Selasa, Agustus 24, 2010

Bacaan al-Quran oleh Syeikh Abdus Salam bin Barjas



Syeikh Abdus Salam bin Barjas, Ulama' Muda Yang Alim

Artikel terdahulu: http://tamanulama.blogspot.com/2009/01/syeikh-abdus-salam-bin-barjas-ulama.html

Dikemaskini dan tambahan:

Dia ialah Syeikh Abdus Salam bin Barjas bin Nasir Ali Abdil Karim. Dia lahir pada tahun 1387 H di Riyadh, Arab Saudi.

Seorang ahli hadis muda dari Arab Saudi, yang dikatakan oleh para ulama', "Tingkat keilmuannya melebihi umurnya".

Dia ialah qadi (hakim) di Riyadh dan juga imam masjid dan memiliki halaqah ilmu di tempat dia jum'atan sehari sebelumnya.

Guru-guru Syeikh Abdus Salam di antaranya ialah Syeikh Abdul Aziz bin Baz, Syeikh Shalih bin Utsaimin, Syeikh bin Jibrin, Syeikh Muhadis Abdullah bin Duwaisi, Syeikh Shalih bin Abdurrahman al-Athram, Syeikh Abdurahman bin Ghudayan, Syeikh Shalih bin Ibrahim al-Balihi, Syeikh Abdulkarim al-Khudairi dan lainnya.

Tulisannya lumayan banyak, baik berupa takhrij atau lainnya, yang terkenal ialah Mu’amalatul Hukkam fi Dhauil Kitab wa Sunnah yang sangat unik topiknya dan sarat dengan faedah. Dia telah menulis buku sejak berumur 18 tahun lagi.

Dia meninggal dunia pada hari Sabtu malam pada tahun 1425 H/2004 M dalam kemalangan kenderaan yang mengerikan saat dalam perjalanan dari Ahsa ke Riyadh. Kenderaan yang dipandunya terlanggar unta ketika dia tidak sempat mengelaknya. Jenazahnya telah dikebumikan di Riyadh, Arab Saudi, setelah solat Asar di Masjid Abdullah, Dira pada 3 April 2004.

Menurut Abdurrahman al-Ghisli, rakan yang hadir di tempat kemalangan dan ikut menolongnya, Syeikh Abdus Salam Bin Barjas rahimahullah, mengakhiri hembusan nafasnya dengan mengucapkan syahadah.

Semoga amalan baiknya diterima oleh Allah Taala, diampuni dosa-dosanya dan dimudahkan jalannya menuju JannahNya. Amin ya Rabbal alamin.

Rabu, Agustus 18, 2010

Perlukah Menghentikan Aktiviti Lain Selama Bulan Ramadhan Khusus Untuk Membaca al-Quran Saja?

Oleh: Syeikhah Sukainah bintu Muhammad Nasiruddin al-Albani hafizahullah (Puteri Syeikh al-Albani)

بسم الله الرحمٰن الرحيم

الحمد لله وحده، والصَّلاة والسَّلام عَلىٰ مَن لا نبيَّ بَعْدَه

أمّا بعد


Aku pernah bertanya kepada ayahku (Syeikh al-Albani rahimahullah, pent) yang secara ringkasnya:

Aku membaca bahawa sebagian Imam jika telah masuk bulan Ramadhan, mereka memutus aktiviti hanya untuk membaca al-Quran saja, walaupun mereka adalah ulama yang memberi fatwa kepada orang-orang, maka merekapun menghentikan aktivitinya walaupun untuk berfatwa kepada orang-orang. Apakah ini benar? Apakah aku perlu mengkhususkan bulan Ramadhan ini untuk membaca al-Quran saja dan aku tinggalkan aktiviti membaca hadis beserta syarahnya, kajian-kajian dan yang selainnya?

Maka beliau menjawab:

Pengkhususan ini tidak ada asalnya dalam sunnah, akan tetapi yang merupakan sunnah dan terdapat dalam as-Sahihain (sahih al-Bukhari dan Muslim, pent) [1] adalah: memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadhan.

Adapun mengkhususkan bulan Ramadhan untuk hanya membaca al-Quran saja tanpa ibadah lainnya seperti menuntut ilmu, mengajarkan hadis, menjelaskan dan mensyarahnya, maka yang seperti ini tidak ada asalnya. Begitu pula mengerjakan kebaikan-kebaikan, sedekah, berbuat baik kepada manusia dan seterusnya. Maka memutus aktiviti hanya untuk tilawah al-Quran saja tidak ada asalnya, yang ada asalnya adalah semata-mata memperbanyak membacanya.

Audio fatwa Ayahku boleh di download di link ini.

_________________

[1] Dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ


“Adalah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam orang yang paling dermawan dan beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau dan malaikat Jibril menemui beliau di setiap malam Ramadhan dan mengajarkan al-Quran kepada beliau. Maka ketika itulah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam lebih dermawan untuk memberikan kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.”

An-Nawawi rahimahullah berkata: “Teman-teman kami berpendapat: disunnahkan banyak-banyak membaca al-Quran di bulan Ramadhan dan saling mempelajarinya, iaitu dengan seseorang membacakannya kepada yang lain dan yang lain membacakan kepadanya, berdasarkan hadis Ibnu Abbas tadi” [al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 6/274]

Dan al-hafiz Ibnu Rajab rahimahullah berkata tentang hadis ini: “dan dalam hadis ini terdapat dalil disukainya memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadhan” [Latho’if al-Ma’arif hal. 169]

***

Diterjemahkan dari blog Syaikhah Sukainah bintu Muhammad Nasiruddin al-Albani hafizahullah: http://tamammennah.blogspot.com/2010/08/blog-post.html

Sumber:
http://ummushofi.wordpress.com/2010/08/11/perlukah-menghentikan-aktifitas-lain-selama-bulan-romadhon-khusus-untuk-membaca-al-qur%E2%80%99an-saja

Senin, Agustus 16, 2010

Bersama Nabi SAW Di Bulan Ramadhan

Oleh:
Syeikh Muhammad Musa Nasr

Bulan Ramadhan adalah bulan dibukanya pintu-pintu syurga, ditutupnya pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu, turun dua malaikat, yang pertama mengatakan: “Wahai orang yang meng
harap kebaikan, datanglah!”. Yang kedua mengatakan: “Wahai orang yang mengharap kejahatan, tahanlah!”. Dalam bulan itu terdapat satu malam, barangsiapa diharamkan pada malam itu maka ia telah diharamkan dengan kebaikan yang banyak. Ia adalah suatu malam yang diputuskan setiap perkara yang bijaksana. Sesunguhnya malam itu adalah Lailatul Qadar, yang satu malam di dalamnya lebih baik dari seribu bulan.

Sesungguhnya, mencukupkan diri dengan petunjuk Nabi dalam setiap ketaatan adalah perkara yang sangat penting, khususnya (mencukupkan diri dengan) petunjuk Nabi sallallahu alaihi wasallam pada bulan Ramadhan. Kerana amal soleh seseorang tidak diangkat kecuali jika apabila ia ikhlash kerana Allah dan hanya mengikuti tuntunan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Sesungguhnya ikhlas dan mutaaba’ah (mengikuti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam) merupakan dua syarat esensial diterimanya amal soleh. Keduanya ibarat dua sayap burung, maka alangkah jauhnya (dari realiti) jika ada burung yang terbang dengan satu sayap!

Di dalam risalah ini -wahai para pembaca budiman-, kita akan mempelajari bagaimana keadaan Nabi sallallahu alaihi wasallam di dalam bulan Ramadhan secara singkat dan ringkas, dengan harapan agar semoga anda dapat mengetahui dengan jelas petunjuk baginda sallallahu alaihi wa sallam. Ketahuilah, barangsiapa y
ang tidak bersama Rasul di dalam mengikuti petunjuknya di dunia ini, niscaya dia tidak akan bersama beliau di akhirat kelak. Karena setiap kesuksesan ada pada ittiba’ (mengikuti) Rasulullah sallallahu alaihi wasallam baik secara zhahir maupun bathin, dan hal ini tidak akan diperoleh kecuali dengan ilmu yang bermanfaat, dan ilmu yang bermanfaat tidak bakal dapat dicapai melainkan dengan amal yang shalih. Maka buah ilmu yang bermanfaat adalah amal yang shalih.

Wahai hamba Allah, inilah penjelasan sebagian keadaan-keadaan Rasulullah dan petunjuk beliau dalam bulan Ramadhan [Hadis-hadis yang terdapat dalam makalah ini adalah hadis-hadis sahih, sebagian besar terdapat dalam shahih Bukahri dan Muslim, atau salah satu dari keduanya], agar anda dapat meneladaninya sehingga anda memperoleh kecintaan kepadanya dan dikumpulkan bersama Nabi sallallahu alaihi wasallam kelak.

Berikut ini kami kemukakan beberapa keadaan dan petunjuk Nabi sallallahu alaihi wa sallam di bulan Ramadhan:

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tidak berpuasa hingga ru’yah (melihat) hilal dengan penglihatan yang pasti, atau dari berita seorang yang adil dalam penentuan awal bulan Ramadhan, atau menyempurn
akan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam merasa cukup dengan persaksian satu orang, ini merupakan hujjah diterimanya khabar ahad. Tersebut dalam hadits shahih bahwa kaum muslimin berpuasa hanya dengan ru’yah yang dilakukan oleh seorang Arab Badui yang datang dari padang pasir, kemudian ia memberitahukan kepada Nabi bahwa ia telah melihat hilal, maka beliau memerintahkan Bilal agar mengumumkan untuk puasa.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam melarang umatnya untuk mendahului bulan Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari (sebelumnya) dengan alasan berhati-hati, kecuali apabila ia merupakan kebiasaan salah seorang diantara kalian, oleh karena itu dilarang berpuasa pada hari yang diragukan.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam berniat puasa pada malam hari sebelum fajar dan memerintahkan kepada umatnya (untuk berniat), dan hukum ini khusus untuk puasa wajib. Adapun puasa nafilah (sunnah) maka tidak wajib.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tidak menahan dari makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa hingga ia melihat fajar shadiq dengan penglihatan yang pasti, sebagai pengimplementasian firman Allah:

كُلُوْا وَ اشْرَبُوْا حَتَّى يَتَبَيّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“Dan makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar” (Al Baqarah : 187)

Rasulullah allallahu alaihi wa sallam menerangkan pada umatnya bahwa fajar ada dua yaitu shadiq dan kadzib. Selama fajar kadzib, tidak diharamkan makan, minum dan jima’. Rasulullah tidak pernah memberatkan umatnya baik dalam bulan Ramadhan atau selainnya, beliau tidak pernah mensyariatkan apa yang dinamakan oleh kaum muslimin ini sebagai adzan (seruan) imsak.

* Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur, serta memerintahkan umatnya untuk melaksanakan hal ini. Beliau bersabda :

لاَ تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الْفُطُوْرَ

“Senantiasa umatku selalu selalu dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”.

* Jarak antara sahur beliau dan shalat fajar (shubuh) adalah kurang lebih seperti membaca 50 ayat.

* Adapun tentang akhlak baginda, maka ceritakanlah dan tidak mengapa. Sungguh Rasulullah adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Betapa tidak, padahal sungguh akhlak beliau adalah Al-Qur’an, sebagaimana disifatkan oleh Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau telah memerintahkan umatnya supaya berakhlak baik, terlebih lagi bagi orang yang sedang berpuasa, beliau bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَعَمِلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةً فِى أَنْ يَدَعْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makanan dan minumannya”.

* Baginda sallallahu alaihi wa sallam menjaga keluarganya dan memperbaiki cara bergaulnya dengan mereka pada bula
n Ramadhan melebihi bulan lainnya.

* Puasa yang beliau kerjakan tidak menghalanginya mencium istri-istrinya atau menyentuh mereka. Namun beliau adalah seorang yang paling mampu mengendalikan syahwatnya.

* Baginda sallallahu alaihi wa sallam tidak meninggalkan siwak baik pada bulan Ramadhan atau selain bulan Ramadhan, beliau senantiasa mensucikan mulutnya.

* Nabi sallallahu alaihi wa sallam berbekam dalam keadaan berpuasa, dan beliau memberi keringanan bagi orang yang bepuasa untuk berbekam, adapun hadits yang menyelisihi hal ini telah mansukh (terhapus).

* Baginda sallallahu alaihi wa sallam berjihad di bulan Ramadhan, dan memerintahkan sahabatnya untuk berbuka agar kuat dalam menghadapi musuh.

* Di antara rahmat baginda sallallahu alaihi wa sallam kepada umatnya, iaitu bagi musafir diberi keringanan untuk tidak berpuasa, demikian juga orang yang sakit, laki-laki dan perempuan tua (jompo), perempuan hamil dan menyusui. Bagi musafir harus mengganti puasanya (dihari lain), sedangkan orang yang sudah lanjut usia, perempuan hamil atau menyusui yang khawatir terhadap diri dan bayinya, maka ia mengganti puasanya dengan memberi makan (fakir miskin).

* Baginda sallallahu alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam ibadah dan shalat malam pada bulan Ramadhan melebihi kesungguhannya pada bulan-bulan lainnya, terutama pada 10 malam terakhir, beliau mencari Lailatul Qodar.

