Sabtu, Agustus 16, 2008

Tuanku Imam Bonjol, Menentang Penjajahan Belanda Di Sumatera

Tuanku Imam Bonjol atau nama sebenarnya Muhammad Sahab dilahirkan pada tahun 1772 di Kampung Tanjung Bunga, Kabupaten Pasaman Sumatra Barat. Beliau dilahirkan dalam lingkungan agama. Mula-mula dia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian dari beberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pendiri negeri Bonjol.

Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan dakwah di Sumatera, yang pada mulanya menentang perjudian, laga ayam, penyalahggunaan dadah, minuman keras, dan tembakau, tetapi kemudian mengadakan penentangan terhadap penjajahan Belanda yang memiliki semboyan Gold, Glory, Gospel sehingga mengakibatkan perang Padri (1821-1837).

Pertentangan kaum Adat dengan kaum Paderi atau kaum agama ikut melibatkan Tuanku Imam Bonjol. Kaum Paderi berusaha membersihkan ajaran agama Islam yang telah banyak diselewengkan agar dikembalikan kepada ajaran agama Islam yang murni. Golongan adat yang merasa terancam kedudukanya, mendapat bantuan dari Belanda. Namun gerakan pasukan Imam Bonjol yang cukup tangguh sangat membahayakan kedudukan Belanda. Oleh sebab itu Belanda terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1824. Perjanjian itu disebut "Perjanjian Masang". Tetapi perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Negeri Pandai Sikat.

Pertempuran-pertempuran berikutnya tidak banyak bererti, kerana Belanda harus memusatkan kekuatannya terhadap Perang Diponogoro. Tetapi setelah Perang Diponogoro selesai, maka Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menaklukan seluruh Sumatra Barat. Imam Bonjol dan pasukanya tak hendak menyerah dan dengan gigih membendung kekuatan musuh. Namun Kekuatan Belanda sangat besar, sehingga satu demi satu daerah Imam Bonjol dapat direbut Belanda. Tak urung Bonjol pun jatuh ke tangan musuh. Tapi tiga bulan kemudian Bonjol dapat direbut kembali. Ini terjadi pada tahun 1832.

Belanda kembali mengerahkan kekuatan pasukanya yang besar. Tak ketinggalan Gubernur Jendral Van den Bosch ikut memimpin serangan ke Bonjol. Namun ia gagal. Ia mengajak Imam Bonjol berdamai dengan maklumat "Palakat Panjang", Tapi Tuanku Imam curiga. Untuk waktu-wakyu selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit, namun ia tak sudi untuk berdamai dengan Belanda.Tiga kali Belanda mengganti panglima perangnya untuk merebut Bonjol, sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat. Setelah tiga tahun dikepung, barulah Bonjol dapat dikuasai, yaitu pada tanggal 16 Ogos 1837.

Akhirnya Tuanku Imam Bonjol terjebak oleh pengkhianatan Belanda dengan berselubung perundingan. Ia dapat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur. Takut akan pengaruh pemimpin Paderi itu di Jawa Barat, ia pun dipindahkan ke Ambon dan kemudian ke Manado. Di sana Tuanku Imam Bonjol wafat tanggal 6 November 1864 dalam usia 92 tahun dan dimakamkan di Khusus Lotak, Minahasa.

Tidak ada komentar: