Rabu, Oktober 13, 2010

Syeikh Muhammad bin Jamil Zainu, Dari Pengalaman Tarekat ke Manhaj Ahlus Sunnah

Syeikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah dilahirkan di Halab, Syria tahun 1925 M bertepatan dengan tahun 1344 H.

Ketika dia berumur 10 tahun, dia belajar di sekolah 'Darul Hufaz', selama 5 tahun menghafal al-Quran.

Kemudian dia melanjutkan pendidikan di Halab yang dikenal dengan 'Kuliyah asy-Syariyyah at-Tajhiziyah' di bawah 'Al-Auqaf al-Islamiyah', sekolah tersebut mengajarkan ilmu-ilmu syariat dan moden.

Lalu dia melanjutkan pendidikan di 'Darul Mualimin' di Halab dan mengajar di sana sekitar 29 tahun. Kemudian dia meninggalkan dunia mengajar di Halab. Dan mengajar di Makkah al-Mukarramah. Lalu dia pergi ke Jordan untuk berdakwah dan menjadi Imam, Khatib dan pengajar al-Quran di sana.

Pada tahun 1400 H dia kembali ke Makkah dan mengajar di Darul Hadis al-Khairiyah' di Makkah.

Di antara guru-gurunya yang terkenal ialah Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani dan Syeikh Abdul Aziz bin Baz.

Di antara kitab-kitab karyanya yang mulia yang digandakan (diperbanyak) oleh Al-Maktabah al-Islamiyah adalah: 'Takrimu al-Mar'ah Fi al-Islam', 'Aqidatu Kulli Muslimin Fi Sualin wa Jawabin', 'Taujihat Li Ishlahi al-Fardi wa al-Mujtama'", dan 'Minhaju al-Firqah an-Najiyah wa ath-Thaifah al-Mansurah', 'Kaifa Ihtadaitu Ila at-Tauhid wa ash-Shirati al-Mustaqim', dan 'Tafsir wa Bayan Li A'zhami Surati fi al-Quran, dan 'Qutuf min asy-Syamail al-Muhammadiyah, wa al-Akhlaq an-Nabawiyah' dan 'Al-Adab al-Islamiyah'.

Syeikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah wafat pada hari Jumaat, 8 Oktober 2010/29 Syawal 1431 H. Jenazahnya disolatkan oleh jemaah di Masjidil Haram, Makkah setelah solat Isyak.

Semoga Allah meredhainya dan menempatkannya dalam keluasan jannahNya. Amin.

Bagaimana Aku Mencapai Jalan Tauhid

Berikut Syeikh Muhammad bin Jamil Zainu menulis kisah hidupnya mengenai bagaimana dia menggapai jalan tauhid. Perjalanan kisahnya ini begitu indah dan menarik. Dan terdapat sebuah manfaat di dalamnya. Semoga kisah ini bermanfaat dan kita dapat mengambil pelajaran darinya.

Mengikuti Tarekat Naqsabandiyyah

Sejak kecil, saya selalu mengikuti pelajaran dan halaqah zikir di masjid. Suatu ketika, pemimpin tarekat Naqsabandiyyah melihatku, lalu ia mengajakku ke pojok masjid dan memberiku wirid-wirid tarekat Naqsabandiyyah. Namun, kerana usiaku yang masih belia, saya belum mampu membaca wirid-wirid itu sesuai dengan petunjuknya, tetapi saya tetap mengikuti pelajaran mereka bersama teman-teman saya dari pojokan masjid.

Saya mendengar lantunan qasidah dan nyanyian mereka, dan ketika sampai pada penyebutan nama syeikh mereka, dengan serta merta mereka meninggikan dan mengeraskan suara. Teriakan keras di tengah malam ini sangat menggangguku dan membuatku takut dan merinding.

Dan ketika usiaku semakin meningkat dewasa, salah seorang kerabat mengajakku ke masjid di daerah kami untuk mengikuti acara yang mereka namakan al-khatam. Kami duduk melingkar, kemudian salah seorang syeikh membagikan kepada kami batu-batu kecil dan berkata: "Al-Fatihah Asy-Syarif dan Al-Ikhlas Asy-Syarif”.

Lalu dengan jumlah batu-batu kecil itu kami membaca surah Al-Fatihah, surat Al-Ikhlas, istighfar dan selawat dengan bentuk bacaan selawat yang telah mereka hafal.

Di antara bentuk selawat yang saya ingat adalah:

اللّهُمَ صَلِّ عَلىَ محَُمَّدٍ عَدَدَ الدَّوَابِّ

“Ya Allah, berilah selawat untuk Muhammad sebanyak bintang melata”

Mereka membaca selawat ini dengan suara keras di akhir zikir. Dan selanjutnya, syeikh yang ditugaskan itu menutupnya dengan ucapan rabitha syarifah (ikatan mulia). Mereka mengucapkannya dengan tujuan membayangkan wujud syeikhnya saat menyebut namanya, kerana syaikh itulah –menurut mereka- yang mengikat mereka dengan Allah Azza wa Jalla.

Mereka merendahkan suara kemudian berteriak dan terbuai dalam kekhusyu’an, saat itu saya melihat salah seorang di antara mereka melompat ke atas kepala orang-orang yang hadir dari tempat yang tinggi kerana kesedihan yang mendalam bagaikan permainan sulap. Saya hairan dengan tingkah dan suara yang keras ini ketika menyebut nama syaikh tarekat mereka.

Suatu ketika saya berkunjung ke rumah salah seorang kerabatku dan mendengarkan lantunan nyanyian dari kelompok tarekat Naqsabandiyyah, yang berbunyi:

دَلُوْنِيْ بِاللهِ دَلُوْنِيْ # # # # # عَلَى شَيْخِ النَّصْرِ دَلُوْنِي

Tunjuki aku, demi Allah, tunjuki aku

Kepada syeikh penolong, tunjuki aku


اللَّي يُبْرِي العَلِيْلَ ##### وَيَشْفِي المَجْنُوْنَا

Syeikh yang menyembuhkan orang yang sakit

Dan menyembuhkan orang yang gila

Saya berdiri di depan pintu rumah, dan belum sempat masuk ke dalam, lalu berkata kepada tuan rumah: "Apakah syeikh itu yang menyebabkan orang yang sakit dan orang gila?”. Ia menjawab: "Ya, yang telah diberikan Allah Azza wa Jalla mukjizat menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit sopak, tetapi ia tetap mengatakan “dengan izin Allah”.

Kemudian ia berkata kepadaku: "Dan syeikh kami juga melakukannya dengan izin Allah”. Lalu saya menyanggahnya: "Tetapi mengapa anda tadi tidak mengatakannya ‘dengan izin Allah’?”.

Kerana penyembuh yang sebenarnya adalah Allah Azza wa Jalla semata, sebagaimana perkataan Ibrahim ‘alaihi salam dalam Al-Qur’an:

{وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ} (80) سورة الشعراء

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku (QS. Asy-Syu’ara: 80).

Pindah Ke Tarekat Syazaliyyah

Saya mengenal Syaikh dari tarekat Syazaliyyah yang memiliki penampilan dan akhlak yang baik. Terkadang ia datang berkunjung ke rumahku dan terkadang saya yang berkunjung kerumahnya. Saya kagum dengan kelembutan ucapan dan perkataannya serta ketawadhuan dan kedermawanannya. Saya meminta kepadanya wirid-wirid tarekat Syazaliyyah, lalu ia memberiku wirid-wirid khusus tarekat ini.

Meraka biasanya duduk-duduk berkelompok di pojok masjid yang dihadiri oleh beberapa orang pemuda. Di situlah mereka berzikir-zikir setelah solat.

Suatu ketika, saya datang bertandang kerumahnya. Saya melihat gambar-gambar para syaikh tarekat Syazaliyyah tergantung di atas dinding. Lalu saya mengingatkannya tentang larangan menggantungkan gambar-gambar. Tetapi ia tidak mengendahkan peringatan saya. Padahal hadis tentang itu sangat jelas, dan ia pun tahu itu, iaitu sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

إن البيت الذي فيه الصور لا تدخله الملائكة (رواه الترمذي)

“Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar, tidak akan dimasuki oleh para malaikat” (HR. At-Tirmizi, Hadis Hasan Sahih).

Kira-kira setahun kemudian, ketika dalam perjalanan umrah, saya ingin singgah mengunjungi syaikh ini. Lalu ia mengundangku untuk makan malam bersama anakku dan temanku.

Setelah selesai, ia bertanya kepadaku: "Apakah anda ingin mendengar nasyid-nasyid agama dari para pemuda itu?" Lalu saya menjawab: "Ya". Kemudian ia menyuruh para pemuda yang ada di sekelilingnya –sementara janggut menghiasi wajah mereka- untuk melantunkan nasyid itu. Lalu mereka mulai melantunkannya dengan satu suara. Ringkasan nasyid itu adalah:

من كان يعبد الله طمعا في جنة أو خوفا من ناره, فقد عبد الوثن

Barangsiapa yang menyembah Allah kerana ingin mendapatkan syurga atau kerana takut kepada Neraka, maka sesungguhnya ia telah menyembah berhala

Lalu saya berkata kepada orang itu: "Allah Azza wa Jalla menyebutkan satu ayat dalam Al-Quran yang memuji para Nabi, yang bunyinya:

{إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ} (90) سورة الأنبياء

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami” (Al-Anbiya’: 90).

Kemudian Syeikh itu berkata kepadaku: "Bait syair ini adalah untuk Syeikh Abdul Ghani An-Nabulsi”.

Saya kembali bertanya: "Apakah perkataan syeikh lebih didahulukan atas firman Allah, sementara kedua perkataan itu bertolak belakang?”

Salah seorang yang mendendangkan lagu itu menjawab:”Sayidina Ali radhiallahu ‘anhu berkata: "Orang yang menyembah Allah karena ingin mendapatkan syurga adalah ibadahnya para pedagang”

Saya langsung menyanggah: "Di buku mana Anda menemukan perkataan Sayidina Ali radhiallahu ‘anhu ini? Apa benar beliau berkata seperti itu?”.

Kemudian orang itu diam…

Saya berkata kepadanya: "Apakah masuk akal, Ali radiallahu ‘anhu mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan al-Quran sementara beliau termasuk salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan termasuk di antara orang yang dikhabarkan masuk syurga?”.

Kemudian teman saya menoleh dan berkata:”Allah Azza wa Jalla menjelaskan sifat orang-orang mukmin dengan memuji mereka dalam firman-Nya:

{تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ} (16) سورة السجدة

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan” (QS. As-Sajdah: 16).

Tetapi tetap saja mereka belum puas dengan penjelasan ini.

Saya meninggalkan perdebatan dengan mereka, lalu pergi ke masjid untuk solat.

Salah seorang dari pemuda itu menemui kami dan berkata kepadaku:”Kami bersama kalian, kebenaran bersama kalian, tetapi kami tidak dapat berbicara atau mendabat syaikh”.

Saya lalu bertanya kepadanya:”Mengapa kalian tidak mengatakan yang haq?”

”Bila kami berbicara kepada mereka, kami akan dikeluarkan dari penginapan”, demikian ia menjawab.

Inilah cara umum orang-orang sufi.

Para syeikh orang-orang sufi memberi wasiat kepada murid-muridnya agar tidak membantah syaikh mereka, betapapun kesalahan yang mereka lakukan.

Mereka memiliki suatu istilah yang terkenal: Tidak akan beruntung bila seorang murid berkata kepada syaikhnya “mengapa?”.

Mereka sepertinya pura-pura tidak tahu sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون (رواه أحمد و الترمذي).

“Setiap anak cucu Adam pasti melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat” (HR. Ahmad; At-Tirmidzi. Hasan Shahih).

Demikian juga dengan perkataan Imam Malik rahimahullah:

كل واحد يؤخذ من قوله ويرد إلا الرسول الله صلى الله عليه و سلم

“Setiap perkataan seseorang dapat diambil dan ditinggalkan kecuali perkataan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam”.

Majlis Selawat Untuk Nabi salallahu ‘alaihi wa sallam

Saya pergi bersama beberapa orang Syeikh ke salah satu Masjid untuk menghadiri majlis ini. Lalu kami ikut dalam salah satu halaqah zikir, sementara mereka melakukannya sambil menari. Antara satu dengan yang lain saling berpegangan tangan. Menggerak-gerakkan tubuh dengan miring ke kiri dan ke kanan. Dengan suara yang ditinggikan dan direndahkan. Mereka menyebutkan kata-kata (الله…) (الله….).

Setiap orang dalam halaqah itu keluar menuju ke tengah lingkaran, kemudian memberi isyarat tangan kepada para hadirin supaya memberi semangat agar mereka yang menari semakin gesit dan bergerak memiringkan badan.

Ketika tiba giliranku, pimpinan mereka memberi isyarat kepadaku untuk ke tengah agar dapat menambah gerakan dan tarian mereka. Salah seorang syeikh yang bersama denganku memohon kepada pimpinan itu untuk membiarkanku karena fisikku yang lemah. Karena ia tahu bahwa saya tidak senang dengan perbuatan semacam ini. Ia menatapku diam dan tidak bergerak.

Pemimpin itupun membiarkanku dan memaklumi keenggananku keluar ke tengah lingkaran.

Saya mendengar bait-bait syair dengan suara indah. Tetapi isi syair itu tidak terlepas dari permintaan tolong dan bantuan kepada selain Allah.

Saya juga menyaksikan kaum wanita duduk di tempat yang agak tinggi menonton kaum lelaki. Salah seorang di antara wanita-wanita itu mutabarruj (tidak menutup aurat) dengan memperlihatkan rambut, betis, tangan dan lehernya. Saya berusaha mengingkarinya dalam hati, kemudian menyampaikan hal itu kepada pempinan majlis:”Wanita yang ada di atas itu tidak menutup auratnya, seandainya engkau mengingatkannya dan wanita-wanita yang lain agar mereka mengenakan jilbab di masjid, maka hal itu sungguh merupakan amalan yang baik”.

“Kami tidak mengingatkan kaum wanita dan tidak mengatakan sesuatu kepada mereka”, demikian kata pemimpin itu.

Saya menanyakan alasannya mengatakan hal itu, lalu dijawab:”Bila kami menasehati mereka, mereka tidak akan datang lagi untuk menghadiri majelis dzikir ini”.

Saya berkata dalam hati:”La Haula wa la quwwata illa billah (=Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), dzikir apa ini? Dimana kaum wanitanya nampak seperti itu dan tidak seorangpun yang menegur mereka. Apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam rido dengan keadaan seperti ini, sementara beliau bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده, فإن لم يستطع فبلسانه, فإن لم يستطع فبقلبه, وذلك أضعف الإيمان (رواه مسلم).

“Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya, dan inilah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim).

Tarekat Qadiriyyah

Salah seorang mengundangku bersama syaikh yang mengajari saya ilmu nahwu dan tafsir. Kamipun pergi kerumah syaikh itu. Setelah selesai makan malam, orang-orang yang hadir kemudian berdiri, berzikir, melompat, goyang ke kiri dan ke kanan dengan menyebut lafaz ( الله…) ( الله…).

Saya hanya berdiri dan tidak bergerak, kemudian saya duduk di bangku hingga bagian pertama selesai.

Saya melihat keringat mereka bercucuran, kemudian mengambil handuk dan membersihkannya.

Ketika waktu sudah mendekati tengah malam, saya tinggalkan mereka dan pergi ke rumah.

Pada hari kedua, saya bertemu dengan salah seorang diantara merek. Ia juga seorang guru sepertiku. Saya katakana kepadanya:”Hingga kapan kalian melakukan ini?”

Ia menjawab:”Hingga jam dua, setelah lewat tengah malam, lalu kami menuju rumah untuk tidur”.

“Lalu bila kalian solat subuh?” Tanya saya selanjutnya

Ia menjawab:”Kami tidak sholat shubuh tepat pada waktunya, bahkan terkadang lewat begitu saja”.

Saya hanya dapat bergumam dalam hati:”Masya Allah, dzikir model apa ini yang telah melalaikan solat subuh?”.

Saya teringat dengan perkataan ‘Aisyah radiallahu ‘anha yang menceritakan keadaan Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam:

كان ينام أول الليل, ويحيي آخره (رواه البخاري؛ مسلم)

“Beliau selalu tidur pada awal malam dan menghidupkan akhir malam” (HR. Bukhari; Muslim).

Sementara orang-orang shufi ini melakukan hal yang sebaliknya. Mereka menghidupkan awal malam dengan perbuatan bid’ah dan mengisi akhir malamnya dengan tidur lalu melalaikan solat subuh.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

{فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ.الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ } (4-5) سورة الماعون

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” (QS. Al-Maa’un: 4-5).

Maksudnya adalah mereka yang menunda sholat hingga waktunya terlewatkan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها (رواه الترمذي)

“Dua rakaat solat subuh lebih baik dari dunia dengan segala isinya” (HR. At-Tirmizi. Disahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Jamius Sahih).

Bertepuk Tangan Ketika Berzikir

Ketika saya di masjid dan halaqah zikir berlangsung setelah solat Jumaat, saya duduk menonton mereka. Dan agar mereka semakin semangat, salah seorang diantara mereka melakukannya dengan bertepuk tangan.

Lalu saya memberi isyarat kepadanya bahwa perbuatan itu adalah haram dan tidak boleh dilakukan, tetapi ia tidak berhenti bertepuk tangan.

Ketika selesai, saya menasehatinya, tetapi ia tidak menerima. Dan beberapa saat kemudian, saya menemuinya lagi untuk mengingatkannya, bahwa bertepuk tangan itu adalah termasuk perbuatan orang-orang musyrik sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla:

{وَمَا كَانَ صَلاَتُهُمْ عِندَ الْبَيْتِ إِلاَّ مُكَاء وَتَصْدِيَةً …} (35) سورة الأنفال

“Solat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan..” (QS. Al-Anfaal: 35).

Lalu ia berkata:”Tetapi syaikh fulan membolehkannya”.

Saya berkata dalam hati bahwa telah berlaku atas mereka firman Allah Azza wa Jalla:

{اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ } (31) سورة التوبة

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam…” (QS. At-Taubah: 31).

Ketika ‘Adiy bin At-Tha’iy radhiallahu ‘anhu mendengar ayat tersebut – ketika itu beliau masih dalam keadaan Nashraniy – ia berkata:”Wahai Rasulullah, kami tidak menyembah mereka”. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اليس يحلون لكم ما حرم الله فتحلونه, ويحرمون ما أحل الله فتحرمون؟ قال: بلى, قال النبي صلى الله عليه و سلم: فتلك عبادتهم (رواه الترمذي, البيهقي).

“Bukankah mereka (para rahib itu) menghalalkan untuk kalian apa yang Allah haramkan, lalu kalia menghalalkan juga? Dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kalian mengharamkannya juga? Ia barkata:Ya. Bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:”Itulah bentuk penyembahan kepada mereka” (HR. At-Tirmizi; Al-Baihaqi. Hadis Hasan).

Kemudian saya menghadiri halaqoh dzikir lain, di masjid yang sama, dimana seseorang berdzikir sambil bertepuk tangan. Saya katakan kepada mereka setelah selesai:”Sesungguhnya suara Anda sangat indah, tetapi tepuk tangan ini haram hukumnya”. Lalu ia menjawab:”Alunan lagu yang kami nyanyikan tidak sempurna bila tidak disertai dengan tepuk tangan. Seorang syaikh yang lebih besar (alim) dari Anda pernah melihat saya melakukan ini dan ia tidak mengingkarinya (menegurku)”.

Jika kita memperhatikan, sebenarnya orang-orang yang melakukan dzikir seperti ini telah melakukan pengingkaran terhadap nama-nama Allah, karena menyebut ( الله, آه, هي, هو,يا هو)

Penggantian nama Allah dan penyimpangan ini hukumnya haram, dan karena itu maka orang yang melakukannya akan dihisab pada hari kiamat nanti.

Tarekat Mauliyyah

Di daerah saya terdapat kelompok lain yang terkenal dengan nama Tarekat Mauliyyah. Mereka bermarkas di masjid besar, tempat dimana sholat wajib didirikan. Di sana terdapat banyak kuburan yang ditutup dengan kain kelambu. Nisannya dihiasi dengan batu-batu marmer yang indah dan tinggi. Di atasnya tertulis ayat-ayat Al-Qur’an, nama orang yang sudah meninggal itu dan bait-bait syair. Kelompok ini menghadiri perayaan setiap hari Jum’at atau pada acara-acara tertentu dengan memakai topi yang panjang terbuat dari kulit berwarna abu-abu dan beberapa alat-alat musik yang mereka gunakan ketika berdzikir dapat didengarkan dari kejauhan. Saya melihat salah seorang dari mereka duduk di tengah lingkaran, kemudian berputar-putar sendirian di tempat itu, dilakukan berkali-kali dan tidak beranjak dari tempatnya. Mereka menundukkan kepala ketika memohon pertolongan kepada Syaikh mereka, Jalaluddin Ar-Rumi atau yang lainnya.

Yang sangat aneh adalah banyak di antara masjid-masjid di beberapa negeri Islam, termasuk masjid ini, yang menguburkan orang-orang mati di dalam Masjid, mengikuti apa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد يحذر ما صنعوا ( رواه البخاري )

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang menjadikan kiburan Nabi-nabi mereka sebagai masjid, perbuatan mereka mendapat peringatan” (HR. Bukhori).

Solat menghadap ke kuburan juga terlarang, berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

لا تجلسوا على القبور, ولا تصلوا إليها ( واه مسلم, أحمد )

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian sholat menghadap kuburan” (HR. Muslim; Ahmad).

Adapun membangun kuburan secara permanent, lengkap dengan kubah, dinding, tulisan dan pengecatan, maka dengarlah larangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang itu:

نهى أن يخصص القبر وأن يبنى عليه ( رواه مسلم )

“Beliau melarang mengecat kuburan dan mendirikan bangunan di atasnya” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain berbunyi:

نهى أن يكتب على القبر شيء ( رواه الترمذي)

“Beliau melarang menulis sesuatu di atas kuburan” (HR. At-Tirmidzi; Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).

Menggunakan alat musik di Masjid dan ketika dzikir adalah termasuk perbuatan bid’ah orang-orang sufi yang datang belakangan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang musik dalam sabdanya:

ليكونن من أمتي أقوام يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف ( رواه البخاري )

“Akan datang pada ummatku kaum yang menghendaki dihalalkannya zina, sutrah, khamer, dan alat musik” (HR. Al-Bukhari; Abu Dawud dan di SHAHIH kan oleh Al-Albani dan lain-lain).

Dikecualikan dari alat musik ini, rebana yang dipukul pada hari raya ‘ied atau untuk kaum wanita pada acara pernikahan.

Kelompok ini berpindah dari satu Masjid ke Masjid lain untuk mengadakan apa yang mereka namakan An-Naubah yaitu dzikir yang disertai dengan alat musik. Mereka bergadang hingga larut malam, sehingga suara gaduh musik ini mengganggu penduduk daerah itu.

Saya mengenal salah seorang di antara mereka, ia memakaikan anaknya topi yang sering dipakai orang-orang kafir. Lalu dengan sembunyi-sembunyi saya mengambil topi itu dan merobeknya. Orang sufi itu tidak menerima perlakuanku dan marah kepadaku. Saya katakana kepadanya:Saya melakukan ini karena rasa ghirahku (=kecemburuan atas dasar Islam) terhadap anakmu yang memakai pakaian ala orang-orang kafir. Lalu saya minta maaf.

Orang Sufi ini memasang tulisan di ruang kerjanya:

يا حضرة مولانا جلال الدين

“ Wahai Hadhrah Maulana Jalaluddin”

Lalu saya bertanya kepadanya: Bagaimana anda memanggil Syaikh yang tidak mendengar dan tidak mengabulkan permintaan ini?

Dia hanya bisa diam membisu, tidak menjawab.

Inilah kesimpulan tentang Tarekat Mauliyyah.

Pelajaran Aneh Dari Seorang Syeikh Sufi

Suatu ketika, saya pergi bersama salah seorang Syeikh untuk mengikuti pelajaran di salah satu masjid. Di sana, orang-orang sudah berkumpul, baik guru-guru maupun para syaikh.

Mereka membaca sebuah buku berjudul Al-Hikam karya Ibn ‘Ajibah. Pelajaran mereka tentang “Mendidik jiwa menurut orang-orang sufi”.

Salah seorang diantara mereka membaca kisah aneh dari buku tersebut yang isinya:

Salah seorang dari golongan sufi masuk kamar mandi untuk mandi. Ketika orang sufi ini keluar dari kamar mandi tersebut, ia mencuri handuk yang khusus dipinjamkan oleh pemilik kamar mandi untuk orang yang mandi di tempat itu. Ujung handuk dibiarkan kelihatan, agar orang-orang memergokinya mencuri, kemudian mereka mengejek dan menghardiknya. Dengan tujuan menghinakan dan mendidik dirinya dengan cara-cara shufi. Dan ternyata, setelah ia keluar dari kamar mandi,pemilik kamar mandi tersebut mengejarnya dan melihat ujung handuk menyembul keluar dari balik pakaiannya, lalu iapun menghardik dan memukulnya. Orang-orang yang mendengarnya, melihat syaikh sufi yang mencuri handuk dari kamar mandi ini, lalu merekapun ikut menghardik, mengejek dan berbagai hal yang dilakukan orang-orang ketika memergoki seorang pencuri. Mereka mendapatkan gambaran yang jelek dari orang shufi ini.

Seorang laki-laki dari kalangan shufi ingin mendidik dan menghinakan dirinya. Lalu ia memikul sekarang buah-buahan yang disukai anak-anak. Lalu iapun pergi ke pasar dan berkata kepada setiap anak kecil yang lewat:”Ludahi wajahku, saya akan beri buah yang kamu sukai”. Lalu anak kecil itu meludahi wajah syaikh itu dan memberinya buah. Demikianlah ludah anak-anak kecil di jalan mampir ke wajah syaikh shufi ini, karena mereka menginginkan buah tersebut. Dan syaikh inipun semakin senang.

Ketika saya mendengar kedua kisah ini, aku hampir saja marah. Dadaku terasa sempit mendengarkan pendidikan salah yang tidak diajarkan agama Islam yang memuliakan manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

{وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً} (70) سورة الإسراء

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isro: 70).

Saya berkata kepada syaikh yang bersamaku setelah keluar dari masjid itu:”Inikah cara orang-orang shufi mendidik diri mereka? Apakah pendidikan itu dengan cara mencuri, yang dalam hukum Islam dikenakan hukum potong tangan? Apakah pendidikan itu dengan melakukan perbuatan hina dan mencela atau melakukan hal-hal yang seharusnya ditinggalkan? Sesungguhnya agama Islam dan akal sehat yang memuliakan manusia melarang perbuatan semacam ini. Inikah hikmah-hikmah yang mereka pelajari dari buku yang mereka namakan dengan Al-Hikam karangan ibn ‘Ajibah itu?”.

Dan salah satu hal yang perlu diingat adalah syaikh yang memimpin pelajaran ini memiliki banyak pengikut dan murid.

Suatu ketika syaikh ini mengumumkan bahwa ia akan melaksanakan haji. Kemudian murid-muridnya datang untuk mencatat dan mendaftarkan nama-nama mereka untuk menemaninya melaksanakan haji. Bahkan kaum wanitapun banyak yang mendaftarkan diri dan mungkin diantara mereka yang terpaksa menjual perhiasannya untuk itu. Sehingga orang-orang yang berkeinginan melaksanakan haji semakin bertambah. Uang yang ia kumpulkan juga semakin banyak. Kemudian pada akhirnya ia mengumumkan bahwa ia urung melaksanakan haji, tetapi syaikh itu tidak mengembalikan uang yang terkumpul itu kepada pemiliknya, tetapi justru ia makan sendiri dengan cara yang haram.

Sungguh benar firman Allah Azza wa Jalla:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ} (34) سورة التوبة

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah…” (QS. At-Tubah: 34).

Saya mendengar dari salah seorang pengikutnya yang tergolong kaya dan banyak bergaul dengan syaikh itu, mengatakan bahwa syaikh itu adalah seorang dajjal dan penipu besar.

Zikir Ala Sufi Di Masjid

Suatu ketika, saya menghadiri halaqah zikir yang diadakan oleh kalangan sufi di masjid daerah yang saya tinggali. Lalu salah seorang diantara mereka yang memiliki suara yang indah maju ke depan untuk menyenandungkan bait-bait qsidah dan lagu-lagu di tengah halaqoh dimana orang-orang kampung berkumpul di saat zikir berlangsung.

Dan di antara syair yang saya ingat dari orang sufi ini adalah ungkapan:

يا رجال الغيب ساعدونا أنقذونا
Wahai orang yang ghaib, tolonglah kami, bantulah kami

Dan berbagai ungkapan itstighotsa (meminta pertolongan) lainnya. Padahal memohon pertolongan kepada orang-orang yang sudah meninggal dan tidak dapat mendengar adalah suatu bentuk kekafiran kepada Allah Azza wa Jalla. Walaupun mereka mendengar, tetapi mereka tidak dapat memenuhi permintaan. Bahkan mereka tidak dapat memberi manfaat bagi dirinya sendiri apalagi bagi orang lain.

Al-Quran telah memberikan isyarat akan hal itu dalam firman Allah Azza wa Jalla:

{… وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِن قِطْمِيرٍ.إِن تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ } (13-14) سورة فاطر
“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan dihari kiamat mereka akan mengingkari kemusyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui” (QS. Faathir: 13-14).

Setelah keluar dari majelis zikir itu, saya berkata kepada syaikh imam masjid yang juga ikut dalam dzikir itu:”Sesungguhnya dzikir ini tidak pantas dinamakan dzikir, karena saya tidak mendengar nama Allah disebutkan. Dan juga tidak ada permohonan ataupun do’a kepada Allah. Saya hanya mendengar panggilan dan permohonan kepada orang ghoib. Siapakah orang ghoib yang dapat menolong, menyelamatkan dan membantu kita itu?”

Syaikh itu hanya diam membisu.

Bantahan paling jelas untuk mereka adalah firman Allah Azza wa Jalla berikut

{وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ ولا أَنفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ} (197) سورة الأعراف
“Dan berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan tidak dapat menolong dirinya sendiri” (QS. Al-A’rof: 197).

Suatu ketika, saya pergi ke masjid lain yang memiliki jumlah jama’ah yang lebih banyak. Di masjid itu terdapat seorang syaikh shufi yang memiliki banyak pengikut. Setelah sholat, mereka melakukan dzikir. Mereka mulai saling menjauh, menari-nari dalam berdzikir dan berteriak menyebut nama (الله, آه, هي…) Kemudian orang yang menyanyi itu mendekati syaikh yang mulai menari dihadapannya dan mengerak-gerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan bagaikan seorang biduan atau penari. Ia memuji syaikh itu, sementara sang syaikh hanya melihat kepadanya dengan senyum, penuh kerelaan…!!!

Pergaulan Orang Sufi Dengan Orang Lain

Saya membeli kedai dari salah seorang murid syeikh sufi, tapi dengan syarat, ia harus menjamin orang yang menyewanya sekarang ini, bila terlambat membayar sewanya, dan iapun setuju dengan syarat ini. Setelah beberapa hari kemudian, orang yang menyewa itu menolak membayar. Lalu saya complain ke pemilik pertama dimana saya membeli. Tetapi pemilik itu menolak membayar, dengan alasan tidak punya uang yang bisa dibayarkan. Beberapa hari kemudian, sang sufi ini, bersama dengan syaikhnya, berangkat melaksanakan haji. Saya kaget dengan kejadian itu, karena ia telah membohongiku. Lalu saya menyampaikan kepada murid-murid terdekat lainnya, perihal penipuan yang dilakukan oleh temannya itu dengan menjual toko kepadaku sementara orang yang menyewanya ketika saya membeli toko itu menolak membayar ongkos sewanya.

Ajan tetapi, diapun tidak dapat melakukan apa-apa. Dia hanya dapat berkata:”Apa yang dapat kami lakukan kepadanya?”. Padahal seandainya ia jujur, tentu ia akan memanggil orang itu dan memintanya mengembalikan hak orang lain.

Saya beberapa kali pergi ke pemilik pertama yang memberi tanggungan (orang shufi itu). Ia memiliki usahan menjahit. Dan ketika salah seorang murid syaikh yang pernah menyanyi dan menari di hadapannya melihatku. Ia langsung tahu bahwa saya datang mencari temannya itu. Disamping menyampaikan ulah temannya, saya juga memintanya agar menunjukkan kepadaku dimana temannya berada. Tetapi alih-alih ia membantuku dan jujur kepadaku, ia malah menghina dan menghujaniku dengan kata-kata kotor dan keji. Sayapun meninggalkannya dan hanya dapat bergumam dalam hati:”Inilah akhlak orang shufi, sementara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingati kita dalam sabdanya:

أربع من كان فيه كان منافقا خالصا, ومن كانت فيه خصلة منهن كانت فيه خصلة من النفاق حتى يدعها: إذا حدث كذب, وإذا وعد أخلف, وإذا عاهد غدر, وإذا خاصم فجر (رواه البخاري؛ مسلم )
“Ada empat sifat yang barangsiapa memilikinya maka ia murni termasuk orang munafik dan barangsiapa yang memiliki salah satu sifat itu, maka ia telah memiliki salah satu sifat orang munafik hingga ia meninggalkannya; Apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ia mengingkarinya, apabila membuat perjanjian ia menghianati perjanjian itu dan apabila bersengketa ia berbuat dosa” (HR. Bukhari, Muslim).

Sumber:
Kaifa Ihtadaitu Ila at-Tauhid karya Syeikh Muhammad bin Jamil Zainu

1 komentar:

birudamai mengatakan...

Salam Tuan.
Allahuakbar.Panjang sungguh artikel Tuan kali ni.Puas saya membacanya.
Trima kasih krn sentuh panjang lebar tentang dunia Tareqah ni.Sejujurnya saya sedang mengikuti salah satu cabang Tareqah disini.Saya tidak dihantar sesiapa untuk mpertahankan apa-apa.Cuma artikel Tuan ini berjaya buatkan hati saya lebih berwaspada terhadap apa-apa amalan dlm Tareqah yg saya buat.Trima kasih.