepuluh terakhir di bulan Ramadhan, mengkhatamkan al-Qur'an setiap malam.

Selain itu, para sahabat juga berlumba-lumba memberi makan dan menyediakan buka puasa untuk kaum Muslimin. Bahkan diriwayatkan, setiap Ramadhan, Ibnu Umar selalu berbuka bersama para dhu'afaa, orang-orang yatim dan miskin.

Dari sini dapat ditarik pelajaran, Ramadhan sejatinya disambut kaum Muslimin dengan kesadaran tinggi akan pentingnya ibadah dan keredhaan Allah SWT.

Syair Ramadhan

Ramadhan bulan yang mulia,
Ia bulan yang istimewa,
Beribadah padanya mendapat pahala,
Dijauhkan dari seksaan neraka.

Bulan keampunan doa diterima,
Puasa itu mendidik jiwa,
Menahan lapar dan dahaga,
Lebih utama menahan rohaninya.

Bulan lailatul qadar yang istimewa,
Diturunkan kitab al-Quran padanya,
Solat tarawih pada malamnya,
Begitu khusyuk jiwanya rela.

Hayatilah bulan mulia ini,
Muhasabah diri menjadi terpuji,
Bermuhajadah melawan nafsu diri,
Supaya menjadi mukmin sejati.

M.A.Uswah,
Sandakan,
November 2004.

Kamis, Agustus 20, 2009

Menyempurnakan Assalamu'alaikum

Berikut artikel menarik yang saya petik dari sebuah link indonesia, http://indrayogi.multiply.com/journal/item/127/Menyempurnakan_Assalamualaikum

Ucapan ”Assalamu'alaikum” merupakan anjuran agama, dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan umat beragama, dengan salam dapat menjalin persaudaraan dan kasih sayang, karena orang yang mengucapkan salam berarti mereka saling mendo’akan agar mereka mendapat keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Kalian tak akan masuk surga sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah aku tunjukkan satu amalan bila dilakukan akan membuat kalian saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” [HR Muslim dari Abi Hurairah]

Saya seringkali menerima sms atau emel dari beberapa kawan dan juga beberapa ustadz yang mengawali salamnya dengan singkatan. Singkatannya pun macam-macam. Ada yang singkat seperti "Asw" atau "Aslm". Ada yang sedikit lebih panjang seperti "Aslmlkm". Bahkan ada pula singkatan yang tidak enak untuk dibaca, terlebih kalau yang membaca mengerti artinya. Singkatan itu justru yang paling sering saya dapatkan, yaitu "Ass". Nah sekarang silahkan anda buka link ini untuk mengetahui artinya.

Dalam kamus Linguist yang saya punya, arti dari kata Ass yang berasal dari bahasa inggris itu adalah sebagai berikut,

1 keledai.
2
orang yang bodoh.


Hiiy...dari 3 definisi itu satupun ngga ada yang bagus. Setelah kita mengetahui artinya masih tegakah kita mengucap salam kepada orang lain dengan kalimat Ass ? .Padahal seperti kita ketahui ucapan Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh adalah sebuah ucapan salam sekaligus doa yang kita tujukan kepada orang lain. Ucapan salam dalam islam sesungguhnya merupakan do’a seorang muslim terhadap saudara muslimnya. Maka apabila kita mengucap salam dengan hanya menuliskan "Ass", secara tidak sadar mungkin kita malah mendoakan hal yang buruk terhadap saudara kita.

Kalau memang keadaan sedang tidak memungkinkan untuk menulis salam lewat sms dengan lengkap karena sedang menyetir misalnya, solusinya cukup mudah yaitu langsung to the point atau tulis met pagi, siang, malam, halo, hi dan seterusnya. Ini masih lebih baik dibandingkan kita harus memaksakan diri menggunakan singkatan dari Assalamu'alaikum menjadi "Ass".

Setiap Muslim ketika mengucapkan salam, dia akan diganjar dengan kebaikan (pahala). Dan dalam kaidah singkat menyingkat ucapan salam pun sudah diatur oleh Allah dan diajarkan kepada Rasulullah. Dalam suatu pertemuan bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam, seorang sahabat datang dan melewati beliau sambil mengucapkan, “Assalamualaikum”. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam lalu bersabda, “Orang ini mendapat 10 pahala kebaikan.”

Tak lama kemudian datang lagi sahabat lain. Ia pun mengucapkan, “Assalamualaikum Warahmatullah.” Kata Rasulullah, “Orang ini mendapat 20 pahala kebaikan.” Kemudian lewat lagi seorang sahabat lain sambil mengucapkan, “Assalamu alaikum warahmatullah wa barokatuh.” Rasulullah pun bersabda, “Ia mendapat 30 pahala kebaikan.” [HR. Ibnu Hibban dari Abi Hurairah]. Nah dari tiga singkatan itu silahkan anda pilih yang mana yang anda inginkan tanpa harus menyingkatnya sendiri yang justru bisa menghilangkan nilai pahalanya.

Satu hal lagi yang perlu diingat adalah ketika kita menuliskan kata Assalamu'alaikum, perlu diperhatikan agar jangan sampai huruf L nya tertinggal sehingga menjadi Assaamu'alaikum. Coba deh anda coba search di google dengan keyword
Assaamu'alaikum, ternyata cukup banyak saudara kita di belantara cyber ini yang terpeleset jari dalam mengetik ucapan salam yang benar :).

Nah, kenapa kita harus memperhatikan agar huruf L itu agar tetap tertulis ? Diriwayatkan bahwa dahulu ada seorang Yahudi yang memberi salam kepada Nabi dengan ucapan "Assaamu 'alaika ya Muhammad" (
Semoga kematian dilimpahkan kepadamu).

Dan kata assaamu ini artinya adalah kematian. Kata ini adalah plesetan dari "Assalaamu 'alaikum" (Ternyata jaman dulu udah ada maen playstation alias plesetan ya). Maka nabi berkata, "Kalau orang kafir mengatakan padamu assaamu 'alaikum, maka jawablah dengan wa 'alaikum (
Dan semoga atas kalian pula)." [HR. Bukhari]

Jadi alangkah lebih baiknya kalau mulai saat ini kita menyempurnakan tulisan Ass yang tidak punya nilai apa-apa menjadi Assalamualaikum yang punya nilai 10 pahala kebaikan. Dan alangkah lebih baik lagi kalau diteruskan sampai Wabarokatuh, cape sedikit ngga papa, insya Allah 30 pahala kebaikan telah kita kantongi :).

Wassalamualaikum

Selasa, Agustus 18, 2009

Saham Ulama Pewaris Nabi Untuk Islam

Begitu pentingnya peranan ulama pewaris nabi dalam mengemban misi dakwah Islam, tentu banyak pula saham yang telah mereka berikan untuk keberlangsungan Islam. Untuk mengetahui bentuk saham tersebut alangkah baiknya kita menyimak ucapan Syaikh Tsaqil bin Shalfiq Al-Qashimi tentang mereka. Beliau menjelaskan: “Mereka (ulama pewaris Nabi), adalah orang-orang yang mengembara dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mencatatnya dalam lembaran-lembaran dengan metode yang bermacam-macam seperti (karya tulis berbentuk) musnad, majma’, mushannaf, sunan, muwaththa’, az-zawaid dan mu’jam.

Mereka menjaga hadits-hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dari pemalsuan dan tadlis. Mereka membedakan antara hadits-hadits shahih dari yang lemah. Oleh sebab itu mereka membuat kaidah-kaidah hadits yang mempermudah proses pembedaan antara hadits yang bisa diterima dari hadits yang harus ditolak.

Disamping itu mereka juga membeda-bedakan para perawi hadits. Mereka mengarang kitab-kitab tentang para perawi hadits: Yang terpercaya, yang lemah dan para pemalsu hadits. Mereka menukilkan pula (dalam karangan-karangan tersebut) ucapan para Imam yang memiliki ilmu dalam bidang pencatatan dan pemujian perawi hadits (para ulama jarh wa ta’dil). Bahkan mereka membeda-bedakan riwayat-riwayat dari rawi yang satu antara riwayat-riwayat yang ia diterima dari penduduk negeri Syam, penduduk negeri Iraq atau penduduk negeri Hijaz10, Mereka juga membedakan antara riwayat seorang yang mukhtalath (orang-orang yang kacau hapalannya) 11, mana hadits-hadits yang diriwayatkan sebelum ikhtilath dan yang diriwayatkan sesudahnya. Demikian seterusnya.

Sesungguhnya orang yang membidani ilmu hadits dengan berbagai macam cabangnya, pembagiannya, jenis dan karya-karya tulis tentangnya, akan benar-benar mengakui besarnya andil mereka (ulama pewaris nabi) dalam menjaga hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka telah menjelaskan aqidah Ahlus Sunah wal Jama’ah dengan seluruh bab-bab nya dan membantah para ahlul bid’ah yang menyimpang darinya. Mereka telah memberikan peringatan agar berhati-hati ahlul ahwa’ wal bid’ah, melarang duduk bersama mereka dan berbincang-bincang dengan mereka. Bahkan mereka tidak mau menjawab salam dari ahlul bid’ah, serta tidak mau menikahkan anak perempuannya dengan mereka dalam rangka menghinakan dan merendahkan ahlul bid’ah dan yang sejenisnya. Selanjutnya mereka menulis tentang hal ini dalam banyak tulisan.

Mereka telah mengumpulkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang berkenaan dengan tafsir Al-Quran AL-Adhim, seperti Tafsir Ibnu Abi Hatim, Tafsir As-Shan’ani, Tafsir AnNaasa’i. Diantara mereka ada yang mengarang kitab-kitab tafsir mereka seperti Tafsir At-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir dan yang lainnya. Disamping mengarang kitab-kitab tafsir mereka juga membentuk kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasar tentang tafsir Al-Qur’an. Bahkan mereka juga membedakan antara penafsiran yang menggunakan riwayat dengan penafsiran yang menggunakan rasio.

Keemudian mereka juga meengarang kitab-kitab fiqh dengan seluruh bab-babnya. Mereka berusaha membahas setiap permasalahan fiqh dan menjelaskan hukum-hukum syariat amaliyah dilengkapi dengan dalil-dalil yang rinci dari Al-Qur’an, As Sunah,Ijma’ dan Qiyas(sebagai landasan pembahasan). Mereka meletakan kaidah-kaidah fiqh dan yang dapat mengumpulkan berbagai cabang dan bagian (permasalahan) dengan ilat (penyebab) yang satu. Lalu mereka juga menyusun ilmu ushul fiqh yang mengandung kaidah-kaidah untuk melakukan istinbath (pengambilan) hukum syariat yang bercabang-cabang. Mereka telah melahirkan karya-karya yang cukup banyak tentang disiplin-disiplin ilmu fiqh ini.

Berikutnya juga mengarang kitab-kitab sirah, tarikh, adab, zuhud, raqaiq(pelembut jiwa), bahasa arab, nahwu, dan bermacam-macam karangaan di berbagai bidang ilmu yang cukup banyak…”

Demikian keterangan yang dibawakan secara panjang lebar oleh Syaikh Tsaqil Ibnu Shalfiq Al-Qashimi. (Sallus Suyuf wa Asinnah ‘ala Ahlil Ahwa wal Ad’iyais Sunnah, hal. 76-77, penerbit Dar Ibnu Atsir)

Dari masa ke masa para ulama pewaris nabi telah berjasa dalam bidang-bidang ilmu seperti yang disebutkan diatas. Diantaranya adalah:

Ahmad bin Hanbal, Ad-Darimi, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tarmidzi, An-Nasa’i, Malik bin Anas, Sufyan At-Tsauri, Ali bin Al-Madani, Yahya bin said, Al-Qahthan, Asy-Syafi’I, Abdullah bin Mubarak, Abdurrahman bin Mahdi, Ibnu Khuzaimah, Ad-Daruquthuni, Ibnu Hibban, Ibnu ‘Adi, Ibnu Mandah, Al-Lalikai, Ibnu Abi Ashim, Al-Khalal, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Ibnu abdil Bar, Al Khatib Al-Baghdadi, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab beserta anak-anak dan cucu-cucunya yang menjadi ulama Nejd, Muhibuddin Al-Khatib, Muhammad Hamid Al-Fiqi dari Mesir dan ulama Sudan, para ulama Maroko dan Syam, dan seterusnya.

Kemudian ulama masa kini yang berjalan di atas manhaj ulama terdahulu seperti Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz (mufti negara Saudi Arabia), Syaikh ahlul hadits Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh, Syaikh Shalih Al-Fauzaan, Shalih Ak-Athram, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Abdullah Al Ghadyan, Shalih Al-Luhaidan, Abdullah bin Jibrin, Abdur Razaq Afifi, Humud At-Tuwaijiri, Abddul Muhsin Al-Abbad, Hammad Al-Anshari, Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali, Muhammad Aman Al-Jami’, Ahmad Yahya An-Najami, Zaid Muhammad Hadi Al-Madkhali, Shalih Suhaimi, Shalih Al-‘abbud dan para ulama lain yang berada di alam Islami (saat ini).

Kita memohon petunjuk kepada Allah yang Maha Hidup dan berdiri sendiri untuk menjaga yang masih hidup dari mereka dan merahmati yang sudah meninggal. Mudah-mudahan Allah menjadikan kita semua orang-orang yang mengikuti langkah mereka dan membangkitkan kita bersama mereka dan Nabi tauladan kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di dalam Surga Firdaus. (Lihat Sallus Suyuf hal. 78-79)

Minggu, Agustus 16, 2009

Mengenang Kejayaan Tradisi Keilmuan Islam


Peradaban Islam pernah mencapai masa keemasan. Itu fakta sejarah yang tak bisa dimungkiri siapapun. Hampir tujuh abad lamanya, mulai 750-1500 M 0-700H, bendera kejayaan Islam terus berkibar.

Sejak deklarasi Islam oleh Rasulullah saw sampai pada kejatuhan Granada di Sepanyol, peradaban Islam memberi kontribusi yang tidak dapat dilupakan oleh peradaban moden kini.

Dalam rentang waktu itu, lahir ratusan ilmuwan muslim yang melahirkan beragam teori yan mengilhami kemunculan renaissance di Eropah. Al-Khawarizmi (matematik), Jabir Ibnu Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun (sosiologi dan sejarah), Ibnu Sina (perubatan), Ar-Razi (perubatan), Al-Biruni (fizik), Ibnu Battutah (pengemberaan) adalah contoh nama-nama yang dapat dikedepankan.

Bagaimana tidak signifikan sumbangan Islam pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Al-Khawarizmi, misalnya, menemukan angka nombor 0 yang pada zaman sebelumnya (China, India dan Yunani) belum diketahui.

Huraian beragam teori sosiologi dan sejarah yang dikemukakan Ibnu Khaldun dalam kitabnya Mukadimah sampai sekarang tetap aktual dan menjadi referensi sosiologi moden. Belum lagi berbagai teori perubatan yang dikemukakan Ar-Razi tentang penyakit cacar serta Ibnu Sina tentang pembiusan dan pembedahan.

Berbeza dengan tradisi Eropah yang pernah mengalami beberapa kejadian tragis akibat bertentangan doktrin agamanya, tradisi keilmuan Islam justeru berangkat dari kecintaannya pada agama.

Dalam rakaman sejarah Islam, peristiwa yang menimpa Galileo Galilei, Bruno Giordano, Nicholas Copernicus, Miguel Serveto tidak pernah terjadi. Justeru Islam menempatkan para ilmuwan dalam maqam yang tinggi (lihat Surah Az-Zariyat, ayat 11).

Para ilmuwan Islam meyakini bahawa tauhid menjadi sumber inspirasi dan aspirasi untuk berekspresi. Bahawa semua yang ada di alam adalah hukum Tuhan (sunnatullah) yang objektif, universal dan mutlak adanya.

Kerana keyakinan inilah, lumrah bila sesudah atau menghadapi masalahh dalam penelitiannya dikembalikan kepada Sang Khaliq. Ibnu Sina, contohnya, akan pergi ke masjid, solat dan berdoa meminta petunjuk Allah berkenaan dengan hasil penelitian perubatannya.

Semua karya dan penelitian Ibnu Sina berhujung pada kepasrahan total kepada Allah. Sikap ini juga dimiliki Al-Khawarizmi, Al-Biruni dan sebagainya. Ini menunjukkan bahawa di kalangan ilmuwan muslim, keterkaitan dengan Tuhannya adalah kemutlakan.

Segala kesimpulan objektif hasil penelaahan terhadap fenomena alam diawali dan dikembalikan pada sumbernya, al-Quran dan hadis. Bagi ilmuwan Islam, semua penelitian ilmiah adalah bukti untuk memperkuat keyakinan terhadap ayat Tuhan yang tersurat dan tersirat (diri dan alam semesta).

Kecintaan para ilmuwan Islam pada al-Quran dan tradisi nabi, membuat mereka bukan hanya fasih dalam suatu bidang keilmuan. Ibnu al-Haitham, misalnya, selain dikenal sebagai penemu optik, ia adalah ahli matematik dan astronomi. Al-Biruni tidak hanya terkenal dengan kecermatannya dalam fizik, tetapi juga ahli dalam metafizik.

"Ilmu pengetahuan Islam menjadi ada kerana perkahwinan antara semangat yang memancar dari wahyu al-Quran dan ilmu-ilmu yang berasal dari pelbagai tradisi sebelumnya. Ilmu dalam Islam menjadi sumber rohani bagi kesinambungan peradaban di masa akan datang," tegas cendekiawan muslim asal Iran, Sayyed Hussein Nasr.

Sifat kosmopolitan peradaban Islam bermula dari watak wahyu yang universal. Hal ini menyebabkan Islam menciptakan sebuah peradaban pertama di dalam sejarah umat manusia, katanya.

Kejayaan Islam lahir ketika Eropah yang kini memegang kendali peradaban berada dalam suasana "The Dark Ages" atau abad kegelapan. Satu keadaan yang hegemoni gereja sangat mendominasi kehidupan masyarakat Eropah.

Dalam kurun beberapa abad praktis dunia Eropah tidak tersentuh oleh perkembangan keilmuan yang signifikan. Makanya, masyarakat Eropah kini lebih suka menyebut abad itu dengan abad pertengahan, ketimbang abad kegelapan yang terasa lebih menohok secara psikologis.

Berlawanan dengan itu, puncak peradaban Islam dicapai pada masa Bani Abbasiyah di era Khalifah al-Makmun ketika ia mendirikan Darul Hikam atau akademi ilmu pengetahuan pertama di muka bumi ini yang sekaligus menjadi pusat penelitian, pengembangan dan perpustakaan tentang ilmu-ilmu keIslaman.

Kegemilangan peradaban Islam tidak berhenti di Baghdad. Ia menyebar kedaratan Eropah, tepatnya di Andalusia dan Granada, Sepanyol sampai 1492 M.

Ilmu pengetahuan merupakan sumbangan terpenting kebudayaan Arab (Islam) kepada dunia moden, tetapi buahnya lambat masak. Barulah setelah kebudayaan Arab Sepanyol tenggelam kembali ke dalam kegelapan raksasa yang dilahirkannya bangkit keperkasaannya.

"Bukan hanya ilmu pengetahuan yang menghidupkan kembali Eropah. Pengaruh-pengaruh lain dan beraneka warna memancarkan sinar pertama dari peradaban Islam kepada kehidupan Eropah," jelas seorang Guru Besar Bahasa dan Sastera India, A Beriedale Keith.

Kecemerlangan peradaban Islam mulai surut dan mencapai titik nadir terendahnya ketika bangsa Mongol menghancurkan kota Baghdad. Semua khazanah peradaban hilang, buku-buku dibakar dan dihanyutkan ke dalam sungai.

Dalam sebuah ilustrasi, keganasan bangsa Mongol terhadap peradaban Islam dilukiskan dengan memerah dan membirunya warna air sungai-sungai di sekitar kota Baghdad akibat tinta dan darah para ilmuwan Islam yang mengalir di air sungai Kota Seribu Satu Malam itu.

Sebelum semua peninggalan dan penemuan berharga peradaban manusia dihancurkan bangsa Mongol, untunglah bangsa Eropah sudah banyak yang mempelajari kemajuan ilmu pengetahuan modern yang dirintis orang Islam.

Dua ilmuwan Eropah yang tercatat adalah Roger dan Francis Bacon belajar ke Baghdad untuk mempelajari perkembangan keilmuan yang dirintis ilmuwan Islam. Perlahan namun pasti cahaya peradaban Islam mulai redup.

Cahayanya beralih ke Eropah. Berbagai teori yang ditemukan ilmuwan Islam kemudian dilanjutkan oleh para ilmuwan Eropah yang mulai berkuncup, kemudian berkembang sampai sekarang.

Kamis, Agustus 13, 2009

Perginya Ustaz Asri Rabbani

KUALA LUMPUR, 13 Ogos - Vokalis utama kumpulan Rabbani, Mohamad Asri Ibrahim (Ustaz Asri) meninggal dunia sebaik sahaja jatuh ketika membuat persembahan di RTM kira-kira jam 11.15 pagi ini.

Menurut saksi, Asri jatuh di hadapannya ketika membuat persembahan itu dan ketika diperiksa dia sudah meninggal dunia.

Sementara itu, Harakahdaily ketika menghubungi salah seorang petugas pemasaran kumpulan nasyid itu mengesahkan berita tersebut.

Badrulhisham Jamaluddin daripada bahagian pemasaran kumpulan Rabbani mengesahkan bahawa Ustaz Asri meninggal dunia selepas rebah di RTM pagi tadi.

"Saya tidak tahu apa puncanya,"katanya yang sedang dalam perjalanan ke Hospital Pantai ketika dihubungi Harakahdaily sebentar tadi.

Pahlawan Nasyid

Dalam pada itu, anggota Kumpulan Nasyid Raihan menyifatkan allahyarham Ustaz Mohd Asri Ibrahim yang juga vokalis Kumpulan Rabbani sebagai 'pahlawan nasyid' yang sukar dicari ganti.

Salah seorang anggota kumpulan terbabit, Che Amran Ibrahim ketika dihubungi memberitahu, pemergian vokalis nasyid yang bersuara �emas� itu amat sukar dicari ganti.

"Berita kematiannya yang mengejutkan itu memang memeranjatkan kami, sama seperti anggota kami yang telah meninggal dunia dahulu allahyarham Zaiery yang pergi dengan cara mengejut,"ujarnya dalam sebak menahan kesedihan.

Beliau seterusnya memberitahu, Asri yang bersuara 'emas' sebenarnya ikon kepada kumpulan nasyid yang ada pada hari ini.

Jelasnya, walaupun Rabbani hanya ditubuhkan pada tahun 1998, namun namanya telah lama terkenal dengan seni irama nasyid sejak sekian lamanya khususnya sewaktu menganggoti Nadamurni.

"Begitu juga anggota Raihan yang ditubuhkan sebenarnya turut mendapat respond yang baik dari allahyarham sendiri, bahkan allahyarham turut memberi saranan supaya perbanyakkan kumpulan nasyid.

"Ianya bertujuan supaya masyarakat turut mendapat hiburan alternatif yang menjurus kepada Islam sebagai mengimbangi lagu-lagu versi lain yang ada pada hari ini,"ujarnya.

Ulama nasyid

Kali terakhir bertemu dengan allahyarham dua malam lalu untuk berbincang tentang program nasyid yang bakal diadakan bersama selepas ini.

Sementara itu, anggota Kumpulan Hijjaz, Isman Hisyam,40, menyifatkan allahyarham sebenarnya seorang ulama yang masyhur dalam nasyid.

"Walaupun kita nampak dia bernasyid, tetapi sebenarnya dia seorang ulama bahkan tempat anggota kumpulan nasyid membuat rujukan khususnya tentang Islam,"ujarnya.

Beliau yang kini berada di Kota Bharu untuk promosi Kopi Hijjaz, bagaimanapun melahirkan rasa terkilan sebab tidak dapat pulang menziarahi allahyarham buat kali terakhir kerana masaalah tiket penerbangan telah habis.

Menurutnya, semua tiket sama ada MAS, Firefly, Air Asia kesemuanya habis untuk penerbangan hari ini.

Jelas Isman lagi, beliau amat terkejut dengan berita yang baru diterima apabila salah seorang anggota Kumpulan Rabbani 'Azadan' menghubunginya memberitahu Asri sudah meninggal dunia.

"Kami macam adik beradik walaupun berlainan kumpulan sebab kumpulan nasyid mana-mana pun menuju ke arah yang sama iaitu membawa manusia ke jalan yang benar serta sentiasa mengaggungkan Allah,"ujarnya.

Tambahnya, lagipun kumpulannya sentiasa merangkakan program bersama khususnya rakaman 'zikir' bersama Rabbani.

Sehubungan itu, beliau menyeru semua peminat Rabbani khususnya umat Islam mendoakan kesejahteraan allahyarham agar mendapat limpahan rahmat yang tidak perbah putus.

"Kami juga berharap semua peminat seni nasyid tanah air supaya bersabar menerima berita yang begitu menyentuh jiwa ini,"ujarnya yang tidak dapat menahan sebak.

Untuk rekod, salah seorang anggota Hijjaz, iaitu Salleh telah meninggal dunia akibat masalah paru-paru, ianya diikuti dengan anggota kumpulan Raihan, Zaery meninggal dunia akibat serangan jantung beberapa bulan selepas itu.Sumber: http://www.harakahdaily.net/index.php?option=com_content&task=view&id=22113&Itemid=50

Selasa, Agustus 11, 2009

Gambar-gambar Pada Hari Kewafatan Syeikh Abul Hasan al-Kurdi

Banjiran manusia di Masjid Umawi pada hari kematian Syeikh



Tanah Perkuburan Bab As-Soghir



Semoga Allah menempatkan kita dan beliau bersama para anbiya', syuhada dan solihin. Amin.

Untuk mendengar bacaan al-Quran oleh beliau, boleh dengar dan download di link ini, http://www.sadazaid.com/catplay.php?catsmktba=200

Senin, Agustus 10, 2009

Wafatnya Syeikh Abul Hasan al-Kurdi (Kemaskini)

Inalillahi wa inalilahi rojiun.

Ulama qurra' Syria terkenal, Syeikh Abul Hasan al-Kurdi telah wafat pada hari Jumaat lalu, 7 Ogos 2009 bersamaan 16 Syaaban 1430 H. Beliau ialah seorang ulama besar Syam yang tersangat alim di dalam bidang al-Quran. Dan kita berasa kehilangan dengan pemergiannya.

Beliau telah meninggalkan warisan yang besar bagi siapapun yang belajar al-Quran dari generasi lelaki, wanita dan anak-anak di mana sanad al-Qurannya bersambung hingga Rasulullah saw.

Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada kita supaya dapat mencintai dan meneladani ulama, ketika mereka telah pergi dari dunia ini, bumi juga turut bersedih di atas kematian mereka.

Semoga beliau di tempatkan di kalangan para anbiya', syuhada dan orang-orang soleh. Amin.

Biografi Syeikh Abul Hasan al-Kurdi

Beliau telah dilahirkan pada 1330 H bersamaan 1912 M. Nama sebenarnya Abul Hasan Muhyiddin bin Hasan bin Mar'i bin Hasan Agha bin Ali al-Kurdi Ad-Dari. Beliau wafat menemui kekasihnya ketika berusia 97 tahun. Khidmat beliau kepada al-Quran dan ummah tidak dapat dinafikan. Wajahnya yang suci dan mempesonakan itu menzahirkan sifat tawaduknya.

Beliau merupakan syeikh di Markaz Zaid bin Thabit, Damsyik. Majalah Ad-Diya' bilangan ke-4 yang diterbitkan pada Ramadhan 1429 H di Arab Saudi ada menyiarkan sejarah hidupnya melalui sesi temuramahnya bersama Doktor Abdullah bin Muhammad bin Sulaiman Al-Jar Lillah. Bagaimanakah kehidupannya, kesungguhannya dalam menuntut ilmu, akhlaknya bersama keluarga dan pelajar-pelajarnya. Beliau juga memberikan nasihat kepada para penuntut ilmu secara umumnya dan Ahlul Quran secara khusus.

Beliau ialah seorang syeikh yang tersangat zuhud dan dipanjangkan umurnya. Beliau merupakan salah seorang Fuqaha' Besar Syam dan ulama al-Quran yg tersohor. Beliau ialah syeikh di Markaz Zaid bin Thabit di Damsyik, Syria.

Antara ulama paling masyhur yang mengajar dan teliti dalam menyebut huruf al-Quran dengan betul. Pakar dalam membaca al-Quran dengan Qiraat yang pelbagai. Selalu mengkhatamkan al-Quran, kuat berpuasa, kuat bangun malam dan menunaikan haji dan umrah setiap tahun kecuali setelah beliau ditimpa sakit.

Dari kiri: Syeikh Abul Hasan Al-Kurdi, Habib Ali Al-Jufri dan Doktor Nuruddin 'Itr

Sesiapa sahaja yang memandangnya pasti terdetik di hatinya akan kesolehan dan kewarakan Syeikh Abul Hasan al-Kurdi rahimahullah. Pertama kali melihat wajahnya, ketenangan akan meresap ke dalam hati. Beliau sangat tawaduk dan tenang. Sentiasa menghina dan mentohmah dirinya sendiri bahawa beliau seorang yang lemah dan lalai. Beliau sentiasa memakai wangi-wangian, berpakaian bersih dan menjaga penampilan diri.

Beliau seorang yang sangat zuhud. Perkara ini jelas dilihat dari segi pekaian dan penampilannya. Keadaan rumahnya mempamerkan lagi sifat zuhud yg tertanam di hatinya. Perabot di bilik tidurnya amat ringkas, begitu juga katil tempat tidurnya. Beliau pernah diberikan hadiah lalu beliau menolaknya dengan marah, "Jangan rosakkan pembacaan al-Quran kami, sesungguhnya kami mahukan ganjaran yang sempurna dari Allah SWT."

Ketika menunaikan ibadah haji, bekalannya telah dicuri. Lalu beliau berdoa, "Ya Allah, jadikanlah apa yang dicuri daripadaku itu sebagai sebab kepada hidayahnya."

Sumber:
- http://www.sadazaid.com
- http://lamanulama.blogspot.com/2009/08/syeikhul-qurra-abu-hasan-al-kurdi.html
- http://questforthedivine.blogspot.com/2009/08/shaykh-abu-hassan-al-kurdi-passes.html

Komik Tokoh Muslim Dunia Siri 2: Al-Khawarizmi

Penulis & pelukis: Nin Studio
Penerbit: Gema Insani Press
Tahun: 2006
Jumlah halaman: 94 m/s

Tidak banyak yang mengetahui bahawa ilmu matematik, algoritma, aljabar dan beberapa lainnya merupakan karya seorang ilmuwan Muslim bernama Al-Khawarizmi (770-840 M). Komik ini berusaha menampilkan biografi sang ilmuwan, yang dimulai sejak ia kanak-kanak. Bahagian-bahagian awal komik terasa menjemukan kerana ritmanya yang lambat dan lebih menceritakan perjalanan kedua orangtuanya pindah dari kota kelahirannya (kini bahagian dari Uzbekistan) ke arah selatan kota Baghdad. Setelah 1/3 buku, barulah cerita mulai padat.

Karya Al-Khawarizmi terhitung banyak, termasuk penciptaan bola dunia dan peta dunia, lengkap dengan perhitungan luas keliling bumi. Kitabnya Al-Jabr Wa Al-Muqabilah, adalah kitab yang kelak menjadi rujukan utama ilmu aljabar di seluruh dunia. Beliau juga menyusun kitab tentang astronomi. Ilustrasi dalam komik ini termasuk bagus dan realistis. Bahasa visual mudah difahami dan mudah diikuti.

Lihat isi komiknya:
http://books.google.com.my/books?id=JB3htlhm8bwC&printsec=frontcover#v=onepage&q=&f=false

Senin, Agustus 03, 2009

Rasulullah SAW, Seolah-olah Kamu Melihatnya

~ Bahawasanya Rasulullah saw adalah manusia yang paling tampan wajahnya, paling bagus bentuk penciptaannya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. (Muttafaq alaih)

~ Bahawasanya Rasulullah saw berkulit putih dan berwajah elok. (Muslim)

~ Bahawasanya badan Rasulullah saw tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek, dadanya bidang, janggutnya lebat, rambutnya sampai ke daun telinga, aku (sahabat) pernah melihatnya berpakaian merah dan aku tidak pernah melihat yang lebih indah daripadanya. (Bukhari)

~ Bahawasanya wajah Rasulullah bulat bagaikan matahari dan bulan. (Muslim)

~ Bahawasanya apabila Rasulullah saw gembira, wajahnya menjadi bercahaya seolah-olah seperti belaian bulan dan kami semua mengetahui yang demikian itu. (Muttafaq alaih)

~ Bahawasanya tidaklah Rasulullah saw tertawa kecuali dengan senyum dan apabila kamu memandangnya maka kamu akan menyangka bahawa baginda memakai celak pada kedua matanya, padahal baginda tidak memakai celak. (Tirmizi. Hasan)

~ Dari Aisyah ra, dia berkata

"Tidak pernah aku melihat Rasulullah tertawa terbahak-bahak sehingga kelihatan batas kerongkongnya. Akan tetapi tertawa baginda adalah dengan tersenyum". (Bukhari)

~ Dari Jabir bin Samurah ra, dia berkata:

"Aku pernah melihat Rasulullah saw pada malam bulan purnama. Aku memandang baginda sambil memandang bulan. Baginda mengenakan pakaian merah. Maka menurutku, baginda lebih indah daripada bulan." (Tirmizi, dia berkata: Hadis hasan gharib. Dan disahihkan oleh al-Hakim serta disetujui oleh az-Zahabi)

(Dipetik dari buku Mengenal Peribadi Rasulullah SAW karya Syeikh Muhammad Jamil Zainu)

Syair Qasidah Burdah Imam al-Bushiri

Kutinggalkan sunnah Nabi yang sepanjang malam.
Beribadah hingga kedua kakinya bengkak dan keram.

Nabi yang kerana lapar mengikat pusarnya dengan batu.
Dan dengan batu mengganjal perutnya yang halus itu.

Kendati gunung emas menjulang menawarkan dirinya.
la tolak permintaan itu dengan perasaan bangga.

Butuh harta namun menolak, maka tambah kezuhudannya.
Kendati butuh pada harta tidaklah merusak kesuciannya.

Bagaimana mungkin Nabi butuh pada dunia.
Padahal tanpa dirinya dunia takkan pernah ada.

Muhammadlah pemimpin dunia akhirat.
Pemimpin jin dan manusia, bangsa Arab dan bukan Arab.

Nabilah pengatur kebaikan pencegah mungkar.
Tak satu pun setegas ia dalam berkata ya atau tidak.

Dialah kekasih Allah yang syafaatnya diharap.
Dari tiap ketakutan dan bahaya yang datang menyergap.

Dia mengajak kepada agama Allah yang lurus.
Mengikutinya berarti berpegang pada tali yang tak terputus.

Dia mengungguli para Nabi dalam budi dan rupa.
Tak sanggup mereka menyamai ilmu dan kemuliaannya.

Para Nabi semua meminta dari dirinya.
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.

Para Rasul sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.

Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih sebagai kekasih Allah pencipta manusia.

Dalam kebaikanya, tak seorang pun menyaingi.
Inti keindahannya takkan bisa terbagi-bagi.

Jauhkan baginya yang dikatakan Nasrani pada Nabinya.
Tetapkan bagi Muhammad pujian apapun kau suka.

Nisbatkan kepadanya segala kemuliaan sekehendakmu.
Dan pada martabatnya segala keagungan yang kau mahu.

Kerana keutamaannya sungguh tak terbatas.
Hingga tak satupun mampu mengungkapkan dengan kata.

Jika mukjizatnya menyamai keagungan dirinya.
Nescaya hiduplah tulang belulang dengan disebut namanya.

Tak pernah ia uji kita dengan yang tak diterima akal.
Dari sangat cintanya, hingga tiada kita ragu dan bimbang.

Seluruh makhluk sulit memahami hakikat Nabi.
Dari dekat atau jauh, tak satu pun yang mengerti.

Bagaikan matahari yang tampak kecil dari kejauhan.
Padahal mata tak mampu melihatnya bila berdekatan.

Bagaimana seseorang dapat ketahui hakikat sang Nabi.
Padahal ia sudah puas bertemu dengannya dalam mimpi.

Puncak pengetahuan tentangnya ialah bahawa ia manusia.
Dan ia adalah sebaik baik seluruh ciptaan Allah.

Segala mukjizat para Rasul mulia sebelumnya.
Hanyalah pancaran dari cahayanya kepada mereka.

Dia matahari keutamaan dan para Nabi bintangnya.
Bintang hanya pantulkan sinar mentari menerangi gulita.

Alangkah mulia paras Nabi yang dihiasi pekerti.
Yang memiliki keindahan dan bercirikan wajah berseri.

Kemegahannya bak bunga, kemuliaannya bak purnama.
Kedermawanannya bak lautan, keghairahannya bak sang waktu.

la bagaikan dan memang tiada taranya dalam keagungan.
Ketika berada di sekitar pembantunya dan di tengah pasukan.

Bagai mutiara yang tersimpan dalam kerangnya.
Dari kedua sumber, iaitu ucapan dan senyumannya.

Tiada keharuman melebihi tanah yang mengubur jasadnya.
Beruntung orang yang menghirup dan mencium tanahnya.