* Nabi sallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf pada bulan Ramadhan, khususnya 10 hari yang terakhir. Pada tahun dimana beliau wafat, Nabi sallallahu alaihi wa sallam beri’tikaf selama 20 hari. Beliau tidaklah beri’tikaf melainkan dalam keadaan berpuasa.

* Adapun dalam hal mengulangi (bacaan) al-Quran, maka tidak ada seorangpun yang memiliki kesungguhan seperti kesun
gguhan baginda sallallahu alaihi wa sallam. Jibril menemui beliau untuk mengulangi Al Qur’an dalam bulan Ramadhan, dikarenakan bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an.

* Adapun kedermawanan beliau dalam bulan Ramadhan tidaklah dapat digambarkan. Beliau seperti angin yang berhembus (membawa kebaikan), sebagaimana keadaan orang yang tidak takut miskin.

* Nabi sallallahu alaihi wa sallam adalah mujahidin yang paling agung, puasa tidaklah menjadi penghalang baginya dari mengikuti peperangan-peperangan. Baginda sallallahu alaihi wa sallam telah mengikuti 6 peperangan dalam 9 tahun, semuanya di bulan Ramadhan. Demikian pula beliau melakukan amalan-amalan yang besar di bulan Ramadhan, diantaranya penghancuran Masjid Dhirar (masjid yang didirikan orang-orang munafik), penghancuran berhala terbesar di Jazirah Arab, menyambut utusan-utusan, menikah dengan Hafshah Ummul Mu’minin, dan membebaskan kota Mekkah (dari kekuasaan musyrikin) pada bulan Ramadhan.

Ringkasan: Bulan R
amadhan adalah bulan kesungguhan, bulan jihad dan bulan pengorbanan bagi kehidupan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Tidak sebagaimana yang difahami oleh mayoritas kaum muslimin pada zaman ini, yang memahami bulan Ramadhan adalah bulan istirahat, bulan bermalas-malasan, kelemahan dan pengangguran.

Ya Allah, berilah petunjuk kepada kami untuk mengikuti NabiMu dan hidupkanlah kami di atas sunnahnya dan wafatkan kami diatas syariatnya sallallahu alaihi wa sallam.

Sumber:
Majalah Al-Ashalah edisi III hal 66-69

Mengenai Syeikh Muhammad Musa Nasr

Syeikh Muhammad Musa Nasr merupakan salah seorang murid Syeikh al-Albani yang terkenal. Syeikh al-Albani memuji dia dan biasa mendahulukannya sebagai imam di rumahnya atau ketika safar. Dan terkadang Syeikh al-Albani berkata: "Bersama kami imam kami". Dan asy-Syeikh mengirim kepada Syeikh Muhammad Musa para penuntut ilmu untuk belajar qiraah dari dia.

Ikuti lanjut profilnya:http://tamanulama.blogspot.com/2008/02/syeikh-muhammad-musa-nasr.html

Sabtu, Agustus 07, 2010

Karya Terbaru Saya, Nantikan...

Contoh kulit buku karya terbaru saya, 'Ulama Warisan Rasulullah SAW'. Insya Allah, akan terbit selepas Hari Raya Aidilfitri ini. Terbitan Inteam Publishing. Nantikan...

Kamis, Agustus 05, 2010

Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i, Mutiara Sunnah Dari Yaman

Dia ialah al-Allamah al-Muhaddis Syeikh Muqbil bin Hadi bin Qayidah al-Hamdani al-Wadi’i al-Khilali rahimahullah. Dia ialah duri bagi para pengusung kebatilan, baik dari kalangan Syiah Rafidah, Khawarij, Teroris, Liberalis, Komunis, Sufiyyah dan kelompok-kelompok sesat lainnya.

Dia ialah sosok yang dikenal dengan kejujuran, keikhlasan, iffah (menjaga kehormatan dan harga diri), kesabaran, zuhud dalam kehidupan dunia, berjalan di atas aqidah yang benar dan manhaj salafi yang lurus, sikap bijak, santun, lembut, keberanian, serta tampil menyerukan kebenaran. Sungguh sosok dia mengingatkan dengan sosok para ulama' salafus soleh, terutama sosok Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.

Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i rahimahullah dilahirkan pada tahun 1352 H di Dammaj, Yaman, sebuah lingkungan Zaidiyah (salah satu kelompok syiah) yang bercirikan tasauf, muktazilah dan berbagai bid'ah lainnya.

Belajarnya

Syeikh Muqbil rahimahullah memulai pelajarannya di Maktab di sebuah kampung yang bernama al-Wathan Dammaj, Yaman beberapa lama kemudian berhenti kerana tidak ada yang membiayainya belajar.

Kemudian dia bersafar ke Riyadh, Arab Saudi dan tinggal di sana sekitar sebulan setengah. Ketika cuaca Riyadh berubah maka dia berangkat ke Makkah. Dia meminta petunjuk kepada sebahagian penceramah tentang kitab-kitab yang bermanfaat yang akan dia beli, maka dia dinasihati agar membeli kitab Sahih Bukhari, Bulughul Maram, Riyadus Salihin dan Fathul Majid.

Dia bekerja sebagai penjaga sebuah gedung di Hajun sambil menelaah kitab-kitab tersebut. Dia sangat tertarik dengan kandungan kitab-kitab tersebut kerana amalan manusia di negerinya sangat berbeza dengan yang ada dalam kitab-kitab tersebut.

Setelah beberapa lama beliau pulang ke negerinya Yaman dan mulai mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan kaumnya. Seperti menyembelih untuk selain Allah, meminta kepada orang-orang yang sudah mati, membangun kuburan dan kesyirikan-kesyirikan lainnya.

Reaksi yang muncul dari kaumnya begitu keras, lebih-lebih dari orang Syiah yang memandang Syeikh Muqbil sudah merubah agamanya sehingga pantas dibunuh. Mereka memaksa Syeikh Muqbil untuk belajar di Masjid Jami’ al-Hadi untuk menghilangkan syubhat-syubhatnya.

Kemudian dia berangkat ke Najran dan tinggal di sana selama dua tahun belajar kepada Majduddin al-Muayyid. Setelah itu berangkatlah di ke Makkah bekerja di waktu siang dan belajar di waktu malam.

Ketika dibuka Maahad al-Haram al-Makki, dia mendaftarkan diri dan diterima sehingga dia menyelesaikan pendidikan Mutawassitah dan Tsanawiyah. Kemudian dia menuju ke Madinah dan masuk ke Jamiyah Islam Madinah di Fakulti Dakwah dan Fakulti Usuluddin.
Ketika dibuka Fakulti Pasca Sarjana di Jamiyah Islam Madinah, dia mendaftarkan diri dan diterima. Risalah Masternya adalah tahqiq kitab Ilzamat dan Tatabbu’ oleh Imam Daruqutni.

Syeikh Muqbil berkata, “Setelah ini semua, aku tinggal di perpustakaanku. Hanya beberapa saat berdatanganlah sebahagian saudara-saudara dari Mesir, maka aku buka pelajaran-pelajaran dari sebahagian kitab-kitab hadis dan kitab-kitab bahasa. Dan masih saja para thalabul ilmi berdatangan dari Mesir, Kuwait, Haramain, Najd, ‘Adn, Hadramaut, Al-Jazair, Libia, Somalia, Belgia dan dari kebanyakan negeri-negeri Islam dan yang lainnya.

Gunung-gunung dan pasir serta lembah-lembah menjadi saksi bagi Abu Abdirrahman (nama kunyah Syeikh Muqbil) dalam penyebaran sunnah dan kesabarannya dalam menanamkan pada hati manusia serta permusuhannya terhadap bid’ah dengan fadilah dari Allah Subhanahu wa Taala.

Mendirikan Maahad Darul Hadis


Sepulang dia dari belajar di negeri Tauhid dan Sunnah Kerajaan Arab Saudi, dia mulia merintis taklim dan dakwah di Yaman. Maka Allah Azza wa Jalla membukakan pintu kemenangan dan keberhasilan baginya dalam wujud yang sangat besar. Dengan diiringi dan dibantu oleh teman sepejuangannya sekaligus murid besarnya, al-Allamah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wusabi hafizahullah, berdirilah madrasahnya di kampung Dammaj, Yaman, yang diberi nama Maahad Darul Hadis.

Sungguh Allah berkahi dakwah dan perjuangannya. Madrasahnya menjadi madrasah yang sarat dengan ilmu. Berbagai disiplin ilmu agama diajarkan di sana. Dengan dilandasi keikhlasan niat, kesungguhan, kasih sayang, akhlaq mulia, kesantunan, jauh dari sikap brutal dan ekstrim. Para murid berdatangan dari seantero dunia Islam dari seluruh penjuru dunia. Kalau dulu dikatakan bahwa tidak ada seorang ulama' yang paling banyak didatangi oleh para ahli hadis dari berbagai penjuru negeri seperti al-Imam Abdurrazzaq As-Shan’ani rahimahullah.

Maka pada masa ini, tidak berlebihan kalau dikatakan bahawa tidak ada seorang ulama' yang paling banyak didatangi oleh para penuntut ilmu dari berbagai penjuru negeri seperti Syeikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah.

Jerih payah upaya dakwah beliau (tentunya setelah pertolongan dan taufiq dari Allah ‘Azza wa Jalla) benar-benar membuahkan hasil yang sangat indah di Yaman dan dunia Islam pada umumnya. Dakwah Salafiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah menjadi dikenal, dihormati dan diterima serta diikuti oleh umat.

Guru-gurunya

Di antara guru-gurunya yang paling masyhur ialah:

1. Syeikh Abdul Aziz bin Baz (dia pernah hadir mengikuti sebahagian halaqah ilmunya di Haramun Madani iaitu pada kitab Sahih Muslim)
2. Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani (dia mengambil faedah darinya pada pertemuan khusus para thalabatul ilmi dan pada kesempatan-kesempatan yang lainnya).
3. Syeikh Abdul Aziz bin Rasyid An-Najdi
4. Syeikh Muhammad bin Abdillah As-Soumali
5. Syeikh Muhammad al-Amin al-Misri
6. Syeikh Hammad bin Muhammad al-Ansari
7. Syeikh Abdul Aziz As-Subail
8. Syeikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid

Semangatnya dalam Berpegang dengan As-Sunnah


Dia termasuk orang yang teguh untuk bepegang dengan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh kerana itulah Allah Subhanahu wa Taala memuliakan sebutannya. Sebagaimana ditegaskan oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Sesungguhnya Allah memuliakan seseorang sesuai dengan kadar berpegang teguhnya dia dengan As-Sunnah.”

Di antara ucapan yang sering dia katakan ialah: “Sunnah Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam tidak akan kita tinggalkan meskipun kita harus menggigitnya dengan gigi kita.”

Sikapnya terhadap Pemahaman Salafus Soleh

Dia rahimahullah mengatakan: “Kita beribadah kepada Allah dengan pemahaman salafus soleh yang sesuai dengan dalil. Dan kita katakan: Sesungguhnya mereka telah mendahului kita dalam setiap kebaikan. Apalagi sudah jelas sanjungan terhadap mereka, seperti firman Allah Subhanahu wa Taala:
وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (At-Taubah: 100)

Dan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis ini terdapat isyarat bahwasanya harus mengambil sesuai dengan pemahaman mereka.

Sikap Bijaknya

Syeikh Muqbil rahimahullah adalah seorang yang bijak dalam berdakwah mengajak manusia ke jalan Allah di tengah-tengah masyarakat dan kaumnya, beliau bukanlah sosok yang kasar dan brutal. Sebab beliau tahu bahwa dakwah ini bukan ditegakkan di atas tindakan revolusioner dan pemberontakan. Cara seperti itu (revolusioner dan pemberontakan) sudah dilakukan sebagian kelompok, yang akhirnya justru menimbulkan kejelekan; memecah belah persatuan kaum muslimin serta menjadikan tercorengnya citra Islam dan kaum muslimin di mata penduduk dunia.

Padahal dakwah ini dibangun di atas dasar hikmah dan nasehat yang baik, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nahl: 125)

Diapun selalu menganjurkan agar bertahap dalam memberikan pelajaran dan dakwah, agar jangan sampai ada yang bersemangat tapi tidak mempunyai hikmah dan ilmu. Di antara anjuran beliau, hendaknya seorang penuntut ilmu ketika kembali ke kampung halamannya jangan kemudian solat dengan memakai sandal di dalam masjid. Karena orang di sekitarnya tentu akan menganggapnya sebagai kemungkaran dan akan memicu fitnah. Sedangkan solat dengan sandal adalah sunnah, bukan wajib.

Sikap Santun dan Kehati-hatiannya

Dia betul-betul berhati-hati dan tenang dalam menghadapi persoalan. Betapa sering dia berupaya memperbaiki satu permasalahan dan bersabar menghadapi para penentangnya, dengan harapan mudah-mudahan suatu ketika mereka menjadi baik. Namun kalau tidak bermanfaat juga, dia bangkit menerangkan kepada masyarakat tentang kejelekannya dan membongkar syubhat-syubhatnya serta membantah hujjah-hujjah mereka yang lemah.

Dia sering ditanya tentang satu masalah dan selalu mengatakan: “Wallahu a’lam.” Betapa sering dia ditanya tentang seorang tokoh, namun dia mengatakan: “Saya menahan bicara tentang dia.” Dan dia diam selama beberapa tahun sampai sangat jelas keadaan orang tersebut. Lantas apakah ada keburukan dalam kata-kata dia sesudah itu? Sesungguhnya demi Allah, di kalangan mereka yang jujur dan adil, inilah yang dinamakan tatsabbut (teliti). Namun memang kebaikan itu tidak mungkin bisa melenyapkan celaan.

Keluhuran Jiwanya

Syeikh Muqbil rahimahullah begitu luhur jiwanya, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak sepatutnya, menjaga diri dari meminta-minta kepada orang lain, sampai-sampai dia merasa berat memintakan kepada para muhsinin (dermawan) untuk kepentingan para muridnya. Ketika Syeikh Abdul Aziz bin Baz mengetahui hal itu maka dia mengirim surat kepada Syeikh Muqbil yang isinya, ”Tulislah permohonan wahai Abu Abdurrahman, engkau akan mendapatkan pahala darinya!”

Dia melatih para muridnya kepada sifat yang agung ini. Dia mencela dan memperingatkan dari orang-orang yang meminta-minta kepada manusia atas nama dakwah dan ini bukan bererti dia rahimahullah menyeru para penuntut ilmu agar meninggalkan taklimnya untuk berdagang. Maksud dia, makan dari hasil usaha sendiri lebih baik daripada meminta-minta. Dia rahimahullah juga berkata, ”Aku menasihatkan kepada ahli sunnah agar bersabar atas kefaikiran, kerana itulah keadaan yang Allah pilihkan kepada NabiNya sallallahu alaihi wa sallam.

Kesabarannya

Dia rahimahullah memiliki kesabaran yang sulit dicari bandingannya. Dia begitu sabar atas berbagai penyakit yang menimpanya, bersabar atas penyakit busung air yang bertahun-tahun dideritanya. Demikian pula atas penyakit lever yang menimpanya. Merupakan hal yang menakjubkan bahawa beliau dalam keadaan sakit tidak pernah meninggalkan taklimnya. Pernah suatu saat beliau menyampaikan pelajarannya dalam keadaan tangannya diikat dengan perban ke lehernya.

Murid-muridnya


Beberapa murid-murid Syeikh Muqbil yang menonjol, murid-muridnya sangat banyak sekali tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah, disebutkan beberapa di antaranya yang menonjol dari kalangan muallifin (penulis buku), para dai-dai dan selain mereka:

1. Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wusabi
2. Syeikh Yahya bin Ali al-Hajuri
3. Syeikh Mustafa bin al-Adawi
4. Syeikh Abdul Aziz bin Yahya al-Bura’i
5. Syeikh Usamah bin Abdul Latif al-Kushi, penulis kitab al-Azan
6. Syeikh Abdullah bin Usman Ad-Damari, beliau terkenal sebagai pemberi ceramah kalangan Ahlussunnah di Yaman
7. Syeikh Ahmad bin Ibrahim Abul Ainain al-Misri
8. Syeikh Muhammad bin Abdillah al-Imam Abu Nasr Ar-Raimi
9. Syeikh Mustafa bin Ismail Abul Hasan As- Sulaimani al-Maghribi
10. Syeikh Abdul Musawwir bin Muhammad al- Ba’dani
11. Syeikh Yahya bin Ali al-Muri
12. Syeikh Abdur Raqib bin Ali al-Ibbi
13. Syeikh Qasim bin Ahmad Abu Abdillah At-Taizi
14. Syeikh Jamil bin Ali Asy-Syaja’ As-Sabari
15. Syeikh Ali bin Abdillah Abul Hasan Asy-Syaibani
16. Syeikh Auf bin Abdillah al-Bakkari Abu Harun
17. Syeikh Usman bin Abdillah al-Utmi
18. Ummu Abdillah binti Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, penulis kitab As-Sahihul Musnad min Asy-Syamaili Al-Muhammadiyyah dan yang lainnya.
19. Ummu Syu'ib, isteri keduanya
20. Ummu Salamah, isteri ketiganya

Kebenciannya yang Sangat Besar terhadap Terorisme

Dia sangat membenci gangguan keamanan dan munculnya kegelisahan serta rasa takut pada kaum muslimin.

Tentang sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ اْلإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ

“Saya diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan syahadat bahawa tidak ada berhak diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad itu adalah Rasul Allah, mendirikan solat dan menunaikan zakat. Jika mereka melakukannya, maka terjagalah dariku darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka di sisi Allah.”

Syeikh Muqbil rahimahullah menjelaskan: “Dalam hadis ini terdapat bantahan terhadap kelompok-kelompok (sesat) yang ada sekarang ini, seperti Jamaatut Takfir (kelompok yang selalu mengkafirkan orang lain yang tidak segolongan dengannya) yang menganggap halal darah kaum muslimin. Juga Jamaatul Jihad (kelompok yang mengaku mujahidin, padahal teroris) yang juga menganggap halal darah kaum muslimin. Anggaplah bahawa pemerintah itu kafir dan rakyatnya muslim, tentu akan terjadi bencana di atas kepala rakyat muslim yang pantas dikasihani ini.

Demikian pula bantahan terhadap para tokoh revolusioner, yang mengarahkan masyarakat untuk melakukan tindakan revolusi, pemberontakan (dan sejenisnya).”

Dan ketika dia ditanya tentang para turis, apakah mereka terhitung mu’ahad?

Dia menjawab: “Di antara mereka ada yang datang untuk merosak di negeri kaum muslimin, ada pula yang menjadi mata-mata. Akan tetapi melampaui batas (yakni dengan menyerang) terhadap mereka justru hanya menimbulkan kekacauan. Saya tidak menganjurkan hal ini (menyerang mereka). Demikian pula halnya semua yang dapat menimbulkan kekacauan, tidak boleh."

Membunuh para wisatawan asing adalah suatu kesalahan. Kami tidak tahu kecuali akibatnya yang satu menyerang yang lain. Akhirnya dakwah terbengkalai, begitu juga dengan pendidikan, pertanian dan perdagangan. Namun perlu diingat pula bahwa ini bukan berarti kami ridha dengan (kedatangan) mereka.”

Inilah sikap kaum mukminin. Mereka tidak ingin menimbulkan gangguan keamanan. Berbeda dengan orang-orang munafik, mereka sangat antusias terhadap hal-hal seperti ini. Allah Subhanahu wa Taala berfirman :

لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لاَ يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلاَّ قَلِيلاً

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar."(Al-Ahzab: 60)

Meresahkan kaum muslimin adalah haram secara syar’i. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya (2/720) dan Ahmad dalam Musnadnya (5/362) dari Abdurrahman bin Abi Laila:

قَالَ: حَدَّثَنَا أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Katanya: Para sahabat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepadaku, bahawa beliau (Nabi) bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengejutkan dan membuat takut muslim lainnya.”

Hadits ini sahih, Syeikh Muqbil menyebutkannya dalam karya beliau As-Sahihul Musnad mimma Laisa fis-Sahihain (2/418).

Sikapnya terhadap Usamah bin Laden

Terhadap salah satu tokoh teroris international nomor wahid ini, Syeikh Muqbil rahimahullah mengatakan:

“Aku berlepas diri di hadapan Allah dari (kesesatan) Usamah bin Laden. Dia merupakan kejahatan dan musibah terhadap umat ini dan kegiatannya adalah kegiatan kejahatan.”

Dia juga berkata:

“Kami semua berlepas diri darinya dan kegiatan-kegiatannya sejak jauh sebelum ini. Realiti menyaksikan bahawa kaum muslimin yang hidup di negeri-negeri Barat tertekan dengan sebab adanya gerakan-gerakan yang diperanankan oleh kelompok Ikhwanul Muslimin dan kelompok-kelompok lainnya. Wallahul Musta’an.”

(Dari akhbar Ar-Ra'yul Am Kuwait tanggal 19 Disember 1998).

Dalam kitab Tuhfatul Mujib, transkrip ceramahnya berjudul Di Sebalik Peristiwa Peledakan-Peledakan di bumi al-Haramain, Syeikh Muqbil berkata:

“Di antara contoh-contoh fitn
ah (yang menimpa kaum muslimin) adalah fitnah yang sudah hampir menguasai Yaman yang dihembuskan oleh Usamah bin Laden … .”

” … untuk menjelaskan kepada umat bahawa urusan agama ini tidak boleh diambil dari orang semisal Usamah bin Laden, al-Mis’ari, atau yang semisalnya. Tapi urusan agama ini harus diambil dari kalangan ulama' … Bahkan sesungguhnya umat ini masih sangat memerlukan seribu ulama' seperti Syeikh bin Baz dan seribu ulama' lain seperti Syeikh al-Albani.”

Karya-karyanya

Dia juga meninggalkan karya-karya tulis yang sangat banyak. Kebanyakannya dalam bidang ilmu hadis. Dia sangat perhatian terhadap seleksi hadis, mana yang sahih mana yang bukan. Dan memang dia termasuk salah seorang ulama' ahlul hadis abad ini. Karya-karya besarnya kebanyakannya dia tulis dengan kaedah para ulama' ahlul hadis. Karya-karya tersebut menjadi rujukan penting kaum muslimin sekaligus termasuk khazanah keilmuan yang sangat penting.

a. Kitab-kitab yang Terbit Semasa Hidupnya

1. As-Sahih al-Musnad min Asbabin Nuzul
2. al-Ilzamaat wat-Tatabbu’
3. Asy-Syafa’at
4. As-Sahih al-Musnad mimma laisa fis-Sahihaini
5. As-Sahih al-Musnad min Dalaailin Nubuwwati
6. al-Jami’u As-Sahih fil-Qadari
7. al-Jami’u As-Sahih mimma laisa fis-Sahihaini (tersusun sesuai dengan bab-bab fiqhiyyah)
8. Tatabbu’u Awhamil Hakim fi al-Mustadrak al-lati lam yunabbih ‘alaiha Az-Zahabi ma’a Tarajimi lir-ruwati allazina laisu min rijali Tahzibi At-Tahzib
9. As-Suyufu al-Bathirat li ilhadi As-Syuyuiyyah al-Kafirah
10. Ijabatu As-Saili ‘an ahammi al-Masaili
11. Fatwa fi Wihdatil Muslimiin ma’al-Kuffar
12. Dan dia juga mempunyai sekitar 33 karya yang lain.

b. Kitab-kitab yang Belum di Cetak Sampainya Wafat

1. al-Jamius Sahih minat Tafsiri bil Matsur (sekarang proses cetak)

c. Kitab-kitabnya Yang Hilang

1. al-Kufah li Ashari An-Nikah

d. Kitab-kitab yang Tidak di Cetak Lagi

1. al-Qaulul Amin Fi Fadha-ih al-Muzabzabin (kerana dia banyak menarik kembali pendapat dia)
2. Hazihi Dakwatuna wa ‘Aqidatuna (naskah lama)

Rahmah dan Kasih Sayangnya

Dia menyayangi semuanya, tua muda, laki-laki dan perempuan. Bahkan anak-anak kecil sangat menyukai dia kerana kedudukan dan kebaikannya terhadap mereka. Dia pantas dikatakan demikian, tanpa harus berlebihan. Boleh dikatakan bahawa dia termasuk orang yang paling penyayang terhadap sesamanya di zaman ini. Terutama terhadap para penuntut ilmu, di mana dia memandang mereka sebagai anak-anaknya sendiri.

Dia sering juga merasakan kesulitan bila terjadi kekurangan dari keperluan para penuntut ilmu. Bahkan dia pernah mengatakan bahawasanya dia tidak pernah menemukan kesulitan yang lebih berat dirasakannya daripada hal ini.

Dia sering manfaatkan waktu untuk duduk bersama orang banyak dengan memberikan nasihat, pengarahan, faedah dan diskusi. Sehingga hampir tidak ada yang keluar dari majlis itu melainkan sudah mendapatkan faedah.

Nasihat-nasihatnya sangat disenangi dan beliau memilih yang sesuai dengan pemahaman mereka tanpa membosankan. Dan kalimat-kalimat yang ringkas tidak akan membosankan siapapun.

Di antara sifat rahmatnya, dia mengirim para da’i yang mengajak ke jalan Allah ke seluruh daerah di Yaman bahkan juga ke luar Yaman untuk menyebarkan dien Allah, mengajari manusia kebaikan dan mentahzir mereka dari kejahatan.

Dari sifat rahmatnya, dia selalu menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu di hati murid-muridnya. Dia selalu menyebutkan keadaan yang dialami salafus soleh, berupa kesabaran menempuh kesulitan dalam mencari ilmu.

Kezuhudan, Kesederhanaan, Kedermawanan dan Wara’nya.

Syeikh Muqbil dikenal dengan kezuhudannya dan dia biasakan para muridnya atas sifat yang mulia ini. Dia sampaikan kepada mereka bahawa dengan sifat inilah mereka akan mendapatkan ilmu. Dia sangat sederhana dalam tempat tinggal, pakaian dan makanannya.

Di antara hal yang menunjukkan kezuhudannya pada dunia, dia wakafkan tanah dia yang luas untuk tempat tinggal para muridnya yang sekarang ditempati sekitar 250 rumah (Darul Hadis, Dammaj).

Dia memiliki sifat tawadhu’ yang tiada bandingannya. Jika dia sedang berjalan kemudian dipanggil oleh seorang anak kecil maka dia langsung berhenti, menyapanya dan menanyakan apa yang dikehendaki. Ketika dia di majlis taklimnya datanglah seorang anak kecil, dia hentikan pelajarannya dan berkata anak kecil itu kepadanya, "Aku ingin membaca sebuah hadits di mikrofon." maka beliau dudukkan anak kecil tersebut di depannya untuk membaca hadis yang dikehendakinya.

Dia dikenal dengan sifat wara’, tidak pernah tersisa dana dakwah disisinya kerana selalu dia serahkan kepada yang memerlukannya.

Kegigihannya Dalam Mempelajari dan Menyampaikan Ilmu


Dia begitu gigih di dalam mengajarkan ilmu. Satu jam sebelum Zuhur dia mengajarkan kitabnya Sahih Musnad mimma Laisa fi Shahihain, setelah itu kitab Jami’ Sahih Musnad mimma Laisa fi Sahihain. Sesudah solat Zuhur dia mengajarkan Tafsir Ibnu Katsir dua hari sekali berselang-seli dengan kitab Sahih Musnad min Asbabin Nuzul. Ketika kitab yang akhir ini selesai dia gantikan dengan kitab Jami’ Sahih. Sebelum zuhur dia menelaah pelajaran di rumahnya selama 1/4 jam.

Sesudah Asar dia mengajarkan kitab Sahih Bukhari dan sesudah Maghrib mengajarkan Sahih Muslim dan kitabnya Ahadisu Mu’allah Zahiruha Shihhah. Selesai dari kitab yang akhir ini dia menggantinya dengan kitabnya Gharatul Fishal alal Mu’tadin ala Kutubil Ilal. Selesai dari kitab yang akhir ini dia mengajarkan kitabnya Dzammul Mas’alah, kemudian setelah selesai diganti dengan kitab Sahih Musnad min Dalail Nubuwwah. Bersama kedua kitab ini dia ajarkan juga kitab Mustadrak dan kitabnya Sahih Musnad fil Qadar. Demikianlah urut-urutan taklimnya hingga dia wafat.

Jika dia berbicara tentang rijal maka dia ialah pakarnya, jika dia sedang bincang dengan murid-muridnya dalam masalah nahwu maka seakan-akan tidak ada selain dia yang mengetahui disiplin ilmu ini, jika dia berbicara tentang ilal maka membuat terhenyak orang yang ada dihadapannya. Demikian juga dia memiliki kecepatan luar biasa di dalam menghadirkan dalil-dalil dari Kitab dan Sunnah.

Wafatnya

Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wadi'i rahimahullah wafat pada malam Ahad, 1 Jamadilawal 1422 H/22 Julai 2001 M, setelah Isyak di Jeddah dalam usia sekitar 70 tahun. Dia disolatkan setelah subuh, kemudian dikebumikan di perkuburan Al-‘Adl di Makkah di samping makam Syeikh Abdul Aziz bin Baz dan Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahumullah.

Semoga Allah merahmati Syeikh Muqbil dan menempatkannya di jannahNya yang tertinggi. Serta menjadikan segala jerih payah dan amal usahanya termasuk timbangan amal solehnya di sisiNya. Amin.

Disusun oleh:
M.A.Uswah,
5 Ogos 2010.

Rujukan:

- Barisan Ulama Pembela Sunnah Nabawiyah oleh Abu Aisyah Arif Fathul Ulum, Media Tarbiyah, Bogor, Januari 2006
- http://ittibausalafpress.blogspot.com/2009/10/lebih-dekat-lagi-dengan-syaikh-muqbil.html
- http://warisansalaf.wordpress.com/2010/06/12/warisan-daftar-kitab-kitab-syaikh-muqbil-bin-hadi-al-wadii-rahimahullah

Rabu, Agustus 04, 2010

Syeikh Mustafa al-'Adawi, Lulusan Teknik Mesin Yang Menjadi Ulama'

Di antara dai ahli sunnah dan ulama' yang cukup terkenal dari Mesir ialah Syeikh Mustafa al-'Adawi. Dia lahir pada tahun 1945 di sebuah kampung bernama Maniah Samnud di wilayah al-Daqhaliah. Dia pernah menempuhi pendidikan di falkuti teknik tepatnya jurusan teknik mesin tahun 1977.

Dia ialah di antara orang yang san
gat perhatian dengan al-Quran oleh kerananya tiga puluh juz dari al-Quran sudah ada di luar kepala beliau.

Dari Pakar Teknik Mesin Menjadi Alim Ulama'


Sebagaimana kebiasaan para ulama' terdahulu, dia pernah melakukan rihlah ilmiah (perjalanan dalam rangka menuntut ilmu). Dia tinggalkan kampung halaman tercinta menuju Yaman tepatnya untuk belajar dengan Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i. Selama kurang lebih rentang waktu empat tahun terhitung dari 1400 H sampai 1404 H dia hadiri berbagai pelajaran ilmiah yang disampaikan oleh Syeikh Muqbil. Selama jangka waktu yang sebenarnya tidak begitu lama ini dia merasa mendapat ilmu yang demikian banyak.

Sekembali dari Yaman dia membina sebuah masjid kecil sebagai tempat beliau mengajarkan ilmu yang telah beliau peroleh selama ini kerana ilmu yang manfaat adalah ilmu yang diajarkan kepada orang lain, bukan hanya sekadar disimpan untuk diri sendiri. Di masjid ini dia mulai mengajarkan Sahih Bukhari, Muslim, tafsir al-Quran dan Fiqh.

Ketika mulai banyak penuntut ilmu yang ingin belajar ilmu-ilmu agama kepadanya baik dari Mesir ataupun di luar Mesir, dia mulai membina sebuah masjid besar dan perpustakaan yang besar pula.

Di samping mengajar di masjid sendiri, dia juga memiliki berbagai kajian rutin setiap pekannya di berbagai wilayah di Mesir.

Karya-karyanya


Di samping aktiviti mengajar, dia juga mengeluti bidang tulis-menulis. Dia cukup aktif menulis di bidang fiqh, hadis, mustahalah hadis dan tafsir. Dia punya obsesi besar untuk menulis tafsir al-Quran dalam bentuk tanya jawab. Program ini dia namai at Tashil li Ta’wil at Tanzil (cara mudah belajar tafsir al-Quran). Di antara buku yang sudah beredar di pasaran adalah tafsir untuk surah al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa’, an-Nur, al-Hujurat, al-Qashash, Yusuf, juz amma dan juz 29.

Dalam bidang fiqh, dia menulis kitab al Jami’ li Ahkam al Nisa’ (Buku Lengkap Tentang Hukum-Hukum Seputar Wanita). Buku ini terdiri dari lima jilid dengan perincian empat jilid berisi huraian sedangkan jilid kelima berisi tanya jawab praktis tentang kandungan empat jilid sebelumnya.


Di samping itu, dia juga menulis buku fiqh yang bersifat umum. Judul buku tersebut adalah al Jami’ al ‘Amm fi al Fiqh wa al Ahkam (buku lengkap tentang fiqh dan hukum).


Karya-karyanya yang lain di antaranya adalah:


- Tarbiyah Al-Abna’ wa Thaifah min Nasha-ihi al-Athibba-i (Bagaimana Nabi Mendidik Anak - Terjemahan buku Indonesia)
- Ahkam An-Nikah wa Az-Zifaf (Tanya Jawab Masalah Nikah Dari A Sampai Z - Terjemahan buku Indonesia)
- al-Sahih al Musnad min Ahadis al-fitan wa al Malahin wa Ayrath al-Sa’ah (Kumpulan hadis-hadis sahih mengenai huru hara akhir zaman)
- al-Sahih al-Musnad min Adzkar al-yaum wa al Lailah (Kumpulan hadis sahih mengenai zikir-zikir harian)
- al-Sahih al-Musnad min fadhail al-Sahabah
(Kumpulan hadis sahih mengenai keistimewaan para shahabat Nabi)
- al-Sahih al-Musnad min al-Ahadis al-Qudsiah
(Kumpulan hadis-hadis qudsi yang sahih)

Senantiasa dia bersungguh-sungguh dalam berdakwah, menyebarkan ilmu dan produktif menulis buku. Semoga Allah melimpahkan keberkahan untuk ilmu dan amal beliau.

Diterjemahkan & tambahan dari bahasa Indonesia:
http://ustadzaris.com/orang-teknik-mesin-yang-jadi-ulama

Syeikh Amru Abdul Mun’im Salim, Sarjana Komputer Yang Menjadi Ulama' Hadis

Dia ialah Syeikh Amru bin Abdul Mun’im bin Abdul ‘Aal Al-Salim. Dia lahir pada 24 Februari 1967 di Mesir. Kemudian dia dibawa oleh ayahnya ke Kuwait pada tahun 1974. Hal itu disebabkan ayahnya bekerja sebagai guru olahraga di jabatan pendidikan Kuwait. Semua pendidikan formal dia tamatkan di Kuwait. Bahkan dia lulus dari Universiti Kuwait dalam bidang ilmu komputer pada tahun 1988. Setelah itu dia bekerja di jabatan elektrik dan air di Kuwait.

Dari Pakar Komputer ke Pakar Hadis

Ketika Syeikh Amru turut menangani projek program kutub tis’ah (sembilan buku induk hadis) untuk komputer di syarikah ‘alamiah dia berkenalan dengan Syeikh Abdullah al-Judai’. Masa-masa ini merupakan masa yang sangat bernilai bagi Syeikh Amru. Ketika itu dia banyak mengambil manfaat dari ilmu Syeikh al-Judai’. Syeikh Amru tidak belajar buku tertentu dalam bidang hadis kepada Syeikh al-Judai’. Dia hanya belajar secara praktik ketika bekerja bersama Syeikh al-Judai di Syarikah ‘Alamiah.

Syeikh Amru menikah di Kuwait dan setelah anak pertama dia lahir terjadilah inovasi Iraq terhadap Kuwait. Keadaan ini memaksa dia untuk kembali ke negeri aslinya iaitu Mesir pada tahun 1990. Di Mesir, beliau menyelesaikan projeknya di Syarikah Alamiah. Syarikah memindahkan projeknya ke Mesir.

Syeikh Amru bekerja di projek ini selama enam bulan. Setelah itu dia menekuni dunia tulis-menulis dengan menulis berbagai buku dan risalah/buku tipis. Syeikh Amru memiliki empat orang anak iaitu Abdur Rahman, Abdullah, Abdus Salam dan Abdul Aziz.

Sejak tahun 1998, dia memiliki penerbitan sendiri iaitu Dar al-Dhiya’. Penerbit inilah yang menerbitkan semua buah karyanya dan dia sendiri yang mengawasi penerbitannya.

Buku-bukunya lebih cenderung membahas fiqh, ilmu mustahalah hadis dan takhrij hadis dengan diiringi penjelasan tentang darjat hadis yang dikaji apakah lemah atau sahih. Karya-karyanya beragam ada yang tebal, ada pula yang tipis. Buku-buku beliau memuat manfaat besar yang tidak dapat diingkari.

Karya-karyanya

Di antara karya-karyanya ialah:

(1) Taisir ‘Ulum al Hadis lil Mubtadiin (Cara Mudah Belajar Ilmu Hadis untuk Pemula)
(2) Adab al-Khithbah wa az-Zifaaf (Indahnya Menikah Ala Sunnah Nabi s.a.w.)
(3) al-Adab al Syar’iyyah linnisa’ fi Ziarah al-Maqabir (Adab Seorang Wanita ketika Ziarah Kubur)
(4) Hadmu al Manarah liman Shahhaha Ahadits al-Tawasul wa al-Ziarah (Bantahan untuk orang yang mensahihkan hadits-hadits tentang tawasul dan ziarah kubur)
(5) al-Jami’ fi Ahkam al-Thalaq wa Fiqhihi min Adillatihi (Buku Lengkap tentang hukum-hukum perceraian berdasarkan dalil)
(6) Qoidah Muhimmah fi Fahmi Kalam al-Aimah (Kaedah Penting Untuk memahami perkataan para imam terdahulu)
(7) Qawaid Haditsiyyah Nashsha ‘alaiha al-Muhaqqiqun wa Ghafala ‘anha al-Musytaghilun (Kaedah-kaedah seputar hadis yang telah ditegaskan oleh para pakar hadis namun dilalaikan oleh orang-orang yang bergelut di bidang hadis)
(8) al-Adab al Syar’iyyah fi al-Mu’rahasya al-Zaujiyyah (Adab-Adab dalam Pergaulan Suami Isteri menurut aturan Syariat)
(9) al-Ajwibah al Wafirah ‘ala al As-ilah al Wafidah (Buku Kumpulan Fatwa)
(10) al-Jam’u baina al Muqizhah wa al-Iqtirah fi Mustahalah al Hadis wa Ulumihi

Diterjemahkan dari bahasa Indonesia dengan sedikit pengubahsuaian:
http://ustadzaris.com/sarjana-komputer-yang-jadi-ulama-hadits