Minggu, Agustus 16, 2009

Mengenang Kejayaan Tradisi Keilmuan Islam


Peradaban Islam pernah mencapai masa keemasan. Itu fakta sejarah yang tak bisa dimungkiri siapapun. Hampir tujuh abad lamanya, mulai 750-1500 M 0-700H, bendera kejayaan Islam terus berkibar.

Sejak deklarasi Islam oleh Rasulullah saw sampai pada kejatuhan Granada di Sepanyol, peradaban Islam memberi kontribusi yang tidak dapat dilupakan oleh peradaban moden kini.

Dalam rentang waktu itu, lahir ratusan ilmuwan muslim yang melahirkan beragam teori yan mengilhami kemunculan renaissance di Eropah. Al-Khawarizmi (matematik), Jabir Ibnu Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun (sosiologi dan sejarah), Ibnu Sina (perubatan), Ar-Razi (perubatan), Al-Biruni (fizik), Ibnu Battutah (pengemberaan) adalah contoh nama-nama yang dapat dikedepankan.

Bagaimana tidak signifikan sumbangan Islam pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini. Al-Khawarizmi, misalnya, menemukan angka nombor 0 yang pada zaman sebelumnya (China, India dan Yunani) belum diketahui.

Huraian beragam teori sosiologi dan sejarah yang dikemukakan Ibnu Khaldun dalam kitabnya Mukadimah sampai sekarang tetap aktual dan menjadi referensi sosiologi moden. Belum lagi berbagai teori perubatan yang dikemukakan Ar-Razi tentang penyakit cacar serta Ibnu Sina tentang pembiusan dan pembedahan.

Berbeza dengan tradisi Eropah yang pernah mengalami beberapa kejadian tragis akibat bertentangan doktrin agamanya, tradisi keilmuan Islam justeru berangkat dari kecintaannya pada agama.

Dalam rakaman sejarah Islam, peristiwa yang menimpa Galileo Galilei, Bruno Giordano, Nicholas Copernicus, Miguel Serveto tidak pernah terjadi. Justeru Islam menempatkan para ilmuwan dalam maqam yang tinggi (lihat Surah Az-Zariyat, ayat 11).

Para ilmuwan Islam meyakini bahawa tauhid menjadi sumber inspirasi dan aspirasi untuk berekspresi. Bahawa semua yang ada di alam adalah hukum Tuhan (sunnatullah) yang objektif, universal dan mutlak adanya.

Kerana keyakinan inilah, lumrah bila sesudah atau menghadapi masalahh dalam penelitiannya dikembalikan kepada Sang Khaliq. Ibnu Sina, contohnya, akan pergi ke masjid, solat dan berdoa meminta petunjuk Allah berkenaan dengan hasil penelitian perubatannya.

Semua karya dan penelitian Ibnu Sina berhujung pada kepasrahan total kepada Allah. Sikap ini juga dimiliki Al-Khawarizmi, Al-Biruni dan sebagainya. Ini menunjukkan bahawa di kalangan ilmuwan muslim, keterkaitan dengan Tuhannya adalah kemutlakan.

Segala kesimpulan objektif hasil penelaahan terhadap fenomena alam diawali dan dikembalikan pada sumbernya, al-Quran dan hadis. Bagi ilmuwan Islam, semua penelitian ilmiah adalah bukti untuk memperkuat keyakinan terhadap ayat Tuhan yang tersurat dan tersirat (diri dan alam semesta).

Kecintaan para ilmuwan Islam pada al-Quran dan tradisi nabi, membuat mereka bukan hanya fasih dalam suatu bidang keilmuan. Ibnu al-Haitham, misalnya, selain dikenal sebagai penemu optik, ia adalah ahli matematik dan astronomi. Al-Biruni tidak hanya terkenal dengan kecermatannya dalam fizik, tetapi juga ahli dalam metafizik.

"Ilmu pengetahuan Islam menjadi ada kerana perkahwinan antara semangat yang memancar dari wahyu al-Quran dan ilmu-ilmu yang berasal dari pelbagai tradisi sebelumnya. Ilmu dalam Islam menjadi sumber rohani bagi kesinambungan peradaban di masa akan datang," tegas cendekiawan muslim asal Iran, Sayyed Hussein Nasr.

Sifat kosmopolitan peradaban Islam bermula dari watak wahyu yang universal. Hal ini menyebabkan Islam menciptakan sebuah peradaban pertama di dalam sejarah umat manusia, katanya.

Kejayaan Islam lahir ketika Eropah yang kini memegang kendali peradaban berada dalam suasana "The Dark Ages" atau abad kegelapan. Satu keadaan yang hegemoni gereja sangat mendominasi kehidupan masyarakat Eropah.

Dalam kurun beberapa abad praktis dunia Eropah tidak tersentuh oleh perkembangan keilmuan yang signifikan. Makanya, masyarakat Eropah kini lebih suka menyebut abad itu dengan abad pertengahan, ketimbang abad kegelapan yang terasa lebih menohok secara psikologis.

Berlawanan dengan itu, puncak peradaban Islam dicapai pada masa Bani Abbasiyah di era Khalifah al-Makmun ketika ia mendirikan Darul Hikam atau akademi ilmu pengetahuan pertama di muka bumi ini yang sekaligus menjadi pusat penelitian, pengembangan dan perpustakaan tentang ilmu-ilmu keIslaman.

Kegemilangan peradaban Islam tidak berhenti di Baghdad. Ia menyebar kedaratan Eropah, tepatnya di Andalusia dan Granada, Sepanyol sampai 1492 M.

Ilmu pengetahuan merupakan sumbangan terpenting kebudayaan Arab (Islam) kepada dunia moden, tetapi buahnya lambat masak. Barulah setelah kebudayaan Arab Sepanyol tenggelam kembali ke dalam kegelapan raksasa yang dilahirkannya bangkit keperkasaannya.

"Bukan hanya ilmu pengetahuan yang menghidupkan kembali Eropah. Pengaruh-pengaruh lain dan beraneka warna memancarkan sinar pertama dari peradaban Islam kepada kehidupan Eropah," jelas seorang Guru Besar Bahasa dan Sastera India, A Beriedale Keith.

Kecemerlangan peradaban Islam mulai surut dan mencapai titik nadir terendahnya ketika bangsa Mongol menghancurkan kota Baghdad. Semua khazanah peradaban hilang, buku-buku dibakar dan dihanyutkan ke dalam sungai.

Dalam sebuah ilustrasi, keganasan bangsa Mongol terhadap peradaban Islam dilukiskan dengan memerah dan membirunya warna air sungai-sungai di sekitar kota Baghdad akibat tinta dan darah para ilmuwan Islam yang mengalir di air sungai Kota Seribu Satu Malam itu.

Sebelum semua peninggalan dan penemuan berharga peradaban manusia dihancurkan bangsa Mongol, untunglah bangsa Eropah sudah banyak yang mempelajari kemajuan ilmu pengetahuan modern yang dirintis orang Islam.

Dua ilmuwan Eropah yang tercatat adalah Roger dan Francis Bacon belajar ke Baghdad untuk mempelajari perkembangan keilmuan yang dirintis ilmuwan Islam. Perlahan namun pasti cahaya peradaban Islam mulai redup.

Cahayanya beralih ke Eropah. Berbagai teori yang ditemukan ilmuwan Islam kemudian dilanjutkan oleh para ilmuwan Eropah yang mulai berkuncup, kemudian berkembang sampai sekarang.

Tidak ada komentar: